Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 29 | Insiden di lift


__ADS_3

Setelah makan siang, Aisyah beserta Avila, Robbie dan juga Lee, memutuskan untuk pergi ke Mushola bersama-sama untuk melaksanakan sholat dhuhur berjamaah. Meskipun jadwal pemotretan mereka sangat padat, sholat tetaplah menjadi sesuatu yang mereka nomor satukan, sebab sholat adalah fardhu ain bagi setiap umat muslim.


Dan setelah selesai menunaikan sholat dhuhur, mereka berempat kembali ke studio, namun ketika mereka tengah berada di lift yang akan membawa mereka ke lantai lima, keanehan tiba tiba terjadi, lift berhenti di ikuti dengan lampu yang mati lalu menyala lagi secara berulang kali.


"Lho? Ada apa ini?!" teriak Avila dengan panik.


Robbie segera bergerak menekan tombol lima berkali kali tapi tidak ada perubahan, tidak menyerah pria itu lalu menekan pembuka pintu lift, namun tak bisa terbuka juga.


"Gimana Bie? Bisa gak?" tanya Lee yang di balas gelengan putus asa dari Robbie.


"Apa liftnya rusak?" Aisyah bertanya kepada Lee dengan ekspresi yang mulai ketakutan.


"Mungkin ada kesalahan teknis, tapi insyaallah gak akan terjadi apa apa, jadi kamu gak perlu takut ya?" ujar Lee seraya menatap Aisyah dengan tatapan teduhnya yang sedikit bisa menenangkan hati Aisyah.


Tak tinggal diam, Lee mencoba menekan tombol bantuan sementara Robbie tengah heboh berteriak memanggil seseorang di luar sana. Namun sepertinya percuma karena orang di luar tidak bisa mendengar suara teriakan Robbie tersebut.


Sepuluh menit kemudian Avila terbatuk-batuk seraya memegangi dadanya, sontak hal itu membuat Aisyah, Robbie, dan Lee panik bukan main.


"Ukhuk, nafas aku sesak banget, Syah." Avila mengadu kepada Aisyah dengan wajah yang memucat.


Aisyah bergerak merengkuh pinggang sahabatnya itu dengan kekhawatiran di hatinya.


"Kamu tarik nafas panjang, terus keluarin pelan pelan, ulangi dan kuncinya jangan panik, kita pasti baik baik aja, oke?" saran Aisyah yang langsung di ikuti oleh Avila.


"Jangan over thinking, Vi. Kita pasti akan secepatnya keluar dari lift ini," ujar Robbie yang ikut cemas melihat keadaan Avila sekarang.


"Iya, jangan pikirin yang macem macem, teruslah tarik nafas dengan tenang... bantuan pasti akan segera dateng," timpal Lee seraya mengelus puncak kepala Avila dengan lembut.


"Huh... huh... huh, a... aku takut," adu Avila dengan suara lemah yang terbata bata.


Dua puluh menit kemudian....


Secara perlahan tubuh Avila meluruh lemas sampai Aisyah tidak kuat lagi menahan berat badan sahabatnya itu. Untungnya dengan gerakan cepat Robbie menopang tubuh Avila, menggantikan Aisyah.

__ADS_1


"Avi... kamu harus kuat ya, teruslah bernafas dengan tenang, hiks... jangan negatif thinking dan cobalah untuk rileks Avi," bisik Aisyah sembari mengusap peluh di dahi Avila dengan jemarinya.


"Tolong... hiks, tolong aku, jangan sakiti aku... hiks, ukhuk, ukhuk." Avila berteriak seraya memejamkan matanya. Tidak hanya itu, Avila juga menggerakkan tangannya dengan gelisah seperti tengah menghalau sesuatu.


Melihat Avila seperti itu, bukan hanya Aisyah saja yang semakin cemas, melainkan Lee dan Robbie juga ikut merasakannya.


"Hiks, jangan sakiti aku bajingan!" teriak Avila lagi. Yang kali ini membuat Robbie refleks memeluk gadis itu dan mengusap rambutnya dengan lembut. Berusaha untuk membuat Avila merasa aman.


"Lee! Cepat buka pintunya dengan cara apapun! Aku gak tega lihat Avila kayak gini!" perintah Aisyah sambil memukul lengan Lee dengan perasaan panik.


"Aku udah mencobanya berkali-kali Aisyah, tapi tetap aja gak bisa. Sekarang kita hanya bisa menunggu petugas teknisi datang dan mengeluarkan kita dari sini," terang Lee seraya memegangi dahinya.


"Hiks, aku khawatir trauma Avila akan semakin parah kalau kita gak segera keluarin dia dari sini," kata Aisyah sambil berusaha untuk tak terisak-isak.


"Arghh!! Jangan sakiti aku!!" jerit Avila dengan pilu, pedahal saat ini tak ada siapapun yang akan menyakitinya.


Robbie bungkam dengan mata yang sudah berkaca-kaca, pria itu terus memeluk Avila seraya mengelus rambutnya meskipun sebenarnya dia tengah menahan sakit sebab Avila dari tadi terus mencakar punggung dan menggigit bahunya dengan kuat.


"Vi, dengerin gue ya, gak ada orang yang akan menyakiti lo, kita cuma terjebak di lift rusak, dan pasti akan keluar secepatnya, sekarang buka mata lo dan lihat kalau di sini lo gak sendirian, ada gue, Aisyah dan juga Lee Hyung." Robbie mencoba membantu Avila tenang agar pikiran dan perasaannya kembali normal.


"Hei Vi, ini Oppa, kamu yang tenang ya, Oppa minta sama kamu, coba buka mata kamu ini," bisik Lee dengan lembut seraya merangkum wajah oriental Avila dengan jemari sebelah kanannya.


Ajaibnya setelah mendengar suara permintaan Lee tersebut, Avila bisa membuka matanya dan hal itu langsung membuat Aisyah lega.


"Alhamdulillah akhirnya kamu sadar, Vi." Aisyah tersenyum lega seraya mengelus rambut Avila.


"Ternyata Avi memang benar benar mencintai Lee, aku harus mengalah demi dia. Aku tidak bisa bersama Lee, Lee lebih layak mendapatkan gadis seperti Avila, bukan seseorang janda lemah seperti aku, meskipun Lee mencintaiku, aku akan mencari cara untuk membuat dia mengalihkan perasaannya kepada Avila." Aisyah membatin seraya menatap Avila yang kini tengah menatap mata Lee.


Kemudian Aisyah mengalihkan pandangannya ke arah Robbie dan mendapati pria itu tengah menundukkan kepalanya, Seketika Aisyah peka kalau sepertinya sahabat lelakinya yang satu itu cemburu melihat Avila berada di pelukan Lee.


"Astaghfirullah, ini kenapa para teknisi datengnya lama banget sih?!" kesal Robbie seraya mengetuk-ngetuk dinding lift dengan kegelisahan yang begitu tampak di wajah tampannya.


"Sabar, bentar lagi pasti dateng," ucap Lee yang kini masih memeluk Avila seperti dia memeluk adiknya sendiri.

__ADS_1


Dan benar saja apa kata Lee, tak lama kemudian lift terbuka dan petugas teknisi segera membantu mereka berempat untuk keluar dari lift macet tersebut.


Avila yang membutuhkan bantuan pernafasan langsung di bawa ke ruang kesehatan untuk mendapatkan perawatan. Sedangkan yang lainnya seperti Aisyah dan Robbie harus melanjutkan pekerjaan mereka lagi.


"Alhamdulillah... terimakasih atas pertolonganmu, Ya Allah," gumam Aisyah penuh rasa bersyukur, wanita itu tidak bisa membayangkan kalau seandainya pintu lift tadi tidak bisa terbuka lebih lama lagi.


"Huft, akhirnya gue bisa menghirup udara segar dan jauh dari pemandangan yang buat hati panas," celetuk Robbie yang mendapat lirikan heran dari Aisyah dan Lee.


"Rob, kamu cemburu lihat aku meluk Avi?" Pertanyaan Lee tersebut membuat Robbie langsung salah tingkah.


Dan tak bisa di pungkiri lagi, Robbie pasti punya perasaan yang lebih kepada Avila. Buktinya pria itu terlihat cemburu ketika Avila di peluk Lee seperti tadi.


Bersambung....


Robbie suka sama Avila, Avila cintanya sama Lee, tapi Lee mencintai Aisyah, sedangkan Aisyah sendiri masih bingung dengan perasaannya. Di satu sisi dia masih mencintai Devano, tapi dia punya prinsip untuk tidak akan pernah kembali bersama pria itu. Di sisi lainnya, dia nyaman sama Lee, senang jika Lee memberinya perhatian, sekecil apapun perhatian itu. Jadi bagaimana menurut kalian? rumit gak sih?😁😁😁


Maaf kalau di part ini kalian gak ketemu sama Devano dan Rifa.🤭🤭😁😁


Jangan lupa untuk selalu support :


-LIKE 👍


-KOMENTAR 📝


-VOTE CERITA INI ❤️


-KASIH BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐


-DAN FOLLOW PROFILKU 🙏😊


Oh iya, kalau kalian bersedia follow Instagram aku juga ya : zzahraakhoirr.


Makasih banyak,

__ADS_1


Aku sayang sama kalian semua, jaga kesehatan ya, readers ku tercinta.😊😍


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh....


__ADS_2