Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 32 | Salah Mengira.


__ADS_3

...Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad 🤍...


Aisyah POV.


Devano terdiam mendengar sindiran ku, mungkin saat ini dia tengah merasa bersalah, tapi aku tidak peduli karena sebenarnya aku pun tidak sengaja mengucapkan kalimat sindiran seperti tadi.


Sekarang aku putuskan untuk duduk di sofa sembari memperhatikan Devano yang tengah melahap pizza berisi obat yang barusan aku berikan kepadanya.


"Aku harap kamu cepat sembuh agar aku tak perlu lagi menemui mu," kataku yang membuat Devano menatapku dengan wajah sendunya. Namun entah kenapa hatiku tak merasa iba, mungkin karena dia telah banyak menaruh luka di dalamnya.


"Aku tak bisa lama-lama di sini, masih banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan, jadi aku harus pergi." Aku bangkit dari sofa dan berjalan menuju pintu keluar tanpa menoleh ke arah Devano.


"Tunggu!" Suara Devano menghentikan langkah kakiku.


"Apa lagi? Bukankah obatnya sudah kamu telan?" tanyaku seraya membalikkan badan untuk melihatnya.


"Aisyah, apa setelah ini kamu benar benar tak ingin menemuiku lagi?" Devano balik menanyaiku.


Aku mengedikkan bahu, pertanda bahwa aku pun tak bisa menentukannya.


"Kamu punya Rifa, Devan. Harusnya kamu gak perlu memintaku untuk merawat mu lagi, karena sekarang merawat mu bukanlah tugasku lagi," tandasku yang membuat wajah Devano seketika terlihat terpukul dan sedih.


"Aku udah muak sama Rifa, aku membencinya! Asal kamu tahu, di dunia ini yang paling aku butuhkan hanyalah kamu, Aisyah. Meskipun aku sadar kalau kamu bukan istri aku lagi, tapi aku harap kamu bisa ngerti," ungkap Devano dengan tatapan sendunya yang berhasil menggoyahkan hatiku.


"Kamu salah Dev, kamu yang harusnya mengerti kalau kita udah selesai, harusnya kamu bisa belajar menerima kenyataan kalau kamu gak bisa mengandalkan aku seperti dulu lagi, ingatlah kalau kita udah bukan siapa-siapa lagi," pungkas ku yang kemudian meneruskan langkah dan pergi dari kamar rawat Devano.


Di koridor aku berpapasan dengan Rifa dan tanpa bisa di hindari Rifa langsung menghampiriku dengan wajah sinis nya.


"Kamu itu benar-benar perempuan bodoh ya, bisa bisanya kamu mau merawat Devano yang empat tahun lalu pernah menghancurkan hidup kamu, haha, cinta memang gak pernah jera," cetus Rifa tanpa memikirkan perasaanku.


Seperti biasa, perempuan dengan lidah tajam itu selalu ingin melihatku tersakiti. Untungnya sekarang aku sudah lebih kuat untuk menanggapinya.


"Terserah apa kata kamu, yang jelas aku melakukannya murni karena aku masih punya rasa iba di hati aku, bukan karena apapun, apalagi karena cinta seperti yang kamu bilang itu," jawabku yang kemudian melanjutkan langkah dan pergi dari hadapan Rifa, sebab aku malas jika terus meladeni perkataannya yang tidak bermanfaat itu.


"Heh! Aku belum selesai bicara bodoh!" teriak Rifa yang tak aku hiraukan lagi.


"Astaghfirullahaladziim." Aku beristighfar memohon ampunan serta kesabaran kepada Yang Maha Kuasa.


*****


Author POV.

__ADS_1


Selesai meeting dengan seorang Direktur perusahaan kecantikan yang berasal dari Singapore, Lee langsung masuk ke ruangan Avila dan menghampiri gadis yang kini tengah sibuk memotret sebuah lukisan dengan kameranya.


"Hey baby tiger, kamu belum pulang juga?" tanya Lee yang berhasil mengalihkan perhatian Avila.


"Ehh, iya nih Oppa, soalnya aku mau pulang bareng Aisyah," jawab Avila seraya tersenyum lalu berjalan mendekati Lee.


"Oppa sendiri bukannya pulang, kenapa malah ke sini?" tanya Avila yang membuat Lee langsung tersenyum bingung lalu menggelengkan kepalanya.


"Sebenarnya aku ke sini mau ngecek kamu, aku takut kamu ilang di culik Robbie," canda Lee.


"Ishh, apaan sih Oppa! Hobi banget ya bikin aku sebel dengan bawa bawa nama si Asem jawa itu?!" kata Avila sembari cemberut.


"Hehehe, maafin aku ya adik kecil," ucap Lee yang kemudian mengacak rambut Avila dengan gemas.


"Ishh, Oppa iseng banget deh, lama lama aku karate nih!" ancam Avila yang langsung menghentikan gerakan tangan Lee yang tengah mengacak-acak rambutnya.


"Ampun dek, kamu galak banget sih, pantesan jomblo terus," celetuk Lee yang membuat raut wajah Avila tiba tiba sedih.


'Aku jomblo karena aku jatuh cintanya sama kamu, Oppa!' Avila menjerit di dalam hati.


Lee yang menyadari kalau wajah Avila berubah sedih seketika menegurnya.


"Eh kok malah baper, aku cuma bercanda lho, jangan sedih begitu dek,"


Beberapa saat kemudian tawa mereka mereda dan suasana kembali tenang.


"Dek, temenin aku ke salon yuk!" ajak Lee yang menimbulkan kerutan samar di dahi Avila.


"Mau ngapain ke salon? Jangan bilang mau warnain rambut lagi ya?" selidik Avila.


"Bukan, aku cuma mau potong rambut kok," jawab Lee seraya menarik poninya ke belakang dengan gaya cool nya yang membuat Avila seketika menjerit terpesona di dalam hati.


"Oke, aku temenin, tapi kali ini aku yang tentuin mode nya ya? Setuju gak?"


"Setuju, sekarang ayo kita pergi!" sahut Lee dengan nada penuh semangat. Pedahal sebenarnya hati pria tampan itu tengah di landa kegalauan setelah mengetahui bahwa faktanya Aisyah izin meninggalkan pekerjaan hanya karena ingin menjenguk Devano di Rumah sakit.


*****


Devano POV.


Tak pernah aku bayangkan kalau ketakutan ku selama ini akan secepatnya menjadi kenyataan, Aisyah baru saja mengatakan kalau dia tak ingin lagi menemuiku, bahkan di saat aku sedang benar benar membutuhkannya. Aku sadar, Aisyah seperti itu karena kesalahanku di masa lalu telah terlalu dalam menyakitinya, hingga cinta dan rasa sayang itu terkikis bahkan perlahan pasti akan habis.

__ADS_1


Jujur, saat Aisyah menyatakan kalau dia tak ingin menemuiku lagi itu rasanya jauh lebih menyakitkan ketimbang pengorbananku selama mencarinya semenjak tiga tahun yang lalu waktu aku sadar bahwa menceraikannya adalah kehilafan terbesar dalam hidupku.


Aku teringat ketika hari itu aku bertemu dengan Aisyah di pengadilan setelah dia melahirkan Dasha.


"Kak, aku mohon sama kamu, tolong pertimbangkan lagi keputusan kamu ini. Aku janji akan membuktikan kalau Dasha adalah darah daging kamu, maka aku mohon, tolong pertahankan pernikahan kita." Aisyah memohon kepadaku dengan berlinang air mata.


"Gak bisa! Aku udah talak kamu, Aisyah! Pernikahan kita cukup sampai di sini, aku udah gak bisa percaya sama kamu lagi, pengkhianatan yang kamu lakukan udah membuktikan dengan jelas kalau anak itu bukan darah daging aku!" bentakku yang waktu itu dengan bodohnya tak memberi kesempatan dan waktu kepada Aisyah untuk mengungkap kebenaran kalau Dasha memang putri kandungku.


"Hiks hiks, kenapa Kak Devan lebih percaya sama fitnah itu? Kenapa?! Harusnya Kak Devan lebih percaya sama aku, aku ini istri kamu kak dan...hiks hiks, aku cinta sama kamu, aku gak mungkin khianati kamu seperti yang kamu lakukan sama Rifa!" tangis Aisyah pecah namun dengan kejam aku menampar pipinya dengan kasar.


Dan tindakan itu masih sangat aku sesali sampai detik ini.


'Untuk yang ke sejuta kalinya, aku mohon maafkanlah aku, Aisyah. Aku sungguh menyesal sempat bertindak kejam dan meninggalkanmu dalam keadaan terluka parah.'


Bersambung....


Gimana??


-Penasaran🤔☑️


-Sedih😭☑️


-Marah😡☑️


-Seneng😊☑️


Jangan lupa tulis perasaan kalian di kolom komentar, oke?👌🤗


Dan jangan lupa juga untuk selalu support aku dengan cara seperti biasa, yaitu :


-LIKE 👍


-KOMENTAR 📝


-VOTE CERITA INI ❤️


-FOLLOW PROFILKU👌


-KASIH BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐


-DAN BAGIKAN KE TEMAN KALIAN ➡️

__ADS_1


Bye, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh....🤗🤗🤗


__ADS_2