Wanita Sang Tuan Muda

Wanita Sang Tuan Muda
WSTM Bab 108 - Anak Yatim Piatu Milik Tuan Muda


__ADS_3

Menjelang siang itu akhirnya Damian dan Ainsley benar-benar pamit untuk pulang. Mom Jilliana tidak bisa menahan sebab dad Bastian pun sudah berulang kali mengatakan padanya bahwa tak akan lagi menjegal langkah anak-anaknya.


Apapun keputusan Damian patut mereka hormati juga, kini Damian bukan lagi anak kecil. Kini anak laki-lakinya itu bahkan sudah jadi kepala keluarga.


Tiba di rumah Damian langsung menyerang sang istri dengan pelukan hangat, sebelum pulang Damian telah memerintahkan para pelayannya untuk pulang, pergi meninggalkan rumah dan kembali setelah dia perintah. Jadi sekarang benar-benar hanya mereka berdua saja di sini.


"Kak! Pelan-pelan," pekik Ains dengan tawa yang terdengar sekaligus, mereka masih berada di ruang tamu tapi kak Damian sudah mulai coba meluccuti pakaiannya.


Meskipun terkesan menolak, tapi percayalah Ains pun sangat menginginkan hal ini.


Sampai akhirnya mereka sama-sama jatuh di sofa dengan bibir saling bertautan.


Ehm, ahh ... Dessah Ains sudah tau terkendali.


*


*


Kabar tentang kembalinya Damian dan Rachel pada mom Jilliana dan dad Bastian di dengar juga oleh Helena.


Di titik inilah dia benar-benar sadar bahwa tak akan lagi bisa masuk di tengah-tengah keluarga Lynford. Dia sudah tersingkir.


Jadi pada akhirnya Helena memutuskan untuk mengikuti saran sang mama, pergi ke luar negeri dan memulai kehidupannya yang baru.


Meninggalkan semua kenangan pahit yang dia punya di kota Servo.


*


*


7 bulan kemudian kehamilan Ains telah memasuki bulan ke 8. Akhir-akhir ini dia selalu teringat tentang madam Cloe dan anak-anak panti asuhan.


Anak-anak yang dulu adalah teman bermainnya dan sekarang pasti sudah tumbuh dewasa sama seperti dia. Kata Damian sekarang teman-teman Ains itu telah memiliki kehidupannya masing-masing, mereka telah hidup layak dengan keluarga yang mereka bangun sendiri.


Namun sebanyak apapun yang suami menjelaskan, namun tetap saja seperti ada yang mengganjal di dalam hatinya. Kegelisahan itu bahkan tergambar jelas di wajah cantik Ains.


"Madam Cloe saat ini masih berada di penjara, aku sudah lama tidak mendengar kabarnya. Apa kamu ingin melihatnya?" tanya Damian, dia mengelus perut sang istri yang tengah membuncit, dengan perut seperti ini Ains jadi nampak semakin cantik.


Bahkan Eric kini memohon untuk jadi sahabatnya juga agar tetap bisa berteman dengan Ains, katanya. Hih! Damian benci sekali dengan Eric Eric itu, sahabatnya cukup Marcel dan Aldian. Dia tidak ingin menambah sahabat lagi.

__ADS_1


"Apa boleh aku bertemu dengan madam Cloe, Kak?" tanya Ains pula, dia masih ingat dengan jelas senyum miring yang madam Cloe berikan saat meninggalkan dia sendiri di dalam penjara itu. Senyum yang hingga kini masih meninggalkan rasa sakit di dalam hati.


"Tentu boleh, lagi pula aku akan selalu mendampingi kamu," balas Damian. Sebenarnya dia tidak begitu setuju tentang keputusan ini, tapi jika melihat sang istri terus merasa cemas tentang sesuatu yang tidak pasti di dalam hatinya membuat Damian pun tidak bisa diam. Mungkin setelah bertemu dengan Madam Cloe, Ainsley akan kembali menemukan ketenangan di dalam hatinya, apalagi sekarang mereka masih berada di detik-detik menyambut kelahiran Sang anak.


Sepakat seperti itu akhirnya hari ini juga mereka mendatangi Madam Cloe di tempat dia dipenjara. Letaknya bukan di kantor polisi kota, melainkan berada di penjaga pinggiran kota Servo. Butuh waktu sekitar 2 jam mereka menuju ke sana. Bahkan Damian mengajak Aldian dan Marcel untuk menemani perjalanan mereka.


Tiba di tempat tujuan Ainsley turun dengan hati-hati dari dalam mobil, dia sentuh perutnya yang tengah membuncit. Jantungnya berdegup membayangkan akan segera bertemu dengan madam Cloe.


Seseorang yang telah membuat hidupnya bak roller coaster, dan mungkin seseorang yang mengetahui asal usulnya dengan jelas. Tentang hal inilah yang membuat hatinya selalu terasa ada yang mengganjal. Seolah madam Cloe adalah satu-satunya kunci di dalam hidupnya.


Saat Ains dan Damian masuk ke dalam ruang tamu, madam Cloe sudah duduk di kursinya.


Dalam satu kali lihat Madam Cloe langsung tau bahwa wanita cantik dengan perut membuncit itu adalah Ainsleynya.


Deg! jantung madam Cloe seketika berdenyut, kini dia telah renta dan langsung terbayang semua dosa-dosanya.


"Ainsley," lirih madam Cloe, suaranya hanya seperti hembusan angin. Tak ada yang mampu mendengar selain dia sendiri. Mereka tidak bisa saling menyentuh sebab dalam pertemuan ini mereka terhalang oleh dinding kaca yang sangat tebal, mereka hanya bisa saling tatap dan berkomunikasi melalu lubang-lubang kecil di depan wajah.


Dan melihat keadaan Madam Cloe yang yang nampak mengenaskan seperti itu membuat hati Ains jadi terenyuh, namun dia tetap menunjukkan sorot matanya yang dingin. Sebab sakit hati ini pun belum sepenuhnya hilang.


"Ainsley," panggil madam Cloe sekali lagi dengan suara yang terdengar lebih jelas.


Dan saat itu luruh sudah semua air mata yang selama ini terpendam di mata Madam Cloe, akhirnya dia bisa bertemu dengan Ains, bocah kecil yang dia buat malang hanya demi uang.


"Ainsley, akhirnya kamu datang menemui Madam. Selama ini Madam selalu menunggu mu Ains," rintih madam Cloe, dia menangis dan menyentuh kaca pembatas tersebut, seolah ingin menyentuh Ains secara langsung. Tangan-tangannya sudah kurus dan keriput.


Namun Ainsley sedikit pun tidak bergerak untuk membalas sentuhan madam Cloe, dia tetap duduk dengan wajahnya yang dingin. Damian pun hanya mampu diam, dia memeluk pinggang sang istri.


"Aku datang bukan untuk melepas rindu," kata Ainsley kemudian, dan membuat tangan madam Cloe seketika terjatuh ke atas meja.


"Maafkan Madam Ains, sekarang madam hanya tinggal menunggu Maut. Tidak bersedia kah kamu memaafkan madam?" pinta madam Cloe, sungguh-sungguh dia katakan tentang hal ini.


"Aku mungkin bisa memaafkan Madam, tapi katakan dengan jujur siapa kedua orang tuaku?"


Damian juga tersentak saat mendengar pertanyaan itu, namun dia tetap diam dan kini mengelus punggung sang istri agar tetap tenang.


"Madam berani bersumpah padamu Ains, kedua orang tua mu hanyalah orang miskin yang tak bisa membiayai hidupmu. Mereka menyerahkan mu langsung pada Madam. Tak lama setelah itu mereka bunuh diri karena telilit hutang."


Jantung Ains seperti di tempat dengan paksa saat mendengar cerita tersebut. Ternyata sejak dulu dia memang hanyalah anak yatim piatu yang malang.

__ADS_1


"Maafkan Madam Ains, maafkan Madam."


"Aku sudah memaafkan madam Cloe, ku harap madam bisa menikmati sisa hidup ini," balas Ains dengan tenggorokannya yang tercekat.


Setelahnya dia pilih langsung bangkit dan hendak pergi dari sana. Damian juga bergegas membantu sang istri.


Ainsley tetap berjalan keluar, tak peduli meski madam Cloe berulang kali berteriak memanggil namanya.


Ainsley!


Ainsley!!


Namun Ainsley justru menutup pintu itu tanpa menoleh ke belakang lagi.


Lalu menangis di dalam pelukan sang suami.


"Sstt, tenang sayang. Sekarang kamu tidak sendiri lagi. Ada aku dan anak kita," ucap Damian.


Ainsley hanya mampu mengangguk dan menumpahkan semua kesedihan.


Saat keluar dari penjara tersebut, tangis Ains memang sudah reda. Namun wajahnya nampak jelas jika sembab.


"Apa wanita tua itu menyakiti mu? Biar ku hajar dulu!" kesal Marcel, Aldian juga sudah siap untuk masuk ke dalam penjara itu.


"Hais, tidak usah banyak ulah, ayo pulang!" cegah Damian.


Ainsley jadi tersenyum melihat pertengkaran mereka. Ya, Ainsley memang hanyalah anak yatim piatu, namun kini dia memiliki seorang tuan muda disampingnya. Bahkan banyak orang-orang yang menyayanginya dengan tulus.


Belum lagi, tinggal menghitung hari anaknya pun akan lahir.


Menjelang sore, mobil mewah itu pun meninggalkan penjara terpencil tersebut.


Kembali pulang ke kota Servo.


...TAMAT...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Alhamdulillah, terima kasih semuanya. Tunggu kabar Zen dan Rachel ya

__ADS_1


I Love You.


__ADS_2