
Selagi masih punya waktu Devano menghubungi Tubagus dan meminta bantuan kepada temannya itu untuk mengantarnya ke rumah Aisyah. Namun di tengah perjalanan mobil milik Tubagus tiba-tiba saja mogok, akhirnya mau tak mau Devano harus turun dari mobil dan menjalankan kursi rodanya sendiri menuju rumah Aisyah yang berjarak seratus meter lagi.
Tubagus sempat melarang Devano untuk pergi sendirian, tapi Devano tak menggubrisnya, pria itu bersikeras menjalankan kursi roda dengan tangannya sendiri.
Dia malah meminta Tubagus agar tetap di mobil menunggu montir yang akan memperbaikinya.
Dengan mengerahkan seluruh tenaga Devano akhirnya sampai di depan rumah Aisyah. Namun untuk mencapai pintu Devano harus naik tangga, sedangkan dia tak mungkin bisa meninggalkan kursi rodanya.
"Bagaimana ini?" pikir Devano sambil menyeka keringat dingin di dahinya.
"Ah, aku pasti bisa," ujarnya menyemangati dirinya sendiri.
Kemudian dengan perlahan Devano bangkit dari kursi roda dan mencoba berjalan namun baru selangkah dia langsung terjerembab karena kaki kirinya begitu nyeri ketika di gerakkan.
"Arghh ssh." Devano merintih sambil memegangi kakinya yang terasa nyeri.
******
Aisyah POV.
Siapa sih yang datang malam malam begini?
Aku bertanya-tanya dalam hati sambil berjalan ke luar kamar menuju ruang tamu untuk membuka pintu.
Dan alangkah terkejutnya aku ketika mendapati Devano duduk di tangga depan rumahku sambil memegangi sebelah kakinya dengan raut kesakitan.Tanpa pikir panjang aku langsung menghampirinya.
"Biar aku bantu," ujarku ketika Devano mencoba bangkit dari duduknya.
Aku menuntun Devano ke kursi panjang yang ada di sebelah pintu rumahku. "Apa kamu baik baik aja?" tanyaku khawatir.
Devano mengangguk lalu tiba-tiba dia menangis dan itu membuatku bingung. "Pasti sakit ya?" Tanyaku sambil menatap kakinya yang tampak kaku.
Devano menggelengkan kepalanya lalu menatapku dengan linangan air mata, seketika hatiku mendadak sesak. Tatapan itu sama seperti tatapan waktu dia kehilangan ibunya.
"Kalau kamu mau cerita, silahkan... Aku masih bisa menjadi pendengar yang baik untuk kamu," ucapku sembari duduk di sebelahnya.
"Aku gagal Aisyah," ungkap Devano di iringi air mata yang jatuh ke rahang tegasnya.
"Aku gagal menjadi orang yang berguna, kini aku hanya seorang pecundang, Aisyah." Devano mengungkapkan kekacauan hatinya sambil menundukkan wajah mungkin karena dia tak mau aku melihat air matanya.
"Aku di berhentikan dari dunia Kemiliteran, dunia yang sudah menguatkan aku selama ini, sekarang apa yang harus aku lakukan, masih bisakah aku melanjutkan hidup dengan keadaanku yang seperti ini?" ungkap Devano dengan suara parau yang membuat hatiku berdenyut sakit.
"Masih banyak yang bisa kamu lakukan Dev, aku mohon jangan putus asa, semua orang di dunia ini juga pernah ada di fase kegagalan seperti yang kamu alami sekarang, tapi mereka kuat lalu bangkit dan kamu pun harus seperti mereka, Dev. Kamu harus bangun dan menormalkan kembali kehidupan kamu seperti yang kamu inginkan." ujarku memberinya pencerahan.
"Kamu harus tegar dan semangat, apalagi kamu masih punya misi mengungkap kebenaran tentang putri kita, iyakan?" lanjutku.
__ADS_1
Devano mengangguk lalu tersenyum sekilas. Aku harap ini terakhir kalinya aku melihat dia menangis. Aku harap setelah ini dia akan mendapatkan kehidupan yang sesuai dengan yang dia inginkan.
"Aku akan berusaha tegar demi misi kita Aisyah, aku akan berjuang dengan sisa kekuatan yang aku punya untuk mengungkap kebenaran tentang Dasha," ujar Devano yang membuatku tersenyum di iringi air mata yang mengalir ke pipiku.
Kemudian Devano memperlihatkan selembar foto Dasha bersama temannya yang sedang bermain ayunan kepadaku dan aku menyentuh foto itu dengan tangan gemetar.
"Maafkan Umi dan Abi ya sayang, kami belum bisa mengungkap tentang apa yang sebenarnya terjadi sama kamu," ujar ku parau.
Devano menahan isakannya lalu menatapku cukup lama. "Kamu pasti tahu siapa nama anak yang bersama Dasha di foto ini, iyakan?" tanya Devano serius.
Aku mengangguk. "Dia Viona, teman Dasha yang tinggal di panti asuhan," jawabku jujur.
"Menurutku muka dan perawakannya mirip dengan Dasha," Devano mengungkapkan pendapatnya.
"Ya, memang kebetulan Dasha dan Viona terlahir memiliki banyak kemiripan, bahkan orang-orang sampai mengira kalau mereka berdua itu adalah anak kembar, pedahal nyatanya Viona setahun lebih tua dari Dasha."
"Viona bukan anak kita kan?" Entah darimana Devano menemukan pertanyaan konyol itu.
"Tentu saja bukan, anak kita cuma Dasha satu satunya, tapi aku juga menyayangi Viona seperti aku menyayangi Dasha," jelas ku.
"Lalu sekarang anak itu dimana? Apa masih tinggal di panti asuhan?" tanya Devano yang sepertinya penasaran dengan sosok Viona.
"Aku tidak tahu sekarang Viona dimana sebab sejak meninggalnya Dasha, pihak panti asuhan bilang kalau dia di adopsi oleh keluarga kaya," terang ku.
"Dan kamu yakin kalau pihak panti asuhan itu tidak membohongi kamu?" tanya Devano yang menimbulkan kerutan bingung di dahi ku.
"Ya, feeling ku mengatakan bahwa pihak panti asuhan telah membohongi kamu dengan mengatakan kalau Viona di adopsi pedahal dialah yang kecelakaan dan meninggal," ujar Devano mengungkapkan teorinya.
"Berarti ada kemungkinan Dasha masih hidup?"
tanya ku yang di balas anggukan mantap Devano.
"Ya Allah semoga saja benar Dasha putriku masih hidup," ucapku penuh harap.
"Aamiin," timpal Devano.
"Tapi... Kenapa kamu yakin banget kalau putri kita masih hidup?" tanya ku.
Devano mengeluarkan lipatan kertas menyerupai koran dari saku bajunya lalu memberikan kertas itu kepadaku.
"Koran yang gagal di terbitkan inilah yang membuatku yakin kalau kecelakaan itu menewaskan Viona, bukan Dasha putri kita," pungkas Devano.
Sontak aku pun langsung membaca artikel dalam koran tersebut dan saat itu juga air mataku jatuh, entah harus lega atau malah sedih. "Disini tertulis kalau anak kecil korban kecelakaan itu bernama Viona."
"Lalu kemana perginya Dasha?" tanyaku yang di balas gelengan oleh Devano.
__ADS_1
"Aku punya firasat kalau Rifa telah menyembunyikan Dasha selama ini."
"Tapi kita tidak punya bukti yang cukup untuk menuduh Rifa," sela ku.
"Aku akan mendapatkan buktinya, Aisyah. Kebetulan sekali beberapa waktu yang lalu Rifa memberiku penawaran, dia akan membawaku terapi di Korea asalkan aku mau tinggal bersamanya."
"Dan kali ini aku akan memanfaatkan dia, aku akan mengorek informasi tentangnya lalu setelah aku mendapatkan semua buktinya, aku akan menjebloskannya ke penjara," ujar Devano sambil mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.
"Tapi apa kamu bisa menjalankan rencana itu sendirian?" tanya ku ragu.
"Tidak, tentu saja tidak sendirian, untuk menghadapi seorang wanita licik semacam Rifa aku membutuhkan kerjasama banyak orang, termasuk kamu."
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Beri aku tugas, Kapten," kata ku yang membuat Devano menoleh lalu tersenyum sekilas.
"Tugas kamu cukup jaga diri dan jaga kesehatan, setelah aku pergi pastikan diri kamu selalu aman, kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu, aku akan memberi kamu hukuman, mengerti?"
Aku menatap Devano lalu tersenyum, rupanya dia benar benar kembali seperti Devano yang dulu sebelum bertemu dengan Rifa.
"Siap Kapten! Aku akan berusaha menjalankan tugasku dengan baik," sahutku yang membuat dia tersenyum ke arahku.
Bersambung....
Gimana menurut kalian part ini?
Sedih apa seru?
Apapun yang kalian rasain tolong ceritain ke aku lewat komentar yah! Aku pasti baca semuanya.
Oh iya jangan lupa untuk selalu support dengan cara seperti di bawah ini ;
-LIKE 👍
-KOMENTAR 📝
-BAGIKAN KE TEMAN KALIAN ➡️
-VOTE CERITA INI ❤️
-TEKAN BINTANG LIMANYA ⭐⭐⭐⭐⭐
-DAN FOLLOW PROFILKU 🙏😊😍
Oke?
Makasih semuanya, see you soon &
__ADS_1
Assalamualaikum.