
Damian memutar tubuhnya hingga sekarang tidur menatap ke arah perut Ains. Membuat Ainsley seketika membelai kepala sang kekasih dengan lembut.
"Kita sudah sering melakukannya, sekarang aku jadi bertanya-tanya apakah di dalam perutmu sudah ada janin yang tumbuh," ucap Damian dengan perasaan yang penuh harap. Berharap ucapannya itu jadi kenyataan bahwa sekarang Ains sudah mengandung anaknya.
Dan ucapan Damian tersebut membuat jantung Ains jadi berdebar, jujur saja selama ini dia tidak berpikir sejauh itu. Tapi kemudian sekarang dia jadi memikirkan kapan terakhir dia datang bulan. Semakin diingat ternyata Ains melupakannya, dia tidak ingat kapan terakhir datang bulan.
Deg! menyadari akan hal itu detak jantungnya jadi makin tak biasa, jadi bergemuruh sendiri dan merasa penasaran bagaimana hasilnya.
Sebenarnya bisa saja sekarang dia melakukan pemeriksaan, karena di toko ini pun menjual alat tespek, tapi entah kenapa Ainsley jadi gugup sendiri, dia takut dan bingung.
"Ayo kita lakukan pemeriksaan setelah pernikahan," ucap Damian lagi dan untunglah kalimat itu akhirnya membuat Ainsley jadi tenang.
Ainsley tersenyum, setuju dengan ide tersebut. Jika seperti ini dia Jadi tidak sabar sendiri.
"Cium," pinta Damian pula dan Ainsley langsung menurutinya tanpa banyak bicara, Ains menundukkan wajahnya dan menjangkau bibir sang kekasih.
Mereka saling memagut dengan mesra. Ainsley sebenarnya menginginkan lebih dari sekedar ciuman ini, tapi ternyata Damian justru menahannya. Katanya harus mereka simpan untuk malam pertama.
*
*
Hari pun bergulir, semakin mendekati hari pernikahan semakin terasa mendebarkan untuk semua orang.
Zen dan Rachel kini juga semakin dekat, selain mereka berada di sekolah yang sama, keduanya pun akan jadi pendamping untuk pernikahan Ains dan Damian nanti.
Di malam hari sebelum pernikahan, bibi Ema menangis hingga membuat suasana rumah jadi haru. Padahal mereka semua baru saja selesai makan malam dan sekarang malah jadi saling menangis seperti ini.
"Setelah kak Ains menikah nanti dia akan ikut dengan suaminya," ucap bibi Emma, coba memberikan pengertian tersebut pada anak-anak yang lain.
"Ains, lebih baik Rora tetap bersama bibi. Bibi yang akan menjaganya," kata bibi Ema lagi. Sekarang Rora sudah tidur, jadi tidak mendengar pembicaraan itu. Di ruang tengah hanya ada bibi Ema, Ainsley, Amara, Joshua dan Zen.
__ADS_1
"Tidak Bi, Rora akan tetap ikut bersama ku. Justru sekarang aku akan memiliki banyak waktu untuknya," jawab Ains, dia juga berat untuk meninggalkan rumah ini, apalagi sampai berpisah dengan yang lain. Tapi memang beginilah jalan hidup yang harus dia lalui, ketika memutuskan untuk menikah maka Ains harus siap ikut dengan kak Damian.
"Jangan Ains, lebih baik di awal ini kamu fokus saja pada Damian. Bibi yang akan merawat Rora," putus bi Ema.
Ains akhirnya menangis juga.
"Tapi nanti kak Ains masih sering datang ke sini kan?" tanya Amara dengan sesenggukan, Joshua sampai mengelus punggungnya agar Amara berhenti menangis, padahal saat ini dia sedang menangis juga.
Hanya Zen yang tidak mengeluarkan air mata itu, namun kedua matanya sudah nampak merah.
"Tentu saja, kakak akan sering datang untuk mengunjungi kalian," balas Ains seraya memeluk Amara erat, Joshua minta dipeluk juga dan akhirnya Zen pun ikut menyusul.
"Sekarang aku yang akan menjaga kalian," kata Zen, begitu dewasa kalimat yang ia lontarkan. Membuat Ains makin haru dan mengelus puncak kepala Zen penuh kasih sayang.
"Kakak akan tetap menjaga kalian," balas Ains kemudian.
"Selamanya kita akan saling menjaga," ucap bibi Ema pula.
Tak berselang lama kemudian, bibi Ema meminta kepada anak-anak untuk masuk ke dalam kamar mereka masing-masing, hingga kini di ruang tengah itu hanya menyisakan dia dan Ainsley saja.
Di ujung pembicaraan mereka berdua, Ainsley memeluk bibi Ema dengan erat.
"Terima kasih, Bi," ucap Ainsley, andai waktu itu dia tidak bertemu dengan bibi Ema entah bagaimana kehidupannya saat ini. Pasti tak akan menemukan arah dan tujuan yang jelas.
"Bibi juga sangat berterima kasih padamu sayang, Terima kasih karena selama ini kamu sudah berjuang untuk keluarga kita. sekarang adalah saatnya kamu memikirkan tentang kebahagiaanmu, ya?" pinta bibi Ema dan Ainsley hanya bisa mengangguk sebagai jawaban.
Malam yang sendu namun penuh kebahagiaan itu pun akhirnya berakhir.
Pagi-pagi sekali 2 mobil sudah datang ke rumah Ains untuk menjemput semua orang. Mobil itu beriringan menuju hotel tempat acara hari ini akan berlangsung.
Sejak dijemput hingga sampai di hotel, Ains sudah diperlakukan seperti Ratu, bahkan keluarganya pun juga diperlakukan dengan sangat baik oleh orang-orang.
__ADS_1
Mereka diantar menuju sebuah kamar VIP, tempatnya sangat luas dan begitu indah. Di dalam sana sudah tersedia banyak makanan diatas meja. Juga ada orang-orang yang akan membantu mereka semua untuk bersiap menyambut acara jam 8 pagi tadi.
Bahkan sudah ada seseorang yang bertugas khusus untuk menjaga Rora.
"Silahkan sarapan lebih dulu Nona, Tuan," ucap seseorang dengan sangat ramah.
Sebuah perlakuan yang tentu membuat semua orang jadi nyaman. Ains sendiri bahkan tidak menyangka jika calon suaminya telah mempersiapkan ini semua dengan sangat matang.
Disaat anak-anak dan bibi Ema sedang sarapan, Ains memutuskan untuk lebih dulu menghubungi kak Damiannya melalui sambungan telepon. Dan saat itu juga panggilannya langsung mendapatkan jawaban.
"Halo sayang, kamu sudah berada di hotel?" tanya Damian, justru dia yang lebih dulu mengajukan pertanyaan.
"Iya, ini semua terlalu indah," jawab Ains.
Damian tersenyum, "Kamu layak mendapatkan itu semua, hari ini akan jadi pernikahan impian kita berdua," balas Damian.
Dan makin bersemu merah lah kedua pipi Ains dibuatnya. Tak ada yang lebih membahagiakan selain dicintai sedalam ini.
"Kamu sudah makan?" tanya Damian dan Ains menggeleng, padahal Damian tidak akan bisa melihat pergerakan kepalanya tersebut.
"Makanlah dulu, aku dan Rachel juga sebenarnya sudah ada di hotel ini, tapi kita berada di kamar yang berbeda."
"Iih, Kenapa tidak mengatakannya dari tadi? Minta Rachel untuk datang ke sini."
Damian tertawa, "Iya," jawabnya singkat tapi terdengar begitu manis di telinga Ains.
Ketika panggilan telepon itu sudah terputus, Ainsley dan Damian masih saja sama-sama mengukirkan senyum.
Ains kemudian bergabung bersama keluarganya untuk sarapan bersama.
Setelahnya dia mulai di rias untuk jadi pengantin yang sangat cantik.
__ADS_1
Amara, Rora dan bibi Ema menggunakan gaun yang senada, sementara Joshua dan Zen memakai jas yang membuat keduanya pun nampak sangat berbeda.
ini bukan hanya hari baik untuk Ains sendiri, tapi juga semua keluarganya.