
Dari tadi Aisyah hanya mengaduk aduk kopi americano yang ada di meja tanpa berniat meminumnya. Dia tak bisa berhenti memikirkan Lee yang sudah tiga hari ini tidak ada kabarnya. Bahkan Lee juga tidak datang ke Studio seperti hari hari biasanya.
"Dia kemana? Kenapa dia tidak menghubungi ku dan juga tidak bisa aku hubungi?" Aisyah bertanya tanya sendiri.
"Hei kamu kenapa?" Tiba-tiba Avila datang menghampiri Aisyah dan duduk di sebelahnya.
"Kamu tahu enggak Lee di mana?" tanya Aisyah.
"Enggak, lagipula kenapa malah tanyanya ke aku? Pedahal yang lebih dekat sama Oppa Lee itukan kamu," jawab Avila.
"Entahlah, udah tiga hari ini Lee enggak ada kabar, aku khawatir karena dia tidak bisa dihubungi," ungkap Aisyah dengan kekhawatiran yang begitu kentara.
"Kenapa enggak datang ke rumahnya aja? Mana tahu dia sedang beristirahat di rumah," saran Avila.
Tapi Aisyah malah menggelengkan kepalanya menolak saran dari Avila. "Tadi pagi aku telfon adiknya dan dia bilang sudah tiga hari juga Lee tidak pulang ke rumah," pungkas Aisyah.
"Huh, kenapa laki-laki suka banget ghosting kaya gitu? Asal kamu tahu ya, Syah. Robbie juga udah dua hari ini gak bisa dihubungi, nomernya selalu sibuk. Aneh banget tahu enggak," timpal Avila yang juga menceritakan masalahnya.
"Kita berdua sebagai cewek sibuk mengkhawatirkan mereka, sedangkan mereka sebagai cowok tidak ada inisiatif untuk setidaknya sekali aja kasih kabar," Avila mengeluarkan unek-unek yang sama persis dengan yang juga dirasakan oleh Aisyah.
"Huft, udahlah mendingan kita pesan makan siang, katanya ada menu baru yang enak di kafe ini," usul Avila.
Aisyah pun setuju lalu memanggil seorang Waiter yang sedang berdiri membelakanginya. "Mas, saya mau pesan nih."
Merasa dipanggil Waiter itu menoleh ke arah Aisyah dan seketika raut wajah Aisyah kaget.
"Lho... Devano?"
"Aisyah?"
"Tidak sangka kita bertemu di sini ya," ujar Devano yang rupanya kini beralih profesi menjadi seorang Waiter di Kafe yang terbilang sering dikunjungi oleh Aisyah.
"Sejak kapan kamu kerja di sini?" tanya Aisyah.
"Sejak dua hari yang lalu," jawab Devano seadanya.
"Ooh, ya udah sekarang aku mau pesan menu terbaru dari Kafe ini ya, dua porsi."
"Oke, di tunggu ya."
Dengan cekatan Devano menulis pesanan Aisyah lalu pergi ke belakang untuk mengambil pesanan itu.
"Dia beneran kerja di sini?" tanya Avila kepada Aisyah setelah Devano pergi.
"Iya, sepertinya dia tidak mau terus terusan menjadi pengangguran setelah pemecatannya hari itu," jawab Aisyah.
"Baguslah, itu artinya dia benar benar ingin memulai hidup baru," timpal Avila.
Beberapa saat kemudian ketika pesanan datang tiba-tiba ada seorang gadis cantik duduk di kursi kosong sebelah Avila.
__ADS_1
"Maaf, kamu siapa ya?" tanya Avila sambil menatap gadis cantik yang duduk di sebelahnya dengan tatapan heran.
"Kenalin, aku Georgina Alessandra, model sekaligus artis yang akan segera bergabung dengan DSL beauty fashion."
"Aku sengaja menghampiri kalian karena aku ingin menanyakan di mana ruangan David," ucap gadis cantik bernama Georgina Alessandra itu sambil menaikkan dagu runcingnya penuh arogansi.
"Maksudnya Lee?" tanya Aisyah ingin memastikan.
"Ya, David Steven Lee. Ck, lagipula siapa lagi sih bos kalian kalau bukan dia? Sekarang kasih tahu aku di mana ruangan David," ujar gadis cantik berdarah blasteran itu dengan nada arogannya.
Dalam hati Avila mulai kesal dengan Georgina yang berlagak sombong di hadapan Aisyah dan juga dirinya.
"Percuma kamu ke ruangannya, dia enggak ada di sana," jawab Avila mewakili Aisyah.
"Ck, kalau gitu cepat hubungi dia dan bilang kalau klien spesialnya datang dan ingin bertemu dengannya sekarang juga," titah Georgina kepada Aisyah yang kebetulan sedang memegang ponsel di tangannya.
"Oke, tunggu sebentar ya mbak," sahut Aisyah dengan santai.
******
"Alhamdulillah akhirnya ponselku kembali lagi ke tanganku," ujar Lee saat berhasil menemukan ponselnya di meja belajar Steffany.
Namun beberapa saat kemudian Steffany masuk ke dalam kamar dan memukulinya dengan sapu.
"Rasakan ini maling!" umpat Steffany sambil terus memukuli Lee.
"Hyak! Stop!" teriak Lee yang sudah tidak tahan lagi menerima perlakuan brutal dari adiknya.
"Oppa?!" jerit Steffany kegirangan dan segera memeluk tubuh Lee dengan erat sampai kakak laki-lakinya itu kesulitan untuk bernafas.
"Fani, kamu mau Oppa mu ini meninggal karena sesak nafas, hah?" tegur Lee yang malah membuat Steffany terkekeh lalu mengurai pelukan eratnya dari tubuh sang kakak.
"Maaf, lagian selama tiga hari ini Oppa kemana aja sih?" tanya Steffany yang mulai menginterogasi kakaknya.
"Oppa menginap di rumah sakit," jawab Lee yang seketika membuat raut wajah Steffany berubah khawatir.
"Oppa sakit? Kenapa tidak minta aku temani di rumah sakit?" kata Steffany sambil mengamati wajah Lee yang agak terlihat pucat karena semalam pria itu habis bergadang menjaga Kanaya sendirian.
"Bukan Oppa yang sakit melainkan adik perempuannya Robbie, jadi selama tiga hari ini Oppa di rumah sakit untuk menjalankan amanah dari Robbie untuk menjaga adiknya sampai Robbie kembali dari Bali," jelas Lee agar adiknya tak salah paham.
"Jadi begitu ceritanya. Oh iya, Oppa di cariin terus tahu sama Kak Aisyah."
"Seriusan?"
"Iya, coba cek HP deh," usul Steffany.
Lee mengecek HP nya dan ada sekitar 15 panggilan tak terjawab serta 20 spam chat tak terbalas dari Aisyah yang mengkhawatirkan dirinya.
"Ah, bodohnya aku! Seharusnya aku bawa ponsel ini kemanapun supaya kalau Aisyah menelfon aku bisa mengangkatnya dan memberi dia kabar," sesal Lee meratapi kesalahannya.
__ADS_1
Menit berikutnya ponsel Lee berbunyi dan ternyata Aisyah lah yang menelfon dan Lee pun langsung mengangkatnya.
"Halo, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, Aisyah."
"Ya Allah Lee, kamu kemana aja sih? Kenapa gak kasih kabar selama tiga hari? Aku khawatir sama kamu tahu enggak."
"Maafin aku Aisyah, nanti aku ceritain begitu aku ketemu langsung sama kamu, sekarang kasih tahu aja kamu lagi di mana nanti aku akan ke sana."
"Aku di Kafe dekat Studio, kamu cepetan ke sini ya, kebetulan juga ada yang mencari kamu di sini."
"Siapa memangnya?"
"Datang aja ke sini, aku juga gak tahu dia siapa, tapi dia bilang dia klien spesial kamu."
"Ooh ya udah, aku on the way ke sana sekarang juga."
"Oke, aku tunggu ya, Mr. David."
Lee tersenyum lalu menutup sambungan telfonnya dan menyambar kunci mobil milik Steffany yang tergeletak di atas meja belajar.
"Awas aja kalau sampai mobilku lecet lagi!" teriak Steffany setelah mendapati kakaknya meminjam mobil kesayangannya lagi.
"Tenang aja, kali ini tidak akan," sahut Lee sambil berlari keluar dari kamar Steffany.
"Tiba-tiba aku kasihan sama Oppa Lee sebab aku yakin dia akan segera bertemu dengan masa lalunya," gumam Steffany dengan nada miris.
Bersambung....β€οΈ
Hai hai, aku menepati janjiku untuk double up meskipun agak kemalaman,
it's okey lah ya?
Jangan lupa berkomentar positif dan dukung aku seperti biasa dengan cara :
1. Like π
2. Komentar π
3. Vote novel ini β€οΈ
4. Share novel ini ke temanΒ² kalian β‘οΈπ©βπΌπ§π
5. Dan follow profil aku.
Makasih yang udah stay sampai sejauh ini.
I love you all.ππππβ€οΈβ€οΈ
__ADS_1
See you tomorrow, Assalamualaikum.