
"Aku datang bukan untuk menagih hutang, hanya ingin membeli kopi," ucap Eric kemudian, dia bahkan langsung masuk ke dalam toko dan melewati Ains begitu saja.
Di dalam sana ada mesin otomatis pembuat kopi hangat dan Eric hanya membeli itu.
Setelahnya dia pergi setelah tersenyum manis pada Ains di meja.
"Eric," panggil Ains dengan cepat, dia juga mengejarnya hingga mereka kembali bertemu di depan pintu masuk.
Keduanya kompak menyingkir ketika ada seseorang yang hendak masuk ke dalam toko.
"Kapan aku bisa membayar hutangku?" tanya Ains, semakin cepat hutang ini lunas maka semakin baik baginya. Meski Eric nampak tulus dalam pertemanan tapi entah kenapa Ainsley selalu merasa tak aman. Takut tiba-tiba di salah satu sudut dunia ini Damian mengawasinya. Meski tak ada apa-apa diantara dia dan Eric, Damian pasti tetap saja cemburu.
"Aku belum menemukan masalah dalam hidupku, jadi aku belum butuh jasamu," balas Eric seraya pura-pura berpikir, memikirkan masalah apa yang dia punya.
Padahal Eric memang sengaja mengulur waktu agar selalu ada alasan untuk mereka bertemu.
Ainsley mencebikan bibirnya sedikit, jika sudah seperti dia bisa apa. "Baiklah kalau begitu," balas Ainsley pasrah.
Eric tak berkata apa-apa lagi, dia langsung pergi dengan senyumnya yang khas.
*
*
__ADS_1
Damian tiba di perusahaan Marcel saat waktu sudah menunjukkan hampir jam 9 pagi.
Dia masuk ke ruang kerja Marcel tanpa persetujuan siapapun, seolah telah memiliki akses khusus di dalam perusahaan ini, tanpa perlu kartu pengunjung seperti tamu-tamu pada umumnya.
Tiba di ruangan Marcel ternyata sang pemilik ruangan pun telah ada di sana juga. Marcel yang menyambut kedatangan Damian dengan wajah nampak tercengang.
"Wah gila, Daddy mu benar-benar serius ingin mengusir mu, Dam," ucap Marcel langsung.
"Apa yang sudah dia lakukan?" tanya Damian pula.
Dan Marcel jadi makin tercengang dibuatnya, pasalnya Damian mulai memanggil om Bastian dengan sebutan Dia, bukan lagi Daddy seperti selama ini. Menandakan bahwa kemarahan Damian pun tidak main-main.
Telah sangat serius dengan jalan yang kini dia ambil.
Kekuatan Daddy Bastian memang tidak main-main, sedikit pergerakannya akan mempengaruhi harga saham di pasaran.
Damian lantas mengambil laptop milik Marcel, melihat harga saham perusahaan keluarga Marcel yang mengalami penurunan. Hal ini karena Marcel telah membantunya.
"Kamu tidak perlu khawatir, ini pasti hanya sementara. Siang nanti mungkin harganya akan naik lagi," balas Marcel.
Naik turun saham memang sudah hal biasa. Tapi Damian tak bisa memakluminya karena ini ada sangkut pautnya dengan dia.
"Pria tua itu pasti terus mengawasi aku, Marc."
__ADS_1
"Biarkan saja, tanpa aku dan Aldian kamu mau berbuat apa?" balas Marcel pula, jadi ikut bingung sendiri.
Damian lantas mengembalikan kartu kredit milik Aldian, tadi dia menggunakannya untuk membeli ponsel baru.
"Aku tidak bisa mempertaruhkan hidup kalian demi hidup ku. Untuk sekarang lebih baik kita tidak usah bertemu dulu."
"Apa yang mau kamu lakukan? Setidaknya katakan dengan jelas apa rencanamu, jadi aku bisa tenang."
"Aku akan menemui tuan Erland Davidson," putus Damian. (The Magical my wife)
Perusahaan keluarga Davidson adalah perusahaan yang sama-sama bergerak di bidang pertambangan. Bahkan selama ini selalu jadi yang terbesar, perusahaan Lynford selalu berusaha untuk menyaingi namun belum pernah tergapai.
Dengan status seperti ini, sang Daddy pasti tak akan bisa mengintimidasi perusahaan tersebut. Dengan begini Damian justru bisa membuat perlawanan.
Daddy dan mommy selama ini selalu mengagung-agungkan kekayaan yang mereka punya, dan kini Damian pun bertekad menghancurkannya.
Melalui jalan bergabung dengan perusahaan pesaing.
Glek! Marcel menelan ludahnya dengan kasar.
"Kamu serius melakukan ini semua Dam? Kamu akan melawan keluarga mu sendiri" kata Marcel.
"Ini yang mereka inginkan Marc, aku juga tak bisa membiarkan mereka memandang rendah pada Ains. Wanita yang kehormatannya ingin ku jaga."
__ADS_1