Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 62 | Kecurigaan


__ADS_3

Dua orang wanita cantik berbeda generasi bertemu di roof top hotel bintang lima untuk makan malam sekaligus melepas rindu. Mereka berdua tak lain adalah Nyonya Lee Ni Na dan Georgina Alessandra.


"Oh my god, Gigie! Tante itu kangen sekali sama kamu, tadinya kalau kamu belum kembali juga ke Indonesia sampai akhir tahun ini, tante rencananya mau nyusul kamu ke Rusia lho," ujar Nyonya Lee Ni Na selesai cipika-cipiki dengan Georgina.


"Ya tuhan! Tante, aku juga kangen sekali sama tante, udah lama aku itu pengen pulang ke Indonesia tapi jadwal aku di sana selalu padat dan tidak bisa ditinggalkan begitu saja," balas Georgina sambil mengelus punggung tangan Nyonya Lee Ni Na dengan tatapan manja.


"Tapi syukurlah sekarang kamu sudah bisa pulang ke Indonesia dan bertemu tante di sini, ya." Nyonya Lee Ni Na menggenggam tangan Georgina yang mengelus lembut tangannya.


Georgina tersenyum manis sembari menganggukkan kepalanya.


"Tante mau pesan apa?" tanya Georgina ketika seorang pelayan mendatangi meja mereka.


"Steak dan Sampanye sepertinya enak di nikmati bersama kamu," jawab Nyonya Lee Ni Na sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Haha, dari dulu sampai sekarang tante memang selalu pandai menentukan makanan dan minuman yang istimewa," puji Georgina yang membuat Nyonya Lee Ni Na tersipu-sipu.


"Kamu ini bisa saja deh," balas Nyonya Lee Ni Na yang sangat suka bila mendapat pujian.


"Oh iya, Gie... Sebenarnya, sebelum ke sini tante itu sudah mengajak David untuk ikut makan malam bersama kita, tapi dia malah menolak dengan alasan masih banyak pekerjaan yang belum diselesaikan," ungkap Nyonya Lee Ni Na dengan wajah merasa bersalah.


"Tidak papa, tante. Aku bisa memakluminya, lagi pula dua hari yang lalu aku sudah bertemu secara langsung dengan David."


"Ooh, berarti kamu lebih dulu bertemu David daripada tante?"


"Iya, tante."


"Tapi waktu aku bertemu David, aku rasa dia sudah banyak berubah terutama dari segi sikapnya," ungkap Georgina dengan raut sedih.


"Dia sangat dingin dan tidak peduli kepada ku, pedahal dulunya dia sangat mencintaiku, apa dia begitu karena aku pernah meninggalkannya?" Mata Georgina mulai berkaca-kaca dan sebentar lagi dia pasti menangis.


"Hiks, hiks, pedahal aku meninggalkannya bukan tanpa alasan. Waktu itu aku hanya ingin menggapai cita-cita ku dan membuatnya bangga karena memiliki ku tapi sekarang aku malah kehilangannya, hiks." Georgina mengungkapkan kesedihannya sambil menangis sesenggukan di hadapan Nyonya Lee Ni Na.


"Anak itu benar-benar keterlaluan! Aku tak mengira dia akan sampai hati membuatmu menangis sesedih ini," ucap Nyonya Lee Ni Na sambil mengusap air mata Georgina dengan gerakan lembut.


"Oh sayangku, jangan menangis lagi, oke?"


"Bagaimana bisa aku berhenti menangis, tante. Hatiku sakit mendapat penolakan dari David. Ditambah lagi sekarang David mencintai wanita lain yang derajatnya jauh di bawahku, ini seperti sebuah penghinaan, tante." Georgina berusaha memanas-manasi Nyonya Lee Ni Na agar wanita paruh baya yang punya selera tinggi itu semakin membenci wanita pilihan putranya.


"Huh, David pasti sudah dibutakan oleh perempuan janda itu sehingga dia tega mencampakkan kamu seperti ini."


"Tapi kamu tenang saja, Gie. Tante tidak akan membiarkan David dan perempuan janda itu semakin dekat. Malam ini tante sudah menyuruh orang untuk mengancam janda itu agar menjauh dari David," ujar Nyonya Lee Ni Na yang jauh sebelumnya sudah mempunyai rencana sendiri.

__ADS_1


"Hiks, hiks, terimakasih sudah membelaku tante. Aku senang tante bisa mengerti apa yang aku rasakan," sahut Georgina sambil mengelus punggung tangan Nyonya Lee Ni Na.


"Gigie sayang, kamu itu sudah seperti putri tante sendiri, jadi jika kamu terluka dan merasa terhina, tante juga akan merasakan sakitnya. Oleh karena itu, tante harus bertindak untuk membela dan melindungi kamu," ungkap Nyonya Lee Ni Na sambil menatap Georgina dengan tatapan lembutnya yang menghanyutkan.


*****


Malam ini Aisyah memutuskan untuk menginap di rumah sakit sebab dia ingin tahu perkembangan kondisi Devano setelah pria itu di operasi.


Tak pernah Aisyah duga peristiwa dimana ia menemani Devano di rumah sakit waktu itu, sekaran terulang kembali bagaikan kaset bekas yang masih bisa di putar lagi.


Tak hejak dulu Aisyah dan Devano selalu mengalami hal seperti ini, dimana mereka dipertemukan dan dipisahkan berulang kali di waktu dan tempat yang hampir sama.


Namun Aisyah benar-benar tak ingin berpisah dengan Devano di rumah sakit sebab mungkin saja ia tidak akan bertemu lagi dengan Devano untuk selama-lamanya.


"Astaghfirullahaladziim," ucap Aisyah saat dirinya dikuasai pikiran negatif.


"Ya Allah, tolong selamatkan Devano, ampunilah segala kekhilafannya dan berilah ia kesempatan untuk memperbaiki hidup serta amal ibadahnya." Aisyah memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT yang Maha berkuasa di atas segalanya.


Tak lama kemudian seorang Dokter menghampiri Aisyah dan mengajaknya ke ruangan untuk membicarakan soal kondisi Devano setelah prosedur operasi dijalankan.


"Begini, Mbak Aisyah. Sepertinya, tusukan di punggung pasien sangat bertenaga hingga membuat sebagian tulangnya retak. Untungnya kami pihak medis berhasil menjalankan operasinya dengan baik. Insyaallah, pasien akan secepatnya sadar dan akan segera kami pindahkan ke ruang perawatan."


Aisyah yang baru saja menyimak penjelasan dari Dokter tersebut langsung menggumamkan kalimat syukur berkali-kali.


"Dan terimakasih juga atas kerja kerasnya, Dok."


"Sama-sama, Mbak. Menyelamatkan pasien sudah merupakan tugas dan kewajiban bagi saya."


Setelah perbincangan dengan Dokter tersebut selesai, Aisyah pergi ke kamar ICU untuk melihat sendiri keadaan Devano dan sesampainya di sana Aisyah malah dibuat terkejut saat menjumpai Devano yang ternyata sudah sadar.


Bahkan Devano tersenyum lebar ketika Aisyah berjalan menghampirinya dan duduk di kursi samping kanan blankarnya.


"Alhamdulillah kamu sudah sadar. Aku jadi merasa sedikit lega," kata Aisyah sambil memandang wajah Devano yang masih pucat. Maklum, kondisi tubuh pria itu belum membaik sepenuhnya.


"Apa kamu tidak mau pulang dulu untuk mengganti pakaian dan istirahat?" tanya Devano.


Aisyah menunduk mengamati penampilannya yang berantakan dari ujung sepatu hingga ujung hijabnya yang masih ada bekas darah milik Devano.


"Hubungi Lee, suruh pria itu ke sini dan mengantar kamu pulang. Aku tidak akan tenang jika kamu pulang sendirian lagi, Aisyah." Devano memberi saran agar Aisyah pulang dengan aman.


"Apa kamu tidak papa jika di tinggalkan sendirian?" tanya Aisyah ragu.

__ADS_1


Devano tersenyum simpul lalu mendongak menatap wajah Aisyah dengan tatapan yang sulit diartikan. "Bila ada apa-apa denganku, aku bisa memanggil Dokter. Jadi jangan khawatir, lagi pula meskipun malam hari rumah sakit ini tidak pernah sepi," ucapnya meyakinkan.


Aisyah menghela nafas panjang lalu mengangguk. "Baiklah aku akan menghubungi Lee untuk menjemput ku di sini sekaligus mengantarku pulang," sahutnya.


"Aisyah, Lee memang sosok pria yang baik, lembut, penyayang serta bertanggung jawab. Namun jika suatu hari nanti kamu menikah dengannya, kamu harus senantiasa waspada sebab meraka yang ada disekitar Lee kemungkinan bukanlah orang-orang yang baik," ujar Devano mengalihkan perhatian Aisyah yang sedang mencharger ponselnya untuk menghubungi Lee.


"Maksud kamu penjahat yang tadi itu adalah orang yang disuruh keluarga Lee untuk mencelakaiku? begitu?" tanya Aisyah dengan kerutan samar di dahinya.


"Ya, bisa jadi seperti itu," jawab Devano dengan tenang.


Sedangkan Aisyah menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Aku tidak menyangka kamu menuduh mereka yang menyayangiku seperti menyayangi keluarga mereka sendiri dengan tuduhan sejahat itu, Dev."


Devano terkekeh pelan. "Terserah kamu mau percaya atau tidak, lagipula aku juga baru menduga dan belum memastikannya," gumam Devano sambil memejamkan matanya yang mulai mengantuk.


"Terkadang orang jahat sering terlihat seperti orang baik dan orang baik bisa saja terlihat seperti orang jahat. Maka tidak ada salahnya untuk kita waspada dan selalu hati-hati terhadap siapapun di sekeliling kita," ujar Devano yang kemudian tertidur pulas karena sebelumnya suster sudah menyutikkan obat penenang di kantong infusnya.


Bersambung....


Gimana perasaan kalian setelah baca part ini?


Seru apa biasa aja?πŸ€—πŸ˜β˜ΊοΈ


Oh iya yang suka bosen pas lagi nunggu novel ini update, mana cung?πŸ™‹


Supaya gak bosen aku sarankan kalian mampir ke Novel ku yang judulnya 'Love Under The Snow'. Di jamin mood kalian akan membaik seketika.πŸ€—πŸ₯°πŸ˜πŸ₯°πŸ€—πŸ˜


Jangan lupa untuk selalu support juga dengan cara seperti biasa yaitu :


1. Like πŸ‘


2. Komentar πŸ“


3. Vote novel ini ❀️


4. Share ke teman-teman kalian βž‘οΈπŸ§•


5. Dan follow profil aku 😘


Bye, Assalamualaikum.


Sampai jumpa di next part.

__ADS_1


Β 


Instagram : asyiahmuzakir


__ADS_2