Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 41 | Berdamai dengan masa lalu


__ADS_3

Kamar bernuansa mewah itu tampak mencekam akibat pertengkaran sengit antara ibu dan anak lelaki sulungnya.


"Eomma, bisakah sekali saja hargai keputusan putramu ini?" pinta Lee sambil menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca.


"Apa kamu bilang? Hargai? Bagaimana bisa aku menghargai keputusan mu yang sangat fatal itu?!"


"Kamu telah mengkhianati keyakinan yang eomma ajarkan dari kamu lahir hanya demi wanita itu!"


Lee menatap ibunya penuh kekecewaan. "Asal eomma tahu ya, Aku masuk Islam bukan demi Aisyah, melainkan demi Allah, Allah yang telah memberiku hidayah lewat pertemanan ku dengan Aisyah," koreksi Lee dengan nafas tersengal-sengal karena menahan emosinya.


"Terserah! Terserah apa kata kamu, eomma tak peduli lagi, dan mulai sekarang sampai seterusnya jangan harap eomma akan merestui hubungan kamu sama wanita yang pernah bersuami itu!" seru sang ibu yang membuat Lee mengepalkan tangannya menahan emosi dan kekecewaan yang semakin besar.


"Aku gak menyangka eomma akan setega ini sama aku," tandas Lee yang kemudian pergi dari kamar ibunya sambil meneteskan air mata kecewa.


"Lihat saja Lee, eomma tidak akan membiarkan kamu bertambah dekat dengan wanita itu, secepatnya eomma akan merencanakan sesuatu untuk menjauhkan kamu darinya."


*****


Lee pergi ke studio dan mencari Aisyah untuk menceritakan masalah pertengkarannya dengan sang ibu tadi pagi, tapi sayangnya dia tak menemukan Aisyah di ruangan manapun. Rupanya Aisyah sedang terjun ke lapangan bersama timnya untuk pemotretan produk DSL beauty care keluaran terbaru.


Akhirnya Lee memutuskan untuk menemui Avila yang tengah mengedit hasil potretan para fotografer sambil duduk santai di sofa ruang kerjanya.


Tanpa bersuara Lee duduk di sebelah Avila dan membuat gadis tomboi itu berjengit kaget saat mendapatinya.


"Hai little tiger, udah lama kita gak ngobrol, kamu gak kangen sama Oppa?" tanya Lee sembari menaik turunkan alis tebalnya.


Avila segera menormalkan kegugupannya dan menatap Lee dengan senyuman lebar. "Oppa, akhirnya kamu inget lagi sama aku," jawab Avila yang membuat Lee tertawa renyah lalu memeluknya dengan erat.


"Adik kecilku merindukan aku, hm?" bisik Lee seraya mengelus rambut Avila seperti yang sering dia lakukan kepada Stevani, adik kandungnya.


Lee tak sadar kalau perlakuannya barusan membuat hati Avila berdebar sangat kencang, bahkan saking nervous nya gadis tomboi itu sudah hampir lupa caranya bernafas jika saja Lee tak segera melepas pelukannya.


"Jelaslah aku kangen, udah hampir seminggu aku gak ngobrol kayak gini sama Oppa," ungkap Avila dengan raut sedih.


"Maaf ya, belakangan ini Oppa selalu sibuk," ucap Lee.


Tiba tiba kecemburuan muncul di hati Avila. "Maksud Oppa sibuk nemenin Aisyah?" ujarnya dengan wajah malas.


Lee mengernyitkan dahinya heran, tidak biasanya Avila berlagak seperti itu. "Aku memang punya kesibukan sama Aisyah," jawab Lee jujur.


"Kenapa? Kamu gak suka ya?" selidik Lee yang masih heran.

__ADS_1


"Hahaha, yang bener aja masa aku gak suka sih," pungkas Avila sambil tertawa salah tingkah.


"Emang kelihatannya aku gak suka gitu ya?" tanya Avila yang di balas gelengan oleh Lee.


"Emh, makan siang yuk, udah jam istirahat nih," ajak Avila sambil tersenyum lebar.


"Oke, dimana?"


"Gimana kalau di Warung Padang seberang jalan itu?" usul Avila.


"Setuju," sahut Lee yang kemudian meraih tangan Avila dan menggenggamnya sampai ke tempat tujuan.


"Aku gak berharap bisa di cintai sama kamu, karena menjadi adik angkat kamu aja udah cukup membuatku bahagia," batin Avila seraya tersenyum menatap wajah Lee yang begitu tampan dan bersinar meskipun pria itu sedang mempunyai banyak masalah dalam hidupnya.


*****


Di tempat lain Aisyah dan Robbie serta seorang make up artis sedang duduk beristirahat di bangku panjang yang ada di sebelah pohon mangga yang rindang dan teduh.


"Kira-kira kita pulang jam berapa ya?" tanya Aisyah kepada Robbie.


"Satu jam lagi kayaknya," jawab Robbie sambil menyeduh mie instan dalam cup.


"Makan nih," titah Robbie seraya mengulurkan mie instan yang sudah selesai diseduhnya tadi.


"Sama-sama," balas Robbie sembari tersenyum manis. Kemudian pria itu menyeduh mie instan untuk makan siangnya sendiri.


Aisyah mulai melahap mie instan dari Robbie sambil melihat-lihat hasil potretan kameranya beberapa saat yang lalu.


"Aisyah, kamu tahu belum kalau Avila itu suka sama Lee?" tanya Robbie.


Wajah Aisyah tiba-tiba murung karena merasa bersalah. "Malahan aku udah tahu duluan daripada kamu, Bie."


"Aku tega banget ya sama Avi, udah tahu Avi suka sama Lee, tapi aku masih aja dekat sama Lee," ujar Aisyah merasa bersalah.


Robbie menghentikan kegiatan makannya lalu menoleh ke arah Aisyah dan menggelengkan kepalanya tak setuju.


"Kamu gak boleh bilang kayak gitu, Aisyah. Avila udah ikhlas kalau Lee milih kamu karena dia juga paham kalau dia gak bisa paksa Lee buat mencintai dia, jadi jangan pernah merasa bersalah lagi, oke?"


Aisyah mengangguk dan tersenyum, bertepatan dengan itu ponselnya berbunyi.


"Halo, Assalamualaikum," sapa suara bass dari seberang telepon.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam," jawab Aisyah yang sudah tahu kalau yang menelponnya saat ini adalah Devano karena ia hapal suara bass milik mantan suaminya itu.


"Ada apa lagi?" tanya Aisyah datar.


"Aku mau ketemu sama kamu, ada hal penting yang harus aku bicarakan sama kamu," jawab Devano tanpa basa-basi lagi.


"Aku gak bisa," tolak Aisyah dengan egois.


"Tapi ini masalah penting, Aisyah," sela Devano.


"Devan, kita udah gak punya kepentingan yang harus di bahas lagi, mending mulai sekarang kamu gak usah hubungi aku lagi karena aku gak punya waktu buat meladeni perkataan kamu," tandas Aisyah yang melukai perasaan Devano.


"Aku gak nyangka kamu berubah se drastis ini, Syah," gumam Devano dengan suara bergetar yang terdengar pilu.


Air mata yang semula Aisyah tahan kini meleleh membasahi pipi. "Aku menjadi seperti ini karena kekejaman kamu di masa lalu masih membekas begitu dalam di hati aku Dev," ungkapnya dengan parau.


Kemudian Aisyah bangkit, meninggalkan mie instan nya di atas bangku lalu menjauh dari timnya termasuk Robbie agar tidak mengundang perhatian.


"Aku sadar Aisyah, dulu aku sering melukai hati kamu, tapi bisakah sekali ini saja kamu berdamai dengan masa lalu?"


Aisyah menangis dalam diam, ia baru menyadari kalau dirinya salah besar kalau terus memperlakukan Devano dengan buruk. Bukankah hatinya sudah pernah berjanji untuk menolak rasa dendam terhadap siapapun yang pernah menyakitinya?


"Oke, tapi hal penting apa yang akan kita bicarakan nanti?" tanya Aisyah yang akhirnya setuju untuk bertemu dengan Devano.


"Pokoknya ini menyangkut kematian Dasha yang menurutku lumayan misterius," jawab Devano yang membuat mata Aisyah langsung membulat karena terkejut sekaligus penasaran kenapa Devano bisa merasakan adanya keganjilan di balik kematian putri mereka, Dasha.


"Oke oke, jam dua siang kita ketemu di Kafe Delima." Suara Aisyah berubah antusias karena apa yang akan Devano bahas dengannya nanti adalah soal kematian putrinya yang cukup misterius.


Bersambung....


Bagaimana perasaan kalian setelah baca part ini? Ceritain lewat komentar yah guys.


Jangan lupa untuk selalu support aku dengan cara seperti biasa yaitu :


-LIKE 👍


-KOMENTAR 📝


-BAGIKAN KE TEMAN KALIAN ➡️


-VOTE CERITA INI ❤️

__ADS_1


-DAN FOLLOW PROFILKU 🙏


Makasih udah baca dan dukung cerita ini sampai part ini.


__ADS_2