
..."Mengalihkan perasaan tak semudah membalikkan telapak tangan."...
Author POV.
"Vi, kalo rambut aku di ganti warna biru kayak gitu keren gak ya?" Lee meminta pendapat Avila sambil menunjuk sebuah poster idol yang memiliki rambut berwarna biru muda.
Avila merolling matanya tak suka lalu bergerak mengacak rambut Lee dengan kesal sekaligus gemas.
"Tuhkan kambuh deh hobi lamanya, kenapa sih suka banget sama warna rambut yang nyentrik kaya gitu?"
"I just like it because it looks really cool," jawab Lee seraya menghentikan jemari Avila yang tengah memainkan rambutnya.
"Yeah aku akui warna biru itu keren, tapi please jangan ya?" sergah Avila seraya memutar kursi yang sedang di duduki Lee ke belakang agar pria itu bisa menghadap ke arahnya.
"Oppa itu lebih keren dengan warna nature hair, serius deh," lanjut Avila seraya menyelami mata Lee.
"Tapi udah lama aku gak warnain rambut lagi, Vi. Sekali ini boleh ya?" bujuk Lee dengan puppy eyes nya yang membuat siapapun akan luluh, namun sepertinya Avila tidak terpengaruh sedikitpun, buktinya perempuan itu malah menatap Lee dengan wajah yang kesal.
"Big no, Oppa! Pokoknya gak boleh warnain rambut lagi, tapi kalau gak mau nurutin larangan aku juga ya gak papa, aku tinggal lapor ke Aisyah ka---" Avila tak sempat menyelesaikan perkataannya karena Lee sudah lebih dulu meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.
"Syuutt, jangan bilang-bilang ke Aisyah. Dia pasti gak suka kalo denger aku kembali ke hobi lama aku," sela Lee memperingati Avila.
"Makanya jangan di warnai lagi," kata Avila setelah mengenyahkan jari telunjuk milik Lee yang barusan menutup bibirnya.
"Iya enggak enggak, dek."
"Nah gitu dong, itu baru namanya good boy," sahut Avila tersenyum lalu iseng mencubit lengan Lee dengan kuat sampai empunya mengaduh kesakitan.
"Tega kamu ya dek!" teriak Lee yang membuat Avila tertawa puas karena telah berhasil membuat Lee kesal karenanya.
Lalu tak lama setelah itu tukang cukur salonnya datang dan mulai memotong rambut Lee sesuai dengan arahan dari Avila.
"Rambut yang di pinggir telinga sama pelipisnya di botakin aja ya Mas," pinta Avila yang langsung mendapat tatapan protes dari Lee.
"Jangan Mas, jangan di botakin, saya gak suka model rambut seperti itu." Lee mencegah Mas tukang cukurnya agar tidak jadi menghilangkan semua rambut pinggirnya.
"Oke Mas, jadi mau potong yang kayak biasa aja atau gimana?" tanya Mas tukang cukurnya yang mulai di buat bingung.
"Yang kaya biasa," jawab Lee yang langsung membuat Avila merasa bete karena Lee tidak menepati kesepakatan.
"Huh, katanya aku yang nentuin gaya rambutnya," sindir Avila dengan nada ngambek nya yang kali ini tak di hiraukan oleh Lee.
"Kalo begini aku mending pulang aja deh," kata Avila yang kemudian tangannya di tahan oleh Lee.
"Jangan seperti itu lah Vi," sela Lee.
"Lagian gak sesuai sama kesepakatan sih!"
"Ck, aku gak suka di botakin seperti yang kamu bilang ke Masnya tadi."
__ADS_1
"Ekhem, maaf menyela, jadi sekarang bagaimana?" tanya Mas tukang cukur yang dari tadi keberadaannya seperti di lupakan oleh Lee dan Avila.
"Terserah adik saya aja deh Mas," jawab Lee seraya melirik Avila, sepertinya pria tampan itu sudah pasrah terhadap keinginan gadis yang telah dia anggap seperti adiknya sendiri itu.
Sementara Avila bukan main senangnya karena dia mendapatkan kesempatan untuk mengatur gaya rambut pujaan hatinya sesuai apa yang dia inginkan.
*****
Aisyah berjalan seorang diri di tepi jalan raya, pikirannya kosong dan perasaannya hampa. Setelah memutuskan untuk pergi dari Rumah sakit dan berjanji untuk tidak akan kembali menemui Devano lagi, hatinya langsung kebas, tak merasakan apapun sebab rasa sakit dan juga sedih sudah terlalu sering ia alami. Namun air mata tak bisa berbohong, dia terus mengalir deras sampai membasahi pipi Aisyah.
"Ya Allah, kuatkan hati hamba, jangan sampai hamba menjadi orang yang mengingkari karunia Mu hanya karena kesedihan ini," ujar Aisyah seraya mengusap air matanya dengan ujung kerudung pashmina yang ia kenakan.
"Aku harus kuat, aku harus tegas jika tak ingin terluka lagi, aku harus bisa melupakan Devano dan semua kenangan yang sempat terukir bersamanya. Aku tak bisa kembali menjadi Aisyah yang lemah seperti dulu, yang selalu mengharapkan Devano kembali di saat pria itu saja tak pernah mencariku untuk sekedar meminta maaf... hiks, hiks, kenapa rasanya masih benar-benar menyakitkan." Aisyah mencurahkan hatinya sambil terus berjalan tanpa tujuan.
Sampai pada akhirnya ia melihat seorang anak kecil mirip Dasha berdiri tak jauh darinya.
"Hiks, Dasha? Apa itu kamu nak?" Aisyah bergegas menghampiri anak itu. Tapi terlambat karena seorang wanita dewasa sudah lebih dulu menggandeng tangan anak kecil itu menyebrangi jalan.
"Dasha! Jangan tinggalin Umi nak." Aisyah yang tengah kalut jiwanya pun langsung menyebrangi jalan dan menarik tangan anak kecil itu.
"Hey! Kamu ini siapa sih?! Jangan sentuh anak saya ya!" Wanita dewasa yang rupanya adalah ibu dari anak kecil yang mirip dengan Dasha itu memarahi Aisyah.
"Maaf bu, saya salah. Sekali lagi saya minta maaf bu," ucap Aisyah merasa bersalah.
"Makanya jangan mengklaim anak orang!" Kata wanita itu seraya menggendong anaknya pergi meninggalkan Aisyah.
"Astaghfirullah, apa yang baru saja aku lakukan? Kenapa hatiku masih percaya kalau putri kecilku masih ada?" Aisyah membatin seraya terus menatapi kepergian ibu dan anak tadi.
"Kalau aku masih bisa memeluk Dasha, rasa sakit dan sedih ini pasti akan secepatnya terhapus dan menghilang dari relung hatiku," gumam Aisyah dengan sendu.
*****
Sepulang dari Salon Lee mengajak Avila dinner di sebuah restoran dekat mall yang sangat famous baik di kalangan anak muda maupun mama muda. Tak di sangka rupanya Aisyah pun sedang berada di sana, namun anehnya Lee seperti sengaja menghindar agar Aisyah tidak melihatnya.
"Eh itu bukannya Aisyah ya?" tanya Avila ketika matanya menangkap sosok Aisyah yang tengah duduk sendirian di pojok restoran sambil melamun.
"Kamu salah lihat kali, mana ada Aisyah di sini, ayo kita pergi cari restoran lain." Lee segera merangkul bahu Avila dan membawa adik angkatnya itu keluar dari restoran itu. Namun Avila yang merasa yakin bahwa yang dilihatnya tadi itu memang benar Aisyah, langsung memberontak dan berlari masuk ke dalam restoran, meninggalkan Lee yang kini hanya bisa diam seraya meremas rambutnya.
"Maafkan aku Aisyah, aku seperti ini karena aku kecewa mendapati kamu masih peduli sama pria brengsek itu," kata Lee yang kemudian memilih untuk pergi.
Namun tiba-tiba Aisyah keluar dari restoran dan memanggilnya.
"Lee!" panggil Aisyah yang membuat Lee langsung menoleh ke arahnya.
"Kenapa kamu malah pergi?" tanya Aisyah dengan suara serak seperti habis menangis.
Saat itu juga Lee langsung khawatir dan menghampiri Aisyah. "Ya Allah, Aisyah, apa yang telah membuat kamu menangis?"
"Apa mantan suami kamu yang brengsek itu menyakiti kamu lagi?" tanya Lee yang dari dulu paling khawatir jika melihat ada air mata di wajah Aisyah.
__ADS_1
"Aku mau kamu masuk dulu, nanti akan aku ceritain semuanya ke kamu dan juga Avi," jawab Aisyah yang kemudian masuk ke dalam restoran lagi.
"Baik, aku dan Avila pasti akan menjadi pendengar yang baik untuk kamu," ucap Lee sembari mengikuti Aisyah dari belakang.
Dan setelah Lee dan Avila duduk di hadapannya, Aisyah tak langsung mencurahkan kegundahan hatinya, akan tetapi wanita cantik itu malah meminta waiters untuk mengambil makanan yang telah di pesannya untuk kedua sahabatnya tersebut.
"Kamu udah pesenin kita makanan? Memang kamu tahu darimana kalau aku sama Oppa bakal ke sini?" tanya Avila heran.
Aisyah tersenyum lalu mengangkat bahunya.
"Aku perhatikan belakangan ini kalian hobi banget makan di restoran ini, makanya aku menduga kalau malam ini pun kalian berdua pasti akan ke sini."
"Dan dugaan kamu itu ternyata benar," timpal Lee.
Beberapa saat kemudian dua orang waiters mengantar makanan dan minuman yang Aisyah pesan untuk makan malam bersama kedua sahabatnya.
"Sebelum makan mari kita berdoa dulu," ujar Lee yang kemudian memimpin doa.
Dan setelah itu mereka bertiga pun makan dalam keadaan hening, pedahal dalam pikiran dan benak masing-masing, mereka sama-sama memiliki banyak pertanyaan yang ingin di ungkapkan.
Bersambung....
Maaf ya belakangan ini aku up dua hari sekali, tapi mudah-mudahan besok besok bisa setiap hari up.😣😣
Btw, gimana perasaan kalian setelah baca part ini?🤗🤗
Apa kalian sedih?😭
Senang?😊
Atau mulai jenuh dengan konfliknya?😒😒
Curhat ke aku lewat komentar yah.
Jangan lupa untuk selalu support aku ya guys, karena support kalian adalah mood booster ku❤️
-LIKE 👍
-KOMENTAR 📝
-VOTE CERITA INI ❤️
-BAGIKAN CERITA INI KE TEMAN KALIAN 👌
-KASIH BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐
-DAN FOLLOW PROFILKU 🙏😊
Oke, aku pamit dulu....
__ADS_1
See you soon and Assalamualaikum....❤️❤️❤️❤️❤️❤️