
"Siapa pria itu?" tanya Damian dengan sorot mata yang masih terlihat jelas penuh dengan amarah.
"Hanya pelanggan biasa, dia datang untuk membayar hutang." Bibi Ema yang menjawab, hingga membuat Damian akhirnya sadar bahwa di sini bukan hanya ada dia dan Ains saja. Tapi ada bibi Ema, bahkan Rora.
"Om Ford," panggil Amara yang tiba-tiba keluar dari ruang istirahat, dia tau saja jika om Ford datang.
"Om tidak tau jika kamu di sini, apa Joshua juga datang?" tanya Damian pula.
"Iya, dia masih menonton televisi. Om pasti pulang kerja kan? ayo masuk dulu, makan bersama kak Ains, bibi tadi membawa banyak makanan," terang Amara.
Bibi Ema pun lantas menarik tubuh Ainsley agar segera pergi dari meja kasir, tadi Ainsley memang belum selesai makannya.
"Ayo," ajak Ainsley. Kehadiran semua orang membuat Damian jadi lupa tentang pria itu.
"Dimana Zen?" tanya Damian, karena dia tidak melihat Zen dimanapun.
"Dia mengantarkan pesanan, lalu langsung pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku. Sekarang dia sedang ujian jadi sibuk."
Oh iya. Sama seperti Rachel. Batin Damian. Setelah diingat-ingat usia Zen memang sama seperti sang adik, keduanya duduk di bangku SMA dan kini sama-sama sedang menghadapi ujian.
Damian lantas mengambil Rora digendongan Ains, saat makan bersama Damian lebih pilih untuk disuapi saja oleh sang kekasih.
Ya, meskipun kini belum dia ucapkan secara gamblang tapi baginya Ains sekarang adalah kekasihnya, bukan hanya wanita yang dia bayar untuk jadi simpanan.
"A," pinta Damian dan Ainsley langsung menyuapinya.
"Rora mau juga?" tanya Ainsley dan sang anak menggeleng.
"Amara, ambilah Snack yang ingin kamu makan. Bayar pada bibi dengan uang ini," ucap Damian, dia memberi selembar uang berwarna merah pada Amara.
Joshua melirik, menunggu giliran ditawari.
"Ajaklah Joshua juga," kata Damian.
Joshua langsung bersorak di dalam hatinya, tapi yang dia tunjukkan di wajah hanyalah wajah datar. Joshua jadi seperti ini karena diperintah oleh kak Zen, untuk tidak terlalu terbuka pada Om Ford.
"Siap Om," sahut Amara, dia juga langsung menarik Joshua untuk segera pergi dari sana dan membeli jajanan.
Kesempatan itu langsung Damian gunakan untuk mengecup sekilas pipi sang kekasih. Lalu mencium pipi Rora juga agar sang anak tidak marah.
__ADS_1
"Makan yang benar," kata Ainsley dengan bibir mengulum senyum.
"Besok akhir pekan, aku akan menunggu mu di apartemen," balas Damian.
"Hem, siap Tuan," jawab Ainsley patuh.
Lama tidak memanggil Tuan membuat Damian jadi merasa lucu, ingin sekali dia mengigit bibir merah itu, tapi sekuat tenaga ditahan karena sekarang dia sedang memangku Rora.
Makan berdua seperti ini jadi terasa asik sekali, sampai tidak sadar jika makanan di piring sudah habis.
Sore itu Ainsley, Rora, Amara dan Joshua pulang diantar oleh Damian. Sementara bibi Ema tinggal untuk menjaga toko dan menunggu Zen kembali.
Saat anak-anak sudah masuk dan hanya menyisahkan mereka berdua, Damian jadi ingat lagi dengan pria di meja kasir.
"Siapa pria sore tadi, kenapa menanyakan namamu?" tanya Damian.
Ainsley nampak mengingat-ingat, mengingat nama pria tadi yang dia sedikit dia lupakan. "Siapa ya, Eric kalau tidak salah," jawab Ainsley jujur.
"Eric?"
"Iya, siang tadi dia beli minuman tapi tidak punya uang cash, jadi sore dia kembali lagi dan membayar hutangnya."
"Kenapa dia menanyakannya namamu?"
Damian terdiam sesaat, mendengar Ains menyebut nama pelanggan membuatnya tak bisa berkilah lagi. Memang seperti itulah pekerjaan sang kekasih.
"Baiklah, kalau begitu aku pamit."
Ainsley langsung memeluk sebagai tanda pisah dan Damian pun membalasnya.
"Aku akan datang ke apartemen sekitar jam 11, setelah Amara dan Joshua pulang," terang Ainsley dan Damian mengangguk. Karena setelah itu barulah ada yang akan menjaga Rora.
Sebelum benar-benar pisah, Damian kembali membelai lembut wajah Ains. Setiap detik makin mantap hatinya untuk memiliki hubungan yang lebih serius.
*
*
Tiba di rumahnya Damian dibuat terkejut ketika melihat Helena yang menyambut di depan pintu.
__ADS_1
"Kak," panggil Helena tiba-tiba, dahi Damian begitu berkerut saat mendengar panggilan tersebut.
"Mulai sekarang aku akan memanggil mu Kak Damian," kata Helena lagi dengan riangnya, seolah tak ada masalah apapun diantara mereka berdua. Helena bahkan langsung memeluk posesif lengan Damian.
Bukan tanpa sebab kenapa sekarang Helena memanggil Damian dengan sebutan seperti itu, pasalnya dia pernah membaca chatingan antara Damian dan Ains, wanita miskin itu memanggil calon suaminya dengan sebutan kakak.
Karena itulah sekarang dia ingin menirunya, ingin menunjukkan pada Damaian bahwa dia pun bisa bersikap manis seperti ini.
"Lepas," kata Damian, ingin Helena melepaskan pelukan pada lengannya.
Satu perintah yang harusnya membuat Helena kehilangan senyum, apalagi Damian mengucapkannya dengan nada yang dingin.
Tapi bukannya melepas dan merasa bersalah, Helena justru makin memeluk dan pilih acuh.
"Iih kenapa sih dilepas, ayo kita segera masuk. Kamu lama sekali sampai di rumah. Malam ini aku akan menginap," kata Helena, lalu menarik Damian untuk segera masuk lebih dalam. Saat memeluk seperti ini Helena pun bisa merasakan pula ada aroma parfum lain yang menempel di baju sang kekasih.
Bukti nyata bahwa tadi Damian menemui pelaccurnya.
Tapi kali ini Damian tak tinggal diam, dia menahan langkah lalu memaksakan diri untuk melepas pelukan itu.
"Hel, ku harap kamu tidak melewati batas. Aku sudah menolak perjodohan kita," ucap Damian.
"Aku tau, kedua orang tua kita juga tau. Karena itulah sekarang kita saling coba untuk menerima satu sama lain, seperti itu kan?"
"Tidak, aku tidak akan bisa menerima mu karena_"
"Cukup!" Helena tidak mau dengar lebih jauh lagi, tidak ingin jika Damian sampai mengakui hubungannya dengan wanita miskin itu.
"Baiklah aku tidak akan memeluk kak Damian lagi, ayo masuk sekarang," kata Helena dengan cepat, dia bahkan masuk lebih dulu setelah memberikan senyum pada sang calon suami.
Sumpah, sikap Helena yang seperti itu justru membuat Damian merasa curiga. Damian justru merasa benar-benar tak mengenal Helena.
"Akhirnya kamu pulang, darimana saja sih?ke tempat Aldian?" tanya mommy Jilliana yang Damian temui di ruang tengah.
"Tentu saja Mom, jika bukan bersama Aldian pasti Marcel. Tidak mungkin yang lain." Helena yang menyahut.
Kenapa kamu jadi seperti ini Hel? Batin Damian, padahal sore ini tanda bahwa dia memiliki wanita lain telah Damian tunjukkan dengan jelas, mulai dari aroma parfum Ains yang tertinggal di bajunya, lalu tanda merah di leher yang tadi dia minta Ains untuk membuatnya.
Tapi Helena seolah menutup mata dari itu semua. Dan justru terkesan menutupi.
__ADS_1
Damian kira diantara dia dan Helena tak ada perasaan lebih, tapi kini mulai curiga jangan-jangan selama ini Helena menaruh rasa padanya.
Astaga, batin Damian. jika benar seperti itu, maka dia telah salah mengambil sikap. Harusnya sejak dulu dia memberi jarak.