Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 16 | Part of memories


__ADS_3

HAPPY NEW YEAR 2021, SEMOGA HARAPAN KITA BISA TERWUJUD DI TAHUN INI. AAMIIN.πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰


Aisyah POV.


"Bie, kamu bisa kan nemenin Lee ketemu Ustadz Harun?" pintaku yang tak mungkin mengantar Lee ke Rumah Ustadz Harun sebab Rumahnya berdampingan dengan Asrama putra.


"Bisa sih asalkan kamu mau nganterin makanan dan uang ini ke adik aku," kata Robbie yang bersedia menemani Lee kalau aku mau mengantarkan makanan dan juga uang yang di bawanya ke Asrama putri, tempat adik perempuannya tinggal.


"Oke setuju, tapi sebelumnya aku harus tahu siapa nama adik kamu itu."


"Namanya Kanaya, biasa di panggil Naya," jawab Robbie seraya menyerahkan satu kardus berisi makanan serta sebuah amplop berisi uang bulanan untuk adiknya itu ke tanganku.


"Sekarang kamu temenin Lee ke Rumah Ustadz Harun, cepetan sana," titahku.


"Siap, Kapten Aisyah!" sahut Robbie sambil mengangkat tangannya seperti orang hormat bendera.


Aku tersenyum melihat tingkah Robbie itu.


"Ayo Hyung, ikut aku menuju ke pintu surga," lanjut Robbie seraya merangkul bahu lebar Lee dan mengantar pria itu menemui Ustadz Harun, sang Da'i yang selalu berhasil membuat hati seseorang tenang jika sudah mendengar ceramah dan nasehatnya.


"Semoga Lee bisa meyakinkan dirinya untuk bersyahadat dan menjadi seorang mualaf," gumam ku dengan penuh harapan.


Kemudian aku berjalan menuju Asrama putri guna mengantar makanan dan uang amanah Robbie ini kepada adiknya yang bernama Kanaya.


*****


Kanaya, gadis remaja yang merupakan adik perempuan kesayangan Robbie itu ternyata sangatlah cantik, sopan dan juga ramah kepadaku. Dia sudah menjadi seorang santriwati selama setahun di pesantren Darul Ilmi yang juga pernah menjadi tempatku menenangkan diri setelah bercerai dari Devano tiga tahun yang lalu.


Dulu setelah melahirkan Dasha, aku memutuskan untuk pergi dari Rumah karena tak kuat lagi menerima hujatan tetangga yang percaya dengan fitnah yang mengatakan kalau Dasha adalah bayi hasil perselingkuhan.


Aku memutuskan untuk pergi ke Bandung, atau lebih tepatnya ke alamat Ustadz Harun yang pernah mengajariku mengaji waktu kecil. Aku tak pergi sendirian sebab aku mengikut sertakan Baby Dasha yang waktu itu baru berumur empat bulan.


Dengan ongkos yang pas pasan aku dan bayiku harus rela berdumpal-dumpalan ketika menaiki bus yang kelebihan penumpang. Untungnya waktu itu Baby Dasha tidak menangis, mungkin karena dia mengerti kalau Uminya sedang dalam keadaan kesulitan.


Baby Dasha baru menangis dan rewel ketika aku sudah tiba di pesantren atau lebih tepatnya di rumah Ustadz Harun yang waktu itu langsung menyambut kedatanganku dengan senyuman hangatnya.


"Aisyah, bayi kamu sepertinya sudah lapar," kata Ustadzah Fatimah. Istri dari Ustadz Harun itu menatap Baby Dasha yang tengah menangis dengan wajah kasihan nya.


"Iya Uma, Dasha memang belum menyusu sejak tadi siang," ujar ku dengan suara serak, menahan tangis.


"Lho, kenapa kamu gak kasih dia ASI?" tanya Ustadzah Fatimah dengan kerutan samar di dahinya.


Aku menggigit bibirku untuk menahan air mata yang ingin jatuh, butuh kekuatan untuk mengatakan fakta kalau aku tidak bisa menyusui Baby Dasha.

__ADS_1


"Sebenarnya aku tidak bisa memberinya ASI Uma, aku sudah mencobanya berkali-kali tapi tetap saja ASI ku tak mau keluar," ungkap ku yang kini sudah tak dapat menahan air mataku lagi. Aku menangis dan Ustadzah Fatima langsung bergerak memelukku.


"Astaghfirullah, terus selama ini bayi kamu mengonsumsi apa?" tanya Ustadzah Fatima sambil mengurai pelukannya di tubuhku.


"Susu formula, Uma," jawab ku sambil menimang-nimang Baby Dasha agar tangisannya bisa sedikit mereda.


"Bolehkah aku menitipkan Dasha kepada Uma sementara aku membuatkannya susu?" tanya ku.


"Tentu saja boleh, sebenarnya dari tadi juga Uma pengen banget menggantikan kamu menggendong Dasha," jawab Ustadzah Fatimah dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


Bahkan wanita shalihah itu sudah menyodorkan tangan nya di hadapanku. Dengan perasaan lega aku menyerahkan Baby Dasha ke gendongan nya.


"Dapurnya ada di sebelah sana ya, Syah." Ustadzah Fatimah memberitahuku arah menuju ke dapurnya.


Dan setelah menemukan sebungkus susu beserta botolnya aku pun dengan segera menuju ke arah dapur yang tadi di tunjukkan Ustadzah Fatimah.


Dengan cekatan aku menyeduh susu formula lalu mengipasi nya sampai susu itu hangat sebelum aku memasukkannya ke dalam botol susu milik Baby Dasha. Kemudian aku kembali ke ruang tamu dan memberikan botol susu itu kepada Baby Dasha yang ternyata belum berhenti menangis.


"Ush... Ush... Baby, jangan nangis terus ya, Umi jadi sedih kalau lihat baby gak berhenti nangis seperti ini," bisikku seraya mengambil alih Baby Dasha dari gendongan Ustadzah Fatima lalu menimang-nimang nya.


Tapi Baby Dasha tak mau tenang, bahkan bayiku itu malah bertambah rewel dan tak mau meminum susunya.


"Apa dia demam?" Ustadzah Fatima menyentuh dahi mungil milik Baby Dasha.


"Ya Allah, dia demam Aisyah," kata nya yang membuat aku langsung panik dan ikut menyentuh dahi bayiku.


"Tidak perlu khawatir, masalah uang biar Uma yang bayar, yang penting bayi kamu bisa periksa ke dokter," ujar Ustadzah Fatima yang membuat aku terharu dengan kebaikan hatinya.


"Makasih banyak, Uma...hiks, aku pasti akan mengingat kebaikan Uma ini sepanjang hidup aku," ucapku sambil mengusap air mata yang meleleh di pipiku.


"Sama-sama, Aisyah. Sudah semestinya kita sesama Muslimah untuk saling membantu dan mengasihi," balas Ustadzah Fatima seraya menunjukkan senyuman hangatnya.


******


Di ruang kerja Dokter.


"Sepertinya bayi mbak ini demam tinggi karena merindukan seseorang. Mungkin saja itu ayahnya, maka saya usulkan untuk membawa ayahnya ke sini agar proses peredaan demamnya bisa cepat." Penjelasan Dokter tersebut membuat aku kebingungan dan sedih di saat yang bersamaan.


Aku menoleh ke arah Ustadzah Fatima dengan berurai air mata.


Lalu dengan penuh perhatian Ustadzah Fatima membawaku ke dalam pelukannya. Beliau lalu mengelus bahuku sambil membisikkan kata-kata yang membuatku tegar.


"Hubungi mantan suamimu itu, lalu bilang kalau bayinya sedang membutuhkannya," saran Ustadzah Fatima yang membuat hatiku nyeri karena tak mungkin rasanya aku sanggup untuk menghubungi Devano setelah kami resmi bercerai.

__ADS_1


"Apa aku harus melakukannya?" tanyaku sambil menatap Ustadzah Fatima dengan keraguan yang menyelimuti ku.


"Bismillah, Aisyah. Kamu pasti bisa, bukankah kamu ingin putri kamu lekas sembuh?" kata Ustadzah Fatima sambil mengusap air mataku dengan penuh perhatian.


"Baiklah kalau begitu aku akan menelponnya demi kesembuhan Baby Dasha."


Aku mengambil ponsel dan menekan panggilan video lewat WhatsApp. Namun sudah lebih dari lima kali Devano tidak juga mengangkatnya. Sampai pada titik di saat aku mulai lelah dan mencoba sekali lagi dengan hati yang sudah putus asa.


Dan pada akhirnya Devano mau mengangkat panggilan video-ku.


"Ada apa?" tanya Devano dengan suara dingin dan tanpa melihat ke layar ponsel.


Aku menggigit bibir guna menahan suara isakkan ku agar tak terdengar sampai ke telinga Devano.


"Putri kecilku merindukan kamu, Dev. Aku mohon katakan sesuatu padanya meskipun itu hanya satu kalimat." Aku mohon kepadanya dengan nafas tersendat-sendat karena aku tak bisa menahan tangis ketika melihat wajah dinginnya.


"Aku sibuk, hubungi saja ayahnya," sela Devano yang membuatku menatapnya dengan penuh emosi.


"Kamu adalah ayahnya, Devan!" teriakku yang di penuhi kesedihan, rasa sakit, dan juga kemarahan.


"Sudah berapa kali aku bilang, aku bukan ayah dari bayi itu!" elak Devano yang balas membentak ku sambil menatapku dengan kebencian yang memancar dari mata tajamnya.


Di saat aku ingin membalas pengelakkan Devano tersebut, Ustadzah Fatima dengan cepat mengambil alih ponselku dan berbicara secara baik baik dengan Devano sampai pada akhirnya mantan suamiku itu mau berbicara dengan putri kecilnya.


Bersambung...❀️


Gimana perasaan kalian setelah baca part ini?


Sedih? senang? kecewa? marah? atau biasa aja?


Tulis di kolom komentar yah.β˜ΊοΈπŸ“


Jangan lupa untuk selalu :


-LIKE πŸ‘


-KOMENTAR πŸ“


-VOTE ❀️


-TEKAN BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐


-DAN FOLLOW PROFILKU πŸ™πŸ˜Š

__ADS_1


Sukran katsiran.😍


Jangan lupa untuk jaga kesehatan.


__ADS_2