Wanita Sang Tuan Muda

Wanita Sang Tuan Muda
WSTM Bab 41 - Ketahuan Selingkuh


__ADS_3

"Eric Fuller," gumam Ainsley, dia lantas menoleh ke sisi kiri dan melihat kepergian pria tersebut.


Sepertinya orang itu bukan orang sembarangan, terlihat dari penampilannya yang elegan dan mobilnya yang mewah.


"Bagaimana bisa dia berhenti di toko ku," gumam Ains, pasalnya toko dia tidaklah terlalu besar. Rata-rata yang datang juga hanyalah dari kalangan menengah ke bawah, lalu kini tiba-tiba dia mendapatkan pelanggan kelas atas kecuali kak Fordnya.


Ainsley lantas menyimpan kartu tanda pengenal tersebut di dalam laci, sungguh, dia tidak terlalu banyak berharap bahwa pria itu akan kembali untuk membayar minumannya. Jika memang dibayar syukur jika tidak ya sudah.


Ainsley pun lantas kembali melayani pelanggannya yang lain.


*


*


Di perusahaan Lynford Kingdom, Damian tiba-tiba kedatangan Aldian sebagai tamu. Datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu tentu cukup membuat Demian merasa heran. "Ada apa?" tanya Damian langsung, bahkan di saat sang sahabat belum duduk di sofa.


"Duduk sini dulu, Ada yang ingin aku bicarakan padamu," balas Aldian, dia meminta Damian untuk meninggalkan kursi kerjanya dan duduk bersama di sofa.


Tanpa banyak kata lagi, Damian pun menuruti ucapan Aldian tersebut. Kini keduanya sudah duduk saling berhadapan di sana.


"Sebenarnya aku tidak ingin membahas tentang hal ini, tapi melihatmu yang selalu berbohong menginap di apartemenku aku jadi kepikiran," ucap Aldian.


"Kepikiran apa?"


"Semalam Megan mengatakan bahwa Helena menghubungi dia, Helena sepertinya mulai curiga padamu."


Damian terdiam.


"Sebenarnya hubungan seperti apa yang sedang kamu jalin dengan Ains? jika hanya untuk bersenang-senang lebih baik segera akhiri saja," ucap Aldian pula, dia bicara seperti ini hanya demi kebaikan Damian. Mereka berdua sama-sama tahu dari mana Ains berasal, seorang penari striptis di klub malam.


Jika orang-orang tau Damian memiliki hubungan dengan wanita seperti itu jelas akan mempengaruhi nama baik Damian sendiri.


"Sudah, Aku hanya ingin mengatakan tentang hal ini saja," kata Aldian, apalagi dilihatnya Damian yang nampak bingung.


"Beri uang yang banyak pada Ains, ku rasa dengan begitu dia tidak akan mengganggumu lagi."


"Jaga ucapanmu Al!l, Berhenti menganggap Ains sebagai wanita murahan." Damian akhirnya menjawab, namun bicara dengan suaranya yang terdengar dingin.


"Aku tidak akan meninggalkan Ains, bahkan jika Helena atau kedua orang tua ku tau. Dia memang penari striptis, lalu apa masalahnya?" balas Damian lagi dan kini membuat Aldian tak bisa berkata apa-apa.

__ADS_1


Semakin banyak tekanan yang Damian terima, entah kenapa dia semakin takut kehilangan Ains. Damian justru merasa bahwa kini dia telah bermain apa pada wanita tersebut.


Wanita yang di mata semua orang pasti akan nampak hina, tapi sungguh, di mata Damian dia tak menemukan letak hina tersebut.


Ains adalah wanita yang hebat, pekerja keras, bahkan tak pernah mengambil yang bukan haknya.


Jika Ains ingin, dia bisa memanfaatkan semua fasilitas yang Damian beri. Tapi Ains tidak melakukan itu.


Selama ini Ains bekerja sesuai porsinya, tak ingin mengambil lebih, karena dia ingin tetap melindungi harga dirinya.


"Apa kamu menyukai wanita itu Dam?" tanya Aldian dengan tatapan yang lebih intens, Ains memang sangat cantik, tapi masih tak menyangka rasanya jika Damian memutuskan untuk benar-benar menjadikan wanita itu sebagai kekasih.


Dipikir Aldian, Ains hanya cocok dijadikan mainan.


"Iya, Ains adalah wanitaku. Jika ada yang mengusiknya aku tidak akan segan untuk membalas," jawab Damian dengan sangat yakin.


Dan membuat Aldian seketika tercengang.


"Astaga, dari banyak wanita yang mendekati mu kamu justru pilih wanita itu. Astaga." Aldian kehabisan kata-kata.


"Baiklah, kalau begitu mulai lindungi Ains dengan benar. Ku rasa bukan hal bagus jika Helena sampai mengetahuinya," ucap Aldian kemudian. Apalagi dia mendengar juga jika semalam keluarga Pedrox datang ke rumah Damian untuk membicarakan tentang perjodohan.


Karena itu pulalah kini Aldian datang ke sini.


Dan mendengar semua ucapan Aldian, Damian menjawabnya dengan anggukan kepala kecil. Kini mulai merasa bahwa Helena tak selugu yang dia kira.


*


*


Menjelang sore, bibi Ema, Rora, Amara dan Joshua datang ke Minimarket. Mereka ke sini naik angkutan umum-Bus. mengantar makanan untuk Ainsley.


Ketika Ainsley makan, bibi Ema lah yang menjaga di bagian kasir. Bibi Ema dibuat bingung saat seorang pria datang dan mengatakan ingin membayar hutang.


"Maaf Bi, tapi aku berhutang dengan karyawan yang masih muda. Aku tadi tidak membawa uang tunai," ucap Eric. Ya, pria itu adalah Eric Fuller, dia baru bisa datang di jam sore seperti ini.


"Hutang apa?" tanya bibi Ema pula.


"Minuman, tapi aku lupa tidak membawa botolnya. A tunggu sebentar, aku akan ambil minuman itu lagi dan membayarnya dua kali lipat," terang Eric dengan antusias, dia bahkan langsung pergi dari bagian kasir dan mengambil minuman sama seperti siang tadi.

__ADS_1


Bibi Ema yang bingung lantas meninggalkan meja kasir juga, melangkah buru-buru menuju ruang istirahat dan memanggil sang anak.


"Ains, Maaf Bibi mengganggumu. Tapi di depan ada seorang pria yang katanya ingin bayar hutang. Bibi malah jadi bingung," terang bibi Ema.


Kedua mata Ainsley mendelik, tak menyangka bahwa pria itu akan benar-benar kembali ke tokonya.


Ainsley lantas buru-buru menelan makanan di mulut dan minum sedikit air, "Biar aku yang layani, Bi," kata Ainsley.


"Mommy ikuut," rengek Rora pula, sejak kemarin dia tidak melihat sang mommy, sekarang ketika sudah bertemu seperti ini dia jadi ingin terus menempel.


Ainsley yang tidak ingin membuang waktu pun segera menggendong sang anak, "Ayo sayang, tapi nanti jangan pencet-pencet komputer mommy ya?"


"Oke Mom!" sahut Rora patuh.


Joshua dan Amara masih asik menonton televisi di sana. Sementara bibi Ema pun ikut ke Maja kasir juga.


Saat Ainsley datang dengan menggendong Rora, bertepatan pula dengan pria itu yang menuju meja kasir.


"Untunglah kamu masih berada di sini," ata Eric.


"Terima kasih sudah datang lagi, Tuan," balas Ainsley pula.


"Itu anakmu? Cantik sekali," puji Eric pada Rora. Gadis kecil yang dipuji pun jadi malu sendiri. Rora tersenyum lalu menyembunyikan wajahnya dipelukan sang ibu.


Bibi Ema yang mencetak struk pembelian, sementara Ainsley hanya tinggal menambah hutang yang tadi pagi belum terbayar.


"Ini kartu nama anda, Tuan," ucap Ainsley pula, seraya menyerahkan kartu nama tersebut. Dia memberikan kartu ini setelah proses pembayaran selesai.


"Kamu sudah tau namaku, tidak adil rasanya jika aku tidak tau namamu," balas Eric.


Ainsley tersenyum kikuk, "Saya Ainsl_"


"Ains!" panggil Damian tiba-tiba, yang entah sejak kapan datangnya.


Ainsley tentu terkejut, sementara Eric biasa saja. "Ains nama yang bagus," kata Eric kemudian, "Terima kasih," ucapanya lagi lalu segera pergi dari sana.


Berpapasan dengan Damian yang sudah menatapnya dengan tajam. Tatapan tajam yang kini berpindah ke arah Ains.


Deg! Astaga, kenapa kak Ford mengerikan sekali. Batin Ainsley, lalu menelan ludahnya kasar. Dia hanya melayani pelanggan, tapi seperti ketahuan selingkuh.

__ADS_1


__ADS_2