
Aisyah POV.
Aku menutup pintu rumah setelah Devano di jemput oleh temannya. Malam ini aku akan mulai berubah profesi sebagai detektif, aku akan menggali informasi dari temanku yang pernah bekerja di panti asuhan tempat tinggal Vina dulu.
Namun sialnya nomer temanku itu malah tak bisa di hubungi, mungkin dia sudah mengganti nomernya karena sudah lumayan lama juga kami tidak berkomunikasi lagi.
"Huft, malam ini sepertinya aku belum di izinkan untuk menyelidiki kasus ini," gumamku lalu masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhku di atas kasur.
"Hah! Aku sering melihat film-film bertema detektif, tapi tak pernah membayangkannya terjadi di dunia nyata, rasanya sebentar lagi hidupku akan berubah menegangkan," lanjutku sambil memandangi langit-langit kamar.
"Kedepannya aku pasti berhadapan dengan pengacara, polisi, dan pengadilan...."
"Ya Allah, aku mohon kuatkan mental dan fisikku dalam menyelesaikan masalah ini, Aamiin."
Setelahnya ponsel milikku berdering dan ternyata Lee yang menelpon ku. "Assalamu'alaikum, Aisyah," sapa Lee dengan suara lembutnya.
"Wa'alaikumsalam Lee," sahutku.
"Aku ganggu gak?" tanyanya.
"Enggak kok, memangnya ada apa?" Aku balik menanyainya.
"Emh, sebenarnya aku cuma mau menanyakan sesuatu," jawab Lee yang membuat dahi ku berkerut karena nada suaranya terdengar ragu.
"Silahkan, tanya aja."
"Kamu udah makan malam belum?" tanya Lee yang membuatku hampir tertawa karenanya. Jika hanya itu yang ingin dia tanyakan kenapa dia mesti ragu-ragu seperti tadi?
"Serius nanyain ini doang?" pancingku.
Dan Lee malah mengulang pertanyaannya. "Iya, kamu udah makan malam belum?"
"Belum," jawabku tak bersemangat.
"Kenapa Aisyah?" tanya Lee yang sebentar lagi pasti akan mengomeliku.
"Kamu harus makan, pokoknya harus! Ingat ya, kamu itu punya penyakit maag, jangan abaikan makan, nanti kamu bisa sakit dan aku paling gak bisa lihat kamu sakit, mengerti? Sekarang cepetan makan," omel Lee yang mengingatkanku kepada sosok ayah.
"Di rumah gak ada bahan makanan yang bisa aku masak, kalau misalnya makan di luar keadaannya belum aman terus...." Kalimat ku di potong oleh Lee.
"Aku udah delivery soto ayam kesukaan kamu, mungkin sepuluh menitan lagi kurirnya sampai di depan rumah kamu."
"Makan yang bener abis itu langsung tidur, inget kunci pintunya setelah kurir yang nganter soto itu pergi, oke?"
__ADS_1
"Hem, oke bos, bawel banget sih," sahutku.
"Eh kamu itu ya, aku bawel seperti ini karena aku peduli sama kamu, aku sayang sama kamu," ungkap Lee yang membuatku malu.
"Ya aku tahu, makasih ya," kata ku.
"Jangan bilang makasih, aku bosen. Mendingan ucapin selamat malam buat aku," pinta Lee yang membuatku tersenyum.
"Good night Lee," ucapku.
"Good night too, Aisyah. Setelah makan, tidur yang nyenyak ya," balasnya.
"Kamu juga ya," timpal ku yang membuat dia terkekeh pelan.
"Ya, bye... Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam," balas ku sambil tersenyum.
Pria ini selalu bisa merubah suasana hatiku menjadi ceria, tapi entah kenapa aku masih belum bisa seratus persen mencintainya.
******
Di sepertiga malam Devano yang masih terjaga memutuskan untuk sholat hajat sekaligus sholat tahajud. Kemudian dengan sepenuh hati dia memohon ampunan kepada Allah Subhannahu Wata'ala atas segala dosanya.
Memang sudah sepantasnya sebagai seorang hamba yang benar-benar bertobat Devano semakin rajin mendirikan sholat. Kini dia sudah menyadari bahwa hanya Allah lah yang bisa membantunya dalam menyelesaikan segala urusan, maka sekarang dia berpasrah diri dan memohon pertolongan kepada Allah agar rencananya bisa berjalan dengan mulus dan kebenaran tentang putrinya bisa segera terungkap.
Empat tahun yang lalu setiap Devano lapar di tengah malam seperti ini, Aisyah selalu bersedia memasakkan makanan untuknya, meskipun itu hanya nasi goreng dengan telur ceplok ataupun mie rebus. Tapi sekarang Devano harus memasak sendiri bahkan ketika keadaannya tak bisa berjalan dan hanya mengandalkan kursi roda.
"Aku rindu nasi goreng keasinan yang enak itu Aisyah," gumam Devano sambil mengisi panci yang akan digunakannya dengan air bersih.
"Semenjak kita bercerai aku hobi sekali makan mie instan, sampai sekarang entah sudah berapa banyak MSG yang mengendap di tubuhku." Devano tertawa miris lalu menyalakan kompor dan meletakkan panci yang sudah dia isi air tadi di atasnya.
"Dari sekian banyak mie lezat yang pernah aku makan, hanya mie yang di masak tangan kamulah yang menjadi favoritku," gumam Devano sambil memasukkan mie ke dalam rebusan air yang sudah mendidih.
"Aisyah, jika kamu bersedia rujuk, aku janji tidak akan menyia-nyiakan makanan hasil masakan mu seperti yang dulu pernah aku lakukan," ujar Devano sambil menunggu mie rebusannya matang.
Dan ketika mie nya sudah matang dan siap untuk di makan Devano malah mendapat telfon dari seseorang.
"Halo."
"Halo, apa kamu sudah menemukan alamat orang itu?" tanya Devano.
"Ya pak, saya sudah menemukannya, dan saya sudah mengirim share loc nya ke email bapak," jawab orang itu.
__ADS_1
"Oke, uangnya akan saya transfer," ujar Devano di iringi senyuman smirk yang terukir di bibirnya.
"Terimakasih pak."
"Sama-sama," sahut Devano yang kemudian menutup telfonnya.
Ternyata yang baru saja berbicara dengan Devano lewat telpon itu adalah orang yang pernah bekerja di badan intelejen rahasia. Devano membayar orang itu untuk menyelidiki alamat si pelaku tabrak lari yang diduga menargetkan Aisyah untuk dicelakainya.
"Aku yakin penjahat sebenarnya akan segera tertangkap dan menerima hukumannya di balik jeruji besi," gumam Devano dengan senyuman smirk yang belum luntur di bibirnya.
******
Wanita berwajah oriental itu memutar kursinya ke arah asisten yang bertugas menuangkan wine ke gelas yang ada di genggamannya. Wanita itu adalah Rifa yang dari dulu memiliki kebiasaan minum alkohol ketika suasana hatinya sedang buruk.
"Cepat tuangkan!" pinta Rifa yang mulai mabuk.
"Tidak bisa, nona sudah minum terlalu banyak," sela Jordan, asisten Rifa yang merupakan pria tampan berdarah Irlandia.
Tak peduli dengan perkataan Jordan, Rifa malah mendekatkan gelas yang di pegangnya ke depan muka asisten tampannya itu. "Tuangkan!" teriaknya marah.
"Ba... Baik nona." Dengan berat hati Jordan menuangkan wine nya lagi.
"Hehehe, wine nya sangat manis, tidak seperti hidupku yang hambar tak ada manis manisnya sama sekali," racau Rifa yang kali ini sudah benar-benar mabuk setelah meneguk segelas wine terakhirnya tadi.
Jordan menatap bos cantiknya dengan tatapan nanar, dia tidak habis pikir bagaimana bisa seorang pria seperti Devano bisa memberi pengaruh besar dalam kehidupan bos cantiknya itu.
"Aku mencintaimu, Dev. Di dunia ini tak ada yang benar-benar aku inginkan kecuali dirimu," ungkap Rifa dengan sendu.
Bersambung....
Di part depan aku akan bahas masa lalu Rifa supaya kalian tahu alasan kenapa wanita itu bisa jahat dan terobsesi banget sama Devano.
Jangan lupa untuk selalu support aku lewat cara di bawah ini ;
1. Like 👍
2. Komentar ✏️
3. Vote cerita ini ❤️
4. Tekan bintang limanya ⭐⭐⭐⭐⭐
5. Dan yang terakhir, follow profil aku ya.😊
__ADS_1
Makasih,😍
I love you all and Assalamualaikum.🤩😍😘