Wanita Sang Tuan Muda

Wanita Sang Tuan Muda
WSTM Bab 39 - Masih Abu-abu


__ADS_3

"Maaf Dam, aku tidak bisa menolak keinginan para orang tua secara langsung. Hanya seperti inilah yang aku bisa," ucap Helena, setelah pembicaraan itu kini Damian dan Helena bicara berdua di taman, taman yang letaknya di samping ruang tengah tersebut. Dari tempat mereka duduk keduanya juga masih bisa melihat para orang tua di ruang tengah itu, saling bicara dan sesekali tertawa.


Hubungan dua keluarga ini memang sangat baik, sangat dekat.


"Tidak apa-apa, aku juga memahami posisimu," jawab Damian.


Helena tersenyum kecil, "Aku akan berusaha untuk merubah hubungan kita berdua, mulai sekarang aku akan menganggapmu sebagai seorang pria," balas Helena kemudian.


"Tidak perlu," kata Damian singkat, lengkap dengan senyum yang terukir di bibirnya.


Tapi dia tidak sangat jika ucapannya itu membuat senyum Helena jadi hilang.


"Tidak akan ada yang berubah tentang kita. Meski mereka mengharapkan kita bersama, tapi keputusan tetap ada pada kita, Hel. Jadi lebih baik seperti ini saja," putus Damian, dia tidak ingin ada perdebatan dengan para orang tua, karena itulah cukup dia pertegas dengan Helena.


"Jika mereka mempertanyakan lagi, katakan saja kita tidak bisa," sambung Damian kemudian.


Ucapan panjang lebar yang membuat Helena mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, menahan sesak yang mulai menguasai dadda.

__ADS_1


Ini semua pasti gara-gara wanita miskin itu! Batinnya penuh kekesalan, rasanya dia ingin berteriak, Namun tertahan hingga membuat tenggorokannya tercekat.


"Baiklah jika itu keputusan mu, tapi aku akan tetap melakukan apa yang ku ucapkan pada kedua orang tua kita. Mulai sekarang aku akan menganggap mu sebagai seorang pria." Helena lantas tersenyum dengan lebar, menunjukkan wajahnya yang polos dengan kemurnian hati.


Damian menghela nafasnya dengan kasar, "Terserahmu kalau begitu, tapi bagiku kamu tetaplah adik," ucap Damian dengan suara yang lebih menekan. Bahkan kini sorot matanya nampak lebih dingin, sampai membuat Helena menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.


Pukul 9 malam barulah keluarga Pedrox meninggalkan rumah itu, Helena pergi dengan wajah yang ditekuk, dengan hati yang terasa sakit. Susah payah dia menutupi hatinya yang cemburu, sekuat tenaga dia terus menunjukkan keceriaan dan sikap yang patuh.


Tapi Damian sedikit pun tak menghargai semua usahanya, tetap membatasi diri dengan nama saudara.


ARGHT! Pekik Helena, tapi hanya mampu dia ucapkan di dalam hati.


Helena lantas tersenyum, meski senyum hambar. Dia tidak akan mengatakan tentang kebenaran ini, dia akan terus memprovokasi kedua orang tuanya, membuat keduanya berpikir bahwa Damian pun mencintai dia.


"Iya Ma, aku senang sekali. Setidaknya sekarang kami akan mencoba dekat," bohong Helena.


*

__ADS_1


*


Di rumah keluarga Lynford, Damian langsung mengambil ponselnya ketika sudah masuk ke dalam kamar. Detik itu juga dia pun menghubungi sang wanita.


Ya, untuk sekarang satu-satunya wanita yang Damian inginkan hanyalah Ains. Bukan yang lain.


Meski Damian tidak pernah tau akan jadi apa hubungan keduanya, hubungan yang masa depannya masih abu-abu, karena hingga kini pun Ains masihlah wanita bayarannya. Tidak lebih.


"Sudah pulang?" tanya Damian ketika panggilannya itu telah terhubung.


"Tidak pulang, malam ini aku akan menginap di toko."


"Zen juga?"


"Tidak, aku hanya sendiri."


"Aku akan datang."

__ADS_1


"Jangan!!" pekik Ainsley dengan tertawa, tapi Damian pun langsung memutar langkah dan keluar dari kamar.


"Tunggu aku," ucap Damian.


__ADS_2