
Huh! Damian membuang nafasnya dengan kasar. Dia pikir mommy dan Daddynya tetap hidup dengan baik setelah semua yang terjadi. Tapi ternyata malah se-kacau ini.
Mulai ada sedikit rasa penyesalan di dalam hatinya, kenapa tidak sejak dulu dia t mendengarkan ucapan sang istri untuk datang ke rumah ini lebih awal.
"Apa boleh aku bertemu dengan Daddy, Mom?" pinta Damian, dia belum mengerti Bagaimana perasaan sang ayah padanya saat ini, mungkin amarahnya masih menggebu-gebu seperti dulu. Damian tidak ingin pertemuan mereka justru membuat kondisi sang ayah jadi memburuk.
"Tentu saja boleh Dam, mommy akan sangat bahagia jika kamu bersedia menemui Daddy mu," balas mom Jilliana,
"Mommy mohon maafkan Daddy," pinta mom Jilliana pula.
Damian hanya bisa mengangguk, pada akhirnya mereka bersama-sama pergi menuju kamar di mana tempat Dad Bastian beristirahat.
Saat pintu kamar itu dibuka, Daddy Bastian langsung melihat Siapa yang masuk. Seketika berdesir hatinya ketika yang pertama kali dia lihat adalah anak pertamanya, Damian Lynford.
Deg! Dad Bastian sesaat tergugu, kepalanya yang pusing membuatnya berpikir ini hanyalah mimpi. Damian tidak mungkin datang lagi ke rumah ini. Apalagi dia begitu malu untuk meminta anak-anaknya pulang.
Perusahaan keluarga Lynford tak mampu dia pegang sendiri dan sekarang dia pun kehilangan anak-anaknya. Nama baiknya juga mulai dipertanyakan ketika ada desas-desus yang mengatakan bahwa dia tidak memberi restu pada pernikahan Damian dan Ains.
Apa yang dia khawatirkan selama ini benar-benar hanya menimpanya seorang diri, sementara Damian dan Ains tetap pada kehidupannya yang bahagia.
Setelah Damian masuk, kini mom Jilliana pun menyusul. Membuat perhatian Daddy Bastian jadi beralih ke arah istrinya itu. Baginya sosok Damian pun ini hanyalah semu, bukan nyata.
"Mom," panggil Dad Bastian dengan suaranya yang lirih.
"Dad, Damian datang untuk bertemu Daddy," jawab mom Jilliana langsung, dia juga segera duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan suaminya dengan erat. Tangan yang terasa begitu dingin.
"Damian?" tanya Daddy Bastian pula.
Mom Jilliana tak mampu menjawab, dia malah menangis melihat kondisi sang suami yang lemah.
__ADS_1
Inilah alasan kenapa mom Jilliana tetap berada di samping dad Bastian meski dia sangat merindukan anak-anaknya. Mom Jilliana tak ingin meninggalkan sang suami seorang diri.
"Aku di sini Dad," kata Damian dengan tenggorokannya yang terasa tercekat.
Sementara kedua mata dad Bastian sudah berkaca-kaca, benar-benar tak menyangka bahwa Damian akan datang. "Dam, kamu pulang?" tanya dad Bastian, suaranya terdengar gemetar.
"Dimana Rachel? Apa Ains bersamamu?" tanya dad Bastian pula.
Damian lantas berjongkok di tepi ranjang dan menyentuh tangan sang ayah. "Maafkan aku Dad, aku hanya datang seorang diri," balas Damian apa adanya.
"Daddy yang harusnya minta maaf padamu Dam, Daddy menyesal dengan semua yang terjadi. Daddy salah," ucap dad Bastian penuh permohonan.
"Daddy mohon kembalilah, bawa Rachel dan Ains pulang ke rumah ini, Daddy mohon," pinta dad Bastian pula, dia terus bicara bahkan sebelum Damian menjawab ucapannya yang pertama.
Mom Jilliana pun sudah sesenggukan, tak kuasa melihat kehancuran keluarganya sendiri. Hanya karena nama baik, harta dan tahta mereka jadi terpecah belah. Berbulan-bulan dalam-dalam perselisihan hingga kini tak berdaya.
"Daddy mohon Dam, percayalah pada daddy. Daddy pun akan memohon maaf pada Zen," kata Dad Bastian pula.
"Dad! Daddy!!" panggil mom Jilliana, tapi pria paruh baya itu sudah tak menjawab.
*
*
Di rumah Ains, wanita cantik itu berulang kali melihat ponselnya. Sang suami sudah pergi lebih dari 3 jam tapi kak Damian belum juga kembali dan bahkan tidak menghubunginya.
Ains cemas, memikirkan tentang bagaimana pertemuan kak Damian dengan mom Jilliana dan Daddy Bastian. Ains takut, suaminya itu akan kembali mendapatkan penolakan. Takut juga jika ternyata mom Jilliana dan Daddy Bastian dalam keadaan yang tidak baik. Pasalnya mereka memang sudah cukup lama tidak saling bertukar kabar.
"Biar aku coba telepon Kak Damian, Kak," kata Rachel pula. Saat ini waktu sudah menunjukkan jam 3 sore jadi Rachel sudah pulang dari sekolahnya. Melihat sang kakak ipar merasa cemas, membuatnya cemas pula. Jadi tidak sabar ingin tahu apa yang sebenarnya. Bagaimana respon orang tuanya sekarang. masihkah keras seperti dulu?
__ADS_1
"Tidak usah Rachel, kita tunggu saja 15 menit dulu."
"Kenapa kak? kita telepon sajalah ya?"
"Jangan, jika kak Damian masih bersam mom Jilliana, nanti mom Jilliana merasa tidak nyaman, dia pasti berpikir kak Ains mengekang kak Damian. Baru pergi sebentar ke sana sudah ditelepon- telepon," jelas Ains, hatinya yang sedang sensitif sampai berpikir sejauh itu.
Rachel bahkan sampai tercengang sendiri ketika mendengar alasan yang dilontarkan oleh sang kakak ipar. Tapi setelah dia pikir ada benarnya juga. Karena selama ini di mata kedua orang tuanya kak Ains memang selalu salah.
jadi harus hati-hati sekali mengambil sikap, jika tidak ingin makin dibenci.
"Sabar ya kak, aku yakin suatu saat nanti mereka akan menerima kak Ains. Mereka akan menyadari betapa hebatnya ke Ains," balas Rachel pula, diapun menuruti keinginan sang kakak ipar untuk tidak menghubungi Kak Damian.
"Terima kasih sayang," balas Ains.
15 menit telah berlalu dan tetap saja tidak ada kabar dari Damian.
Rachel jadi gemas sendiri, jadi dia diam-diam menghubungi kakaknya itu. Rachel pura-pura masuk ke dalam kamar padahal dia menghubungi kakaknya.
Panggilan pertama Rachel tidak mendapatkan jawaban, tapi dia tidak menyerah dan segera menghubungi lagi. Hingga dipanggilan ke-4 barulah teleponnya mendapatkan jawaban.
"Ya ampun kak Damian, ke mana saja sih? Kak Ains sudah menunggu Kakak sejak tadi. Jika belum bisa pulang setidaknya telepon kak Ains!" kesal Rachel, sungguh, kesal sendiri atas sikap kakaknya tersebut. Sekarang Rachel memang lebih menyayangi kak Ains, apalagi kak Ains masih hamil muda.
"Maaf Rachel, tapi sekarang kakak sedang berada di rumah sakit," jawab Damian dengan suara yang lirih.
"Rumah sakit? siapa yang sakit? apa yang kakak lakukan di sana?" tanya Rachel, suaranya pun berubah jadi pelan tidak menggebu-gebu seperti tadi.
"Dengarkan kakak baik-baik ya," kata Damian, dia mengambil jeda sebelum melanjutkan ucapannya. Sementara Rachel mempersiapkan diri untuk mendengar apa yang akan disampaikan oleh sang kakak.
"Daddy masuk rumah sakit, dia terkena serangan jantung," jelas Damian.
__ADS_1
Deg! Seketika itu juga Rachel seperti tertimpa langit di atas kepalanya. Kebencian dan kemarahan yang selama ini terpendam seketika hilang begitu saja, hatinya kini jadi hancur.