Wanita Sang Tuan Muda

Wanita Sang Tuan Muda
WSTM Bab 40 - Tanda Kesombongan


__ADS_3

"Bi, jika mommy bertanya katakan aku pergi ke tempat Aldian," kata Damian pada salah satu pelayan yang dia temui di lantai 1.


"Baik, Tuan."


Damian langsung pergi dengan langkah kaki cepat, tak peduli dengan waktu yang makin larut malam.


Di Zen Minimarket, Ainsley pun segera meninggalkan semua pekerjaan dan buru-buru mengganti bajunya. Tadi dia sudah menggunakan baju tidur tanpa bra. Kini Ainsley kembali menggunakan baju santai dan memakai bra-nya lagi.


Tiap bersama dengannya, kak Ford pun selalu menggunakan baju panjang, jadi Ainsley berpikir pria itu tak menyukai tampilan yang terbuka. Karena itulah dia selalu menyesuaikan.


Ainsley duduk di meja kasir, kini toko tersebut hanya diterangi oleh cahaya temaram, sementara lampu utamanya sudah dimatikan.


Ainsley duduk di sana sampai akhirnya dia lihat sebuah mobil mewah yang memasuki area parkir. Sangat tau itu mobil milik siapa, jadi dia pun segera membuka pintu utama toko tersebut. Gembok berukuran cukup besar itu dia lepaskan.


"Hai," kata Damian seraya menerobos masuk dan memeluk sang gadis.


"Kunci pintunya dulu!" pekik Ainsley diantara tawa yang selalu tercipta tiap kali mereka berdua.


"Berikan padaku," pinta Damian, dia mengambil kunci di tangan Ains dan menutup pintu tersebut.


Setelahnya Damian menggendong Ains seperti bayi koala untuk masuk ke dalam ruang istirahat. Ruangan yang tidak terlalu luas tapi terasa nyaman untuk ditinggali. Ada ranjang berukuran sedang, ada meja yang biasa mereka gunakan untuk makan. Ada satu sofa panjang dan juga kamar mandi yang nyaman.


"Ini curang namanya," kata Ains yang masih berada di gendongan sang pria.


"Curang kenapa?"


"Belum akhir pekan tapi kak Ford sudah menemui ku untuk menghabiskan malam bersama."


"Anggap saja kamu sedang lembur," balas Damian dan Ainsley seketika tertawa. Karena ada saja jawaban yang diberikan oleh sang Tuan.


Tiba di ruang istirahat itu Damian langsung memangku Ains di sofa. Membuat keduanya dalam keadaan yang intim.


Ainsley ingin bicara mengatakan alasan kenapa malam ini dia pilih untuk tidur di toko, ada beberapa data yang harus dia input ke dalam komputer. Tapi belum sempat mulutnya berucap, Damian sudah lebih dulu memagut bibirnya dengan mesra.


Ciuman yang sama seperti sore tadi, ciuman yang seolah mengalirkan perasaan cemas, takut kehilangan. Padahal Ainsley tidak akan pergi kemanapun.


"Kak," ucap Ainsley lirih, kini suaranya lebih banyak terengah.


"Hem, kenapa?" balas Damian, seraya menarik tubuh Ains agar semakin menempel padanya, sampai dia bisa mencium leher Ains dengan mudah.


"Apa kak Ford sedang ada masalah? Maaf jika pertanyaan ku lancang," jawab Ains, lengkap dengan sebuah pertanyaan.

__ADS_1


"Hem, memang ada sedikit masalah."


"Apa aku boleh tau?"


"Seseorang yang selama ini ku kenal baik, sepertinya memiliki sifat yang belum ku ketahui," balas Damian, dia sedang membicarakan tentang Helena.


Malam ini entah kenapa Damian merasa ada yang berbeda dengan wanita itu. Sudah jelas-jelas dia katakan menolak tentang perjodohan tersebut, tadi Helena tetap bersikukuh dengan usahanya sendiri. Padahal jelas-jelas diantara mereka tak ada hubungan apapun.


Sikap keras kepala itu selama ini tidak pernah Damian jumpai pada Helena, tapi sepertinya dia tidak benar-benar mengenal wanita itu.


"Setiap orang adalah misteri Kak, kita tidak akan pernah bisa memahami sampai kapan pun," balas Ainsley.


"Benarkah?"


"Hem, setiap orang pasti punya kebohongannya masing-masing. Tapi itu bukan masalah, karena inilah kehidupan."


"Sejak kapan kamu jadi sebijak ini?"


"Sejak dulu aku memang bijak." Sombong Ainsley, bahkan dia mengangkat dagunya tanda kesombongan.


Damian yang gemas lantas menggigit dagu tersebut. Benar, dia tidak perlu memikirkan tentang Helena yang ternyata tak begitu dia pahami.


"Sakit," rengek Ains, tapi Damian tidak merasa bersalah sedikitpun, justru tersenyum merasa bangga.


"Kenapa kamu tidur di sini? ada yang sedang kamu kerjakan?" tanya Damian pula, satu tangannya membelai lembut rambut panjang Ains.


"Hem, ada beberapa produk baru yang masuk jadi aku harus memasukkan beberapa data ke komputer."


"Ayo aku bantu," ajak Damian, dia langsung bangkit dan menggendong Ains.


Dengan posisi seperti itu Damian membawa Ains ke meja kasir.


Malam ini tidak ada adegan panas, karena selama ini pun Damian sangat menghindari tentang hal itu. Damian selalu menjaga dirinya sendiri, karena berharap diluar sana Ainsley pun selalu terhindar dari para pria hidung belang.


Selama ini Damian pun selalu memakai baju dengan lengan panjang, agar dia bisa melanjutkan hidup. Damian tak ingin melihat bekas luka di tangan kanannya. Bekas luka yang selalu menariknya ke masa lalu.


Sampai jam 12 malam mereka berdua menginput data itu, ketika selesai dua-duanya sama-sama mengantuk. Jadi tanpa melakukan apapun lagi mereka segera berbaring di atas ranjang dan tidur dengan saling peluk.


*


*

__ADS_1


Pagi datang.


Pagi-pagi buta Damian memutuskan untuk pulang.


"Di luar sangat dingin, masuklah," kata Damian.


Ainsley menjawabnya dengan sebuah anggukan kepala dan Damian mengecup bibirnya sebagai tanda pisah.


Ainsley terus tersenyum, bahkan setelah mobil sang Tuan tak nampak lagi di matanya dia tetap mengukirkan senyum tersebut.


Kenangan yang diberikan oleh kak Ford padanya begitu indah, Ainsley tidak menemukan celah untuk merasa bersedih.


Ketika sudah masuk ke dalam toko, Ainsley pun kembali menguncinya lagi karena saat ini belum waktunya toko dibuka.


*


*


Jam 7 pagi setelah Ainsley rapi dengan seragam yang dia buat sendiri, gadis cantik itu pun membuka toko untuk umum. Zen mampir untuk memberikan sarapan sebelum dia pergi ke sekolah.


Awalnya toko nampak sepi, lalu datang beberapa pengunjung. Makin siang toko pun makin ramai pula. Di depan juga ada meja dan kursi yang bisa dipakai untuk umum.


"Apa bisa bayar pakai kartu kredit?" tanya seorang pelanggan, pria yang berpawakan seperti kak Ford.


"Maaf Tuan, tidak bisa. Kami hanya melayani uang tunai," jelas Ainsley apa adanya.


"Bagaimana ini? Aku sudah meminum airnya," ucap pria tersebut, seketika merasa bersalah. Dia sangat haus jadi terpaksa minum lebih dulu baru hendak membayar.


Ainsley juga bingung, dilihatnya pria itu tidak mengambil barang apapun kecuali botol minuman di tangannya.


"Apa benar anda tidak punya uang tunai?" tanya Ainsley.


"Tidak." Dia menunjukkan dompetnya yang kosong, hanya berisi banyak kartu di dalamnya.


"Ya sudah, tidak usah bayar saja," balas Ainsley, dia tak mungkin menahan hanya gara-gara minuman itu saja.


"Tidak, aku tidak ingin kamu dimarah bos mu," ucap pria itu lagi yang beranggapan bahwa kasir ini hanyalah seorang karyawan.


"Lalu bagaimana?" tanya Ains pula, bukan apa-apa, minuman yang diambil pria itu memang minuman yang paling mahal.


"Ini kartu identitas ku, simpanlah dulu. Nanti aku akan datang untuk membayar." Dia menyerahkan kartu identitas itu begitu saja lalu pergi.

__ADS_1


Ainsley terpaksa menerimanya, dan membaca nama yang tertulis jelas di di atas kartu tersebut.


Eric Fuller.


__ADS_2