Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 30 | Hang on for love


__ADS_3

..."Jika hatimu saja masih tertutup untukku, bagaimana caranya kamu bisa mencintaiku?"...


...David Steven Lee....



Lee POV.


Siang ini aku mengajak Aisyah lunch di sebuah Restoran Korea yang jaraknya lumayan dekat dengan Studio. Tadinya Aisyah sempat menolak karena dia sudah ada janji dengan Avila, tapi dengan segera aku memutuskan untuk menghubungi Robbie dan meminta pria itu untuk mengajak Avila makan siang di luar, supaya Aisyah bisa lunch bersamaku. Ide yang brilian bukan?


Dan sekarang akhirnya aku dan Aisyah duduk berhadapan dengan satu meja makan yang penuh dengan menu Korea yang telah tersaji untuk kami berdua.


Ada kimchi, bibimbap, dan samhyang super pedas yang semuanya sudah di pastikan kehalalannya. Semenjak memutuskan untuk menjadi seorang muslim, aku memang benar-benar teliti soal kehalalan dari makanan yang akan aku konsumsi.


Aku tidak mau makanan yang haram masuk ke dalam tubuhku lagi, cukup di masa lalu saja aku merasakannya.


"Semuanya sudah terverifikasi halal, tuan." lapor bodyguard ku yang telah aku perintahkan untuk memeriksa bahan dan proses memasak menu makan siang yang akan di nikmati aku dan Aisyah ini.


"Oke, sekarang kamu boleh pesan makan siang di sini juga," ujarku.


"Serius nih, tuan?" tanya bodyguard ku dengan mata yang berbinar.


"Ya serius, kamu tinggal pesan aja nanti saya yang bayar," jawabku seraya tersenyum.


"Wah terimakasih banyak, tuan."


"Sama sama," sahutku yang kemudian mengalihkan pandangan ke arah Aisyah.


"Maaf ya Syah, barusan kesannya seperti mengabaikan kamu," ucapku yang di balas senyuman oleh Aisyah.


"Aku malah seneng tiap kali liat kamu berinteraksi sama bodyguard kamu itu," kata Aisyah.


"Alasannya kenapa?" tanyaku seraya menatapnya.


"Hm, karena kamu kelihatannya akrab sama dia." Aisyah menjawab seraya mengambilkan aku sepasang sumpit.


"Dia emang udah aku anggap sebagai teman, Syah. Sebab udah sejak SMA aku selalu di jaga sama dia kemanapun aku pergi," terang ku sembari menggenggam sumpit yang tadi Aisyah ambilkan untukku.


"Oh gitu ya, pantesan kamu akrab dan perhatian sama dia," sahut Aisyah menanggapi.


"Tapi aku masih jauh lebih perhatian sama kamu lho, Syah." Kalimat itu tiba-tiba keluar dari mulutku.


__ADS_1


"Aku tahu kok, Lee. Dan... makasih ya," ujar Aisyah seraya tersenyum kepadaku.


"Harusnya aku yang berterima kasih, Syah. Karena kamu masih mau menerima aku sebagai teman kamu setelah pernyataan itu," ucapku seraya menundukkan kepala.


"Cinta memang tak terduga Lee, dia datang di hati seseorang tanpa bisa di atur dan di tentukan, selain itu cinta juga bisa berubah seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu, aku gak bisa mengakhiri persahabatan kita hanya karena sebuah perasaan tak pasti itu."


"Satu hal yang harus kamu tahu, Lee. Kalaupun aku gak bisa mencintai kamu, tapi aku punya rasa sayang yang besar untuk kamu, dan kamu pasti tahu kan kalau rasa sayang itu lebih abadi daripada cinta?" ungkap Aisyah yang membuatku mengangkat kepala lalu menatap wajah dan senyumannya yang mampu meneduhkan hatiku.


Tiba-tiba suara ponsel Aisyah mengacaukan suasana yang membuat hatiku nyaman.


"Wa'alaikumsalam..."


"Apa? Ya... ya udah saya akan ke sana secepatnya."


Hanya itu yang bisa aku dengar sebelum akhirnya Aisyah mengatakan kalau dia tidak bisa melanjutkan makan siangnya karena dia harus pergi untuk menyelesaikan urusan penting.


"Apa perlu aku antar kamu?" tawar ku yang di balas gelengan cepat oleh Aisyah.


"Gak perlu Lee, aku naik taksi aja ya, lagipula abis makan siang kamu ada meeting sama klien dari Singapura kan?"


"Iya sih, ya udah kamu hati-hati ya? Kalau ada apa-apa telpon aku aja, oke?" kataku yang sedikit mengkhawatirkannya.


"Oke, pasti aku hubungi kamu, kalau begitu aku pergi dulu ya, Assalamualaikum...," sahut Aisyah sembari melambaikan tangannya dan tersenyum kepadaku.


"Wa'alaikumsalam salam warahmatullah," balasku yang ikut tersenyum lebar dan melambaikan tanganku.


Sudah tiga hari Devano dipindahkan ke kamar rawat tunjangan negara, dan sudah empat hari ini dia selalu menunggu kedatangan Aisyah, berharap mantan istrinya itu akan menemuinya lagi seperti waktu itu, tapi sepertinya dia harus menelan harapan itu dalam dalam karena ujungnya selalu mengecewakan. Sepertinya Aisyah sudah tidak ingin mengunjunginya lagi.


Devano sadar kalau dirinya terlalu brengsek untuk mendapatkan perhatian dari Aisyah seperti dulu lagi. Devano kini berpikir mungkin waktu itu Aisyah hanya ingin membantunya bangun dari alam bawah sadar, tidak lebih karena wanita itu hanya kasihan kepadanya bukan karena masih mencintainya.



"Maafkan aku, Aisyah." Devano bergumam seraya memandangi pintu, masih berharap kalau sewaktu-waktu pintu itu akan terbuka dan memunculkan sosok Aisyah yang dirindukannya.


"Dulu saat aku sendirian, kamu selalu datang menghampiriku dan mengatakan kalau kamu akan selalu menemaniku, kini aku butuh kamu membuktikan kata kata itu, Aisyah. Meskipun aku sadar kalau hubungan kita telah rusak dan tidak bisa seperti dulu lagi. Tapi aku mohon datanglah, temani lelaki rapuh ini agar dia tidak merasa sendirian," ungkap Devano seraya memeluk lututnya seperti yang sering dia lakukan waktu dia remaja dulu ketika dia merasa sendirian.


Beberapa saat kemudian suara pintu yang terbuka membuat Devano langsung melihat ke arah pintu, tapi rupanya yang datang adalah seorang suster yang mengantarkan obat, bukan seperti ekspetasinya yang mengira kalau yang datang adalah Aisyah.


"Silahkan di minum obatnya pak," kata Suster itu seraya menyodorkan obat dan air putih hangat di nampan yang di bawanya.


"Saya tidak bisa meminum obat itu," tolak Devano yang memang dari dulu sangat tak menyukai bau dari obat dokter.


"Tapi bapak harus meminum obat ini supaya cepat sembuh." Suster itu memaksa Devano untuk meminum obat yang di bawanya.

__ADS_1


"Kalau saya bilang tidak bisa itu artinya benar benar tidak bisa!!" bentak Devano yang sudah mulai mual dan pusing karena bau obat yang di sodorkan Suster itu.


"Tapi pak, ini perintah dari dokter yang menangani bapak, kalau bapak tidak bisa, saya akan membantu bapak meminum obat ini, bagaimana?" bujuk suster tersebut secara halus.


"Tetap saya tidak bisa meminum obat itu, titik! Hanya ada satu orang yang bisa membantu saya meminum obat itu."


"Siapa pak? Katakan saja siapa orang yang bisa membantu bapak itu?"


"Aisyah, mantan istri saya," jawab Devano seraya menutupi hidungnya karena mual dan pusing dengan bau obat tersebut.


"Baiklah, saya akan menghubungi nomor Bu Aisyah. Beruntung waktu itu, dia menulis nomernya di daftar contact resepsionis kami," ujar Suster tersebut sebelum akhirnya pergi keluar kamar rawat Devano untuk menghubungi nomor Aisyah.


Namun beberapa menit kemudian yang datang bukanlah Aisyah, melainkan Rifa. Dengan perasaan kecewa Devano langsung membelakangi Rifa dan memilih untuk memejamkan matanya tanpa peduli jika sikapnya akan menyinggung perasaan Rifa.


"Kamu itu manja banget ya? Minum obat aja sampai harus manggil mantan istri kamu itu? Kenapa kamu gak panggil aku aja coba? Aku stand by dua puluh empat jam di depan cuma buat kamu lho, Dev!" Rifa mengatakannya dengan nada sinis.


"Udah berapa kali aku bilang, yang aku butuhkan itu hanya Aisyah, bukan kamu atau yang lainnya! Mulai sekarang gak usah dateng ke Rumah sakit ini lagi kalau tujuan kamu itu adalah aku,"


"Devan, kamu gak bisa bilang seperti itu ke aku! Aku mencint...."


"KELUAR! AKU GAK MAU LIAT WAJAH KAMU LAGI!" Kesabaran Devano habis, pria itu berteriak mengusir Rifa dari kamar rawatnya.


Bertepatan dengan itu, Aisyah muncul di ambang pintu dan melihat apa yang terjadi.


Bersambung....


Gimana perasaan kalian setelah baca part ini?


Deg degan? Bahagia? Penasaran?


Pokoknya apapun yang kalian rasain, tolong ceritain ke aku lewat komentar yah. Soalnya aku penasaran banget.😊👌🥰😉


Oh iya jangan lupa :


-LIKE 👍


-KOMENTAR 📝


-VOTE CERITA INI ❤️


-KASIH BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐


-FOLLOW PROFILKU 🙏

__ADS_1


Kamsamida....🥰🥰🥰


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.😊😊😊


__ADS_2