
"Tidak Kak, aku tidak menangis," jawab Ainsley, dia buru-buru menghapus air mata yang terlanjur keluar.
Jika kak Damian sudah berjuang sejauh ini untuk mempertahankan dia, maka Ainsley pun akan melakukan hal yang sama. Dia tidak ingin membuat semua perjuangan kak Damian jadi sia-sia.
Seperti janji mereka, bahwa mulai sekarang keduanya akan selalu bersama. Tak ada lagi yang bisa memisahkan.
Jika kak Damian ingin dia tidak tau apapun, maka Ainsley akan tetap diam. Pura-pura tidak tahu apapun dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja.
Yang memintanya untuk berpisah adalah mom Jilliana, bukan kak Damian. Jika kak Damian masih ingin mempertahankan dia, maka Ainsley pun akan melakukan hal yang sama.
"Kakak sudah makan?" tanya Ainsley, mulai mengalihkan pembicaraan, juga mengkondisikan perasaannya sendiri agar tidak larut dalam kesedihan.
"Besok kak Damian tidak perlu menjemputku. Aku akan pergi bersama dengan Zen,"
"Sepertinya besok aku juga sibuk, bagaimana jika kita telepon saat malam begini saja,"
"Ah aku ngantuk, ayo kita tidur,"
"Aku sangat mencintaimu, Kak." Ainsley terus bicara tanpa sedikit pun menyinggung tentang pertemuannya dengan mom Jilliana. Daripada membahas kesedihan itu, Ainsley justru ingin memberikan banyak cinta dan perhatian.
Setelah panggilan itu terputus, Damian akhirnya membaca semua pesan yang dikirim oleh Leo.
Tentang mom Jilliana yang datang ke Zen Minimarket dan bertemu dengan Ains. Kedatangan yang membuat Ains seharian ini jadi murung.
Deg! Membaca pesan itu, Damian langsung bisa menebak jika mom Jilliana pasti datang karena mengatakan tentang kepergiannya dari rumah. Dan mungkin saja mom Jilliana menyalahkan semua pada Ains.
"Astaga," ucap Damian seraya menjambak rambutnya frustasi. Dia belum sempat mengganti baju dan langsung keluar dari rumah itu.
Tujuannya adalah mendatangi rumah Ains. Ingatannya mundur ke beberapa waktu lalu, mengingat jika di awal panggilan teleponnya dengan Ains kekasihnya itu terdengar menangis.
__ADS_1
Ains juga buru-buru sekali menutup sambungan telepon mereka, seolah hendak menutupi sesuatu.
Tiba di depan rumah Ains, Damian langsung menelpon kekasihnya tersebut. "Keluar lah, aku ada di depan rumah," titah Damian.
Ainsley jelas terkejut, dia sontak melebarkan mata dan segera turun dari ranjang. Berlari ke arah jendela dan mengintip di luar sana. Sudah ada sebuah mobil dengan lampu masih menyala terparkir jelas di depan gerbang.
"Ya ampun Kak, kenapa datang ke sini?" protes Ains, dia tidak sempat memperhatikan penampilannya dan langsung keluar menemui sang kekasih.
Sekarang waktu sudah hampir jam 10 malam, jadi semua orang sudah tertidur di kamarnya masing-masing. Setelah menutup pintu Ains pun berlari menghampiri mobil tersebut, Damian keluar dan menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat.
"Kenapa kak Damian datang?" tanya Ainsley, dia pun memeluk erat.
Namun bukannya langsung menjawab, Damian malah langsung menarik Ainsley untuk segera masuk ke dalam mobil. Mereka berdua sama-sama duduk di kursi tengah.
"Aku rindu," kata Damian.
Ainsley langsung duduk di atas pangkuan sang kekasih dan tak ragu untuk mencium lebih dulu.
"Kamu tidak memakai bra?" tanya Damian dan Ainsley baru sadar tentang hal itu.
"Aku tadi kan sudah mau tidur!" kilah Ainsley jadi gugup.
Damian terkekeh pelan, dia elus punggung Ainsley dengan lembut. Ains yang sekarang sudah menggunakan baju tidur yang sangat lembut.
"Tadi mom Jilliana datang ke toko?" tanya Damian.
Deg! Ainsley yang terkejut langsung menelan ludah kasar.
"Bagaimana kak Damian bisa tau?" cemas Ainsley.
__ADS_1
"Apa yang dia katakan?"
Ainsley mengigit bibir bawahnya kuat, tak kuasa untuk menjawab pertanyaan tersebut. Apalagi Ains tak pernah bisa bohong jika di hadapkan pada kak Damiannya.
Jadi bukannya menjawab, Ainsley justru mengajukan pertanyaan.
"Apa aku boleh menolak permintaan mom Jilliana kak?" tanya Ainsley lirih.
"Apa yang dia minta?"
"Mom Jilliana ingin aku mengakhiri hubungan ini."
Damian sontak membuang nafasnya dengan kasar. Sampai pula mereka di titik ini, di hubungan yang tidak mendapatkan restu.
"Maafkan aku Ains, ucapan mom Jilliana pasti sangat menyakiti mu."
"Tidak Kak, wajar mom Jilliana bicara seperti itu. Dia hanya menginginkan yang terbaik untuk kak Damian."
"Tapi yang aku mau hanya kamu," balas Damian lirih.
"Jadi bagaimana?" tanya Ains pula, tak kalah sendu suaranya.
"Apanya yang bagaimana? Aku bahkan sudah keluar dari rumah itu. Tunggu sebentar lagi, sebentar lagi kita akan menikah. Ada atau tidak restu mereka."
Ainsley terdiam, tak bisa dipungkiri daddanya pun begitu sesak. Karena selalu merasa dialah yang jadi penyebab kehancuran di keluarga Lynford.
Lamunan sendu Ains jadi buyar saat dia merasakan ciuman lembut di bibirnya, sentuhan lembut di puncak daddanya.
"Mom Jilliana, Daddy Bastian dan Helena. Jangan terpengaruh apapun dengan mereka bertiga. Cukup percaya padaku, ya?" pinta Damian dan Ainsley mengangguk patuh.
__ADS_1
Malam ini keduanya saling menghangatkan di dalam mobil tersebut.