Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 51 | Kado istimewa


__ADS_3

Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala alihi sayyidina Muhammad 🤍


__


Jam makan siang sudah tiba, Aisyah cepat-cepat pergi menemui Lee di ruangannya. Berdasarkan pesan yang dikirim Lee tadi pagi pria itu tak akan pergi makan siang di luar karena pekerjaannya sangat menumpuk. Jadi Aisyah berinisiatif memasakkan Lee bekal makan siang sekalian membawakan kimchi hasil buatannya kemarin sore.


"Gimana? Enak kan kimchi buatan aku?" tanya Aisyah penasaran dengan pendapat Lee yang baru saja mencicipi kimchi buatannya.


"Lumayan enak," jawab Lee yang membuat Aisyah merasa kurang puas.


"Apa ada yang kurang sama rasanya?" tanya Aisyah.


Bukannya menjawab Lee malah menunjuk kursi di hadapannya. "Duduk dulu," perintah Lee yang di turuti oleh Aisyah.


"Kimchi ini sebenarnya enak, tapi rasanya akan berkurang kalau aku makan sendirian, jadi kamu mau kan temenin aku makan kimchi istimewa ini?" ujar Lee yang membuat Aisyah merasa tersanjung dan dihargai.


Aisyah tersenyum lalu mulai mengambil nasi beserta lauk dan kimchi hasil buatannya. Dan ketika Aisyah mencicipi kimchi nya seketika dia langsung mengerutkan kening karena lidahnya merasakan sedikit keanehan yang mengganggu.


"Kamu bohong! Ini mah bukan lumayan enak, melainkan gak enak," pekik Aisyah mengomeli Lee yang tak menilai jujur kimchi buatannya.


Lee menghela nafas panjang lalu menatap Aisyah dengan tatapan teduhnya. "Kamu udah membuatnya susah payah, jadi aku tidak mau membuat kamu kecewa, lagi pula rasanya tidak seburuk itu," ujar Lee lalu melahap kimchi dan nasi secara bersamaan.


Pria itu tampak menikmati masakan Aisyah meskipun rasanya sedikit aneh dan cukup mengganggu kenyamanan lidahnya.


Sedangkan Aisyah hanya terpaku, tersanjung melihat Lee menghargai masakan hasil kerja kerasnya yang meskipun rasanya tidak sesuai dengan ekspektasi itu.


"Hei, kamu kok malah bengong sih?" tegur Lee yang membuat Aisyah sadar dan tersenyum sambil menatap Lee penuh arti.


"Aku iri deh sama Devano, dulu dia pasti sering banget di masakin sama kamu, iyakan?"


Aisyah tersenyum miris lalu menatap wajah Lee cukup lama. "Ya, aku sering masakin dia, tapi gak pernah sekalipun dia menghargai masakan aku seperti yang kamu lakukan sekarang," ungkap Aisyah dengan sedih.


Meskipun sudah empat tahun berlalu tapi Aisyah masih kerap merasa sakit apabila mengingat masa lalu.


Lee balas menatap Aisyah dengan tatapan yang menyiratkan perhatian. "Kamu jangan sedih lagi ya, karena pria yang di depan kamu ini sangat berbeda dengan Devano, mantan suami kamu yang banyak menyakiti perasaan kamu itu."


Aisyah mengangguk sambil mengusap air bening yang merembes dari ujung matanya.


"Makasih Lee."


"Anytime, Aisyah," balas Lee sambil menampilkan senyuman teduhnya.


******


Di tempat lain ada Robbie yang tengah merasa dilema karena dia harus memilih antara menemani Avila ke rumah sakit untuk check up ibunya atau pergi ke pesantren guna memberi hadiah ulang tahun sekaligus uang bulanan untuk adik perempuannya.

__ADS_1


"Hah! Gimana nih? Keduanya sama-sama penting buat gue," keluh Robbie sambil meremas rambutnya.


Tiba-tiba nama Lee terlintas di otak Robbie. "Nah! gue tahu sama siapa gue bisa minta tolong," cetusnya yang kemudian menelfon Lee.


"Halo, ada apa Bie?" tanya Lee setelah tersambung dengan Robbie.


"Hyung, lagi sibuk gak?" Robbie balik bertanya.


"Lumayan sibuk sih, tapi sebentar lagi beres kok," jawab Lee yang membuat Robbie bukan main senangnya.


"Yes!" pekik Robbie dengan penuh semangat.


Di seberang sana Lee mulai over thinking kalau jangan jangan Robbie mau minta bantuan yang aneh-aneh kepadanya.


"Mau minta tolong apa?" tanya Lee to the point sebab ia sudah tahu betul gelagat Robbie jika ingin meminta bantuannya.


"Bisa anterin hadiah ultah adik aku gak, Hyung?"


"Lho, kenapa gak lewat kurir aja?" tanya Lee.


"Hemat uang lah Hyung, lagi pula aku gak mau kecantikan adik aku di lihat sama laki-laki asing," jawab Robbie dengan asal.


"Kamu lupa yah kalau aku juga laki laki asing bagi dia?"


"Terserah apa kata kamulah bie, sekarang mending kamu cepetan ke studio dan titipin paketnya di post satpam. Nanti kalau kerjaan aku udah selesai aku langsung pergi ke pesantren dan menyerahkan paket itu secara langsung sama adik kamu, sekaligus aku juga mau silaturahmi sama Pak Kiai."


"Oke, otw ke studio Hyung. Oh ya jangan lupa nanti sampein permintaan maaf aku ke adik aku dan bilang juga ke dia suruh cepetan buka kado spesial dari aku itu ya, Hyung?"


"Iya iya bawel, tutup dulu ya, aku sibuk."


Tut... Tut... Tut....


Begitu sambungan terputus Robbie langsung mengambil kunci motornya lalu pergi ke studio sambil membawa hadiah spesial untuk adiknya yang akan dia amanah kan kepada Lee.


*****


Dua orang wanita cantik berhijab panjang duduk di hadapan Lee yang kini merasa gugup entah karena apa. Pedahal dia hanya ingin menyampaikan amanah dari Robbie tapi sekarang mulutnya malah terkunci saking gugupnya melihat adik perempuan Robbie yang tampak anggun dengan balutan hijab panjang berwarna nude yang menutupi auratnya.


"Assalamualaikum, ustadzah." Lee mendahulukan memberi salam kepada wanita paruh baya yang duduk di sebelah adik perempuan Robbie.


"Wa'alaikumsalam warahmatullah."


"Assalamualaikum... Kanaya," ucap Lee sambil menatap sekilas wajah adik perempuan Robbie yang ternyata sangat anggun dan menawan.


"Wa'alaikumsalam... Warahmatullah, Akhi." Suara lembut Kanaya membalas salam dari Lee dan seketika menciptakan desiran halus di dalam hati pria tampan itu.

__ADS_1


"Ekhem, ini saya di amanahi sama Robbie untuk memberikan kado spesial ini untuk kamu, Robbie berpesan agar kamu segera membukanya, dan dia juga minta maaf karena enggak bisa datang langsung untuk mengucapkan selamat ulang tahun buat kamu," ungkap Lee sambil menyerahkan kotak kado yang belum di ketahui berisi apa tersebut kepada Kanaya.


"Terimakasih banyak, Akhi." Wajah Kanaya berseri-seri menerima kado yang katanya spesial itu. Ya, wajar saja karena selama ini Robbie belum pernah membelikannya kado ketika dia ulang tahun.


"Sama-sama, Naya. Oh iya, kata Robbie dia ingin kamu segera membukanya." Lee menyampaikan pesan Robbie sebelum dia pergi tadi.


"Baiklah," ucap Kanaya yang kemudian membuka kado yang di bungkus cantik oleh kakaknya tersebut.


Namun begitu isi kadonya di keluarkan Kanaya langsung merasa kesal sekaligus sangat malu karena isi kadonya adalah bra. Ya Allah, Robbie memang berniat mengerjai adik perempuannya sendiri.


Dengan perasaan malu Kanaya menyembunyikan bra hadiah dari kakak jahilnya itu di balik kerudung panjangnya.


"Maaf, saya tidak tahu kalau isinya...." Lee mengantung kalimatnya karena dia pun ikut merasa malu dan juga gugup sampai wajahnya yang putih berubah menjadi merah saking malunya. Kemudian setelah itu tanpa mengurangi kesopanan, Lee segera pamitan dengan Kanaya serta Ustadzahnya.


Sepulang dari pesantren Lee berniat memukuli Robbie, karena temannya yang satu itu sudah membuatnya malu setengah mati di hadapan gadis sholeha seperti Kanaya.


Bersambung....


Taraaa.... Ada yang masih inget sama Kanaya? Adik perempuan Robbie yang sedang menuntut ilmu di pesantren Daarul Ilmi itu lho.


Di sini dia muncul lagi, kira kira kedepannya dia bakal sering muncul gak ya?


Penasaran?


Btw, ada yang nungguin kelanjutannya kasus Dasha?


Jangan lupa tulis komentarnya ya.


Makasih 😍


Di mohon untuk :


•Like 👍


•Komentar 📝


•Vote cerita ini ❤️


•Bagikan ke teman-teman kalian 🙏


•Tekan bintang limanya ⭐⭐⭐⭐⭐


•Dan follow profil aku😘


Bye, Assalamualaikum.

__ADS_1


__ADS_2