Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 66 | Membekas di ingatan


__ADS_3

"Terimakasih sudah mau menceritakan semuanya," ucap Aisyah dengan canggung.


Sierra menyentuh punggung tangan Aisyah lalu tersenyum kepada ibu kandung dari anak angkatnya itu. "Memang sudah sepantasnya saya ceritakan semua kejadian itu kepada mbak, karena mbak itu ibu kandungnya Dasha,"


Aisyah mengalihkan pandangannya ke arah Dasha yang masih tertidur di pangkuan Devano.


"Dasha akan secepatnya bangun kan?" tanya Aisyah dengan raut khawatir bercampur sendu.


"Biasanya setelah menelan obat, dia akan tertidur sampai pagi," jawab Sierra apa adanya.


Air mata Aisyah menetes berulangkali dan seperti itu terus sampai beberapa menit berikutnya.


"Aku rasa aku adalah ibu yang buruk untuk putriku, bahkan penyakit yang sekarang dideritanya disebabkan karena kelalaianku," ungkap Aisyah sambil menatap wajah tenang Dasha dengan tatapan sendu.


"Jangan salahkan diri kamu, Aisyah. Karena sesungguhnya akulah yang salah. Andai dulu aku lebih mempercayaimu dan mengakui Dasha sebagai putriku, kejadian buruk itu pasti tidak akan menimpa Dasha dan juga kamu," sela Devano dengan nada sendu yang terselip disetiap kata-kata yang keluar dari mulutnya.


"Dulu, aku sangat bodoh, Aisyah. Aku seperti kerbau yang dicucuk hidungnya sehingga apapun yang Rifa katakan, aku selalu percaya tanpa mencari tahu lagi kebenarannya. Dan sekarang aku menyesal, sangat menyesal sampai rasanya aku hampir terbunuh oleh rasa penyesalan yang menyesakkan dan tak berujung ini," ungkap Devano sambil menitihkan air mata penyesalannya yang tiada henti.


Kemudian pria itu membenamkan wajah tampannya yang sendu di bahu mungil milik putrinya yang sedang tertidur lalu menumpahkan tangisannya di sana.


Flashback :


"*Abi, Umi, Dasha mau jalan-jalan ke mall sama kalian."


"Oke, sayang. Sepulang dari sini kita ke mall bareng," sahut Aisyah sambil mengelus rambut kecoklatan milik Dasha.


"Yeay! Nanti beli es krim ya, Bi?"


Devano menggeleng lalu membungkukkan badannya untuk menggendong Dasha. "Jangan beli es krim ya, sayang. Beli yang lainnya aja, oke?" katanya selembut mungkin.


"Kenapa gak boleh beli es krim?" tanya Dasha.


"Karena kalau malam-malam makan es krim Dasha bisa demam, jadi beli yang lain aja, oke sayang?"


"Gimana kalau pizza aja? Dasha suka kan sama pizza?" usul Aisyah yang langsung membuat mata bulat milik Dasha berbinar senang.


"Ya udah, kita beli pizza aja, Abi."

__ADS_1


"Oke, princess. Permintaanmu dikabulkan," sahut Devano yang membuat Dasha tersenyum lebar sampai menampakkan barisan gigi mungilnya.


Aisyah yang melihat putrinya senang pun ikut tersenyum. "Sekarang waktunya kalian bantuin Umi beres-beres, oke?" sela Aisyah sambil menunjuk tempat makan dan gelas yang berserakan setelah dipakai oleh mereka.


"Kenapa enggak Umi sendirian aja yang beresin?" ledek Devano.


"Iya, aku sama Abi kan capek Abis main layang-layang sama metik daun teh. Sedangkan Umi kan dari pagi cuma duduk sambil menikmati pemandangan aja." Rupanya Dasha turut membantu sang Abi menjahili Uminya.


"Tapi yang buat tempat makan sampai berantakan seperti ini kan kalian berdua, jadi harus tanggung jawab dong," sela Aisyah sambil cemberut.


"Enggak mau," tolak Devano dan Dasha yang kemudian secara kompak menjulurkan lidah mereka ke arah Aisyah.


"Kita langsung ke mobil aja, yuk," ajak Devano yang kemudian membawa Dasha ke dalam mobil dan mendudukkan putrinya di kursi tengah.


"Abi, Dasha ngantuk," keluh Dasha sambil mengucek matanya.


"Ya udah, Dasha tidur aja ya. Nanti kalau udah sampai Mall, Abi bangunin," ujar Devano sembari mengelus rambut putrinya dengan gerakan lembut.


"Sebelum tidur jangan lupa berdoa dulu ya, sayang," pesan Devano yang langsung dipatuhi oleh Dasha, putrinya.


"Abi mau bantuin Umi beres-beres, Dasha enggak papakan Abi tinggal sebentar?"


"Tidur yang nyenyak ya, princess-nya Abi yang cantik dan sholeha," ucap Devano sebelum mengecup kening putrinya dan keluar dari mobil untuk membantu Aisyah beres-beres.


"Lho? Katanya enggak mau bantuin beres-beres?" sindir Aisyah ketika mendapati Devano membantunya memunguti sampah wadah camilan yang mereka makan tadi siang.


"Jangan baper, tadi aku cuma bercanda. Aslinya mana mungkin aku biarin kamu beres-beres sendirian," ucap Devano yang di balas kedikkan bahu oleh Aisyah.


"Dasha ngapain di dalam mobil? Tidur?" tanya Aisyah sambil meletakkan piring, sendok, dan gelas ke dalam keranjang piknik.


"Ya, Dasha tidur. Kayaknya dia kecapekan, apa lebih baik kita langsung pulang ke Jakarta aja, yah?"


"Ya udah, langsung pulang aja. Urusan jalan-jalan ke Mall, kita bisa pergi lain kali, betulkan?"


"Betul banget," sahut Devano sambil membantu Aisyah membawa keranjang piknik dan memasukkannya ke dalam jok mobil.


"Makasih udah mau bantuin," ucap Aisyah begitu semuanya beres.

__ADS_1


Devano mengangguk sambil tersenyum. "Ayok kita pulang," katanya sambil membukakan pintu mobil untuk Aisyah.


Setelah Aisyah masuk ke dalam mobil, Devano pun ikut masuk dan duduk di kursi kemudi lalu menjalankan mobilnya pergi meninggalkan tempat piknik berlatar belakang kebun teh yang asri itu.


Ketika masih dalam perjalanan pulang tiba-tiba Dasha mengigau dengan raut wajah yang ketakutan, keringat dingin juga muncul di sekujur tubuh anak itu.


"Tante, selamatkan Viona! Hiks, hiks... Tante jahat, jangan tinggalin aku di sini! Aku takut gelap! Tante!!" jerit Dasha dengan mata yang masih terpejam.


Aisyah diserang rasa panik, ia langsung bergerak memeluk tubuh anaknya dan meminta Devano berhenti sebentar.


"Dasha, bangun nak, ini Umi, kamu kenapa sayang?" Aisyah mengguncang pelan tubuh Dasha namun tak bereaksi, suhu tubuh Dasha semakin dingin dan keringat terus membanjiri sekujur tubuhnya.


"Dasha! Bangun sayang! Kamu kenapa nak?!" Devano ikut panik apalagi setelah melihat wajah putrinya memucat.


"Dev, kita harus bawa Dasha ke rumah sakit sekarang juga!" teriak Aisyah dengan cemas.


"Oke, secepatnya kita akan sampai di sana," sahut Devano yang kemudian membawa mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit, Dasha langsung ditangani oleh Dokter dan Aisyah pun segera menghubungi Sierra untuk memberitahu keadaan Dasha sekarang.


"Halo mbak? Ada apa?" tanya Sierra.


"Hiks, Dasha masuk rumah sakit," jawab Aisyah dengan suara parau.


" Apa?! Kok bisa? Sebenarnya apa yang terjadi sama Dasha, mbak?"


"Awalnya dia tidur dan dalam perjalanan pulang dia mengigau setelah itu tubuhnya mengeluarkan banyak keringat dingin serta wajahnya kian memucat."


"Itu artinya trauma Dasha kambuh, apa pas dia tidur kalian meninggalkannya sendirian?"


Aisyah terdiam, dalam hatinya ia begitu merasa bersalah.


"Tadi sore, Devano membiarkan Dasha tidur di mobil sendirian sementara dia membantuku membereskan peralatan piknik."


"Astaghfirullah, kenapa aku juga lupa memberitahu kalian kalau sebenarnya Dasha punya trauma yang bisa muncul setiap kali dia tidur sendirian."


"Trauma?"

__ADS_1


"Iya, trauma. Nanti aku jelaskan penyebabnya secara rinci."


Bersambung*....


__ADS_2