
"Kak, bagaimana jika aku hamil? Kita berdua tidak ada yang memakai pengaman," tanya Ainsley, sudah lemas dia baru teringat tentang hal ini.
"Kenapa harus bingung? Itu artinya Rora akan segera memiliki adik."
Ainsley sudah tak mampu menjawab lagi, tenaganya benar-benar terkuras dan kini hatinya pun terlalu penuh dengan rasa bahagia. Apalagi kak Damian tidak hanya menerima dia seorang diri, melainkan menerima semua keluarganya juga.
Siang, sore bahkan malam selalu terasa panas di dalam apartemen tersebut. Damian tidak tahu bahwa saat dia datang ke sini diam-diam Helena mengikutinya di belakang.
Dan kini Helena terduduk di sebuah cafe tak jauh dari apartemen tersebut. Hingga malam semakin larut tak nampak Damian yang keluar dari hunian mewah tersebut.
Helena menatap nanar, mengepalkan kedua tangannya kuat.
"Katamu ingin ketempat Aldian, Dam. Ternyata kamu membeli apartemen ini untuk bisa bersama jallang itu."
"Kurang apa aku selama ini, bahkan aku sudah memanggil mu kakak juga, tapi kamu tetap membohongi aku." Helena ingat jelas pembicaraan mereka tadi pagi, Helena sengaja menginap agar pagi ini dia bisa ikut kemanapun Damian pergi.
Tapi lagi-lagi keinginannya tidak dikabulkan, katanya Damian ingin pergi ke apartemen Aldian lalu bermain golf bersama. Tapi jangankan bermain Golf, ke apartemen Aldian pun tidak.
Damian langsung menuju ke sini dan tidak keluar hingga saat ini. Helena juga melihat dengan jelas saat wanita jallang itu memiliki kartu untuk akses masuk ke dalam unit apartemen Damian.
"Kamu benar-benar bodoh Dam, wanita itu sudah menguras semua hartamu. Astaga, apartemen ini sangat mahal. Bagaimana bisa kamu mengajak wanit itu ke sini. Harusnya kamu ajak dia ke hotel rendahan."
"Tidak bisa, aku tidak bisa lagi diam setelah melihat ini semua." Helena lantas memutuskan untuk segera pergi dari kafe tersebut tapi dia tidak langsung pulang melainkan menuju apartemen Aldian.
__ADS_1
Saat itu waktu sudah menunjukkan jam 9 malam, tapi Helena tidak peduli dengan waktu dia bahkan menekan bell apartemen tersebut dengan tidak sabaran.
ya akhirnya pintu itu pun dibuka oleh seseorang, bukan Aldian, tapi Megan.
"Hel," sapa Megan dengan dahi yang berkerut.
"Mana Aldian?" tanya Helena dengan suara menuntut, dia bahkan langsung mendorong tubu Megan agar dia bisa menerobos masuk.
"Hya! yang sopan dong!" kesal Megan.
Suara berisik di depan sana akhirnya membuat Aldian keluar.
"Katakan padaku siapa jallang yang selalu menempel Damian, KATAKAN!!" pekik Helena.
Megan sampai tercengang melihat kemarahan Helena tersebut, dia tutup mulutnya yang menganga menggunakan kedua tangan. Diam-diam dia pun tersenyum, merasa bahagia melihat pertunjukan ini.
"Jaga ucapanmu Hel, ini apartemen ku. Jika kamu berbuat keributan aku tak segan mengusir mu," balas Aldian dengan suaranya yang dingin, Megan sampai merinding melihat dinginnya sang pria pujaan. Ternyata saat marah Aldian tetap terlihat tampan.
Megan pilih menepi dari keributan itu, tak ingin terlibat. Lagipula dia tidak tahu banyak hal tentang Ains.
Helena lantas mengambil ponselnya di dalam tas, dia menunjukkan beberapa foto yang berhasil Helena ambil siang ini. Damian yang mendatangi apartemen Luxury, lalu tak berselang lama Ains pun mendatangi apartemen itu juga, mereka masuk ke dalam unit apartemen yang sama.
"Selama ini Damian tidak pernah memiliki apartemen, dia selalu tinggal di rumah kedua orang tuanya. Wanita itu pasti yang telah meminta apartemen tersebut," ucap Helena.
__ADS_1
Sementara Aldian pilih diam, dia pun tak banyak tau tentang hal ini. Jadi bertanya-tanya benarkah Ains seperti itu?
Tapi jika ingat latar belakangnya, seperti bukan hal yang mustahil jika sekarang Ains menginginkan kemewahan.
"Tempat itu bukan sembarang apartemen Al, Damian harus mengeluarkan uang 30 miliar untuk memiliki apartemen tersebut, dan dia melakukannya untuk wanita itu. Dia beli diam-diam tanpa sepengetahuan Tante Jilliana dan om Bastian!" kesal Helena.
"Ini baru satu yang aku tau, bagaimana jika Damian sudah membelikan wanita itu rumah juga, mobil dan barang mewah lainnya. Bagaimana Al? Sementara aku adalah calon istrinya! Tidak, aku tidak bisa terima ini," kata Helena dengan suara yang penuh penekanan.
"Aku tidak bisa mengatakan semuanya secara langsung pada Tante Jilliana dan om Bastian. Aku ingin menyelesaikan sendiri. Karena itulah aku datang ke sini. Siapa wanita itu Al? kamu pasti tau kan?" tanya Helena kemudian.
Dan berhasil membuat Aldian jadi bingung sendiri, terlebih dia pun begitu terkejut ketika mengetahui Damian membeli 1 unit apartemen Luxury. Otaknya seperti tercuci oleh semua ucapan Helena, mulai percaya jangan-jangan selama ini Ains hanya memanfaatkan sang sahabat. Sumpah, Aldian kira mereka selalu bertemu di hotel, siapa sangka justru sebuah apartemen mewah.
"Namanya Ains, kami pertama kali bertemu di Klub Malam Paradise. Ains adalah penari striptis di sana dan semenjak itu mereka berhubungan hingga sekarang," jelas Aldian. Biarlah Helena menyelesaikan semua masalah ini.
Dan bukan hanya Helena yang terkejut, tapi Megan pun makin tercengang.
Astaga, batin Megan. Tak menyangka bahwa Ains adalah wanita seperti itu.
"Apa? Penari striptis? Astaga, benar-benar menjijikkan. Huwek!" Helena sampai merasa mual lagi.
Dia bahkan langsung berlari menuju kamar mandi yang ada di dapur, lalu memuntahkan semua isi perutnya disana.
Huwek! muntah Helena, untunglah ini bukan pertama kali dia datang ke sini. Jadi Helena bisa berlari dengan cepat menuju kamar mandi ini.
__ADS_1
Huwek! Muntahnya lagi, sangat jijik tiap kali membayangkan wanita jallang itu.
Penari striptis? Helena sampai tak bisa berkata-kata. Serendah itukah selera Damian?