
Marcel juga tidak menyangka jika Damian akan benar-benar mengambil langkah seperti ini. Jelas bukan sebuah keputusan yang mudah. Karena pasti akan banyak hal yang jadi rusak.
Mulai dari pekerjannya di perusahaan, hubungan dengan seluruh keluarga dan bahkan kolega.
Bahkan yang lebih parah, Damian pasti akan menghadapi ayahnya sendiri. Seperti berada di medan perang. Dan bisa jadi, dia serta Aldian pun akan mendapatkan tekanan juga.
"Huh! aku harus siap-siap juga," gumam Marcel. Berada di pihak Damian jelas dia pun akan berhadapan dengan om Bastian. Itu artinya dia pun harus mempersiapkannya diri untuk jaga-jaga, mulai mengamankan semua lini usahanya.
Ternyata hidup sebercanda ini, tak bisa mereka prediksi apa yang akan terjadi selanjutnya.
Pagi itu juga Marcel mengirimkan seorang sopir berserta mobil, baju ganti dan kartu kreditnya pada alamat yang sudah Damian kirim, yaitu alamat rumah Ainsley.
Jam 8 pagi anak-anak sudah pergi ke sekolah. Saat supir kiriman Marcel datang Damian pun pamit untuk pergi.
Damian belum sanggup menceritakan keadaannya pada Ainsley, dia tak ingin Ainsley jadi bersedih. Atau bahkan akan memintanya pulang dan malah mengakhiri hubungan mereka. Apalagi Damian adalah yang paling tau, betapa bahagianya Ainsley atas kasih sayang mommy dan daddy.
Pagi tadi saja, Ainsley begitu semangat memilih sepatu untuk dia pakai bekerja.
Entahlah, akan seperti apa jadinya ini semua nanti. Yang jelas sekarang Damian harus mengukuhkan dirinya sendiri sebelum menikahi Ainsley. Tidak mungkin dia meminta Ainsley menikah sekarang, disaat dia tak punya pijakan.
Pagi itu Ainsley dan Damian pergi bersama, Ainsley turun di Zen Minimarket. Sementara Damian akan menuju perusahaan Marcel.
"Kak, kamu belum menjawab pertanyaan ku tadi," ucap Ainsley sebelum benar-benar turun dari mobil, padahal dia sudah membuka pintunya.
"Pertanyaan yang mana?" balas Damian pula.
"Apa mommy dan Daddy tidak merestui kita? Karena aku merasa mereka hanya ingin menjadikanku anak angkat," ucap Ainsley, meski ragu-ragu tapi dia utarakan hal tersebut.
Namun Damian langsung tersenyum, "Tidak, pikiranmu itu salah. Mereka pasti merestui kita. Hanya saja sekarang masih banyak yang harus diurus, jadi belum ada pembicaraan yang lebih lanjut," jawab Damian bohong, percayalah kebohongan itu tak pernah dia rencanakan sebelumnya.
Tiba-tiba terlontar begitu saja disaat Ainsley bertanya.
__ADS_1
Dan mendengar jawaban sang kekasih, akhirnya Ainsley pun tersenyum juga. Kini akhirnya bisa dengan semangat menuju Zen Minimarket.
Saat mobil Damian pergi, mobil Helena langsung masuk ke area parkiran toko tersebut.
"Ains!" teriaknya seraya berlari menghampiri sebelum Ains sempat masuk ke toko tersebut.
Melihat Helena datang dengan nafas terengah, Ainsley pun mengerutkan dahinya.
"Maaf jika membuatmu terkejut, bisa kita bicara sebentar?" tahya Helena, kini nafasnya makin terengah. Dari nada bicara yang nampak renyah seperti itu Ains merasa dia telah salah sangka selama ini, karena seketika berpikir mungkinkah sebenarnya Helena adalah orang yang baik.
Ainsley pun mengangguk, seraya mempersilahkan Helena untuk duduk di kursi depan.
"Aku Helena," ucap Helena coba memperkenalkan diri dengan layak.
"Ainsley," ucap Ains seraya menerima uluran tangan wanita cantik tersebut.
"Aku datang karena ingin meminta maaf padamu," kata Helena kemudian, dia menjelaskan bahwa sebenarnya dia tidak tau apapun tentang foto-foto yang terkirim pada Ains. Kata Helena itu semua adalah ulah temannya yang merasa kecewa Damian menjalin hubungan dengan wanita lain, padahal sejak dulu Damian telah di jodohkan dengannya.
Dan apa Ainsley bisa menolaknya, tentu saja tidak. Ainsley langsung mengangguk saat itu juga.
"Kak Damian sangat mencintai kamu Ains, aku tidak bisa mengubah itu. Meskipun aku mencintai kak Damian, aku bisa apa," timpal Helena seraya tersenyum getir, menunjukkan pada Ainsley seolah dia adalah yang paling teraniaya. Ainsley mana tau jika ini semua hanyalah bagian dari rencana Helena untuk mendekati Ains, lalu menghancurkan hubungan Ains dan Damian secara perlahan.
Dan mendengar kalimat itu, kini Ainsley tak tau harus menjawab bagaimana.
"Maaf Hel, tapi aku juga sangat mencintai kak Damian. Aku tidak ingin menyerah hanya karena kamu," balas Ainsley, Helena mungkin memang baik, tapi tentang kak Damian tak ada negosiasi.
Jawaban Ainsley itu tentu membuat Helena geram.
"Baguslah kalau begitu, aku tadi takut jika foto-foto itu mempengaruhi hubungan kalian."
"Tidak sedikitpun," balas Ainsley dengan cepat.
__ADS_1
"Kudoakan hubungan mu dengan kak Damian baik-baik saja."
"Terima kasih," balas Ainsley pula.
"Apa kita bisa jadi teman? Mom Jilliana selalu meminta ku untuk memperlakukan mu dengan baik."
Ainsley langsung menganggukkan kepalanya tanpa ragu, apalagi ada nama mom Jilliana yang dia dengar.
"Terima kasih Ains," balas Helena, dia bergerak lebih dulu untuk memeluk Ains. Seolah tulus sekali dengan pertemanan keduanya.
Tanpa disadari oleh Ainsley jika saat itu mobil Eric pun masuk ke area parkir tersebut.
Eric langsung menatap Ains yang entah bertemu dengan siapa. Wanita itu nampak memeluk Ains erat, namun setelah berpisah wanita itu menunjukkan wajah yang marah. Seolah memiliki dua kepribadian yang berbeda, di depan Ains nampak baik, namun dibelakang memiliki niat yang jahat.
Eric dan Helena hanya berpapasan.
Ketika Helena pergi, Eric berdiri tepat di hadapan Ainsley.
Ya Tuhan, hari ini aku sibuk sekali. Batin Ainsley, karena orang selalu datang dan pergi menemuinya.
"Siapa dia?" tanya Eric, menunjuk mobil Helena yang telah jauh.
"Temanku," balas Ainsley apa adanya.
"Tidak usah berteman dengan wanita seperti itu," balas Eric pula dengan nada serius, sementara Ainsley langsung mengerutkan dahinya.
"Kenapa?" tanya Ainsley pula.
"Tadi dia memeluk mu, tapi setelah itu dia menunjukkan wajah yang marah di belakang mu," jujur Eric.
Dan membuat Ainsley seketika menelan ludah kasar, nyaris saja dia terpedaya.
__ADS_1
Ains lantas menatap lekat ke arah Eric, kemarin pria ini menawarkan sebuah pertemanan. Dan kini Ainsley benar-benar merasakan hawa pertemanan tersebut.