Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 64 | Inikah yang dinamakan utuh?


__ADS_3

"Mama, aku mau main sama Umi dan Abi, seharian ini, boleh ya?" Dasha meminta izin kepada Sierra, ibu angkat yang selama ini sudah merawatnya dengan baik.


Sierra menyetarakan tingginya dengan Dasha lalu mencium pipi anak angkatnya itu. "Boleh kok, asalkan Dasha janji enggak akan pernah tinggalin mama, gimana?"


Dasha mengangguk setuju. "Aku janji gak akan pernah tinggalin mama," jawabnya sambil memeluk leher Sierra.


"Makasih ya sayang," ujar Sierra sambil tersenyum lebar. "Sekarang Dasha siap-siap yuk, kasihan Umi sama Abi udah lama nungguin Dasha."


"Siap kapten!" sahut Dasha sambil menaikan tangannya memberi hormat.


Sierra tersenyum lalu mengacak rambut Dasha dengan gemas.


"Mama, rambut aku jadi kusut nih." Dasha cemberut lalu pergi ke kamar mandi sendirian.


"Anak itu memang pintar berpura-pura marah supaya aku mengikutinya," kata Sierra sebelum pergi menyusul Dasha ke kamar mandi.


"Sayang! Mama datang!" teriak Sierra sambil tersenyum lebar.


******


Sementara itu di ruang tamu Rumah megah milik Sierra, ada Devano dan Aisyah yang sedang duduk di sofa, menunggu putri mereka bersiap sambil mengobrol dan meminum teh yang telah disuguhkan untuk mereka.


"Aku bersyukur selama ini Dasha hidup di tempat yang baik dan dirawat oleh orang yang tepat," gumam Aisyah.


"Aku juga merasa begitu," timpal Devano sambil tersenyum simpul.


"Setelah ini kita mau mengajak Dasha kemana?" tanya Aisyah sambil menatap Devano yang duduk dihadapannya.


"Kita akan tanyakan itu pada Dasha, biar dia yang menentukan mau jalan-jalan ke mana," jawab Devano.


"Apa kamu beneran sedang tidak sibuk?" tanya Devano sambil memperhatikan wajah Aisyah yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.


"Emh, sebenarnya hari ini aku punya janji sama klien, tapi tidak masalah, aku sudah membatalkannya."


"Bukankah kamu tak bisa membatalkan janji dengan klien, begitu saja?" tanya Devano sambil mengernyitkan dahi.


Aisyah tersenyum tipis lalu menggeleng pelan. "Ini klien pribadiku dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan perusahaan ataupun studio. Jadi, aku bisa membatalkan janji kapanpun itu," jelasnya.


"Ooh, aku kira itu klien perusahaan."


"Bagaimana dengan kamu? Kamu juga punya pekerjaan kan?" tanya Aisyah secara gantian.


"Ya, aku memang punya. Tapi hari ini aku masih dibolehkan untuk tidak masuk kerja," jawab Devano lalu menyeruput teh nya.


"Oh iya yah. Kamu kan baru saja keluar dari rumah sakit, kenapa aku bisa sampai lupa?" kata Aisyah sambil menepuk dahinya pelan.


Sedangkan Devano hanya terkekeh sambil menatap Aisyah yang sedang menggerutui dirinya sendiri itu.


"Seandainya aku sedang bekerja pun aku pasti akan membolos demi bisa pergi bersama anak dan mantan istriku," cetus Devano.


Aisyah yang sedang minum teh pun refleks mendongak dan menatap wajah pria itu.


"Boleh aku tahu alasannya kenapa?" tanya Aisyah kemudian.


"Tentu, alasannya karena kamu dan Dasha lebih penting daripada pekerjaanku atau apapun itu," jawab Devano yang mampu membuat hati Aisyah menghangat seketika.


"Devan, aku senang mendengarnya. Dulu aku pikir mustahil bisa mendengar kata-kata itu dari mulut kamu," ungkap Aisyah sambil tersenyum penuh arti.

__ADS_1


Devano balas tersenyum. "Mungkin kedepannya aku akan sering mengucapkan kata-kata itu, aku harap kamu tidak bosan mendengarnya," guraunya sambil menatap wajah Aisyah.


"Hahaha, kalaupun aku bosan aku tidak mungkin mengatakannya, Devan," sahut Aisyah.


"Kenapa tidak mungkin?" tanya Devano heran.


"Karena kata-kata kamu tadi merupakan kata-kata yang sudah lama aku nantikan," jawab Aisyah.


Setelah itu Dasha yang sudah siap menghampiri Aisyah dan Devano dengan wajah berseri-seri.


"Abi, Umi."


Aisyah dan Devano menoleh ke arah putri mereka.


"Dasha, sayang. Kamu cantik sekali nak," puji Aisyah sambil mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Dasha.


"Umi juga semakin cantik," balas Dasha sambil mengelus punggung tangan Aisyah.


"Kalian berdua memang yang paling cantik," timpal Devano sambil ikut mengelus pipi Dasha.


"Dari dulu Dasha ingin sekali merasakan kasih sayang dari kalian," ujar Sierra yang datang ke ruang tamu sambil membawa tas berisi barang-barang milik Dasha.


"Selembut apapun aku memperlakukan Dasha, dia tetap merindukan kalian dan selalu mengatakan keinginan untuk hidup bersama kalian," ungkap Sierra sambil duduk di sebelah Aisyah dan memperhatikan Dasha yang memejamkan mata menghayati belaian lembut tangan kedua orang tuanya.


******


Aisyah, Dasha, dan Devano sepakat untuk pergi piknik ke perkebunan teh, Bandung. Mereka bertiga menaiki mobil yang telah disewa oleh Devano untuk sampai ke tempat tujuan.


Selama perjalanan Dasha tak berhenti berceloteh dan bertanya kepada Aisyah dan Devano tentang apa saja yang dilihatnya.


Anak itu sangat aktif dan pintar sampai terkadang membuat Aisyah dan Devano tak bisa menjawab pertanyaannya karena bingung dan pada akhirnya mereka hanya bisa tertawa.


"Abi, jangan lari ke sana, nanti layang-layang nya jatuh ke sungai." Dasha mengingatkan Devano ketika melihat Abi-nya itu berlari ke arah sungai.


"Iya sayang," sahut Devano sambil menarik senar layang-layang nya dan lari menjauh dari sungai.


"Yeay! Akhirnya layang-layang Dasha dan Abi terbang tinggi!" teriak Dasha bukan main senangnya.


"Dasha, makan dulu yuk," seru Aisyah yang langsung dipatuhi oleh Dasha.


"Iya Umi," sahut Dasha. "Abi, ayo makan dulu. Layang-layangnya lepasin aja."


"Gak papa nih, sayang?" tanya Devano ragu.


"Iya, gak papa Abi," jawab Dasha.


Devano pun melepaskan layang-layangnya dan berjalan mendekati Dasha lalu menggendong putrinya itu menghampiri Aisyah yang sudah duduk di karpet yang dihamparkan di atas rerumputan hijau.


"Abi, Umi cantik banget ya?" bisik Dasha di depan telinga Devano.


"Iya, sayang. Umi kamu sangat cantik sampai membuat Abi menyesal setiap saat karena pernah menceraikannya," jawab Devano.


"Makanya, Abi harus menikahi Umi lagi, ya?" pinta Dasha yang membuat Devano hanya bisa menggigit bibirnya tak tahu harus berkata apa.


"Sebenernya apa yang lagi kalian bicarakan sih?" tanya Aisyah yang tiba-tiba penasaran karena dari tadi Dasha dan Devano berbisik-bisik sambil memandanginya.


"Hehe, rahasia." Dasha menjawab sambil cengengesan.

__ADS_1


"Dasha jahat, masa Umi enggak dikasih tahu juga?" protes Aisyah sambil cemberut.


"Umi jangan marah ya, tadi Dasha cuma ngasih saran ke Abi untuk menikah lagi sama Umi, itu aja kok." Dasha membeberkan percakapan diam-diamnya dengan Devano tadi.


"Terus Abi bilang apa, sayang?" tanya Aisyah sambil melirik Devano yang sedang pura-pura fokus mengupas buah mangga.


"Abi bilang... Nanti Abi usahakan," jawab Dasha sambil tersenyum penuh arti.


"Dasha sayang, bukannya Abi belum jawab apa-apa, ya?" sela Devano ketika sadar putrinya berbohong.


"Hehehe, maafin Dasha ya, Abi. Tapi Dasha tahu hati Abi pasti bilang seperti itu," ucap Dasha sambil menampakkan cengiran imutnya.


"Kamu ini yah...." Devano bergerak mendekap tubuh Dasha lalu mencium pipi putrinya itu dengan gemas.


"Hahaha, geli, Abi! Cukup." Dasha menutupi kedua pipinya dengan kedua tangan agar sang Abi tak bisa menciuminya lagi.


"Udah, udah. Dev," timpal Aisyah. "Mendingan kita makan siang yuk," usulnya kemudian.


"Ayo, Umi bawa makanan apa?" tanya Devano sambil mengangkat Dasha ke pangkuannya.


"Ini ada tumis kangkung, perkedel kentang, sama ayam goreng, kalian suka?"


"Suka banget dong, itu kan makanan kesukaan Dasha," jawab Dasha.


"Abi juga suka, apalagi kalau makannya disuapin sama Dasha," timpal Devano.


"Lho, kok jadi Dasha yang nyuapin Abi? Harusnya Abi dong yang nyuapin Dasha," sela Aisyah.


"Iya, betul kata Umi, seharusnya emang Abi yang nyuapin Dasha."


"Iya, iya, Abi ngalah deh, ya udah sini Abi suapin, buka mulutnya. Aaa...." Pada akhirnya Devano yang harus menuruti keinginan putrinya.


"Eumh, yummy!" kata Dasha sambil mengacungkan dua jempolnya.


Devano tertawa lalu mengelus rambut kecoklatan milik putrinya itu.


Sedangkan Aisyah hanya tersenyum melihat pemandangan sederhana yang sangat menyentuh hatinya tersebut.


"Inikah yang dinamakan utuh?" tanya Aisyah dalam hati.


Bersambung....


Hai semuanya,😊☺️ selamat menunaikan ibadah puasa, gimana puasa hari ketiga ini? Semoga selalu dilancarkan ya. Aamiin.πŸ™


Gimana? Ada yang ikut seneng pas baca part ini?😊


Terus dukung cerita ini ya, dengan cara seperti biasa yaitu :


1. Like πŸ‘


2. Komentar πŸ“


2. Vote novel ini ❀️


3. Tekan bintang limanya ⭐⭐⭐⭐⭐


4. Dan follow profil dan juga Instagram aku, @asyiahmuzakir.

__ADS_1


Bye, bye. Assalamualaikum.


__ADS_2