
Bismillahirrahmanirrahim....
Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
π¦
Seorang perempuan cantik mendekati dua orang anak kecil yang tengah bermain ayun-ayunan di taman komplek.
"Hai, seru banget nih mainnya," ujar perempuan itu.
"Iya, Tante siapa?" tanya seorang anak kecil yang memiliki rambut kecoklatan.
"Kenalin, nama Tante Rifa, nama kamu Dasha kan?"
"Lho, kok Tante bisa tahu nama aku?" tanya anak itu dengan tatapan polosnya.
"Tahu dong, Tante ini kan temannya ayah kamu," ujar Rifa yang mulai berbohong.
"Maksudnya Abi?"
"Iya, Abi kamu, Devano."
"Tante ada perlu apa?" tanya seorang anak yang ada di samping Dasha.
"Tante mau ngajak Dasha ketemu Abi-nya," jawab Rifa dengan senyum akal-akalan nya.
Mata Dasha langsung berbinar, ia sangat ingin bertemu dengan sang Abi.
"Tapi, Tante Aisyah enggak bolehin Dasha ketemu Abi-nya, Tante."
"Viona! Tapi aku kangen banget sama Abi aku." Dasha langsung protes ketika temannya itu seolah menghalangi dia.
"Ya udah terserah kamu, tapi kamu harus izin dulu ke Umi kamu kalau mau pergi sama Tante ini." Viona yang umurnya setahun lebih tua daripada Dasha sudah bisa menilai orang dan ia menaruh rasa curiga terhadap Rifa.
"Kalau aku izin sama Umi pasti gak akan diizinin, Viona," jawab Dasha lalu menoleh ke arah Rifa yang masih menunggu persetujuannya.
"Tante serius kan mau bawa aku ketemu Abi?" tanya Dasha dengan tatapan penuh harap.
"Iya, Tante serius, cantik. Gimana? Kamu mau kan ikut Tante?"
Dasha melirik Viona yang menggelengkan kepalanya tak setuju.
"Aku mau ikut Tante," jawab Dasha kemudian.
"Jangan Dasha!" larang Viona sambil menarik sebelah tangan Dasha.
"Aku mau ikut Tante Rifa, Aku mau ketemu Abi, Viona. Tolong jangan larang aku. Lagian aku juga bakal balik lagi kok kalau udah ketemu sama Abi," ucap Dasha bersikeras untuk ikut dengan Rifa.
__ADS_1
Entah pelet apa yang digunakan Rifa sehingga anak sepintar Dasha bisa dengan mudah mempercayai ucapannya.
"Ayo Dasha, Tante gendong," ujar Rifa sambil merentangkan tangannya.
Dan Dasha yang masih begitu polos pun mau saja digendong oleh Rifa dan dibawa pergi perempuan licik itu.
"Dasha! Jangan pergi! Izin dulu sama Umi kamu!" teriak Viona seraya mengejar Rifa yang berjalan cepat menggendong Dasha menyebrangi jalan.
Dan sebuah truk tangki lewat tepat ketika Viona menyebrangi jalan. Akibatnya tubuh anak itu tertabrak lalu terlindas habis. Sungguh kematian yang amat tragis untuk anak yatim-piatu semalang Viona.
Rifa segera memasukkan Dasha ke dalam mobil, tak peduli anak itu menangis histeris dan memberontak setelah melihat langsung tubuh temannya tertabrak truk tangki dan remuk bermandikan darah.
"Viona!! Viona!! Hiks, hiks. Tante! Selamatkan Viona!" teriak Dasha sambil memukul keras kaca mobil yang sudah melaju membawanya entah kemana.
"Diam kamu!" bentak Rifa dengan nada tinggi.
Perempuan itu fokus menyetir dan mempercepat laju mobilnya menjauh dari tempat kejadian perkara.
"Tante jahat, Tante mau culik aku kan?"
"Kamu gak bisa diem ya?"
"Soal Abi, Tante juga bohong kan?"
.
Dengan gemetar Dasha memeluk lututnya sendiri, suara tangis masih keluar dari mulutnya namun tidak sekencang tadi.
"Nah, begitu baru anak penurut," ucap Rifa sambil melirik Dasha dari kaca depan dengan sinis.
******
"Kamu tidur di sini ajalah ya," ujar Rifa sambil menurunkan Dasha dari gendongannya dan mendudukkan anak itu di tumpukan karung berisi pupuk kandang.
"Ingat! Jangan kabur kalau kamu gak mau berakhir tragis seperti teman kamu tadi, mengerti?!" ancam Rifa sambil mencengkram kuat bahu mungil milik Dasha sampai anak itu meringis kesakitan.
Kemudian setelah berhasil mengunci Dasha di tempat kumuh yang merupakan gudang penyimpanan pupuk kandang itu, Rifa pun pergi dengan kejamnya tanpa peduli jika Dasha akan mati kelaparan di sana.
Untung pada malam harinya ada orang suruhan Rifa yang datang ke gudang dan kasihan saat melihat Dasha sampai akhirnya orang tersebut nekat mengeluarkan Dasha dari gudang dan membantu anak itu melarikan diri.
"Nak, pergi yang jauh dari tempat ini yah. Masa depan kamu masih panjang, bapak enggak tega lihat kamu terkurung di tempat kotor ini."
"Ayo kita keluar dan pergi dari sini," ujar anak buah Rifa yang baik itu sambil menggendong Dasha keluar dari gudang dan membawanya lari menuju keramaian.
Setelah di depan toko swalayan yang ramai, Dasha di tinggalkan oleh anak buah Rifa yang baik tadi.
"Maaf ya nak, bapak harus meninggalkan kamu di sini, bapak takut ketahuan dan di hukum."
__ADS_1
"Hiks, makasih pak," ucap Dasha sambil sesenggukan.
"Sama-sama, ya sudah selamat tinggal ya, nak. Bapak harap kamu bertemu orang baik."
Setelah itu Dasha menatap ke sekelilingnya dengan raut ketakutan. Tak ada satu orang pun yang dia kenal dari sekian banyak orang yang lewat di depannya.
Anak kecil berumur tiga tahun tujuh bulan itu kebingungan harus kemana, dia tidak tahu jalan pulang ke rumah sang Umi yang sekarang pasti sedang mencarinya dengan cemas.
"Umi... Umi... Dasha takut, Dasha takut, Umi."
Sepasang tangan lembut mengusap air mata Dasha, membuat anak itu terkejut dan langsung mendongak untuk melihat siapa gerangan yang mengusap air matanya.
"Kenapa kamu nangis? Dimana orang tua kamu, sayang?" tanya seorang perempuan cantik bernama Sierra yang tergerak hatinya untuk menolong Dasha.
"Aku abis diculik Tante, aku takut. Hiks, hiks." Dasha mengadu dengan raut ketakutan yang membuat Sierra semakin iba.
"Uss... Usss... Jangan merasa takut lagi ya, sekarang udah ada Tante yang bakal lindungi kamu," ujar Sierra berusaha menenangkan Dasha sambil mengelus rambut kecoklatan milik anak itu dengan gerakan lembut.
"Bawa aku pergi, Tante. Aku takut penculiknya nyusul aku ke sini," rengek Dasha meminta bantuan Sierra untuk membawanya pergi.
Sierra dengan sigap menggendong Dasha dan membawanya pulang ke rumahnya dengan aman menggunakan mobil.
"Kalau Tante boleh tahu, nama kamu siapa?" tanya Sierra sambil melirik Dasha yang duduk di kursi sebelahnya.
"Nama aku Dasha."
"Kalau nama Tante baik siapa?" tanya Dasha sambil menatap Sierra yang sedang menyetir di sebelahnya.
"Nama Tante, Sierra."
"Kamu laper enggak, sayang?" tanya Sierra dengan nada khawatir.
"Laper, dari tadi siang Dasha belum makan sama minum," jawab Dasha sejujurnya.
"Ya Allah, kasihan sekali kamu, sayang. Nanti kalau udah sampai rumah Tante, kamu makan dan minum yang banyak ya," ujar Sierra sambil mengelus rambut Dasha dengan satu tangannya.
Aisyah menangis pilu begitu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada putrinya setahun yang lalu. Dia tak habis pikir kenapa ada perempuan sekejam Rifa di dunia ini yang bahkan tega menyakiti anak seusia putrinya yang belum mengerti apa-apa.
"Maafin Umi nak, Umi gagal menjaga kamu, tapi Umi janji kejadian seperti itu tidak akan terulang lagi, Umi janji, sayang."
Bersambung....
Gimana? Gimana? Tambah benci gak sih sama Rifa?π
Komentar yah, oke?βΊοΈ
Jangan lupa follow profil aku serta follow Instagram @asyiahmuzakir ππ
__ADS_1
Bye, bye. Assalamualaikum.