
Tiga tahun kemudian....
"Umi!" panggil Dasha sambil berlari ke arah Aisyah yang tengah menunggunya di kursi panjang depan sekolah dasar.
"Udah pulang?" tanya Aisyah saat Dasha mencium tangannya.
"Udah."
"Lain kali nggak perlu jemput aku lagi ya, mi. Kasihan Dede twins dalem perut Umi. Lagian aku kan udah gede, udah berani kok pulang sekolah sendiri," kata Dasha yang saat ini sudah berumur 8 tahun.
"Umi enggak tenang kalau kamu pulang sendiri, sayang. Umi takut kehilangan kamu seperti dulu, jadi selagi Umi masih bisa, tolong biarin Umi nganter jemput kamu ke sekolah, ya?"
"Kenapa enggak Abi aja sih?"
"Sayang, Abi kan lagi sibuk ngurusin Kafe barunya."
Dasha cemberut. "Abi sibuk terus deh," komentarnya sambil melipat tangan di depan dada.
Aisyah tersenyum lalu mengelus rambut kecoklatan milik putrinya itu. "Dasha, Abi itu sibuk kerja karena Abi bertanggung jawab menafkahi kita," terang Aisyah dengan nada lembutnya.
"Iya sayang, benar kata Umi," timpal Devano yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelah Dasha.
Dasha menoleh ke arah Abi-nya itu sambil tersenyum sumringah. "Yeay! Abi dateng," teriaknya kegirangan.
Devano tertawa lalu menggendong putrinya yang semakin hari semakin cantik dan pintar itu. "Ayo kita pulang," ajaknya yang tak lupa merangkul pinggang Aisyah juga.
"Kak, mampir ke supermarket bentar ya, aku mau beli susu ibu hamil," kata Aisyah.
Devano menoleh ke arah Aisyah yang berjalan di sampingnya lalu tersenyum lembut. "Enggak usah sayang, soalnya aku udah beli susu hamilnya tadi pas sebelum ke sini," selanya.
"Ooh... Makasih ya, Kak."
"Sama-sama, sayang."
"Kamu masih suka yang rasa stroberi kan?" tanya Devano.
__ADS_1
"Iya, tapi belakangan ini pengen nyobain yang rasa coklat deh, kak," ungkap Aisyah.
"Ya udah nanti aku beliin susu hamil varian rasa coklatnya," pungkas Devano yang membuat Aisyah tersenyum.
*****
Rumah itu berdiri di atas tanah yang luas, meskipun minimalis, rumah yang berhasil dibangun oleh Devano untuk Aisyah dan keluarga kecil mereka itu terlihat rapih dan artistik ditambah dengan halaman yang asri, dipenuhi bunga mawar dan pepohonan yang rindang.
Sungguh cerminan dari rumah impian Aisyah sejak masih remaja, wajar ketika wanita yang kini tengah hamil anak kedua sekaligus ketiga itu menangis terharu ketika Devano mengajaknya pindah ke rumah itu.
"Gimana? Umi suka enggak sama rumahnya?" tanya Devano ketika Aisyah masih speechless.
"Suka banget, Abi!" Aisyah sontak memeluk erat tubuh Devano dan menangis terharu di dada bidang suaminya itu.
Devano mengecup kening Aisyah sembari mengelus kepala istrinya yang selalu tertutup hijab itu. "Kita masuk ke dalam yuk," ajaknya.
Aisyah pun langsung mengangguk dengan antusias. "Dasha sama Bude udah tahu rumah ini belum?" tanya Aisyah penasaran sambil memandangi bunga-bunga mawar di halaman rumah yang begitu memanjakan matanya.
"Udah dong sayang, itu mereka ada di sana," jawab Devano seraya menunjuk ke arah Dasha dan Bude Marika yang telah berdiri di depan pintu rumah, menyambut kedatangan mereka.
"Aduh sayang, kamu itu enggak boleh lari-lari." Devano meraih tangan Aisyah lalu digenggamnya agar istrinya itu memelankan langkah kakinya.
Aisyah menoleh dan menatap Devano dengan senyuman manis yang terukir di bibir ranumnya. Kemudian wanita yang tengah hamil anak kembar itu melingkarkan lengannya di pinggang Devano dan menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
"Manjanya Umi," kata Dasha sambil berjalan menghampiri kedua orang tuanya yang sedang pamer keromantisan.
"Sebenarnya yang manja itu bukan Umi, melainkan kedua adik kamu yang ada di perut Umi ini," sela Aisyah yang keberatan bila dianggap manja oleh putrinya. Pedahal sebenarnya dia memang suka manja pada Devano apalagi dalam keadaan hamil seperti sekarang.
"Really?" goda Dasha sambil menaikkan satu alisnya dan meletakkan jari telunjuknya di dagu.
"Kenapa sih kamu itu hobi banget godain Umi?" tanya Aisyah sambil membungkuk menyejajarkan tingginya dengan Dasha.
"Karena pipi Umi langsung berubah warna pink setiap Dasha godain kayak tadi," jawab Dasha sambil menangkup pipi Aisyah.
"Ah, gemesin banget sih, putri kesayangan Umi sama Abi yang bakal jadi kakak ini." Aisyah menoel ujung hidung Dasha dengan gemas dan membuat putrinya itu tertawa geli.
Kemudian Aisyah menggenggam tangan Dasha dan berjalan menuju ke arah Devano yang sudah berdiri menyambut mereka di depan pintu masuk rumah baru yang akan mereka tinggali bersama.
__ADS_1
*****
Malam harinya, Devano yang baru pulang kerja menghampiri Aisyah yang sedang mematut diri di depan cermin dengan wajah tak suka.
"Kenapa kamu cemberut, sayang?" tanya Devano sambil memeluk Aisyah dari belakang.
Aisyah membalikkan badannya menghadap Devano lalu memandang wajah lelah suaminya itu. "Bukan hal penting kok, kak," jawabnya sambil meraih tangan Devano dan mencium punggung tangannya.
"Kak Devan tunggu sebentar ya, aku mau siapin air hangat buat Kak Devan mandi," ujar Aisyah.
Devano menggelengkan kepalanya. "Enggak usah sayang, biar aku yang siapin sendiri," selanya sambil berjalan memasuki kamar mandi.
"Oke, kalau gitu aku langsung ke dapur siapin makan malam buat kamu ya," kata Aisyah.
"Iya istriku," sahut Devano dari dalam kamar mandi.
Aisyah tersenyum sekilas sebelum pergi ke dapur untuk menghangatkan sup ayam dan semur daging sapi hasil masakannya tadi sore.
"Selesai," gumam Aisyah setelah menyusun nasi dan lauk pauknya di atas meja makan.
"Kok cuma ada satu piring nasi? Kamu enggak ikut makan, sayang?" tanya Devano yang baru selesai mandi dan berganti pakaian tidur.
"Enggak dulu lah kak, nanti kalau aku makan terus, berat badan aku semakin bertambah, sekarang aja berat aku udah mencapai 85 kilo," ungkap Aisyah sambil memanyunkan bibirnya. Sejak kehamilan kedua ini ia seringkali mengalami badmood serta mudah merasa insecure.
"Emangnya kenapa kalau berat badan kamu bertambah? Bukannya bagus ya? Karena itu artinya kamu sama baby twins kita sehat, iyakan?" cetus Devano sambil menikmati Sup ayam dan Semur daging sapi hasil masakan Aisyah yang lezatnya tak ada bandingannya menurut Devano.
"Ya, iya sih, tapi aku takut kamu bakal enggak betah lihat aku kalau akunya kegemukan," ungkap Aisyah dengan nada merajuknya yang membuat Devano gemas.
"Sayang, aku mencintai kamu dalam bentuk apapun, mau tubuh kamu gendut, mau wajah kamu mirip badut, aku enggak peduli, yang penting itu adalah kamu, Aisyah. Maka semuanya akan kelihatan indah tanpa sedikitpun ketidaksempurnaan," ungkap Devano dari dalam hatinya. Aisyah pun sampai terharu mendengar ungkapan romantis suaminya itu.
"I love you too, bi."
Bersambung....
Ada yang senyam-senyum sendiri?ππ₯°
Maap ya, update nya lama.πβΊοΈπ
__ADS_1