
"Tante, Kenapa sejak tadi aku disuruh diam terus?" balas Helena, dia juga merasa kesal karena tiap kali bicara langsung diminta untuk diam. Padahal Helena hanya sedang menyuarakan isi hatinya, toh Dia begini juga karena peduli dengan Tante Jilliana dan om Bastian, tapi bukannya dihargai semua usahanya, malah diminta diam dengan tak berperasaan.
"Karena semua ucapan yang keluar dari mulutmu membuat Tante jadi semakin pusing, Hel! lebih baik sekarang kamu pulang," titah mom Jilliana pula, Helena sedikit pun tidak menberi solusi untuk semua masalah ini, tapi Helena justru membuat pikirannya jadi semakin kacau.
Terus membuatnya berpikir buruk tentang Ains dan hubungannya dengan Damian.
"Tante, kenapa malah memintaku untuk pulang?" lirih Helena, melihat Tante Jilliana yang nampak marah dia langsung berakting memelas, tak ingin kehilangan simpati meski hanya sedikit.
"Sudahlah Hel, semakin lama Tante semakin sadar. Bahwa kamu memang sengaja membuat Tante membenci Ains," balas mom Jilliana, dia memang belum bisa sepenuhnya menerima Ainsley di dalam keluarganya, tapi sikap Helena terkesan sangat berlebihan akhir-akhir ini, membuatnya semakin pusing.
Sementara Helena sekalipun tak pernah memberinya solusi yang masuk akal.
"Lebih baik kamu pulang, tidak perlu sering-sering datang ke sini lagi. Tante butuh waktu sendiri," putus mom Jilliana.
Sebelum Helena sempat kembali menjawab, dia sudah lebih dulu dari sana. Memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamarnya dan mengurung diri dalam pikiran yang kacau.
"Tantee! Tan!!" panggil Helena, namun sekalipun Tante Jilliana tidak lagi menoleh ke arahnya.
"Sial, kenapa malah aku yang dimarahi," gerutunya seraya menghentak lantai dengan satu kaki, tanda kekesalan.
Helena lantas pergi dari sana dengan wajah yang nampak ditekuk. Megan, Marcel dan Aldian kini pun jadi sasaran kebenciannya, karena orang-orang itu berani-beraninya bersekutu dengan Ains dan Damian.
Bagi Helena mereka semua seperti pengkhianat. Lebih dulu mengenal dia namun malah membela Ains.
Di ruang kerja dad Bastian, pria itu duduk di kursi kebesarannya dan mengusap wajah frustasi. Andre juga sudah menunjukkan foto-foto pertunangan Damian dan Ainsley.
__ADS_1
Setelah dia usir Damian dari rumah ini, setelah semua fasilitas dia cabut, pikir Dad Bastian Damian akan hidup sengsara, lalu menyesal dan memohon untuk pulang.
Tapi ternyata kini anak-anaknya itupun tetap hidup dengan layak, dengan kemewahan yang bahkan terlihat tak berubah.
Sedangkan dia semakin kacau di tinggal seperti ini, mengurus perusahaan sendiri pun dad Bastian merasa tak sanggup, dia telah kehilangan para pewarisnya.
Tak ada lagi tempat untuk bersandar.
"Kita lihat, sejauh mana kamu akan pergi Dam," gumam Daddy Bastian, yang masih belum menyerah dengan ini semua.
*
*
Damian mengajak semua keluarganya untuk mengunjungi rumah yang selama ini dia tinggali.
Memang tak sebesar milik Daddy Bastian, tapi tetap saja rumah itu nampak mewah untuk anak-anak yang lain. Rumah 2 lantai yang tetap saja membuat mereka takjub.
Damian meminta anak-anak untuk istirahat lebih dulu, Rora juga sudah terlelap di dalam gendongan Ains.
"Kita makan malam di sini saja, setelah itu baru kakak antar pulang," ucap Damian.
Leo lantas menunjukkan kamar bibi Ema, kamar Zen dan Joshua, serta kamar Rachel dan Amara.
Sementara Rora akan istirahat di kamar Damian bersama dengan Ains.
__ADS_1
Hidup dengan rukun dan penuh kebersamaan seperti ini, benar-benar membuat mereka semua merasa bahagia.
Tapi di hati Ains tetap saja terasa ada yang mengganjal tiap kali ingat mom Jilliana dan Daddy Bastian.
"Kak," panggil Ains setelah dia menidurkan Rora di atas ranjang.
Mendengar Ains memanggil, Damian pun langsung menarik Ains untuk duduk di sofa.
"Kenapa?" tanya Damian, kini dia telah memangku Ains.
"Hari ini aku bahagia sekali," ucap Ains kemudian.
Damian tersenyum, dia pun membelai wajah Ains dengan lembut. Belaian tangannya berhenti di bibir Ains yang merah. Ingin buru menyesap namun dia tahan karena Ains masih nampak ingin bicara.
"Tapi ... Tapi bagaimana dengan mom Jilliana dan Daddy Bastian?" tanya Ains pula.
Damian malah tersenyum lagi, "Tidak perlu mencemaskan apapun tentang mereka, Aku juga yakin sekarang mereka sudah mengetahui tentang pertunangan kita," balas Damian.
"Percaya saja padaku ya?" pinta Damian lagi dan Ainsley mengangguk. Ains sudah berada di tahap paling percaya pada kak Damian, bahwa apapun yang dilakukan oleh pria ini adalah yang terbaik untuk mereka berdua, bahwa kak Damian akan selalu mengupayakan untuk kebahagiaan.
Ains lantas lebih dulu mengikis jarak di antara mereka berdua, sampai bibir keduanya jadi menyatu dan beradu.
Sampai terdengar lenguhan manja dari mulut Ains.
Ughh.
__ADS_1