Wanita Sang Tuan Muda

Wanita Sang Tuan Muda
WSTM Bab 48 - Mata Berwarna Biru


__ADS_3

Tangis Ainsley makin sesenggukan hal itu tentu membuat Damian merasa khawatir. Damian lantas memakai bajunya dan membantu Ains untuk memakai gaunnya pula, meski hanya gaun tanpa penutup inti di dalam sana.


"Aku akan ambilkan minum," kata Damian, dia segera pergi tanpa menunggu Ains menjawab. Lalu kembali datang dengan segelas air putih dan sepiring makanan. Siang tadi Ains belum makan dan sekarang Damian jadi cemas jika sang kekasih sakit.


"Kenapa menangis sampai seperti ini Ains? Aku membuat salah padamu?" tanya Damian, Ainsley menggeleng dengan cepat.


Susah sekali bagi Ainsley untuk meredakan tangisnya tersebut, karena tiap kali dia lihat kak Damian dadanya makin bergemuruh. Sepertinya mimpi yang jadi nyata.


"Minumlah dulu," titah Damian dan Ainsley menurut, dengan sesenggukan dia minum sedikit air dari gelas itu.


"Cobalah untuk berhenti menangis, aku suapi ya," pinta Damian lagi dan Ainsley hanya mampu mengangguk, sementara air matanya terus mengalir tanpa jeda, Ainsley sudah berusaha untuk menghapusnya tapi air mata itu jatuh lagi, lagi dan lagi.


Damian coba tak memperdulikan tangis itu, dia tetap menyuapi Ains dan sesekali mengelus puncak kepalanya agar Ains tenang, tapi bukannya tenang dia justru melihat Ains yang meremat bajunya dengan kuat, seolah ada rasa mengganjal di dalam hati Ains, tapi tak bisa Ains ucapkan.

__ADS_1


Ainsley hanya mampu makan tiga suap, setalahnya dia menggeleng tidak mau makan lagi. Setelah minum dia bahkan langsung memeluk kak Damiannya dengan erat, sampai Ainsley kembali berada di atas pangkuan pria tersebut.


"Kamu membuatku takut Ains," kata Damian, dia mengelus punggung Ains dengan lembut, merasakan jelas tubuh kekasihnya yang gemetar.


Cukup lama mereka berada dalam posisi seperti itu, sampai tangis Ainsley akhirnya sedikit mereda. Kini kedua matanya sudah nampak bengkak dan merah, hidungnya pun seperti tersumbat.


Tapi akhirnya Ainsley mampu menatap kak Damian dengan lekat.


"Minum dulu sedikit," kata Damian lagi. Damian tidak melepaskan Ains, dia menggendong sang wanita lalu mengambil gelas di meja. Setelahnya Damian membawa Ains untuk duduk di sofa. Di sana dia masih memangkunya.


"Bolehkah ... aku sekarang memanggil kak Ford dengan sebutan kak Damian?" tanya Ainsley dengan suara yang nyaris habis, habis karena menangis.


Damian mengangguk.

__ADS_1


"Darimana kak Damian mendapatkan luka ini?" tanya Ainsley, Damian memang sudah memakai baju lengan panjangnya, tapi Ainsley menyentuh lembut tangan kanan tersebut, hingga tanpa perlu dijelaskan pun Damian bisa mengerti Kemana arah pertanyaan Ains. Pasti bekas luka yang ada di tangan kanannya.


"Bolehkah aku menebak?" tanya Ainsley lagi, bahkan sebelum Damian sempat menjawab pertanyaannya yang pertama.


Kali ini Damian mengangguk, namun dengan tatapan yang lebih intens. Kenapa Ains berucap seperti itu?


"Luka ini kak Damian dapatkan 17 tahun lalu, di penjara bawah tanah demi melindungi seorang anak perempuan bernama Ainsley," ucap Ainsley lalu menangis lagi, lalu sesenggukan lagi.


Sementara Damian seketika tergugu, Tak ada yang tau cerita tentang luka ini. Bahkan kedua orang tuanya pun tak tau cerita yang sebenarnya, hanya tau bahwa luka ini berasal dari para pejahat di masa lalu.


Deg! Jantung Damian seperti berhenti berdetak, sesaat denyutnya nyeri sekali. Dia menangkup wajah Ains yang menangis, kembali menyelami dua mata berwarna biru yang menangis tersebut.


"Ainsley," panggil Damian dengan suara yang bergetar.

__ADS_1


__ADS_2