
"Umi, Dasha berangkat kuliah dulu ya," pamit Dasha sambil menyalami tangan Aisyah.
"Hati-hati ya sayang," pesan Aisyah kepada putri semata wayangnya itu.
"Iya mi," sahut Dasha. "Assalamualaikum," ucapnya kemudian.
"Wa'alaikumsalam," balas Aisyah sambil tersenyum.
Dasha pun turut memberikan senyuman manisnya pada sang umi sebelum pergi ke jalan raya untuk menghentikan taksi yang bisa mengantarkannya ke Kampus.
Sayangnya, sore itu tidak ada taksi lewat yang kosong. Dasha pun jadi cemas, ia takut terlambat masuk ke kelas. Seandainya aplikasi pesan taksi online di ponselnya tidak error, Dasha pasti sudah menggunakannya dari tadi untuk mendapatkan taksi dengan lebih mudah dan cepat.
"Udahlah, terlambat ini mah," keluh Dasha sambil menundukkan wajahnya lesu.
Tiin tiin... Suara klakson mobil itu menginterupsi Dasha untuk mendongak dan melihat mobil siapa yang berhenti tepat dihadapannya.
"Hai Sha," sapa pengendara mobil itu yang ternyata adalah Mahendra.
Dasha melihat Mahendra keluar dari mobil dan menghampirinya. "Hai juga pak," ucapnya dengan canggung.
"Mau berangkat bareng saya?" tawar Mahendra to the point.
Dasha berpikir sejenak lalu mengangguk. Daripada ia terlambat masuk kelas lebih baik ikut mobil Dosennya kan?
Mahendra tersenyum lalu membuka pintu belakang mobil untuk Dasha. "Karena saya belum jadi mahram kamu, kamu duduk di belakang ya," katanya yang membuat pipi Dasha merona memikirkan apa maksud 'belum' yang dikatakan oleh Mahendra tadi.
"Sha? Kenapa kamu bengong? Kamu enggak mau duduk di kursi belakang?" tegur Mahendra saat Dasha tak kunjung masuk ke dalam mobilnya.
"Mau pak, justru saya lebih nyaman duduk di belakang," jawab Dasha dengan gugup.
"Kalau begitu, silahkan masuk," ujar Mahendra dengan senyuman teduhnya yang membuat Dasha merasa adem.
"Makasih pak."
"Sama-sama, Sha."
Mahendra menutup pintu belakang mobilnya lalu berjalan ke depan dan membuka pintu mobil depan lalu duduk di kursi kemudi.
"Sha, kalau di luar kampus, kamu panggil saya Hendra aja ya. Umur kita kan enggak beda jauh," cetus Mahendra sambil menghidupkan mesin mobilnya.
Dasha menatap Mahendra dari belakang sambil tersenyum malu. "Enggak enak pak, bagaimana pun umur pak Hendra lebih tua satu tahun dari pada saya," selanya tak enak.
"Saya enggak nyaman aja dipanggil pak sama kamu, rasanya seperti saya ini seumuran sama bapak kamu," ungkap Mahendra yang membuat Dasha tertawa.
__ADS_1
Dari spion depan mobilnya, Mahendra bisa melihat betapa indahnya wajah Dasha saat tertawa, sehingga timbul di benaknya rasa ingin melihat tawa Dasha setiap hari dalam hidupnya. Bisakah?
"Kalau begitu gimana kalau saya panggil pak Mahendra kakak?" usul Dasha. Mahendra menyatukan kedua alis tebalnya, seolah tengah berpikir. "Oke, jadi fix, kamu panggil saya kakak aja, ya?" ucapnya setuju.
"Siap, kak Hendra." Dasha menyahutinya sambil tersenyum manis. Hatinya senang menjadi akrab seperti itu dengan pria idamannya.
"Kedengarannya lebih baik daripada panggilan sebelumnya," aku Mahendra yang sebenarnya ingin sekali di panggil 'Mas' oleh Dasha. Namun sayangnya gadis itu tidak peka dan memilih memanggilnya dengan panggilan 'kakak'. It's okey daripada tetap dipanggil 'pak' iyakan?
"Nanti pulangnya kamu sama siapa?"
"Kayaknya dijemput sama adik, pak ... eh maksudnya kak." Dasha keceplosan memanggil Mahendra dengan sebutan 'pak' lagi, mungkin karena belum terbiasa.
"Ooh... Hmm, kamu mau enggak makan malam sama saya? Ajak adik kamu juga."
Dasha berpikir sejenak, sepertinya tidak mungkin Alvan mau menemaninya makan malam dengan Mahendra. "Nanti saya tanya adik saya dulu ya kak." Mahendra mengangguk mengerti. "Oke," sahutnya dengan optimis.
Setibanya di Kampus, Mahendra membukakan pintu mobilnya untuk Dasha, Dasha pun keluar dari mobil Mahendra dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya. Mahasiswi-Mahasiswi yang lain di buat iri dengan perlakuan khusus yang diberikan Mahendra kepada Dasha. Sungguh beruntung, itulah kata mereka.
"Makasih atas tumpangannya ya, pak." Dasha kembali memakai panggilan formal karena sekarang ia dan Mahendra sudah berada di parkiran Kampus.
"Sama-sama, Sha," balas Mahendra seraya tersenyum.
Kemudian Dasha melangkah lebih dulu memasuki gedung Kampus, sementara Mahendra berjalan di belakangnya.
"Serasian juga sama gue," sela yang lain.
"Muka kayak lo mah, enggak pantes sama kak Dasha yang cantiknya kayak bidadari. Lo mah pantesnya sama cabe-cabean depan gang, hahaha."
"Asem lo, coba kalau enggak ada kak Dasha lewat, udah gue jitak kepala lo!"
"Bilang aja lo enggak berani sama gue."
"Heh ... kalian ngomongin kakak gue lagi ya?" Aidan tiba-tiba datang menghampiri teman-temannya.
"Eh ada adik ipar, ngapain lo di sini?"
"Mau nimpukin wajah cowok-cowok kayak kalian yang suka ngomongin kecantikan kakak gue," jawab Aidan yang membuat teman-teman Mahasiswanya merinding melihat betapa posesifnya adik Dasha idola mereka.
"Jangan dong, gue masih bangga sama ketamvanan wajah gue, jadi pliss jangan merusaknya, ya?"
"Iya bener kata Yogi, gue juga enggak mau wajah gue yang gantengnya kayak oppa-oppa Korea ini jadi bonyok gara-gara timpukan lo," timpal yang lain.
"Ya udah, kalau enggak mau gue timpuk, traktir gue makan mie ayam depan kampus sekarang juga," pinta Aidan yang sangat pintar memanfaatkan keadaan.
__ADS_1
******
"Sha, adik kamu ganteng banget ya, boleh gak aku deketin?" tanya Laras, teman kuliah Dasha yang dari tadi terus memandang ke arah Aidan yang sedang duduk di ujung perpustakaan mengawasi kakaknya.
"Kalau dia mau sih, boleh boleh aja," jawab Dasha dengan enteng sambil fokus membaca buku yang ada di tangannya.
"Menurut kamu, Aidan bakal mau enggak sama aku?" tanya Laras lagi.
"Yang aku tau Aidan itu sukanya sama yang imut-imut, ya enggak beda jauhlah sama selera kakaknya."
"Lah, berarti aku bukan seleranya dong, aku kan gak punya kesan imut sama sekali, hiks hiks, jadi ngenes deh," keluh Laras tertunduk lesu.
"Udah, udah, fokus belajar! Kita ke perpus bukan untuk bahas soal percintaan, tapi untuk belajar buat persentase besok." Dasha dengan tegas mengingatkan Laras agar teman kuliahnya itu berhenti membicarakan adiknya.
"Enak ya jadi kamu, selalu di perhatiin sama orang-orang yang kamu sayang," celetuk Laras masih dengan wajah lesunya.
"Aku malah pengen jadi kamu Ras, kemanapun enggak ada yang ngikutin, dan yang paling penting enggak selalu diawasi seperti anak TK." Laras bisa merasakan adanya tekanan batin dalam diri Dasha saat mengucapkannya.
"Percaya deh, keluarga kamu itu posesif sama kamu demi kebaikan kamu sendiri, mereka seperti itu karena mereka sayang dan enggak mau kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya."
"Benar juga sih, tapi aku udah mulai bosen dikintilin Aidan sama Alvan terus," aku Dasha sejujurnya.
"Apa itu disebabkan karena kamu mau lebih dekat lagi sama pak Hendra?" goda Laras menatap Dasha sambil menaik-turunkan alisnya yang lancip.
"Astaghfirullah, mana ada aku berpikir seperti itu, Ras," sela Dasha sambil memfokuskan pikirannya kembali pada buku yang ada ditangannya.
"Tapi kamu suka kan sama pak Hendra? Ngaku aja sih," desak Laras yang mendapat pelototan tajam dari Dasha.
"Ampun Sha, aduh ... kamu melototnya serem banget asli," cetus Laras yang membuat mata Dasha semakin melebar.
"Mampus, gue dilabrak sama matanya," gumam Laras sambil menggigit bibirnya yang tak berdosa.
Bersambung....
Hai hai, seneng gak aku update lagi? Seneng dong ya?
Pengumuman, Karya baruku tentang kisah cintanya Lee dan Kanaya udah ada ya.
Ayo ramai-ramai cek novel baruku 'Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan' dan masukkan ke dalam list novel favorit kalian karena ceritanya akan seru banget!
Buruan dicek ya, pembaca-pembaca setiaku yang aku sayangi.πππβΊοΈππβΊοΈβΊοΈππ€ππ€π€
__ADS_1