
Rachel berlari dan keluar dari area rumah megah tersebut. Dia tidak pergi menggunakan mobil tapi terus berlari hingga menuju jalan raya dan menghentikan sebuah taksi.
Rachel berlari cepat sekali karena dia tahu sang mommy pun mengejar, mom Jilliana bahkan meminta pada pelayan dan penjaga keamanan untuk menangkapnya.
"Cepat pak! Jalan!!" pekik Rachel, memerintah sang sopir taksi tersebut dengan tidak sabaran.
Dan untunglah sopir taksi tersebut langsung melajukan mobil mereka. hingga beberapa orang yang mengejar Rachel tidak berhasil mendapatkannya.
Huh! Nafas Rachel memburu, setelah beberapa saat mobil itu melaju kini dia mulai bingung ke mana harus pergi.
Rachel mengambil ponselnya di dalam tas dan coba menghubungi sang kakak, tapi ternyata nomor itu sudah tidak aktif. Rachel cukup terkejut, karena Setelah sekian lama sejak kak Damian pergi dari rumah dia baru mengetahui tentang hal ini. Pikiran Rachel makin buntu dan satu-satunya tempat yang bisa dia tuju adalah Zen minimarket.
"Lurus terus Pak, nanti berhenti di toko Zen minimarket," pinta Rachel.
Sekarang dia tidak tahu bagaimana caranya menghadapi Zen. Wajar saja jika pria itu menaruh kemarahan padanya.
Tiba di Zen Minimarket ternyata Reino sudah tidak ada di sana, Zen juga ternyata sudah pulang. Jadilah Rachel hanya bertemu dengan kak Rania.
"Duduklah di dalam Nona, saya akan menghubungi nona Ains," ucap kak Rania.
"Jangan kak, aku pergi saja," balas Rachel pula. Dia juga langsung keluar dari toko tersebut. Tidak langsung pergi, Rachel lebih dulu duduk di depan dengan pikiran yang kosong.
__ADS_1
Aku harus pergi kemana? Dimana rumah kak Damian yang baru? Batin Rachel, dia malah jadi menangis. Tak menyangka kedua orang tuanya begitu tega, hingga membuat dia dibenci oleh Zen sampai seperti ini. Sampai Zen tak sudi melihat wajahnya.
Bagaimana jika perbuatan ayahnya tersebut diketahui pula oleh teman-temannya yang lain, sudah bisa dipastikan bahwa tidak akan ada yang bersedia berteman dengannya lagi. Rachel adalah anak dari kedua orang tua yang mengerikan.
Padahal apa salah kak Ains? Apakah dengan masa lalu seperti itu tak bisa diberi kesempatan untuk memperbaiki hidup? Apakah masa lalu akan terus membelenggu.
Selama ini Rachel pun mengira mommy dan Daddy benar-benar menyayangi kak Ains dengan tulus, tapi ternyata tidak, ternyata semua itu hanyalah bualan semata. Apa yang diucap dibibir tak benar-benar sama dengan apa yang mereka rasakan.
Rachel malu, merasa begitu munafik.
Rachel lantas menunduk menyembunyikan wajahnya di atas meja, menangis sendirian.
"Rachel!" panggil Ains dan sontak membuat Rachel mengangkat wajahnya.
"Kak," balas Rachel pula, sedikit merasa takut karena dia lihat Zen juga ada di belakang kak Ains.
Ainsley dan Zen datang ke sini setelah mendapatkan telepon dari kak Rania. Meskipun Rachel sudah melarang kak Rania untuk menghubungi kak Ains, tapi nyatanya kak Rania tetap menelpon.
Hingga akhirnya disinilah Ains dan Zen berada.
"Kenapa kamu menangis di sini? Ayo pulang, kakak akan antar."
__ADS_1
Rachel langsung menggeleng, "Maafkan aku Kak, maafkan aku Zen," pinta Rachel buru-buru, "Karena Daddy, Zen sampai dikeluarkan dari sekolah," timpal Rachel lagi.
Zen hanya diam, dia bahkan memalingkan wajahnya. Sementara Ains mulai paham bahwa sekarang Rachel telah mengetahui semua masalah ini.
"Ayo kakak antar pulang," ajak Ains.
"Tidak, Kak. Aku tidak mau pulang. Apa kak Ains tau dimana kak Damian tinggal sekarang? Aku akan ikut kak Damian saja," pinta Rachel.
Ainsley tidak langsung menjawab, selain dia tidak tau dimana rumah kak Damian yang baru. Tapi Ains pun tak ingin kak Damian jadi khawatir tentang Rachel.
"Kalau begitu ayo kita pulang ke rumah kakak dulu, nanti setelahnya kita pikirkan lagi mau bagaimana," putus Ains.
"Kak, tidak perlu mengajak dia pulang ke rumah kita! Lebih baik minta kak Damian untuk menjemputnya di sini." Tolak Zen.
"Zen, sekarang kak Damian pasti sibuk. Lebih baik sekarang Rachel ikut kita."
Rachel jadi merasa tak enak hati sendiri. "Aku di sini saja kak," ucap Rachel lirih.
"Tidak, ayo kita pulang." putus Ainsley, "Zen, Rachel akan naik motormu," pinta kak Ainsley lagi dan pada akhirnya kedua remaja tersebut tak bisa menolak.
Zen menatap sinis pada Rachel, dan gadis itu hanya bisa menunduk.
__ADS_1