Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 37 | Sambutan hangat.


__ADS_3

Aisyah POV.


Aku terkagum-kagum melihat Rumah keluarga Lee yang bukan sekedar luas tapi juga memiliki halaman yang sangat asri dan di tumbuhi berbagai macam bunga yang cantik dan terawat, tidak seperti Rumahku yang gersang dan tidak terurus karena meskipun ada Bibik di sana, beliau sudah tua dan tidak sanggup lagi untuk membersihkan rumah tanpa campur tanganku yang selalu sibuk dengan pekerjaan ini.


Oke, cukup membahas Rumahku, sekarang aku kembali merasakan kegugupan tepatnya ketika Lee mempersilahkan aku masuk ke dalam rumahnya. Jujur, ada kekhawatiran yang teramat besar di hatiku saat kaki ini melangkah masuk ke dalam dan mengikuti Lee yang berjalan di depanku.


"Aisyah." Aku langsung menatap wajah Lee begitu ia memanggil namaku.


"Ibuku memang sensitif sama wanita yang memakai hijab tapi aku yakin dia akan bersikap baik sama kamu, jadi jangan takut ya?" Lee menenangkan aku sembari menatapku dengan tatapan teduhnya yang membuat hatiku mulai tenang lagi.


Aku mengangguk dan itu membuat Lee menatapku dengan senyuman lega, kemudian tanpa ragu lagi pria itu melanjutkan langkahnya ke ruang keluarga, sedangkan aku mengikutinya dari belakang dengan hati yang sudah berdebar kencang.


Begitu sampai di ruang keluarga, Lee langsung menyapa anggota keluarganya yang tengah bersantai di sana.


"Hai Appa, lihat siapa yang aku bawa."


Seorang pria paruh baya yang semula fokus menonton TV itu kini menoleh ke arah aku dan Lee, lalu tanpa aku duga sebuah senyuman ramah terukir di wajah keriputnya. Secara spontan aku pun membalas senyuman itu dengan sopan.


"Wah senangnya, apakah dia wanita yang selama ini kamu ceritakan kepada Appa?" pertanyaan yang terlontar dari ayahnya itu membuat wajah Lee seketika merona, sementara aku sendiri sudah menunduk karena malu.


"Ekhem, Appa tak mempersilahkan kami berdua duduk dulu?" tegur Lee yang membuat sang ayah terkekeh dan menepuk dahinya pelan.


"Hehehe... Appa sampai lupa, ya sudah sekarang duduklah kalian, Appa akan ke dapur untuk membuatkan kalian minuman yang spesial, jadi tunggu sebentar ya," ucap ayah Lee yang kemudian pergi ke dapur.


Sementara aku dan Lee memutuskan untuk duduk bersampingan di sofa panjang yang ada di ruang keluarga itu. Tak lama kemudian ayah Lee kembali sambil membawa nampan berisi tiga gelas jus strawberry yang tampak menyegarkan.


"Maafkan saya yah om, saya jadi merepotkan," ucapku tak enak hati namun ayah Lee malah tertawa riang.


"Nak Aisyah, saya gak merasa di repotkan sama sekali kok, malahan kalau Lee memberitahu saya dulu sebelum dia mengajak nak Aisyah ke sini, saya mungkin akan menyiapkan penyambutan yang jauh lebih spesial untuk nak Aisyah," ujar Ayah Lee yang membuat aku tersipu. Sepertinya pria paruh baya itu sudah banyak mengetahui tentang diriku dari Lee.


"Terimakasih banyak om, saya gak menyangka akan di terima dengan sangat baik di rumah ini," kataku yang di balas senyuman hangat oleh Ayah Lee.


"Appa, ke mana eomma dan Stevani?" sela Lee menanyakan anggota keluarganya yang lain kepada sang Ayah.


"Eomma kamu baru saja pergi, katanya dia punya urusan penting yang begitu mendadak."


Aku bisa melihat adanya kekesalan di mimik wajah Ayah Lee ketika mengatakan hal tersebut.


Bukan hanya Ayahnya, aku juga melihat kekesalan itu menyelimuti wajah tampan Lee.


"Huft, aku jadi curiga kalau eomma memang sengaja menghindar agar dia tak bisa bertemu dengan Aisyah lagi."


"Hush, Lee, jangan su'udzhon sama ibu kamu sendiri, mana tahu ibu kamu memang benar benar ada urusan yang membuatnya harus pergi, iyakan?" kataku yang tak mau Lee kesal kepada ibunya hanya karena ibunya tak bisa meluangkan waktu untuk bertemu denganku.

__ADS_1


"Tapi Aisyah, sebelumnya eomma sudah janji sama aku kalau siang ini dia tidak akan kemana-mana, dan sekarang apa? Dia melanggar janjinya." Lee tak dapat menutupi kekesalannya terhadap sang ibu, sepertinya ia ingin menelpon wanita yang telah melahirkannya itu, namun aku segera mencegah tindakannya.


"Jangan Lee," cegah ku yang mendapat tatapan protes dari Lee.


"Tapi aku merasa bersalah karena lagi lagi kamu harus gagal bertemu eomma," ujar Lee.


"Sudahlah, kan masih ada Appa, iyakan?" hibur Ayah Lee.


"Iya, benar kata ayah kamu Lee," bisik ku berupaya membuat Lee melupakan rasa bersalahnya karena lagi lagi ia gagal mempertemukan aku dengan ibunya.


Lee hanya diam dan dari wajahnya aku masih bisa melihat secuil kekecewaan, mungkin dia terlalu berekspektasi kalau siang menjelang sore ini aku dan ibunya akan bertemu dan berkenalan secara langsung.


"Sudah Lee, jangan murung begitu, kan masih ada Appa yang akan mengajak nak Aisyah mengobrolkan banyak hal, menggantikan ibumu itu, iyakan nak Aisyah?" hibur Ayah Lee seraya menepuk bahu anaknya dengan penuh perhatian.


Lalu Lee mendongak untuk menatap wajah ayahnya. "Gumawo Appa," gumamnya kemudian.


"Sama-sama putraku," balas Ayah Lee dengan senyuman lembut yang terpatri di wajah keriputnya.


Aku menatap keduanya dengan penuh kekaguman sebab meskipun faktanya Ayah Lee yang sekarang aku lihat ini merupakan ayah tiri Lee, tapi aku melihat kasih sayang nya begitu besar untuk Lee, aku jadi teringat akan almarhum ayahku yang dulu sangat menyayangiku juga.


"Lee Opppaaaa!" Aku tersadar dari lamunanku ketika mendengar suara cempreng itu memanggil nama Lee.


"Hey! Adik Oppa udah pulang rupanya," sahut Lee seraya merentangkan kedua tangannya untuk menyambut kepulangan adik perempuannya dengan pelukan.


"Oh my god, eonni! Aku kangen banget sama eonni!" girang Stevani yang membuatku tersenyum lalu balas memeluknya.


"Eonni juga kangen sama kamu, Vanie!" balasku sumringah sambil mengelus rambut halusnya.


"Wah, rupanya kalian sudah saling kenal ya?" Ternyata Ayah Lee belum tahu kalau putri kesayangannya sudah lama mengenalku.


"Iya Appa, jadi ceritanya aku dan eonni Aisyah itu pertama kali bertemu dan berkenalan waktu aku ultah tahun lalu," terang Stevani kepada ayahnya setelah ia melepas pelukannya dari tubuhku.


"Bagus, memang sudah seharusnya kamu dan Aisyah saling mengenal, agar nanti kalau kakakmu menikahi Aisyah, kamu sudah tak canggung memanggilnya eonni, iyakan?" kata Ayah Lee yang spontan membuatku terkejut sekaligus malu di waktu yang bersamaan.


Tidak hanya aku melainkan Lee juga bereaksi sama, bahkan pria yang tengah menyeruput jus strawberry buatan ayahnya itu sampai tersedak waktu sang ayah berkata demikian.


"Ukhuk ukhuk." Lee terbatuk-batuk.


Secara refleks aku mengambil segelas air putih yang tersedia di atas meja lalu memberikannya kepada Lee.


"Minumlah pelan pelan," titahku yang langsung di turuti oleh Lee.


"Makasih ya Syah," ucap Lee setelah meminum air putih yang tadi aku berikan kepadanya.

__ADS_1


"Ekhem! Appa, sepertinya kita hanya jadi nyamuk di sini," goda Stevani ketika mendapati Lee tak bergeming menatapku.


"Iya nih baby, mending kita pergi dari sini yuk," sahut Ayah Lee yang berhasil membuat Lee sadar dan segera mengalihkan tatapannya dariku.


"Apaan sih kalian ini?" tanya Lee menatap adik dan ayahnya secara bergantian dengan tatapan merajuk.


Sang Ayah dan Stevani pun kompak menatap Lee dan beberapa detik kemudian mereka berdua tertawa geli.


"Jangan ngambek gitu dong, Appa kan cuma bercanda, lagian menurut cerita kamu Aisyah belum juga menerima kamu kan?" ujar Ayah Lee.


Aku menunduk, merasa bersalah karena sampai saat ini aku masih menggantung cinta Lee yang benar-benar tulus kepadaku.


Jika seandainya aku memilih untuk menerima cinta Lee, apakah jalanku untuk bersatu dengannya akan mudah? Sedangkan firasat ku saja mengatakan kalau sepertinya ibu Lee tak suka terhadapku dan yang pasti beliau tak akan setuju jika aku menjadi pendamping putranya.


Jadi untuk sekarang, biarlah semuanya mengalir tanpa rencana dulu karena aku masih terlalu takut untuk membuat sebuah keputusan untuk masa depanku.


Bersambung....


Bagaimana? Kalian mulai merasa jenuh gak sih? Coba curhat ke aku lewat komentar yah.


Jangan bosen-bosen sama cerita ini ya.🤗🤗


Sedikit bocoran kalau di part selanjutnya itu akan cukup menguras emosi dan air mata.


Btw, jangan lupa juga untuk selalu support aku lewat cara di bawah ini :


-LIKE 👍


-KOMENTAR 📝


-VOTE CERITA INI ❤️


-BAGIKAN KE TEMAN KALIAN ➡️


-TEKAN BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐


-DAN FOLLOW PROFILKU 🙏😊


Oke segitu dulu dari aku,


Makasih banyak atas dukungan dan partisipasinya selama ini.😍😍😍


Aku pamit dulu ya, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2