Wanita Sang Tuan Muda

Wanita Sang Tuan Muda
WSTM Bab 61 - Dua Pilihan


__ADS_3

"Om, Tente kami akan pulang sekarang," pamit Zen secara langsung, dan tentu membuat semua orang tercengang.


Tapi Ainsley tak bisa membantah ucapan sang adik, Zen pasti punya alasan kenapa dia seperti ini. lagipula tentang wanita itu, kini akhirnya benar-benar jadi pertanyaan bagi Ains.


Selama ini dia kira semua pesan singkat itu hanyalah spam yang tak berdasar, terlebih dulu Ainsley belum punya keberanian untuk masuk lebih dalam di kehidupan pribadi kak Damian.


Tapi kini setelah semua yang terjadi, setelah janji baru yang mereka buat. Ainsley tak bisa hanya tinggal diam. Dia akan menuntut penjelasan.


"Loh, kenapa buru-buru sekali?" tanya mom Jilliana, dia langsung bangun dari duduknya dan menghampiri Zen, meninggalkan Helena begitu saja, bahkan sampai lupa untuk memperkenalkan Helena dengan Ains.


"Ada masalah di toko, aku dan kak Ains harus memeriksanya langsung," balas Zen bohong. Dia tak ingin membuat keributan lebih dari ini.


Yang salah hanyalah Damian, sementara Jilliana dan Bastian mungkin tidak tahu apa-apa.


Damian tau dia pun tak bisa berdebat dengan anak itu, jadi yang bisa Damian lakukan hanyalah mengikuti Zen.


"Ayo aku antar," sahut Damian kemudian.


"Daddy juga akan antar kalian," sambung Daddy Bastian.


"Aku ikut Dad," pinta Rachel pula.


"Loh, kok jadi pada pulang begini sih. Nanti ya," bujuk mom Jilliana pula, dia belum puas menghabiskan waktu bersama Ains dan anak-anak yang lain, tapi mendadak malah jadi seperti ini.


Zen yang tak ingin kakaknya sampai berkenalan dengan wanita itu pun, langsung dengan cepat melangkah keluar. Dan akhirnya diikuti oleh yang lain.

__ADS_1


Helena tak menyukai keadaan seperti ini, padahal dia belum menekan wanita jallang itu. Tapi bocah bernama Zen itu malah mengacaukan semuanya.


Karena jadi banyak sekali yang mengantar, di mobil Damian hanya ada Ains dan Zen saja.


Awalnya melaju dalam keadaan yang terasa dingin, namun kemudian Damian bicara, "Zen, apa maksud ucapanmu sebelum kita pergi tadi? calon istri? Siapa calon istri yang kamu maksud?" tanya Damian.


Zen justru tersenyum miring, sebenarnya dia malas sekali untuk menjelaskan. Tapi kini dia harus bicara agar kak Ains tau juga.


"Kak Helena, tante Jilliana mengenalkannya pada kami sebagai calon istri Om Damian. Sudah paham sekarang?" balas Zen pula.


"Zen." Ainsley menoleh ke belakang dan menyentuh kaki sang adik, dia tak ingin Zen sampai bersikap tidak sopan. Ainsley memang duduk di depan mendampingi Damian yang mengemudi. Ainsley juga kecewa mendengar penjelasan tersebut, tapi tetap saja mereka tak bisa menyelesaikan dengan cara seperti ini. Apalagi sebelum ada penjelasan langsung dari Damian.


Dan mendengar jawaban Zen tersebut, Damian memang tak bisa menjawab apapun. Hanya membuang nafasnya dengan kasar, dan menyalahkan semua pada sang mommy dan juga Helena.


"Itu tidak benar, ini hanya salah paham," balas Damian setelah beberapa saat.


Sungguh, Ainsley adalah satu-satunya orang yang begitu pusing dalam perdebatan ini.


"Baiklah, lagipula setelah ini kesalahan pahaman ini pun akan selesai," balas Damian dengan yakin, "Mulai sekarang panggil aku Kak, bukan om. Panggil daddy pada Daddy Bastian, bukan Om. Mommy Jilliana, bukan Tante Jilliana, paham?" timpal Damian kemudian, mereka telah jadi keluarga, Damian benar-benar ingin diterima oleh anak-anak, karena itulah dia sampai menekan seperti ini.


"Sudah cukup," ucap Ainsley, akhirnya dia bicara seraya menyentuh lengan kak Damian agar tak terbawa amarah.


Dan mendengar ucapan kak Ains itu, Damian dan Zen kompak terdiam.


3 mobil yang beriringan tersebut akhirnya tiba di rumah Ains, semuanya turun dan dalam kesempatan kali ini pun Daddy Bastian kembali menekankan pada semua anak untuk memanggilnya Daddy, kecuali Rora yang harus memanggil dia Opa dan mommy Jilliana adalah Oma.

__ADS_1


Anak-anak tentu senang-senang saja, satu-satunya hal yang tidak mereka sukai hanyalah tentang wanita bernama Helena itu.


"Dad, bibi Ema bisa kita bicara dulu," ucap Damian tiba-tiba, Zen juga langsung menatap kearahnya.


"Ada apa, Dam?" tanya dad Bastian, bingung.


Namun Damian justru menatap ke arah bibi Ema dengan tatapan penuh permohonan maaf, Damian tau bibi Ema juga pasti kecewa, sekecewa Zen padanya.


"Zen, ajak adik-adikmu dan Rachel untuk masuk ke dalam. Bibi dan yang lain ingin bicara lebih dulu," titah bibi Ema pula.


"Baik Bi," jawab Zen pasrah, Rachel juga mengikuti langkah yang lain untuk masuk lebih dalam ke rumah itu. Amara juga langsung menggandeng kak Rachelnya.


Sudah duduk berempat di ruang tamu itu, akhirnya Damian mengutarakan apa yang ingin dia bicarakan. "Dad, aku tidak akan menikahi Helena. Satu-satunya wanita yang akan aku nikahi hanyalah Ains. Aku bahkan sudah melamarnya pada bibi Ema," terang Damian.


Sebuah penjelasan yang tentu membuat Dad Bastian jadi tercengang. Pasalnya pemikiran dadda Bastian sama seperti istrinya. Mereka hanya berniat menjadikan Ainsley sebagai anak angkat, bukan calon istri Damian.


Diam-diam para anak-anak pun tidak jadi masuk ke dalam rumah, mereka justru menguping di pinggir tembok.


Rachel sangat tercengang, sementara Zen membuang nafasnya kasar.


Ingin lihat sejauh mana permasalahan ini akan bergulir, tapi apapun hasilnya dia akan selalu melindungi kak Ains.


"Dam, kita tidak bisa bicarakan ini sekarang," balas Daddy Bastian, dia bingung dan belum bisa mengambil keputusan.


"Ains, kamu tidak perlu khawatir. Apapun yang terjadi, kamu akan tetap jadi anak Daddy," timpal Dad Bastian lagi. Dia bisa bersumpah, bahwa kasih sayangnya pada Ainsley tak akan berubah meski ada Helena.

__ADS_1


Dan kini Ainsley seperti berada di dua pilihan, Damian atau kedua orang tua yang menganggapnya anak.


__ADS_2