
Sebulan kemudian... Devano yang sedang mengawasi Dasha bermain di pantai bersama teman barunya, mendapat telepon dari Aisyah.
Lantas Devano pun mengangkatnya. "Assalamualaikum?"
"Wa'alaikumsalam, Dev."
"Ada apa, Aisyah?" tanya Devano sambil terus mengawasi putrinya yang kini sedang bermain kejar-kejaran dengan teman barunya.
"Gimana kabar Dasha, apa dia udah berhenti menangisi kepergian Sierra?"
Devano menghela nafas panjang sebelum menjawabnya. "Alhamdulillah, dia sudah bisa tersenyum, dan bahkan dia sudah bisa tertawa sekarang."
"Syukurlah, aku sangat senang. Semoga trauma yang dimiliki Dasha juga bisa secepatnya hilang, ya."
"Aamiin, insyaallah."
"Oh iya, kemarin gimana acara lamarannya? lancar?" tanya Devano penasaran sekaligus galau.
"Alhamdulillah, Dev. Allah telah memudahkan segala sesuatunya sehingga acara lamaran kemarin berjalan dengan baik dan lancar."
"Syukurlah, aku ikut senang ya, akhirnya sebentar lagi kamu akan menyandang status yang baru dan menjadi Nyonya keluarga Lee," ujar Devano sambil menahan rasa sakit dihatinya yang seperti habis disayat-sayat ribuan pisau.
"Devan, apa kamu masih di sana?" tanya Aisyah ketika Devano tak bersuara selama beberapa menit.
"Ya, aku masih di sini...," jawab Devano. "Kamu kangan lupa undang aku ke pernikahan kamu ya, Aisyah," lanjutnya dengan suara parau.
Memang sulit menahan sakitnya patah hati, kira-kira seperti itu jugalah yang dirasakan Aisyah dulu ketika Devano lebih mempercayai Rifa dan pergi meninggalkannya yang sedang dalam kondisi hamil.
"Aku pasti undang kamu, Dev. Tapi syaratnya kamu juga harus membawa gandengan selain Dasha, gimana? Setuju?"
Devano tertawa miris. "Maksud kamu, aku harus datang bersama calon ibu baru untuk Dasha, begitu?" tanya Devano dengan raut tak percaya.
"Ya..., sebab aku juga ingin melihat kamu bahagia, Dev. Aku yakin Dasha juga mempunyai pikiran yang sama, dia juga pasti menginginkan Abi-nya bahagia."
"Dan asal kamu tahu, Aisyah. Kebahagiaanku satu-satunya hanyalah Dasha putri kita, aku tak menginginkan apapun lagi kecuali tetap bersamanya," pungkas Devano yang membuat Aisyah bungkam karena sadar bahwa dirinya tak punya hak lagi untuk mencampuri urusan pribadi Devano.
"Udah dulu, ya. Aku mau nyamperin Dasha," kata Devano yang kemudian langsung mematikan sambungan telfonnya tanpa menunggu balasan dari Aisyah lagi.
"Princess...," panggil Devano sambil berlari ke arah putrinya.
"Abi!" sahut Dasha dengan nada ceria.
"Peluk Abi dong," pinta Devano sambil merentangkan kedua tangannya dan disambut baik oleh Dasha, putrinya.
"Abi, nanti Bara nya cemburu kalau enggak ikut dipeluk juga," bisik Dasha di telinga Abi-nya.
"Oh ya?" tanya Devano sambil menoleh ke arah anak laki-laki berwajah blasteran yang dimaksud putrinya.
__ADS_1
"Bara, kamu mau ikutan dipeluk sama Om?" tawar Devano yang dibalas anggukan antusias oleh Bara.
"Asyiiik!" teriak Dasha dan Bara yang sangat senang berada dipelukan seorang ayah yang hangat seperti Devano.
Namun belum lama mereka berpelukan, seorang wanita datang dan memanggil Bara.
"Bara, who is them?" tanya wanita itu memakai bahasa Inggris.
Bara menoleh sambil melepaskan pelukannya dengan Devano dan Dasha, kemudian anak itu berlari menghampiri wanita yang memanggilnya.
"Mommy, their is my new family!" sahut Bara sambil menunjuk Devano dan Dasha yang sedang memperhatikannya.
"Wow, really?" Rihana, ibu kandung Bara menghampiri Devano lalu mengulurkan tangannya dengan maksud berkenalan.
Devano menjabat tangan Rihana sambil tersenyum ramah. "I'm Devano, and she's daughter, Dasha."
"Ooh... I'm Rihana, nice to meet you," balas Rihana.
"Nice to meet you too."
Kemudian Rihana menunduk untuk mengelus wajah Dasha yang menatapnya dengan ekspresi takut.
"Baby girl, you look so pretty," kata Rihana dengan nada lembut yang seketika itu berhasil mengurangi rasa takut di benak Dasha.
"I'm so sorry Ms. Rihana. My daughter is afraid to meet someone she doesn't know," terang Devano sambil menggendong Dasha.
"Mom, i think you are too friendly," komentar Bara sambil menatap Mommy-nya dengan tatapan menghakimi.
Rihana tertawa lalu menggendong putra kesayangannya itu dan mencubit pipinya dengan gemas. "You too," balasnya.
******
Aisyah menunggu Lee di teras rumahnya, beberapa menit yang lalu pria yang sudah berstatus sebagai calon suaminya itu mengajaknya ke salah satu butik DSL beauty fashion untuk fitting baju pengantin.
Aisyah merasa kurang bersemangat untuk melakukan fitting baju pengantin. Pedahal itu merupakan kegiatan pertama kali dalam hidupnya. Dulu ketika ia menikah dengan Devano, dia tak pernah fitting baju pengantin karena baju pengantin yang dia pakai hari itu hanyalah baju sewaan. Maklum, ekonomi keluarga mereka pada waktu terbilang masih kurang maju.
Namun anehnya meskipun baju sewaan, Aisyah sangat senang dan bangga ketika memakainya, apalagi ketika ia bersanding dengan Devano di pelaminan waktu itu.
Keadaannya sangat berbeda dengan sekarang, Aisyah memakai gaun pengantin yang indah bertabur Swarovski tapi hatinya hampa dan tak tahu harus merasa bahagia atau sedih.
"Apakah nantinya aku bisa menjadi istri yang baik walaupun hatiku belum bisa sepenuhnya mencintai suamiku?" batin Aisyah sambil menatap pantulan dirinya di depan cermin yang ada di ruangan ganti.
Setelah menerima lamaran dari Lee, Aisyah kerap kali merasa bersalah dengan keputusan yang diambilnya itu. Ia merasa bersalah karena telah menjadi ibu yang egois dan tak memikirkan perasaan Dasha sebagai anaknya yang tidak ingin dirinya menikah lagi dengan orang lain. Namun Aisyah merasa berhutang budi kepada Lee yang selama ini telah banyak membantunya di kala susah maupun senang.
"Mbak Aisyah udah selesai?" tegur seorang pegawai butik menyadarkan Aisyah dari lamunannya.
"Udah, Mbak," sahut Aisyah lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sebelumnya ia kenakan.
__ADS_1
Setelah selesai, Aisyah keluar menemui Lee yang setia menunggunya di sofa dekat ruang ganti sambil melihat-lihat konsep akad nikah di Instagram.
"Udah selesai? Gimana? Suka enggak sama gaunnya?" tanya Lee beruntutan.
"Suka," jawab Aisyah sekenanya.
Lee mencoba mengukir senyuman walaupun dalam hati ia sedikit kecewa melihat Aisyah tak begitu antusias dalam mempersiapkan acara akad nikah mereka yang tinggal dua Minggu lagi.
"Menurut kamu konsep garden yang ini bagus enggak?" tanya Lee sambil memperhatikan gambar konsepnya kepada Aisyah.
"Bagus," jawab Aisyah sambil tersenyum sekilas.
"Kalau jas yang aku pakai sekarang bagus gak?"
Aisyah mengalihkan perhatiannya ke jas yang menempel di tubuh atletis Lee sebelum berkomentar.
"Bagus," katanya kemudian tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
"Kalau pria yang sedang memakainya gimana menurut kamu?" tanya Lee yang belum puas menguji keseriusan Aisyah.
"Hah?" Aisyah tak fokus sebab pikirannya sedang tertuju ke arah sang buah hati yang jauh di sana.
Lee menghela nafas berat sebelum membalikkan badannya membelakangi Aisyah.
"Huft, sudahlah ayo kita pulang, sepertinya yang mau menikah di sini cuma aku saja." Ucapan Lee barusan membuat Aisyah merasa tersindir dan akhirnya peka dimana letak kesalahannya sehingga Lee merasa kecewa kepadanya.
"Mas David, kamu jangan salah paham dulu," sela Aisyah yang terlambat karena Lee sudah lebih dulu pergi mendahuluinya.
Pelajaran yang bisa diambil dari kisah Aisyah dan Lee ialah :
..."Jangan pernah membuat seseorang semakin jatuh cinta padamu jika kamu sendiri masih belum bisa yakin memberikan seutuh hatimu padanya, karena cinta sepihak itu sangat pedih dan menyakitkan."...
**Bersambung**....
Silahkan komentar apapun, aku akan baca satu-persatu komentarnya.
__ADS_1
Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin, semuanya.🙏😍🙏😍