Wanita Sang Tuan Muda

Wanita Sang Tuan Muda
WSTM Bab 79 - Sangat Kecewa


__ADS_3

Jam pulang sekolah Rachel mendatangi sekolah Zen, hendak mengajak pria berwajah dingin itu untuk pulang bersama.


Tapi Zen justru tidak dia temui, Rachel hanya bertemu dengan Reino--Sahabat Zen.


"Apa kamu belum dengar kabarnya? Zen dikeluarkan dari sekolah," ucap Reino dengan suaranya yang nampak lesu.


Dan Rachel seperti tersambar petir di atas kepalanya saat mendengar ucapan itu.


"Apa maksudmu? Dikeluarkan? Bagaimana bisa? Sebentar lagi kan ada olimpiade sekolah!" balas Rachel menggebu.


"Aku tidak tahu, ini aku baru berencana untuk menemui Zen di toko," balas Reino pula, masih saja bicara dengan suara yang lirih. Tidak terima juga tiba-tiba Zen dikeluarkan dari sekolah seperti ini. Jika bisa dia bahkan ingin mengajak teman-temannya yang lain untuk mengadakan demo.


"Aku ikut!" balas Rachel dengan cepat.


Motor milik Reino dan mobil milik Rachel yang dikemudikan oleh supir berjalan beriringan menuju Zen Minimarket. Saat mereka tiba di sana bertepatan dengan Zen yang memarkirkan motornya juga, nampak jelas jika Zen baru saja mengantarkan pesanan pelanggan. Zen dengan masker hitam yang selalu dia gunakan saat bekerja.


"Zen!" panggil Reino dengan cepat, dia belum melepaskan helm dan langsung berlari ke arah sang sahabat.


Langsung disusul oleh Rachel yang juga buru-buru keluar dari mobil itu. Rachel sampai lupa untuk menutup pintunya kembali.


"Zen," panggil Rachel ketika sudah berdiri di hadapan.


"Apa yang terjadi Zen? Kenapa kamu dikeluarkan dari sekolah?" Reino yang bertanya, tapi kedua mata Zen hanya tertuju pada Rachel. Tatapan yang begitu tajam dan nampak dingin.

__ADS_1


Hingga membuat suasana yang awalnya cukup riuh kini mendadak hening, Reino jadi mengikuti arah pandang Zen dan ikut menatap ke arah Rachel pula.


"Kenapa? Kamu tidak nyaman ada Rachel di sini?" tanya Reino pula.


"Kenapa? Aku juga ingin tahu kenapa kamu dikeluarkan dari sekolah?" balas Rachel pula, akhirnya dia pun buka suara. Kenapa Zen harus tak nyaman, sementara dia pun sangat mencemaskan keadaan Zen sekarang.


Sebentar lagi akan ada olimpiade sains sebelum ujian kenaikan ke kelas 3, harusnya Zen ikut mewakili sekolah mereka. Tapi tiba-tiba kini ada kabar Zen dikeluarkan, Rachel sangat terkejut. Padahal Zen adalah peserta pertama yang mendaftar dalam olimpiade tersebut.


Namun bukannya menjawab pertanyaan Rachel dan Reino, Zen justru berdecih pelan. Merasa jijik pada sikap sok polos Rachel. Ini semua karena ulah ayahnya tapi kini dia seolah tidak tau apa-apa.


"Pergilah, aku tidak mau melihat wajahmu," usir Zen, kalimat itu jelas dia tujukan untuk Rachel. Setelahnya Zen menarik tangan Reino untuk segera masuk ke dalam toko.


Diperlakukan seperti ini Rachel tentu tergugu, sesaat dia mematung karena bingung, namun setelah kesadarannya utuh Rachel buru-buru mengejar kedua orang tersebut, Rachel bahkan tanpa sadar langsung menahan lengan Zen hingga langkah pria itu terhenti.


"Kenapa kamu marah? Aku datang ke sini karena peduli padamu Zen!" ucap Rachel.


"Cih! peduli katamu? Bulshit! Jangan pura-pura tidak tahu, karena ayahmu lah yang mengeluarkan aku dari sekolah!" balas Zen gamblang, dia malas berurusan dengan Rachel.


Dan mendengar jawaban Zen tersebut, Rachel makin dibuat tergugu. Tubuhnya seketika cemas dan seolah tak percaya.


Kenapa Daddy membuat Zen keluar dari sekolah? Batin Rachel.


Sementara Zen dan Reino sudah pergi dari hadapannya.

__ADS_1


Tak ingin rasa penasaran ini membunuhnya, Rachel pun segera berlari ke mobil. Dia meminta sang supir untuk mengemudikan mobil itu dengan cepat.


Sampai tak butuh waktu lama dia telah tiba di rumah.


"Dad! Daddy!" pekik Rachel.


Namun yang dia temui hanyalah Mommynya.


"Mom, dimana Daddy?" tanya Rachel dengan suara menggebu.


"Ada apa Rachel? Daddy mu ya masih di kantor, dia belum pulang."


"Kenapa Daddy membuat Zen dikeluarkan dari sekolah Mom? kenapa? Mommy pasti tau apa alasannya kan?" tuntut Rachel pula.


Mom Jilliana tak bisa mengelak, akhirnya dia ceritakan semua dan akhirnya Rachel tau jika sekarang kakaknya tidak lagi tinggal di rumah ini. Bukan menginap di tempat kak Aldian ataupun kak Marcel, tapi pergi dan entah kapan akan kembali.


"Ini semua karena Ains, Rachel," ucap mom Jilliana lirih, ingin menangis lagi tiap ingat hal ini. Selama ini dia bertahan menyembunyikan kesedihan demi Rachel, kini sang anak bungsu telah mengetahuinya dan membuatnya tak punya alasan lagi untuk memendamnya sendiri.


"Itu keputusan kak Damian untuk keluar dari rumah ini, Mom. Apa hubungannya dengan Zen? kenapa masa depan Zen yang dipertaruhkan?" tanya Rachel, dia sangat kecewa. Sangat kecewa.


Tak menyangka mommy dan Daddynya akan bertindak terlalu jauh.


Rachel lantas mundur, menjauhi sang mommy dan berlari keluar dari rumah tersebut.

__ADS_1


"Hel! Rachel!!" pekik mom Jilliana, tapi sang anak gadis tetap berlari keluar.


"RACHEL!!"


__ADS_2