Wanita Sang Tuan Muda

Wanita Sang Tuan Muda
WSTM Bab 62 - Sang Pewaris


__ADS_3

"Sekarang Daddy sudah mengetahui hubungan kalian, jadi nanti kita bicarakan lagi," putus dad Bastian.


Damian ingin kembali berucap, tapi Ainsley sudah lebih dulu menatapnya dan menggelengkan kepala memberi isyarat untuk Jangan melakukan apapun. untuk sekarang sudah cukup sampai di sini, Ainsley pun sudah tidak mempertanyakan apapun lagi. Tidak peduli siapapun calon istri kak Damian itu, tapi Ainsley benar-benar percaya bahwa kesungguhan kak Damian hanya untuknya.


Begini saja sudah cukup, selebihnya biarkan waktu yang ikut campur tangan.


Ainsley juga melihat anak-anak yang mengintip di sudut sana, membuat mereka jadi tak bisa membicarakan ini dengan lebih leluasa.


Mungkin memang bukan sekarang waktunya tapi nanti pasti ada kejelasan dari semua masalah ini.


Tak lama setelah pembicaraan buntu itu, akhirnya Daddy Bastian dan Rachel pulang lebih dulu, sementara Damian masih tinggal untuk menjelaskan pada Ainsley dan bibi Ema siapa Helena sebenarnya.


"Helena adalah teman masa kecilku, belum lama ini kami dijodohkan. Aku sudah menolak perjodohan itu, tapi para orang tua masih bersikukuh untuk kami saling menerima satu sama lain lebih dulu," terang Damian apa adanya.


"Mommy dan Daddy belum mengetahui tentang hubungan serius antara aku dan Ainsley, Bi. Itulah kenapa tadi mommy memperkenalkan Helena sebagai calon istriku. Ini hanya salah paham. Aku mohon bibi jangan menentang hubungan kami," mohon Damian pula pada bibi Ema.


Dilihat jelas oleh Damian, bibi Ema yang membuang nafasnya dengan kasar. Hubungan keluarga mereka baru saja membaik, dan sekarang ada saja masalah yang menganggu.


"Maafkan aku Bi atas ketidaknyamanan ini," pinta Damian pula.


"Tidak Dam, bibi tidak marah. Bibi hanya sangat terkejut," balas bibi Ema jujur.


"Masalah ini tidak bisa diselesaikan secara gegabah, karena bukan hanya kalian berdua yang terlibat. Bibi harap kalian masih bisa berpikir jernih, tidak terbawa oleh amarah," timpal bibi Ema, dia tidak ingin ada perselisihan yang berkepanjangan.


Tak ingin merusak hubungan baik yang baru saja tercipta.


Ainsley menganggukkan kepalanya lalu diikuti oleh Damian pula.


Saat Damian pamit pulang, dia lebih dulu membawa Ainsley untuk masuk ke dalam mobilnya dan bicara berdua.


"Sejak tadi aku lihat kamu diam terus, marah ya?" tanya Damian, dia kini sudah memangku Ainsley di dalam mobil itu, dia tidak membiarkan wanitanya duduk sendirian.


Kursi kemudinya sudah dia atur lebih ke belakang, jadi tempat ini terasa nyaman untuk keduanya.


Damian masih saja terus merasa rindu, pertemuan seperti ini tak akan cukup meleburkan rasa itu.


Sementara Ainsley tidak langsung menjawabi ucapan sang kekasih, dia justru mengambil ponselnya dan menunjukkan sesuatu di dalam sana. Foto-foto yang selama ini dia terima, entah dari siapa. Tapi yang jelas foto itu adalah foto Damian dan Helena.


"Apa ini?" tanya Damian dengan dahi berkerut, dia berani bersumpah tidakk pernah beradegan seperti yang ada di dalam foto tersebut, ciuman dengan Helena, pelukan mesra, bahkan tidur di ranjang yang sama.

__ADS_1


Bukan hanya itu, bahkan ada pula pesan caci makian yang ditunjukkan pada Ainsley.


"Astaga, kenapa selama ini kamu tidak pernah mengatakan padaku tentang hal ini Ains," ucap Damian dengan suara penuh penekanan.


"Foto-foto ini bohong, aku tidak pernah melakukan itu semua dengan Helena," tegas Damian.


"Astaga, ternyata Helena melangkah sejauh ini." Damian sampai menarik rambutnya sendiri dengan frustasi dan akhirnya Ainsley melepas tarikan itu lalu dia elus sendiri.


Ainsley tidak menjawab apapun, hanya langsung memberikan pelukan yang sangat hangat. "Aku tau itu bukan kak Damian, aku menunjukkannya juga bukan karena aku marah," ucap Ainsley.


Di beberapa foto yang dia terima, tak ada bekas luka di tangan kanan pria itu. Sebuah tanda yang tak bisa diganggu gugat. Foto itu jelas hanya editan saja.


Helena sedang melakukan segala cara untuk memisahkan mereka, jelas saja Ainsley pun tak mau. Karena dia pun sangat mencintai kak Damian.


Kini yang Ainsley cemaskan bukanlah Helena, tapi keputusan mom Jilliana dan dad Bastian. Karena apapun keputusan mereka jelas Ains tak bisa menolaknya.


"Kamu percaya padaku? pria di foto itu bukan aku Ains," bela Damian sekali lagi, dia sangat takut Ainsley salah paham.


"Iya, aku tau pria itu bukan kak Damian."


"Darimana kamu tau?"


Sungguh, Damian tak akan pernah sanggup jika mereka berpisah lagi. Sekarang mungkin dia bisa gila.


"Ains!" gemas Damian, pelukannya yang erat sampai membuat Ainsley kesulitan untuk bergerak.


"Kak," rintih Ainsley pula, dia mendorong dadda sang kekasih hingga pelukan itu sedikit terlerai.


Tapi setelah pelukan itu mengendur, Damian justru mencium bibir Ainsley dengan lembut. Ciuman bassah yang penuh dengan hassrat.


"Sudah ih," pinta Ainsley pula saat kak Damian justru menginginkan lebih.


Dan mendengar penolakan itu Damian pun tertawa, "Baiklah, aku juga harus segera pulang untuk membicarakan tentang hal ini dengan mommy dan Daddy," balas Damian.


Ainsley mengangguk setuju.


Mereka saling mencium lagi sejenak sebelum akhirnya benar-benar berpisah.


Dalam perjalanan pulang itu, tak ada lagi senyum yang menghiasi wajah Damian. Tatapannya makin nampak tajam ketika dia lihat mobil milik Helena masih terparkir di halaman rumahnya.

__ADS_1


Dulu hubungan mereka begitu baik, siapa yang sangka kini jadi seperti ini.


"Dam," panggil Mom Jilliana saat Damian telah tiba di ruang tengah. Mom Jilliana jadi cemas sendiri saat melihat wajah Damian yang nampak marah.


"Mom, aku dan Helena tidak akan menikah. Aku hanya akan menikahi Ainsley," ucap Damian langsung, dia bahkan masih berdiri saat mengucapkan kalimat tersebut.


Helena tentu tercengang mendengar pengakuan itu secara langsung, selama ini dia pikir Damian malu untuk mengakui Ains sebagai kekasihnya. Karena itulah hubungan mereka masih terus disembunyikan.


Tapi seperti gemuruh petir yang menyambarnya di siang hari, kini tiba-tiba Damian langsung mengakui wanita jallang itu sebagai calon istrinya.


Mom Jilliana juga terkejut, antara hati dan pikirannya kini jadi berkecamuk. Mungkin sebab inilah sang suami tengah menunggu Damian di ruang kerjanya.


"Astaga," lirih mom Jilliana seraya menyentuh daddanya yang mulai sesak.


"Bagaimana bisa jadi seperti ini Dam? Bukankah selama ini kita sudah sepakat akan menjadikan Ains adikmu? Lalu kenapa kamu ingin menikahinya? Bagaimana dengan Helena?" balas mom Jilliana pula, nafasnya mulai terengah dengan tidak tenang.


"Tante, tenang dulu," pinta Helena. "Kak Damian, lebih baik kak Damian pergi dari sini. Om Bastian sudah menunggumu di ruang kerjanya," timpal Helena lagi, dia harus ikut bicara untuk menghentikan pembicaraan ini. Pembicaraan yang tidak ada untungnya sedikitpun untuk dia.


Dan melihat sang mommy yang nampak kesulitan bernafas seperti itu seketika membuat Damian terdiam, lantas tanpa ada kata-kata lagi dia pun segera pergi dari sana dan menuju ruang kerja sang ayah.


Dad Bastian sudah menunggunya, duduk di kursi kerja dengan tatapan yang serius. "Duduklah," pinta dad Bastian.


Setelah Damian menutup pintu dia pun duduk di hadapan sang ayah, mereka hanya terhalang oleh meja kerja.


"Keputusan ku tidak akan berubah Dad, aku hanya akan menikahi Ainsley. Bukan Helena ataupun yang lain," ucap Damian, dia lebih dulu bicara agar jelas pembahasan mereka kali ini.


"Saat kamu bicara seperti itu, Daddy melihat Ainsley sebagai seorang wanita. Bukan seorang anak gadis yang harus Daddy selamatkan," balas Dad Bastian.


"Orang tua mana yang menginginkan anaknya menikahi seorang wanita mantan penari striptis?" tanya Dad Bastian kemudian.


"Ainsley melakukan itu bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk semua keluarganya."


"Lantas dengan menikahi wanita seperti Ainsley bagaimana dengan reputasi keluarga kita? Perusahaan kita? Kamu adalah seorang pewaris Damian, pasanganmu bukan sembarang," balas Dad Bastian dengan suara yang lebih menekan.


Ini bukan lagi tentang kehidupan pribadi mereka, tapi menyangkut semua pekerja yang berada di naungan perusahaan Lynford Kingdom. Jika Sang Pewaris dipandang sebelah mata, pasti akan mempengaruhi perusahaan juga. Tingkat kepercayaan para kolega dan konsumen pasti akan goyah.


Memilih seorang istri bukan perkara mudah.


"Lain jika dia jadi adikmu, orang-orang akan menganggap ini adalah tindakan yang mulia," timpal Dad Bastian kemudian.

__ADS_1


Dia bicara dengan akal sehat, secara realistis. Inilah pandangan orang-orang.


__ADS_2