
satu tamparan itu memang membuat hati Ainsley seperti tercabik rasanya, tapi dia tidak sampai menangis. Karena satu tamparan itu membuatnya kembali sadar di mana posisinya berada saat ini.
Kata-kata manis yang selama ini dia dengar, perlakuan lembut yang selama ini dia terima. Nyatanya semua itu hanyalah semu belaka, sebab sampai kapanpun keluarga Lynford tidak akan pernah menerima dia apa adanya.
Ainsley tetaplah seorang penari striptis yang dipandang hina.
"Tidak tahu diri, kami sudah bersedia untuk mengangkat derajatmu. Tapi justru seperti ini balasan yang kami terima," ucap Daddy Bastian dengan suara yang memburu penuh amarah.
Sementara mom Jilliana begitu terkejut melihat sikap kasar sang suami, dia sampai menutup mulutnya yang menganga menggunakan kedua tangan.
"Keluar dari rumahku sekarang, jika kamu tetap bersikukuh mempertahankan hubungan itu. Maka aku juga akan mengusik keluargamu," ancam Daddy Bastian. Kemarahannya kini jadi berkali-kali lipat, Ainsley yang tidak tahu diri dan Damian yang membangkang.
Seorang pelayan lantas menarik Ainsley untuk keluar dari rumah megah tersebut.
Ainsley dilempar hingga tubuhnya terhuyung, lalu pintu itu tertutup rapat.
Huh! Ainsley hanya mampu membuang nafasnya meski terasa berat. Nafasnya terengah menahan diri agar tidak menangis. Kedua matanya berkedip dengan cepat, jangan sampai ada air bening yang jatuh.
Dia tatap lagi bangunan megah nan mewah tersebut, nyaris saja dia menganggap ini adalah rumah.
"Ains!" panggil seseorang hingga membuat lamunan Ains buyar.
Tiba-tiba Ainsley lihat kak Aldian ada di sana. Berjalan dengan langkah cepat menghampiri dia.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Apa Damian tau?" tanya Aldian bertubi. Dia dan Marcel sudah sepakat untuk mendukung Damian secara terang-terangan. Pagi tadi mereka bertiga telah bertemu, dan Damian hanya meminta untuk mereka melindungi Ains.
__ADS_1
Marcel sedang ada rapat jadi Aldian yang datang ke sini setelah mendapatkan laporan dari Rania, bahwa Ains mengunjungi rumah utama keluarga Lynford.
Bertemu secara tiba-tiba dengan kak Aldian tentu membuat Ains terkejut, apalagi dia memang diam-diam datang ke rumah ini.
"Kak Aldian," sapa Ains, dia menundukkan kepalanya untuk memberi hormat.
"Kak Aldian ingin bertemu dengan tuan Bastian? Kalau begitu silahkan, aku akan langsung pergi," kilah Ainsley pula, dia menundukkan kepalanya lagi sebagai tanda pisah. Namun belum sempat melangkah, Ainsley sudah lebih dulu mendengar kalimat yang membuatnya terdiam.
"Aku datang bukan untuk bertemu dengan om Bastian, aku datang untuk mengantarmu pulang ke toko."
Deg! Jantung Ainsley makin berdegup. "Apa kak Damian yang meminta kakak datang ke sini? Kak Damian tau aku datang ke sini?" tanya Ainsley cemas, bertanya bertubi pula.
"Hem, lain kali jangan sembunyikan apapun dari Damian. Dia adalah satu-satunya manusia yang tidak bisa kamu bohong," bohong Aldian.
Padahal Aldian hanya bohong saja, Damian tidak tahu apapun tentang hal ini. Leo dan Rania adalah mata-matanya sekarang.
"Ayo naik ke mobil, aku akan mengantarmu ke toko," ajak Aldian.
"Ti-tidak usah, Kak. Aku tadi bawa motor."
"Baiklah, aku akan mengawasi mu dari belakang."
Ainsley tak bisa menolak lagi, sepanjang dia kembali ke toko mobil kak Aldian benar-benar mengekorinya di belakang.
Tiba di toko mereka kembali saling berhadapan, Ains ingin mengucapkan terima kasih karena sudah diawasi, sementara Aldian ingin pamit karena harus kembali ke perusahaan.
__ADS_1
Tapi di sela pembicaraan mereka, Ains mengucapkan sesuatu yang membuat Aldian terdiam seketika.
"Aku adalah penari striptis, semua orang akan menganggap ku hina. Kak Aldian tidak perlu lagi bersikap baik seperti ini padaku, apalagi jika hanya gara-gara kak Damian. Aku bisa menjaga diriku sendiri," ucap Ainsley. Dia menundukkan kepalanya lagi dan segera pergi dari sana.
Sementara Aldian terdiam, karena dia pun sempat memandang seperti itu pada Ains. Kini Aldian seperti tak ada bedanya dengan om Bastian dan Tante Jilliana, yang memakai topeng seolah benar-benar menerima Ains. Padahal dia berbuat seperti ini hanya gara-gara Damian.
Bukan karena Ains memang layak di lindungi.
Dinilai seperti itu, ada harga diri Aldian yang terluka. Dia memang pernah salah, tapi sekarang dia pun ingin memperbaikinya.
Aldian lantas menggerakkan kedua kakinya untuk masuk ke dalam toko tersebut, dan kembali berhadapan dengan Ains yang sudah ada di meja kasir.
"Aku memang pernah menganggap mu hina, maaf tentang hal itu. Tapi sekarang aku benar-benar ingin berteman denganmu, memang awalnya demi Damian. Tapi aku benar-benar mendukung hubungan kalian berdua. Terlapas apa masa lalumu, kamu juga berhak atas masa depan," balas Aldian.
Rania yang juga ada di sana seketika menunduk, pura-pura tidak mendengar.
Sementara Ainsley merasakan tenggorokannya yang tercekat.
Benarkah akan ada orang-orang yang tulus menerima keberadaannya? Jujur saja, dia merasa trauma atas mom Jilliana dan Daddy Bastian.
Disaat dia benar-benar merasa telah diterima, sampai menangis saking bahagianya, tapi ternyata semua itu hanyalah semu.
"Gunakan kompres untuk meredakan memar di wajahmu, bekas tamparan itu nampak jelas. Aku pamit," ucap Aldian kemudian, lalu pergi dari sana.
Dan saat itu juga Ainsley menangis, lalu Rania memeluknya dengan erat.
__ADS_1