Wanita Sang Tuan Muda

Wanita Sang Tuan Muda
WSTM Bab 60 - Calon Istri


__ADS_3

Ains sedang menghabiskan waktunya bersama dengan Rachel dan Damian.


Sementara di bawah sana Helena akhirnya tiba di rumah ini. Dia memarkirkan mobilnya dan langsung melihat dua mobil yang terparkir di halaman rumah. Langsung merasa bahwa wanita jallang dan semua keluarga miskinnya itu telah berada di sini.


Helena tersenyum miring, "Ayo kita lihat, apa yang akan kamu lakukan setelah melihat wajahku?" gumam Helena dengan penuh percaya diri, pasalnya selama ini wajahnya pun sudah berulang kali dia kirim pada Ains melalui pesan singkat. Foto-foto dari nomor anonim. Bukan nomor ponsel milik Helena sendiri. Jadi mudah baginya untuk berkilah jika Damian menuduh yang bukan-bukan.


Namun melihat selama ini Ains tak pernah melaporkan tentang foto itu pada Damian membuatnya sadar akan satu hal, bahwa Ains memang semurahan itu. Sudah tau Damian memiliki seorang kekasih, tapi tetap bertahan jadi simpanannya.


Tanpa mengulur waktu lebih lama lagi, akhirnya Helena pun masuk ke dalam rumah tersebut. Di sambut oleh seorang pelayan. "Dimana tamu Tante Jilliana itu berkumpul, Bi?" tanya Helena, dia memang selalu terlihat baik untuk semua orang dikeluarga ini, termasuk untuk para pelayan.


"Mereka berada di ruang tengah, Nona," jawab pelayan itu apa adanya dan Helena kemudian menganggukkan kepalanya tanda paham. Dia juga menggerakkan tangan kanannya untuk memberi isyarat bahwa dia bisa sendiri, bibi boleh pergi.


Kedatangannya Helena di ruang tengah itu tentu langsung jadi pusat perhatian semua orang. Rora dan Amara yang sedang bermain pun langsung berhenti bergerak.


"Hel, akhirnya kamu datang sayang. Tante kira kamu tidak jadi datang," sambut mom Jilliana, dia mengulurkan tangan kanannya meminta Helena untuk mendekat, sampai bisa dia dekap.


"Anak-anak perkenalkan, ini adalah kak Helena, calon istrinya Om Damian," ucap mom Jilliana, langsung menjelaskan tanpa pikir panjang.


Sebuah penjelasan dan perkenalan yang membuat bibi Ema mendelik, bahkan Zen langsung menatap tajam ke arah dua wanita tersebut, seorang wanita yang bernama Helena dan Tante Jilliana.


Selama ini om Damian selalu mengatakan bahwa kak Ains adalah kekasihnya, tapi ternyata pria itu telah memiliki calon istri. Mengetahui fakta ini sudah membuat suasana hati Zen jadi buruk. Tanpa perlu dijelaskan dia sudah tau bahwa om Damian hanya mempermainkan kakaknya. Sungguh, saat ini juga dia ingin segera pergi dari sana.


Calon istri? batin bibi Ema pula, seketika dia menelan ludahnya dengan kasar. Diingatannya masih jelas tentang Damian yang datang menghadap lalu mengatakan bahwa dia berniat serius ingin menikahi Ainsley, lalu apa ini?


Ya Tuhan, batin bibi Ema lagi, hanya mampu terus membatin. Sementara hatinya sesak merasa terkejut.


Apa yang sebenarnya terjadi? Bibi Ema seketika terdiam seribu bahasa.

__ADS_1


"Halo, senang bertemu dengan kalian semua. Namamu siapa sayang?" ucap Helena pula, tatapannya tertuju ke arah Amara. Sementara Amara dan Joshua pun entah kenapa merasa tak suka saat Tante Jilliana menyebutkan bahwa wanita ini adalah calon istri om Damian, sementara yang mereka tau om Damian adalah kekasih kakaknya.


Bukannya menjawab pertanyaan Helena, Amara justru menggendong Rora dan berlari mendekati sang bibi.


"Ma-maaf, dia adalah Amara, ini Rora, Joshua dan Zen," ucap bibi Ema kemudian, bicara dengan perasaan yang mulai tidak nyaman.


Helena tersenyum kecil, di dalam hati mengumpat atas sikap anak-anak tidak tau diri ini.


"Ainsley sepertinya sedang bersama Damian dan Rachel di lantai atas, Tante akan minta pelayan untuk memanggilnya turun," ucap Tante Jilliana kemudian, karena diapun sudah tidak sabar memperkenalkan Ainsley pada Helena.


Bukan hanya tentang memperjelas status diantara mereka, tapi mom Jilliana juga ingin berbagi kebahagiaan pada Helena tentang mereka yang telah menemukan Ains.


"Maaf Tante, izinkan aku saja yang memanggil kak Ains," ucap Zen kemudian, dia cukup naik ke lantai dua rumah ini kan? Itu bukanlah hal sulit meski dia belum tau seluruh seluk beluk rumah ini, tapi membawa kak Ainsley untuk segera pergi adalah tujuan utamanya.


"Baiklah Zen, biar pelayan menemani kamu ya," balas mom Jilliana pula yang tak ingin Zen tersesat.


Zen hanya mengangguk.


"Tante, biar aku menyusul Zen," pinta Helena.


"Tidak usah sayang, kamu duduklah di sini," tolak mom Jilliana, langsung menarik Helena untuk ikut duduk di sana.


Sementara Zen semakin mempercepat langkah saat menaiki anak tangga, seorang pelayan yang mengikutinya sampai sedikit kualahan untuk mengimbangi.


"Tuan, ini kamar nona Ains," ucap pelayan tersebut dan tanpa pikir panjang Zen langsung membukanya dengan kasar.


Sampai Ainsley, Damian dan Rachel terkejut di buatnya. Padahal mereka sudah berniat untuk turun pula dan kembali bergabung dengan yang lain.

__ADS_1


"Zen," tegur Ainsley, dia merasa sikap Zen sangat tidak sopan, masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu.


"Kak, ayo kita pulang sekarang," ucap Zen langsung, tanpa basa basi dan tentu membuat Damian merasa paling terkejut.


"Kenapa buru-buru Zen?"


"Om Damian tidak perlu mengantar kami, kami bisa pulang sendiri," balas Zen tanpa rasa takut sedikit pun.


"Zen," tegur Ainsley lagi, dia bahkan menyentuh lengan sang adik. Tau bahwa Zen dalam suasana hati yang tak baik.


"Aku mohon Kak, ayo kita pulang saja," pinta Zen dengan suara yang terdengar lebih lembut.


Rachel yang ada di sana dan melihat itu semua pun akhirnya tak bisa diam saja, "Memangnya kenapa Zen? Kenapa buru-buru, kak Damian juga bisa mengantar kalian pulang jika ingin pulang. Aku juga ingin ikut mengantar," ucap Rachel.


Sampai rasanya ada perselisihan diantara mereka berempat.


"Kami bisa pulang sendiri, lebih baik Om Damian temani calon istri om di bawah," balas Zen lebih dalam ucapannya.


Dan kali ini Damian langsung mendelik kaget, "Apa maksudmu Zen?" tanya Damian.


Sementara Rachel sungguh bingung dengan apa yang terjadi. Mulai menebak-nebak apakah dibawah ada kak Helena? Lalu kenapa Zen nampak marah? Apakah jangan-jangan kak Damian memiliki hubungan serius dengan kak Ains?


Rachel hanya mampu menebak, sedangkan Zen tak mau menjelaskan apapun, dia langsung menarik sang kakak untuk segera keluar dari kamar ini.


Dan Ainsley, dia pun tergugu mendengar ucapan adiknya tersebut. Langsung ingat dengan wanita yang selama ini selalu mengirimnya pesan ancaman dan foto-foto mesra bersama Damian.


"Zen! Ainsley!" panggil Damian hendak mencegah kepergian keduanya. Rachel juga berlari menyusul.

__ADS_1


Sampai akhirnya mereka tiba di lantai 1 dan Ainsley benar-benar melihat wanita itu ada di rumah ini, duduk di samping mom Jilliana, bahkan keduanya nampak begitu dekat.


Deg!


__ADS_2