Wanita Sang Tuan Muda

Wanita Sang Tuan Muda
WSTM Bab 64 - Kita Ubah Tempat Pertemuannya


__ADS_3

Pagi-pagi sekali mom Jilliana sudah sibuk di dapur. Jam 6 pagi dia sudah memerintahkan seorang supir untuk mengantarkan 3 kotak bekal makanan ke rumah Ains. Satu untuk Zen, satu untuk Amara dan dan satu untuk Joshua.


Mom Jilliana benar-benar ingin memiliki hubungan yang dekat dengan Ains serta adik-adiknya, tidak ingin sampai terputus lagi hubungan diantara mereka. Sejenak mom Jilliana melupakan prahara yang terjadi diantara Damian, Helena dan Ains. Dia hanya akan memperlakukan Ains seperti anaknya sendiri.


Jam 7 pagi Rachel datang ke meja makan dan melihat mom Jilliana yang masih nampak sibuk sendiri.


"Mom, tadi bangun jam berapa?" tanya Rachel seraya duduk di kursi meja makan. Daddy dan sang kakak bahkan belum datang ke sini.


"Tidak tahu sayang, sepertinya jam setengah 5 pagi. Itu bekal mu di atas meja ya, nanti pulangnya ajaklah Zen untuk ikut bersama mu, ya?" pinta mom Jilliana pula.


Sementara Rachel langsung tersenyum kikuk. "Tapi Mom, sebenarnya aku masih canggung dengan Zen," jujur Rachel, mom Jilliana yang sedang mengiris daging jadi menghentikan aktivitasnya, lalu menatap ke arah sang anak gadis.


"Kenapa?" tanya mom Jilliana pula.


"Sebenarnya selama ini aku dan Zen sudah saling tau, tapi kami tidak saling mengenal. Hanya beberapa kali bertemu di pertandingan sains," jujur Rachel lagi.


"Bagus dong itu, ternyata sekolah kalian juga saling berhadapan kan? Jalin hubungan yang baik dengan Zen, mom lihat dia adalah anak yang cerdas."


Rachel sekolah di sekolah swasta dengan taraf internasional, sementara Zen sekolah di sekolah negeri.


"Baiklah Mom," jawab Rachel pasrah, meski sebenarnya dia bukan hanya merasa canggung, tapi takut juga. Zen memang cerdas, tapi dia lebih dikenal dengan murid yang dingin.


Tak lama kemudian Damian dan Daddy Bastian datang ke meja makan.


"Dam, meskipun Daddy sudah membatalkan perjodohanmu dengan Helena, tapi alangkah baiknya kamu temui om Joe dan Tante Venya secara Langsung," ucap Daddy Bastian.


"Baik Dad, aku akan melakukannya."


"Daddy sudah menghentikan semua pencarian Ains, juga telah melaporkan pada pihak kepolisian bahwa Ains sudah ditemukan. Saat ulang tahun perusahaan kita nanti, Daddy akan mengumumkan tentang status Ains yang baru. Dia akan jadi anak angkat Daddy dan mommy," terang Daddy Bastian panjang lebar.


"Ains akan jadi adikmu dan jadi kakaknya Rachel," timpal Dad Bastian lagi.


Semua orang terdiam dan hanya mampu mematuhinya. Damian pun tak bisa berbuat banyak, karena sejak dulu memang seperti ini kesepakatan mereka semua.


Tapi siapa yang bisa mengendalikan takdir dan perasaan? Kini nyatanya Damian telah terikat dengan Ains dengan cara yang lain, bukan sebagai kakak dan adik, melainkan sebagai seorang pria dan wanita dewasa.


Aku akan merubah pandangan mu itu Dad, batin Damian.


Ulang tahun perusahaan Lynford Kingdom masih sekitar 70 hari lagi. Dan selama itu juga Damian akan merubah rencana sang Daddy, kelak Ains tak akan diperkenalkan sebagai adiknya, tapi calon istrinya.


Mom Jilliana lantas mencuci tangannya dan mendatangi meja makan untuk sarapan bersama seluruh keluarga.


Semalam dad Bastian sudah banyak menjelaskan pada Mom Jilliana tentang Damian, Helena dan Ains. Jadi kini dia tidak memiliki pertanyaan lagi, hanya terus mengikuti apapun keputusan sang suami.

__ADS_1


Selesai sarapan baik dad Bastian ataupun Damian sama-sama pergi ke perusahaan. Hari ini banyak hal yang harus Damian lakukan jadi dia tidak bisa menemui Ains.


Hanya bisa menghubungi melalui sambungan telepon di sela-sela dia mengemudi.


"Apa yang mau lakukan hari ini?" tanya Damian.


"Datang ke toko, karena ada kak Rania yang jaga jadi aku bisa mengantarkan pesana pelanggan," jelas Ainsley, kini bibi Ema akan full berada di rumah menjaga anak-anak. Ainsley bisa tenang.


"Oh iya kak, pagi tadi mom Jilliana mengirim kotak bekal makanan untuk Zen, Amara dan Joshua. Sampaikan terima kasihku," pinta Ainsley pula.


"Kenapa tidak kamu sampaikan sendiri? Aku kirim nomor ponsel mommy ya?"


"Tidak sopan ah."


"Kalau begitu temui lah langsung."


"Tapi aku canggung datang sendirian," bibir Ainsley sampai mencebik saat mengucapkan kalimat tersebut.


"Kalau begitu datang saat sore, ketika Rachel sudah pulang," balas Damian memberi opsi.


Dan akhirnya Ainsley menganggukkan kepalanya seolah kak Damian bisa melihat.


"Baiklah, nanti aku akan datang. Ya sudah ya, aku matikan teleponnya," ucap Ainsley. Dia akan pergi menggunakan motor maticnya, jadi tidak bisa sambil teleponan seperti ini.


"Iya."


"Cium dulu."


"Kaak!!" rengek Ainsley, dia malu.


"Emuah!" cium Damian tanpa basa basi.


Sementara Ainsley langsung berteriak kecil dan memutus sambungan telepon itu secara sepihak. Sudah merasakan rasanya menyatu, kini tak bisa Ainsley pungkiri bahwa rasanya candu. Jadi tiap kali dia mendapatkan perlakuan manis seperti itu, tubuhnya tetap saja terasa berdesir.


Jadi membayangkan yang tidak-tidak, jadi menginginkan yang lebih-lebih.


Disaat Ainsley merasa geli sendiri, Damian di ujung sana justru tertawa pelan, lalu mengulum senyum dan kembali fokus pada jalanan.


Ainsley pun mengemudikan motornya hingga tiba di toko, saat ini waktu masih menunjukkan jam 8 pagi. Dilihatnya Kak Ran masih menyapu toko tersebut, belum juga ada pelanggan.


Tapi di sebelah sana sudah ada sebuah mobil mewah yang terparkir. Pintu mobil itu terbuka saat Ainsley memarkirkan motornya.


Secara alami Ainsley pun melihat ke arah mobil tersebut, hingga turunlah seorang pria yang tak asing baginya.

__ADS_1


Dia lagi. Batin Ainsley.


Pria itu adalah Eric Fuller.


Tak butuh waktu lama kini keduanya saling berhadapan di toko tersebut.


"Tuan," sapa Ainsley pula.


Eric memang telah tertarik pada Ains sejak pandangan pertama, tapi semakin dia pandang Ains, Eric seperti tak asing dengan wajah tersebut, dengan kedua mata biru tersebut.


Saking penasarannya, Ericnjadi menyelidiki beberapa hal hingga akhirnya tau bahwa Ains adalah penari striptis di klub malam Paradise.


Mengetahui fakta itu tidak membuat Eric mundur, justru ketertarikannya jadi berkali-kali lipat. Apalagi setelah tau bahwa ternyata Ains bukanlah pekerja di toko ini, melainkan pemiliknya.


"Kamu benar-benar tidak mengingat ku Ains?" tanya Eric, dulu dia pernah membayar Ains untuk menemaninya minum.


Tapi karena banyak sekali pelanggan, jadi Ains tak mengingatnya. Damian adalah yang paling membekas, karena sekali bertemu pria itu langsung mengklaim bahwa dia adalah wanitanya.


"Ingat kok, Tuan Eric kan?" balas Ainsley pula, dikiranya hanya sekitar pertemuan mereka di toko ini.


"Berikan nomor ponselmu, aku benar-benar ingin kita jadi teman," balas Eric kemudian, teman dulu baru nanti bisa lebih.


"Maaf Tuan, tapi aku tidak memberi nomor ponselku pada orang asing."


"Aku bukan orang asing, kita bahkan pernah bertemu saat kamu masih bekerja di Paradise Club."


Deg! Ainsley tentu terkejut mendengar hal itu.


"Sepertinya kamu lupa padaku," balas Eric dengan bibir tersenyum kecil, dia lalu mengambil tangan Ains dan menuliskan nomor ponselnya di sana.


Awalnya Ainsley ingin menarik tangan itu, tapi tuan Eric menyentuhnya cukup kuat.


"Jangan panggil aku Tuan, cukup Eric saja," ucap Eric setelah dia selesai menuliskan nomor ponsel tersebut.


"Dulu aku membayar mu lebih, lalu kamu bilang akan melayani ku sekali lagi. Tapi sejak malam itu aku tidak pernah mendatangi Paradise Klub," terang Eric.


Dan akhirnya membuat Ainsley teringat akan pelanggannya tersebut. Tuan Eric harus pergi ke luar negeri untuk melupakan kekasihnya yang telah menikah dengan pria lain. Namun sekarang ternyata tuan Eric telah kembali.


"Sekarang kita ubah tempat pertemuannya, bukan di Paradise Club, tapi di tokomu ini," putus Eric, senyumnya makin terkembang lebar. Lalu dia pilih untuk mundur beberapa langkah lalu pergi dari sana.


Sebelum masuk mobilnya, Eric memberi isyarat Ains untuk menghubunginya melalui nomor ponsel yang sudah tertulis di tangan Ains.


Huh! Ains hanya mampu membuang nafasnya dengan kasar, meski sudah menggunakan topeng saat menari tapi nyatanya tetap ada saja yang mengenali dia.

__ADS_1


Kini Ains menatap nanar pada nomor ponsel yang ada di tangan kirinya.


__ADS_2