
Sampai pagi menjelang, Damian belum juga memberi kabar pada Ains. Bukan tanpa sebab Damian benar-benar memutus komunikasinya dengan Ains. Dia hanya tak ingin segera berlari pulang jika menghubungi kekasihnya tersebut.
Sementara saat ini Damian memiliki banyak sekali hal yang ingin dicapainya, ingin membuktikan diri pada sang ayah bahwa dia mampu tanpa embel-embel keluarga Lynford.
Bahwa di atas langit masih ada langit lagi. Jadi jangan terus melihat ke atas, namun lihatlah ke bawah dan syukuri semuanya tanpa kesombongan.
Hampir 2 bulan Damian bergabung di perusahaan Davidson, akhirnya grafik penjualan mengalami kenaikan yang lebih tinggi. Kini angka kenaikan itu berada di angka 0.89 persen. Pencapaian yang tentu tak mudah. Tuan Erland bahkan berulang kali memuji Damian untuk hal itu. Permintaannya untuk naik 1 persen memang belum terpenuhi, tapi seperti ini saja dia sudah merasa bangga.
Kini hanya tinggal menghitung waktu penjualan itu terus mengalami kenaikan, karena ini semua masih lah awalnya.
Pasar internasional yang mereka tuju kini perlahan mulai ditembus.
"Kerja mu sangat bagus Damian, apa ini tidak masalah bagi perusahaan keluarga mu?" tanya tuan Erland, kini mereka bertemu di ruang kerja milik Erland.
Kenaikan penjualan ini tentu berbanding terbalik dengan perusahaan pesaing. Jika mereka mengalami kenaikan yang lain jelas mengalami kemunduran. Jika kondisi ini berlangsung lama, bisa saja perubahan Lynford pun akan mengalami kerugian.
"Terima kasih Tuan, karena sekarang aku bekerja di sini maka prioritas ku adalah perusahaan Davidson, bukan perusahaan Lynford," balas Damian gamblang.
__ADS_1
Sebuah jawaban yang membuat tuan Davidson tertawa bahagia. Awalnya dia tak begitu tertarik dengan alasan kenapa Damian seolah Mengkhianati keluarganya. Tapi sekarang tuan Erland justru ingin tau.
Karena pasti ada alasan kuat kenapa Damian mengambil tindakan seperti ini. Tapi tuan Erland tentu tak akan bertanya secara langsung, dia bisa meminta anak buahnya untuk mulai menyelidiki Damian.
"Baiklah, karena aku sangat bangga padamu. Sekarang aku akan mengabulkan satu permintaan mu, katakanlah," tawar tuan Erland.
Damian tidak langsung menjawab, dia tersenyum kecil mendengarkan hal tersebut.
*
*
Melihat Eric datang, Ainsley pun ingin buru-buru menyelesaikan urusan diantara mereka. Ainsley ingin segera mendengarkan pria itu bicara tentang keluh kesah hidupnya.
1 sesi selama 1 jam maka hutang itu akan lunas.
"Sudah ingin menagih hutang?" tanya Ains, saat Eric datang ke kasir untuk membayar minuman.
__ADS_1
Rania yang juga ada di sana tak menaruh curiga sedikitpun, pikirnya hutang ya hutang, hanya berupa uang.
"Kenapa buru-buru sekali sih? Hidupku masih baik-baik saja," balas Eric, dia tersenyum kecil.
Senyum yang membuat Ains mendengus.
"Apa kamu ingin hidupku jadi bermasalah?" tanya Eric pula.
"Ya bukan begitu," sahut Ains kemudian, seraya menyelesaikan pembayaran untuk minuman Eric.
"Apa menyukai seseorang itu termasuk masalah juga?" tanya Eric, dia menyimpan uang kembalian di saku celananya.
"Bisa juga jadi masalah, ingin membicarakannya sekarang?" tawar Ains dengan tergesa.
"Tidak-tidak, aku masih bisa menanganinya sendiri," tolak Eric tak kalah buru-buru.
Pria itu bahkan langsung pergi begitu saja, meninggalkan Ains yang mendengus kesal. Kini Ains mulai sadar, bahwa pria itu memang sangaja menunda.
__ADS_1