
Author POV.
Aisyah menyenderkan kepalanya di bahu Avila lalu memijit pelipisnya dengan kuat. Wanita itu kerap kali mengalami pusing ketika menaiki pesawat.
"Aku olesin minyak angin, mau?" tawar Avila seraya menengok ke wajah Aisyah yang sedikit pucat.
"Mau Vi, yang banyak juga gak papa," sahut Aisyah lemah.
Avila dengan cepat mengambil minyak angin di sakunya lalu mengolesi kening dan pelipis Aisyah dengan minyak angin tersebut.
"Baunya seger banget. Citrus ya?" tebak Aisyah ketika hidungnya mencium wangi dari minyak angin itu.
"Bukan, yang betul papper mint," koreksi Avila sambil menyimpan kembali minyak angin itu ke dalam saku jaketnya.
"Syah, Udah tiga hari ini Oppa Lee gak ngasih kabar ke aku lho. Aku jadi kepikiran nih sama dia," ungkap Avila yang sudah mendengar cerita Aisyah kalau semenjak hari dimana Lee bertemu dengan Ustadz Harun, pria tampan keturunan Korea itu memutuskan untuk menetap sementara di pesantren untuk memantapkan hatinya memeluk agama Islam.
"Jangan khawatir, Vi. dia pasti baik baik aja kok," balas Aisyah dengan mata yang terpejam karena mulai mengantuk.
"Kamu tahu dari mana kalau Oppa baik baik aja?" tanya Avila yang belum berhenti memikirkan Lee.
"Jadi gini, pas tadi subuh waktu kita lagi nunggu pesawat di Bandara, aku lihat Robbie bicara lewat telepon sama Lee sambil ketawa-ketawa."
"Hah? Kamu yakin?" tanya Avila dengan wajah tak percaya.
"Ya Allah, aku yakinlah, Avi. Soalnya waktu itu aku denger suara Lee dengan sangat sangat jelas," terang Aisyah yang masih menyandarkan kepalanya di bahu Avila.
"Huufft, sekarang aku jadi lega kalau memang Oppa baik baik aja."
Dan tak lama setelah itu terdengar pengumuman yang memberitahukan kepada semua penumpang bahwa pesawat yang sedang mereka naiki akan segera mendarat di Bandara Ngurah Rai, Bali.
"Alhamdulillah... akhirnya sampai juga." Aisyah menegakkan kepalanya dari bahu Avila dan bersiap untuk keluar dari pesawat.
"Alhamdulillah...beban di bahuku menghilang," celetuk Avila yang membuat Aisyah meringis tak enak karena dialah yang menjadi beban di bahu sahabatnya itu.
"Maaf ya Vi," ucap Aisyah yang membuat Avila menoleh lalu tersenyum santai.
"Enggak papa, toh aku juga sering nyandar di bahu kamu kalau aku lagi capek," balas Avila yang membuat Aisyah tersenyum.
"By the way, Robbie dimana ya?" tanya Avila sambil celingukan kesana-kemari mencari Robbie.
"Bukannya tadi dia duduk di situ ya?" Aisyah menunjuk kursi yang sekarang di duduki oleh nenek-nenek.
"Dia pindah kali, ya udahlah...ntar di Bandara juga pasti ketemu," kata Avila sambil melepas sabuk pengamannya karena pesawat sudah benar-benar mendarat.
"Ayo kita keluar, terus abis itu kita langsung cari Robbie bareng bareng," ujar Aisyah ketika dia selesai melepas sabuk pengamannya.
"Iya ayok!" sahut Avila sambil mengaitkan tangannya dengan tangan Aisyah lalu mereka berdua pun keluar dari pesawat itu bersama penumpang-penumpang yang lain.
"Robbie mana sih?" tanya Avila sambil celingukan mencari Robbie.
Sementara Aisyah menggandeng sahabatnya itu berjalan ke bagasi untuk mengambil koper mereka yang masih di sana.
"Jangan jangan Robbie ninggalin kita lagi," kata Avila yang tak kunjung melihat Robbie.
"Gak mungkinlah, paling juga dia lagi ke toilet," sela Aisyah sambil menggapai kopernya.
"Udah, ntar juga ketemu. Mendingan ambil itu koper kamu," peringat Aisyah yang sontak membuat Avila segera mengambil kopernya.
__ADS_1
"Coba kamu telpon Robbie deh, Syah. Pulsa aku abis soalnya," perintah Avila yang langsung di laksanakan oleh Aisyah.
Wanita itu mengambil ponselnya dari tas lalu menghubungi nomor Robbie, namun yang muncul malah suara operator yang mengatakan kalau nomor Robbie sedang tidak aktif.
"Enggak aktif nih Vi," ujar Aisyah yang membuat Avila mendengus lalu memijat pangkal hidungnya dengan wajah bingung.
"Jadi gimana dong, Syah?" tanya Avila bingung.
"Kita berpencar aja, kamu cari Robbie di sekitar sini dan aku biar cari dia di parkiran, gimana?" usul Aisyah yang mendapat gelengan keras dari Avila, tanda kalau gadis itu tak setuju dengan usulan Aisyah.
"Aku gak setuju, ntar malah kamu yang ngilang. Mendingan kamu di sini aja biar aku yang cari Robbie, Oke?" cetus Avila yang mau tak mau harus di angguki oleh Aisyah.
"Oke, kalau begitu aku duduk di kursi itu ya." Aisyah menunjuk sebuah kursi panjang yang terletak di pinggir koridor Bandara.
"Sip, nanti kalau misalnya kamu duluan yang ketemu sama Robbie, telpon aku ya?"
"Pasti dong, Vi," jawab Aisyah seraya melambaikan tangannya kepada Avila lalu berjalan mendekati kursi yang tadi di tunjuknya dan duduk di sana.
"Kamu jangan pergi kemana mana ya, Syah. Pokoknya tetep duduk di situ sampai aku balik. Oke?" peringat Avila yang di balas anggukan kepala oleh Aisyah.
Setelah Avila pergi mencari Robbie, Aisyah pun tidak tinggal diam, dia terus mencoba untuk menelpon Robbie tapi tetap saja nomor pria itu tidak aktif dan berada di luar jangkauan.
"Kamu dimana sih, bie," gumam Aisyah yang entah sudah ke berapa kalinya menelpon Robbie.
Dan tiba-tiba saja, Aisyah tersentak karena sebuah tangan mungil menarik lengannya.
"Papaaa, hiks."
Suara itu langsung membuat Aisyah menoleh dan mendapati seorang anak perempuan berumur sekitar empat tahun sedang menangis.
"Papa...papa...hiks, aku lagi nyari...Papa, Tante," jawab anak perempuan berwajah imut itu sambil sesenggukan.
"Ooh...ya udah kalo gitu tante akan bantu kamu nyari papa kamu ya. Tapi sekarang kamu jangan nangis lagi, oke cantik?" kata Aisyah sambil tersenyum dan menggerakkan tangannya untuk menghapus air mata di pipi anak perempuan itu.
"Makasih ya, Tante," ungkap anak itu sambil menghentikan tangisannya dan menatap wajah Aisyah sambil tersenyum.
'Ya Allah, mungkin kalau Dasha masih ada, dia pasti udah sebesar anak ini,' gumam Aisyah di dalam hati sambil mengusap pipi anak perempuan yang ada depannya. Wanita itu teringat anaknya yang sudah tenang di alam sana.
'Dasha, Umi kangen banget sama kamu nak. Umi kangen senyuman ceria kamu yang selalu menguatkan hati Umi.' Aisyah tak sadar kalau air matanya telah jatuh dan menetes hingga membasahi pipinya.
"Tante kenapa nangis?"
Pertanyaan polos itu membuat Aisyah sadar dan segera mengusap air matanya.
"Tante keberatan ya bantuin aku nyari papa?" tanya anak perempuan berwajah imut itu kepada Aisyah.
"Enggak kok, cantik. Tante nangis bukan karena itu. Tante cuma lagi teringat anak Tante yang seumuran sama kamu," jawab Aisyah seraya tersenyum tipis.
"Aiorraa?? Ya Allah nak, papa nyariin kamu kemana mana rupanya kamu di sini," ujar seorang pria yang sekarang berada di belakang Aisyah.
"PAPAAA!" Sahut anak perempuan yang sedang bersama Aisyah itu dengan girangnya.
Tunggu! Aisyah seperti mengenal suara pria yang di panggil papa oleh gadis kecil di depannya ini.
"Kamu sama siapa nak---lho, Aisyah?" Pria itu terkejut ketika Aisyah membalikkan badan menghadapnya.
"Mas Rio?!" sahut Aisyah dengan wajah yang sama terkejutnya.
__ADS_1
"Papa kenal sama Tante baik ini?" tanya Aiora sambil menatap Papanya dan juga Aisyah secara bergantian.
"Tante ini..teman papa dulu, sayang," jawab Rio kepada anaknya yang kemudian mengangguk-anggukan kepalanya paham.
"Nak, kamu duduk di sini dulu ya, papa mau bicara sebentar sama Tante Aisyah," perintah Rio yang langsung di patuhi oleh Aiora.
Setelah itu Rio mengisyaratkan kepada Aisyah untuk sedikit menjauh dari Aiora.
"Aisyah...kamu apa kabar?" tanya Rio sambil menatap Aisyah.
"Alhamdulillah baik, Mas Rio sendiri gimana?"
Aisyah balik bertanya kepada Rio, namun matanya malah terus memandangi Aiora.
"Alhamdulillah saya dan keluarga juga baik," jawab Rio yang membuat Aisyah tersenyum tipis.
"Syukurlah."
"Emh..apa kamu dan Devano jadi bercerai?" Pertanyaan sensitif dari Rio itu membuat Aisyah langsung menunduk dan hanya bisa membalasnya dengan anggukan kepala.
"Saya minta maaf karena saya tidak bisa membantu kamu membuktikan kalau tuduhan kejam itu tidak benar. Saya malah memilih pergi ke luar negeri untuk menenangkan istri saya yang waktu itu meminta cerai pedahal dia sedang hamil Aiora. Maafkan saya Aisyah," sesal Rio dengan wajah merasa bersalah.
"Mas Rio gak perlu minta maaf, karena Mas Rio gak salah...waktu itu kita sama-sama menjadi korban fitnah dan aku sadar kalau kita sama-sama ingin menyelamatkan pernikahan masing-masing. Yang berbeda hanyalah Mas Rio berhasil sedangkan aku gagal." Suara Aisyah tercekat ketika mengatakannya. Dia masih terlalu sakit ketika harus mengingat fitnah kejam itu.
"Saya salah, saya terlalu egois hingga hanya memikirkan tentang keutuhan pernikahan saya saja," sesal Rio dengan sedih sekaligus merasa sangat bersalah kepada Aisyah.
"Udahlah Mas Rio, lebih baik kita lupakan aja kejadian yang udah menjadi masa lalu itu," ujar Aisyah dengan tegarnya.
Tak lama setelahnya seorang wanita cantik yang merupakan istri Rio, datang dan langsung menarik tangan suaminya. Lalu wanita itu menatap Aisyah dengan penuh kebencian.
Kemudian tanpa sepatah katapun Istri Rio itu mengajak suami dan anaknya, Aiora. Untuk pergi meninggalkan Aisyah yang mematung di tempatnya.
"Astaghfirullahal Adziim," ucap Aisyah seraya mengelus dadanya.
Bersambung....🌹🌹
Gimana perasaan kalian setelah baca part ini?
Ceritain dong di kolom komentar.😊😊
Jangan lupa untuk selalu jaga kesehatan ya, readers ku tercinta.😊😊🥰🥰
Dan juga jangan lupa buat :
-LIKE 👍
-KOMENTAR 📝
-VOTE CERITA INI ❤️
-TEKAN BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐
-DAN FOLLOW PROFILKU 🙏😊😊
Makasih banyak.
Love you all...❤️❤️❤️❤️
__ADS_1