Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 75 | Pernikahan kedua


__ADS_3

Devano menatapi kertas undangan pernikahan yang ada di tangannya, hatinya menolak kenyataan bahwa besok Aisyah akan menikah lagi dengan pria lain.


Dan lebih mirisnya Devano tak punya hak untuk melarang Aisyah membangun kebahagiaan yang dulu pernah dia hancurkan.


Kenyataan yang terlalu menyakitkan bagi Devano yang telah berjuang untuk kembali bersama ibu dari anaknya itu. Dalam hati Devano merasa kalau dirinya berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua, tapi ia tidak bisa memaksakan kehendak Aisyah dan meminta wanita itu rujuk dengannya.


"Mungkinkah ini karma untukku?" pikir Devano sambil menatap lurus ke arah anaknya yang sedang tertidur di sofa karena kelelahan menangis.


"Dasha, kasihan sekali kamu, nak." Devano bergerak mengusap rambut kecoklatan milik anak semata wayangnya itu.


"Abiii," rengek Dasha sambil mengucek matanya.


Devano kaget melihat Dasha terbangun, sebab dia tidak berniat mengusik tidur apalagi membangunkan anaknya itu.


"Apa baby?" tanya Devano sambil mengangkat tubuh Dasha dan memindahkannya di atas pangkuannya.


"Aku mau main ke rumah Bara, aku enggak mau ketemu Umi, Umi jahat sama aku, enggak sayang lagi sama aku, aku jadi sedih Abi, hiks." Dasha mengeluh sambil meneteskan air mata.


Devano memeluk tubuh anaknya itu dengan erat. "Meskipun nantinya Umi kamu punya keluarga baru, dia akan tetap menyayangi kamu, princess. Sebab, kamu adalah anaknya yang sangat berarti baginya."


"Benarkah?" tanya Dasha sambil sesenggukan.


"Of course, princess."


"Sekarang kamu mandi ya, nanti Abi antar kamu ke rumah Bara," kata Devano yang langsung membuat Dasha tersenyum semangat di sela-sela isak tangisnya.


"Abi memang yang terbaik," ucap Dasha sebelum pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya sendiri.


Sedangkan Devano pergi ke kamar Dasha untuk menyiapkan pakaian dan keperluan lain untuk putrinya itu.


Setelah Dasha selesai mandi, Devano memakaikan putri cantiknya itu kaos, rok levi's panjang, dan sepatu berwarna pink serta bando karakter hello kitty.


"So cute, aku suka setelan ini," komentar Dasha.


Devano tersenyum lalu menggendong putrinya itu keluar dari kamar dan juga apartemennya. "Bara dan Aunty Rihana pasti akan terus memuji kecantikan mu, princess. Percayalah pada Abi," ujar Devano setelah berada di mobil.

__ADS_1


"Yeah, aku percaya Abi," sahut Dasha sambil tersenyum lebar.


Devano senang melihat senyuman lebar muncul lagi di bibir putrinya, ia bersyukur telah mempertemukan Dasha dengan teman barunya yaitu Bara.


Sesampainya di apartemen Rihana, ibu dari Bara itu langsung mempersilahkan Dasha dan Devano untuk masuk, namun hanya Dasha yang masuk sementara Devano tetap berdiri di depan pintu.


"Hana, aku mau titipin Dasha sama kamu sampai lusa, bisa?" tanya Devano kepada Rihana setelah Dasha pergi bermain bersama Bara.


"Emangnya kamu mau kemana?" Rihana balik bertanya.


Devano menunjukkan undangan pernikahan Aisyah dan Lee. Seketika itu, Rihana langsung mengerti. "Baiklah Dev, aku akan menjaga Dasha dengan sebaik mungkin," ucapnya kemudian.


"Makasih ya, Hana. Aku beruntung bisa bertemu dan berteman dengan orang sebaik kamu," ujar Devano.


"Justru aku yang beruntung Dev, dulu banyak sekali orang yang tidak mau menghargai apalagi berteman denganku, tapi kamu dengan setulus hati mau menganggap ku sebagai seorang teman, bukan cuma itu, kamu juga menyayangi putraku sebagaimana kamu menyayangi putrimu."


"Sebagai balasannya, aku akan menyayangi Dasha dan menganggapnya sebagai putriku sendiri."


"Sekali lagi terimakasih, Hana."


"Tolong jangan kasih tahu Dasha kalau besok pagi adalah hari pernikahan Umi-nya," pinta Devano.


"Oke, aku akan merahasiakannya."


*****


Sekuat apapun Aisyah menahan kesedihannya, Lee tetap bisa melihat dan merasakannya. Maka, sebelum akad nikah dimulai Lee diam-diam menemui Aisyah untuk menanyakan lagi apakah wanita itu benar-benar yakin ingin menikah dengannya.


"Aisyah, kalau kamu terpaksa, lebih baik kita batalin aja pernikahan kita, karena percuma kalau pada akhirnya kamu tidak bahagia."


"Lantas bagaimana dengan kamu?" tanya Aisyah menatap Lee dengan derai air mata yang sudah tak dapat ditahannya lagi.


"Jangan pikirkan aku, jangan merasa bersalah padaku, aku baik-baik saja jika kamu baik-baik saja, aku akan bahagia jika melihat kamu bahagia meskipun nantinya aku akan patah hati dalam waktu yang lama."


"Maafkan aku Lee, maafkan aku. Aku terlalu sering memberi kamu harapan dan mematahkannya tiba-tiba."

__ADS_1


"Aku memang perempuan jahat dan naif...."


"Cukup Aisyah, bagiku kamu tetaplah perempuan baik yang selalu memperlakukan semua orang dengan tulus."


Aisyah terdiam menyesali semua yang telah dia lakukan yang pada akhirnya menyakiti Lee, pria baik yang selama ini selalu membantunya di kala susah dan menemaninya di saat bahagia.


"Mungkin kita pernah berpikir bahwa dengan bertahan akan membuat kita kuat. Tapi terkadang dengan melepaskan justru akan lebih membuat kita kuat. Oleh karena itu, aku akan melepaskan kamu, Aisyah. Agar kamu tak seperti burung yang terus berada di sangkar karena tak tega meninggalkan tuannya."


"Aku ingin kamu lepas dan bebas mengepakkan sayap untuk terbang dan hinggap kemanapun yang kamu inginkan."


"Suatu hari aku yakin pria sebaik dirimu akan mendapatkan perempuan yang lebih segala-galanya dariku. Perempuan yang lebih bisa mencintai dan menyayangi kamu jauh dari pada aku yang sudah menyia-nyiakan kamu," tutur Aisyah sambil mengelap air matanya dengan tissue. Dalam hati ia telah membuat keputusannya sendiri.


******


Tamu tamu undangan sudah berdatangan dan duduk rapih di kursi kursi yang telah di siapkan. Devano menjadi salah satunya, pria itu tampak rapih memakai kemeja putih dibalut dengan jas abu-abu yang membuatnya semakin tampan.


Raut gelisah terlihat di wajah Devano, entah sudah berapa kali pria itu menghela nafas panjang sambil meremas jemarinya.


Sungguh, dari dalam hati yang paling dalam Devano sangat tidak ingin datang ke akad nikah Aisyah dan Lee, tapi entah kenapa kakinya malah membawanya sampai ke sini.


Dan sekarang sudah tiba waktunya kedua mempelai melakukan sesi ijab kabul. Aisyah datang didampingi Bude Marika, berjalan dengan anggun melewati para tamu lalu duduk di kursi khusus mempelai.


Gaun yang dipakai Aisyah semakin memancarkan aura kecantikan wanita itu, sungguh menyesakkan bagi Devano yang masih berharap kalau dirinya lah yang akan berada di samping wanita itu untuk yang terakhir kalinya.


"Kebodohan yang paling aku sesali seumur hidupku adalah pernah meninggalkan berlian seberharga dia demi memungut sebuah batu kerikil," ungkap Devano sambil menatap Aisyah dari kejauhan.


Beberapa saat kemudian Devano dibuat terkejut oleh Lee yang menepuk bahu tegapnya dari belakang. "Hai bro, jangan membuat mempelai wanita mu menunggu, ayo berdiri dan datanglah ke sana, hari ini Tuhan memberimu kesempatan kedua untuk menikahi wanita sebaik malaikat yang sedang duduk di sana," ujar Lee sambil menunjuk Aisyah.


Devano menganga karena syok sekaligus bahagia. Entahlah, perasaannya kini tak mampu dilukiskan oleh kata-kata.


Bersambung....


Belakangan ini aku sering down banget,😢😥 jadi maaf kalau update ceritanya kelamaan.🙏🙏🙏


Terus support aku ya, teman-teman....

__ADS_1


__ADS_2