Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 13 | Sesi curhat yang berakhir awkward


__ADS_3

Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar kata persahabatan?


Aisyah POV.


Pagi itu aku, Avila dan Robbie sedang berkumpul dan mengobrol di tangga yang menuju ke rooftop gedung DSL Beauty care. Tempat yang jarang di lewati orang karena letaknya yang cukup tinggi dan juga memang hanya staf yang boleh ke sini.


Tadinya kami bertiga hanya bermain bersama Mochi, kucing Robbie yang selalu ikut kemanapun pria itu pergi. Sampai pada akhirnya Lee datang memberitahu Avila dan Robbie soal kemarin aku menangis di halte bus.


Jadilah sekarang aku di interogasi oleh Avila yang memaksaku untuk bercerita dengan jujur soal penyebab aku menangis kemarin itu.


"Please, sekarang kamu harus share apapun yang membebani pikiran kamu ke kita, kalau memang kamu masih menganggap kita bertiga ini teman kamu, Aisyah." Pinta Avila seraya memandang wajahku serta menggenggam kedua tanganku dengan erat. Aku pun menghela nafas panjang sebelum menceritakan semuanya.


"Dua hari yang lalu aku di hubungi sama pihak kepolisian. Mereka ngabarin kalau mantan suami aku kecelakaan dan di bawa ke Rumah sakit Central Medika Ratu. Dan berhubung keluarganya gak ada satupun yang bisa di hubungi, jadi aku memutuskan untuk datang ke Rumah sakit itu untuk melihat kondisinya."


"Berarti malam itu kamu bohong pas bilang ke aku kalau kamu abis jenguk kakak kelas satu SMA itu, yah?" Sela Avila yang membuat aku menyesal karena tak jujur kepadanya waktu itu.


"Maafin aku ya Avi. Malam itu aku belum siap buat ceritain semuanya ke kamu, lagian waktu itu aku juga sadar kalau posisi kamu lagi sedih mikirin ibu kamu yang lagi sakit. Jadi aku lebih milih buat simpan masalah ini sendirian."


"Ya udah, aku maklumin. tapi lain kali kamu gak boleh pendam masalah kamu sendirian, yah?" Ujar Avila sambil mengusap usap tanganku yang ada di genggamannya.


"Aku rasa Aisyah belum cerita semuanya deh." Celetuk Robbie yang tadinya hanya menyimak percakapanku dengan Avilla.


"Ayo lanjutin Syah, ceritain semuanya dengan detail." Pinta Robbie dengan penasaran.


"Dan lo diem ya, Avi. Gue gak mau denger lo motong curhatan Aisyah lagi." Ancam Robbie sambil mengacungkan jari telunjuknya ke wajah Avila sampai membuat sang empunya merasa kesal.


"Iya iya, tapi bisa gak negurnya itu biasa aja gitu lho, pak. Enggak usah pake nunjuk nunjuk wajah gue kaya gitu." Gerutu Avila sambil melirik Robbie dengan sebal. Sedangkan aku hanya tersenyum geli menanggapi keributan kecil diantara Avila dan Robbie itu. Berbeda dengan Lee yang kini menatap keduanya dengan kesal.


"Syuut, apa kalian berdua gak bisa akur dulu? kita ini mau dengerin Aisyah cerita, lho." Dengan kedewasaannya Lee mampu menyudahi keributan diantara Avila dan Robbie.

__ADS_1


Dan kini mereka bertiga memusatkan perhatian ke arahku yang mulai bersiap untuk menceritakan semua yang mengganggu pikiran dan perasaanku sejak dua hari yang lalu.


"Jadi keesokkan harinya yaitu kemarin, Aku datang lagi ke Rumah sakit untuk sekedar ingin tahu keadaannya, tapi setelah aku masuk ke dalam kamar rawatnya ternyata dia udah di pindahin ke kamar VIP yang ada di lantai lima dan akhirnya aku ke sana-kan. Dan...pas aku udah sampe di kamarnya, aku melihat pemandangan yang nyakitin hati aku banget."


"Aku lihat perempuan yang dulu jadi duri di pernikahan aku lagi tidur di kasur yang sama dengan mantan suami aku. Setelah itu hati aku mencelos, sedih dan juga kecewa mengetahui kalau mantan suami aku yang sempat ngotot untuk berjuang demi mendapatkan kesempatan kedua dari aku itu ternyata masih berhubungan dekat sama mantan kekasihnya." Ungkapku sembari menahan sesak yang kembali datang menghimpit dadaku.


Avila dengan perhatiannya memeluk tubuhku seraya menepuk bahuku agar aku bisa kembali tenang. Sedangkan Robbie dan Lee terlihat kebingungan dan terjebak dalam pikiran mereka masing-masing.


"Mungkin kamu salah paham sama apa yang udah kamu lihat dengan mata kepalamu itu, Syah."


"Salah paham gimana maksudnya, V?" Tanyaku yang tak mengerti dengan pemikiran Avila.


"Ya mungkin wanita itu aja yang masih deketin mantan suami kamu, Syah. Lagipula pas kamu lihat mereka tidur bareng memangnya kamu tahu kalau mantan suami kamu itu udah sadar? Enggak kan?" Terang Avila yang membuatku sadar kalau pendapatnya itu ada benarnya juga, sebab tak mungkin kalau Devano sudah tersadar di saat Rifa tidur di sampingnya waktu itu, karena aku tahu sendiri kalau luka pasca kecelakaan yang di alami mantan suamiku itu terbilang parah, bahkan sempat membuatnya koma.


"Kamu benar juga, Avi. Tapi aku udah memutuskan untuk gak mikirin tentangnya lagi. Aku juga udah ikhlas kalau ternyata dia kembali bersama perempuan yang pernah mengisi hatinya itu." Ujarku yang berusaha untuk yakin dengan keputusanku ini.


"Bagus, Aisyah. Kamu harus melupakannya, karena kamu pun berhak bahagia dan mendapatkan pria yang lebih baik dari mantan suami kamu itu." Dukung Lee yang membuat aku tersenyum dan menatapnya dengan penuh terima kasih.


"Idih! Yang ada kalau Aisyah sama lo, dia bakal tambah sengsara karena lo itu orangnya suka genit sana sini." Celetuk Avila yang membuat Robbie melotot namun lucunya pria itu tak bisa mengelak karena yang di katakan Avila memang benar kenyataannya.


"Kalau sama perempuan kayak Aisyah sih gue bakal usaha untuk merubah sikap dan kebiasaan buruk gue, percaya deh." Ungkap Robbie sambil menatapku dengan senyuman genit yang membuatku ingin tertawa.


Jelas berbeda dengan reaksi Avila yang terlihat kesal dan seperti ingin mencakar wajah Robbie sampai pria itu tak bisa tersenyum genit seperti sekarang lagi.


"Gue heran deh sama lo, kenapa sih setiap orang yang berjenis kelamin perempuan itu mesti harus lo genitin?" Sarkas Avila yang membuat aku, Lee dan Robbie tertawa geli.


"Vivi-Vivi, bilang aja kalau kamu cemburu dan mau di genitin juga sama Robbie." Goda Lee yang langsung mendapat pelototon mata dari Avila.


"Ish! Kok Oppa tega sih bilang kaya gitu ke aku?!" Balas Avila seraya berdiri dan melangkahkan kakinya mendekati Lee sambil memasang wajah merajuknya.

__ADS_1


"Oppa cuma bercanda lho, sayang." Sahut Lee dengan raut waspadanya.


"Kalau bercanda jangan pakai omongan, mendingan pakai otot, itung itung olahraga. kayak yang pernah Oppa Lee bilang waktu aku belajar karate itu, masih ingat kan?" Ujar Avila yang sudah berdiri di hadapan Lee dan bersiap untuk menyerang pria itu dengan kemampuan karate-nya.


"Hahaha. Apes lo, Hyung!" Ejek Robbie yang rupanya membuat Avila berbalik dan langsung menyerangnya dengan tendangan masashi gerry sampai membuat pria itu terjerembab ke lantai.


"Arghh...Emak! Sakit banget tendangan setan yang satu ini!" Umpat Robbie sambil memegang perutnya yang baru saja menjadi korban sasaran tendangan Avila.


"Apa kata lo? Tendangan setan? Heh! asal lo tahu ya, tadi itu masih termasuk ke dalam tendangan manusia. Kalo lo mau ngerasain tendangannya setan, nih gue bakal praktekin ke lo sekarang juga." Sahut Avila yang bersiap untuk menerjang Robbie yang bahkan belum berdiri dari tempatnya terjatuh tadi.


Aku yang kasihan melihat Robbie pun langsung memberanikan diri untuk menarik tangan Avila dan membawa sahabatku itu menuruni tangga dan masuk ke dalam lift, meninggalkan Lee dan Robbie yang masih terbengong-bengong di tangga rooftop itu.


Aku tak percaya kalau sesi curhatku dengan mereka akan berujung awkward seperti ini.


TBC.


Gimana pendapat kalian tentang part ini, tulis di kolom komentar yah.😊


Jangan lupa untuk selalu support dengan cara :


-DI LIKE 👍


-TULIS KOMENTAR KALIAN 📝


-VOTE CERITA INI ❤️


-TEKAN BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐


-DAN FOLLOW PROFILKU 🙏

__ADS_1


MAKASIH.


__ADS_2