
Aisyah POV.
Studio DSL Beauty art di penuhi pengunjung dan tamu undangan yang berminat menyaksikan acara fashion show produk dress dan gaun terbaru keluaran DSL Beauty style.
Satu persatu brand ambassador mulai berjalan di atas red karpet sambil memamerkan keindahan dress dan gaun yang mereka pakai.
Sementara fotografer seperti aku, Avila, dan Robbie, sibuk memotret dan meliput acara fashion show tersebut bersama para kameramen yang sudah berdatangan dari Jakarta.
Saat aku tengah fokus mengarahkan kamera SLR milikku ke arah para bintang fashion, secara tak terduga aku melihat Rifa berjalan dengan elegan di atas red karpet di hadapanku. Sontak saja hal itu membuat aku terkejut dan langsung mengamatinya untuk memastikan kalau itu memang benar benar Rifa Sherina, sang star model yang pernah memfitnahku dengan sangat kejamnya.
"Syah, lihat deh, kenapa wanita itu bisa ada di barisan model studio kita, sih?"
Rupanya Avila juga melihat Rifa dan merasa heran dengan keberadaan Rifa di sini sebab wanita itu memang bukan termasuk brand ambassador dari DSL Beauty style.
"Aku juga heran Vi," bisik ku di telinga Avila.
"Entar kelar acara, kita mesti nemuin Oppa Lee buat nanyain soal dia," kata Avila yang balik membisiki ku.
*****
Selesai acara fashion show tersebut, aku pergi ke toilet untuk buang air kecil sekaligus mengambil air wudhu sebab sebentar lagi Adzan sholat dhuhur berkumandang.
Aku memasuki kamar mandi, lalu berkaca sebentar di cermin wastafel sebelum akhirnya masuk ke dalam salah satu bilik toilet yang kosong.
Setelah aku selesai buang air kecil dan berwudhu, aku berkaca lagi untuk membereskan riasan wajahku karena setelah dhuhur, aku mendapat job pemotretan bersama model-model yang melakukan fashion show tadi.
Aku mengambil lipcream nude di dompetku lalu mengoleskannya ke bibir agar tidak pucat, tapi sebelum kegiatanku selesai tiba tiba ada yang menyerobot lipcream nude milikku dari genggaman tanganku.
Tadinya aku mengira kalau yang merebut lipcream ku ialah Avila, namun rupanya aku salah karena kali ini yang merebut lipcream ku adalah Rifa.
"Hai, apa kabar?"
"Udah lama ya kita gak ketemu," ujar Rifa seraya menatapku dengan senyuman smirk di bibirnya.
Aku menghela nafas sebelum menghadap ke arahnya. "Alhamdulillah baik," balasku seraya balik menatapnya dan merebut lipcream ku yang ada di tangannya.
"Wow, hebat kamu ya, setelah banyak kejadian buruk yang menimpa, kamu masih bisa bilang kalau keadaan kamu baik baik aja," katanya yang membuatku memalingkan wajah dan bersiap untuk keluar dari kamar mandi. Jujur saja aku melakukan ini bukan karena aku takut menghadapinya, melainkan karena aku sudah tak ingin membahas masa lalu yang pada ujungnya pasti melukai hatiku.
"Kamu bisa santai dan tenang di sini, sementara di Rumah sakit sana, Devano terus memanggil manggil nama kamu dan anak kamu itu dengan gelisah! bahkan sampai dia tak mau sadar dari komanya!" teriakan Rifa yang penuh nada prustasi itu seketika menghentikan kakiku yang sedang melangkah keluar dari kamar mandi.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanyaku seraya membalikkan badan dan menatapnya dengan nanar.
"Kamu...harus membantu Devano untuk sadar dari komanya," jawab Rifa dengan wajah yang memerah seperti menahan sesak di dadanya.
"Tapi bukankah selama empat tahun ini Devano selalu aman bersamamu? Mestinya sekarang pun kamu dapat menanganinya tanpa memerlukan campur tanganku," pungkas ku yang membuat Rifa menatapku dengan begitu sinis.
__ADS_1
"Dulu Devano masih mencintaiku, maka dari itu dia tak pernah menyebut namamu seperti yang terjadi sekarang i---"
"Tapi maaf, aku tak punya waktu," potongku yang kemudian bergegas membuka pintu kamar mandi itu sambil menahan sesak di hatiku.
"Aisyah! Jangan pergi dulu, aku belum selesai bicara! Asal kamu tahu ya, hanya kamu yang bisa membantu Devano untuk sadar dari koma-nya! Andai saja aku bisa, aku akan melakukannya tanpa meminta bantuan dari kamu seperti ini!" teriak Rifa ketika aku sudah keluar dari kamar mandi.
Bohong jika aku tidak terguncang mendengar kabar Devano yang masih koma tersebut, tapi bagaimana lagi? Aku sudah berjanji untuk melupakannya, itu artinya aku tidak boleh lagi menemui serta memperdulikannya.
"Kenapa semuanya jadi serumit ini?" tanyaku sambil mengusap air mataku dengan kasar.
*****
"Aisyah...."
"Aisyah...."
"SYAH!" teriak Avila tepat di telingaku.
"Ehh, iya Vi, ada apa?" tanyaku terkejut.
"Kamu ngelamun terus deh, pasti kepikiran soal wanita yang waktu di fashion show itu, iyakan?" tebak Avila yang memang benar nyatanya.
"Iya Vi, tadi dhuhur aku ketemu sama dia di kamar mandi," ungkap ku yang langsung membuat Avila menatapku dengan cemas.
"Kamu di apain sama dia? Kasih tahu aku, dia ngomong apa ke kamu, ceritain ke aku, dia gak macem macem ka---"
Saat ini aku tidak bisa berbohong kalau aku mulai mengkhawatirkan Devano.
"Syah, apakah kamu masih peduli di saat Devano bukan siapa-siapa kamu lagi?" tanya Avila yang membuatku menunduk sebab bingung ingin menjawab apa.
"Adakalanya kita harus mengalah dan mencoba berdamai dengan ego kita. Mungkin dulu, Devano memang sudah banyak banget menaruh luka di hati kamu, tapi pria itu sudah menyesalinya, dan sekarang, apa salahnya kamu membantu dia bangun dari alam bawah sadarnya, iyakan?" ujar Avila menasehati ku.
"Tapi apakah setelahnya hatiku akan tetap baik baik aja?" tanyaku penuh keraguan.
"Aku gak bisa memastikan itu, Syah." jawab Avila sambil menatapku.
"Huft, baiklah, aku akan mencoba membantu Devano sadar, dan aku melakukan ini karena murni aku kasihan terhadapnya, bukan karena apapun," kataku yang telah membuat keputusan untuk mencoba membantu Devano pulih dari komanya.
Meskipun sebenarnya rasa ragu dan takut memperingatiku untuk tak peduli lagi dengan apapun yang terjadi kepada Devano.
*****
Malam harinya secara tiba tiba aku berubah pikiran, aku memutuskan untuk tidak peduli lagi kepada Devano, karena jika aku kembali menemuinya, akan ada banyak hal yang bisa membuatku tersakiti lagi setelahnya.
Tetapi setelah aku tertidur aku melihat Dasha berdiri di depanku sambil menggandeng tangan Devano yang berdiri di sebelahnya.
__ADS_1
"Umi, akhirnya aku bertemu Abi...dan ternyata Abi sangat tampan dan baik hati, kalau dulu aku kenalin Abi ke teman-temanku, mungkin mereka akan merasa iri kemudian berhenti mengejekku tak punya ayah, benarkan Umi?"
"Aisyah, aku ingin bersama Dasha, aku ingin menghabiskan waktu dengannya, menebus semua waktu yang hilang semenjak dia terlahir ke dunia." Lidahku tercekat mendengar suara Devano yang seolah ingin pamit kepadaku itu.
"Dasha tidak setuju Abi, bukan karena Dasha tidak ingin bersama Abi, hanya saja Dasha lebih ingin Abi kembali dan menemani Umi,"
"Tapi Abi terlalu buruk buat Umi nak, jadi biarin Abi ikut sama kamu aja ya...."
"JANGAN!!"
Huh huh huh....
"Aisyah?! Kamu kenapa?" Aku melihat Avi menatapku dengan khawatir.
"Kamu mimpi buruk?" tanya Avila yang hanya ku angguki.
"Ini minum air putih," kata Avila sembari menyodorkan segelas air putih yang tadinya di letakkan di meja nakas samping tempat tidur.
"Makasih Vi," ucapku setelah meminum air putih tersebut.
"Udah merasa lebih baik?" tanya Avila.
"Huft...udah," gumamku seraya kembali merebahkan kepalaku di atas bantal.
"Besok aku mau izin sama Lee untuk pulang lebih cepat," lirihku yang masih dibayang-bayangi mimpi tadi.
Bersambung....
Gimana perasaan kalian setelah baca part ini?
Mohon tulis di kolom komentar yah.😊📝😊
Seneng, sedih, penasaran, pokoknya ungkapin dengan kata-kata kalian, oke?😊😊❤️❤️
Jangan lupa untuk selalu support aku dengan :
-LIKE 👍
-KOMENTAR 📝
-VOTE CERITA INI ❤️
-TEKAN BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐
-DAN FOLLOW PROFILKU 🙏😊😊
__ADS_1
Makasih banyak ya, makasih buat kalian yang selalu setia membaca cerita ini....🥰🥰😍😍😻😻😘😘
Terimakasih atas partisipasinya, sampai jumpa, Assalamualaikum....😉😍😍🤩