
Aisyah POV.
"Kakak kenapa malah diem?" tegur Rian yang sontak membuatku tersadar dari lamunanku.
"Ehh... Iya, maafin kakak yah," sahutku seraya menoleh ke arah Rian.
"Kak Aisyah belum jawab pertanyaan aku lho, soal kenapa kakak antusias banget waktu masak opor itu," kata Rian yang rupanya masih penasaran.
Namun rasanya tak mungkin untuk mengatakan alasan yang sebenarnya kepada Rian. Jadi aku memilih alasan lain yang terkesan sangat lumrah.
"Kakak bisa seantusias itu karena opor merupakan makanan khas lebaran yang paling kakak suka dari kecil," jawabku.
"Ooh ya? Berarti kita se server dong kak. Aku juga suka banget makan opor, apalagi pas momen lebaran," kata Rian yang untungnya langsung percaya dengan apa yang barusan aku katakan.
Tiba-tiba aku di kejutkan oleh ponsel yang berdering dan rupanya setelah di cek itu panggilan dari Lee.
"Halo, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam salam."
"Ada apa, Lee?" tanyaku.
"Emh... Kamu lagi dimana sekarang?" Lee malah balik menanyaiku.
"Aku di rumah Avila, ada apa sih?" tanyaku penasaran. Sebab tumben sekali Lee menghubungiku di hari Minggu seperti ini.
"Gak ada apa-apa, sih," jawab Lee yang membuat aku mengernyitkan dahi karena merasa bingung.
"Lah, terus ngapain kamu telfon aku?" tanyaku heran.
"Aku cuma mau tahu kamu lagi dimana, soalnya aku ke rumah kamu tapi kamu nya gak ada," jawab Lee yang membuat aku kaget. Ngapain Lee sampai dateng ke Rumah buat nyariin aku di hari libur seperti ini, coba?
"Terus sekarang kamu dimana? Udah pulang atau masih di depan rumah aku?" tanyaku.
"Hmm, aku masih di depan rumah kamu nih," jawab Lee yang membuat aku langsung bangkit dari sofa tempatku duduk.
"Ya udah aku pulang sekarang. Wait a minute okay?"
"Oke...," sahut Lee yang kemudian memutuskan sambungan telfonnya.
"Ada apa, Syah?" tanya Avila sambil menatapku dengan penasaran. Pedahal tadi sahabatku yang satu itu sangat fokus dengan game PUBG kesayangannya. Kini giliran aku mau pulang aja dia baru bertanya dan mempause permainannya.
"Aisyah, kamu mau pulang ya?" tanya Avila lagi.
"Iya nih, soalnya Lee udah nungguin di depan rumah aku," jawabku dengan jujur.
"Lho inikan hari libur, ngapain Oppa Lee nyariin kamu?" tanya Avila yang sama herannya denganku.
"Gak tahu tuh, tapi mungkin ada klien dadakan atau masalah kerjaan lainnya yang mau dia diskusikan sama aku," jawabku dengan tak yakin.
"Ooh..ya udah kalo begitu, kamu cepetan temuin Oppa Lee sebelum dia pergi dari rumah kamu," saran Avila yang aku balas dengan anggukan.
"Oke, bye, Assalamualaikum...," ucapku seraya mengambil tasku dan memasukkan ponselku ke dalamnya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Avila sambil tersenyum lalu mengantarku sampai ke depan pintu.
__ADS_1
Namun ketika aku baru keluar dari Rumah Avila, suara Rian terdengar memanggilku.
"Kak Aisyah kok pulang gak bilang-bilang aku sih?" protes Rian sambil menggosok matanya.
"Tadi kan kamu ketiduran, jadinya kakak gak tega dong buat bangunin kamu," jelasku yang membuat Rian tersenyum malu sambil menggaruk tengkuknya.
"Ya udah, kakak pamit pulang dulu yah. Kamu lanjutin lagi tidurnya, bye," kataku sambil melambaikan tangan.
Dan Rian balas melambaikan tangannya seraya tersenyum lebar ke arahku.
Adik Avila itu memang benar benar manis.
*****
Ketika aku tiba di depan Rumah, aku langsung melihat Lee sedang duduk di kursi panjang dekat pohon yang ada di halaman Rumahku. Lantas aku pun menghampirinya dengan berbagai pertanyaan yang memenuhi benakku.
"Hei," sapa Lee sambil memasang senyumannya.
"Ya, hai," balasku.
"Aku mau bicara sama kamu, apa kamu bisa luangkan waktu buat aku?" tanya Lee to the point.
"Tentu aku bisa, tapi jangan di sini," jawabku.
"Gimana kalau di Cafe depan itu?" kata Lee seraya menunjuk Cafe yang berseberangan dengan Rumahku.
"Oke."
Setelahnya Lee berjalan lebih dulu di depanku sedangkan aku mengikutinya dari belakang.
Dan setibanya di dalam Cafe, aku dan Lee duduk berhadapan dan langsung memesan dua milkshake coklat yang akan menemani perbincangan kami.
"Begini Syah, tadi pagi eomma mengajakku ibadah ke gereja bersamanya...."
"Lalu?" tanyaku dengan bingung.
"Aku menolaknya dan dia sangat marah kepadaku," ungkap Lee dengan wajah sedih.
"Lantas apa alasan kamu menolaknya?" tanyaku yang makin penasaran.
"Aku juga bingung, yang jelas hatiku selalu menolak untuk pergi ke gereja," jawab Lee sambil memijat pangkal hidungnya dengan prustasi.
Jujur merasa aku bingung melihat Lee prustasi dan gelisah seperti ini, karena biasanya pria itu selalu santai dan tenang walaupun sedang menghadapi masalah besar sekalipun. Dan sekarang, apa yang telah terjadi kepadanya terutama pada keyakinannya itu?
"Aku kebingungan, Syah. Aku bahkan sampai menangis waktu eomma memaksaku untuk di baptis lagi," ungkap Lee yang mencurahkan kebimbangan hatinya kepadaku.
Dan untuk saat ini aku hanya akan menyimaknya tanpa menyela ataupun bertanya lagi. Karena terkadang orang akan lebih ingin di dengarkan daripada di hakimi.
"Aku ingin mengubah keyakinan ku dan menjadi seorang muslim, tapi bagaimana dengan eomma? Dia pasti marah besar dan tak akan menganggap ku sebagai anaknya lagi." Wajah Lee begitu putus asa ketika mengungkapkan kebimbangannya tersebut.
Tapi sekarang aku yakin kalau Lee sudah benar benar mendapatkan hidayah untuk memeluk Islam, hanya saja dia takut jika sang ibu sampai terluka dan tak mau mengakuinya sebagai anaknya lagi.
Sebenarnya aku ingin sekali menasehati Lee dan memberikan solusi untuknya, Namun aku memutuskan untuk menenangkan pikiran Lee terlebih dahulu dengan cara menyuruh pria itu untuk meminum milkshake coklatnya. Karena menurut artikel yang pernah aku baca, coklat bisa memperbaiki mood seseorang. Dan jika mood atau perasaannya sudah membaik, barulah aku akan memberinya solusi.
"Gimana perasaan kamu saat ini? Udah tenang belum?" tanyaku setelah Lee selesai meminum milkshake coklatnya.
__ADS_1
"Sedikit," gumam Lee dengan wajah yang masih terlihat gelisah.
"Kalau kamu masih gak tenang, aku akan mengajakmu bertemu guruku, mana tahu kamu bisa mendapat solusi darinya. Tapi apa kamu setuju?" usul ku yang langsung membuat mata Lee berbinar penuh harapan.
"Of course aku setuju, Aisyah. Come on, pertemukan aku sama dia," sahut Lee yang setuju dengan usulanku.
Dan setelahnya aku mengajak Lee ke kediaman guru agamaku, Ustadz Harun. Pemilik pesantren Darul Ilmi yang selalu membukakan pintu untuk orang yang ingin berkonsultasi soal ketenangan batin.
Aku berharap Lee bisa mendapatkan solusi dan yakin untuk memeluk Islam sepulang dari sana.
Ketika masih dalam perjalanan menuju kediaman Ustadz Harun, tiba-tiba aku melihat Robbie sedang duduk di bangku bengkel yang terletak di pinggir jalan. Sontak saja aku meminta Lee untuk menghentikan mobilnya.
"Hei Syah... Hai Hyung," sapa Robbie begitu melihat aku dan Lee keluar dari mobil dan menghampirinya.
"Hai," balasku.
"Motornya mogok lagi?" Tanya Lee yang di balas anggukan oleh Robbie.
"Iya Hyung, itu motor kayaknya pengen banget dirongsokin. Masa baru kemaren gue benerin, eh sekarang mogok lagi. Mana gue lagi di suruh Mak gue buat ngirimin uang sama makanan ke adek gue yang di pesantren lagi," adu Robbie yang kini tak bisa menyembunyikan kekesalan di wajahnya.
"Kamu ikut bareng kita aja, kebetulan kita juga mau ke pesantren, iyakan Syah?"
"Iya, bener kata Lee. Masalah motor kamu kan bisa titipin dulu di bengkel ini kalo misalnya udah selesai di perbaiki baru kamu ambil, iyakan?"
"Ya udah kalo gitu, gue setuju," jawab Robbie yang membuat aku dan Lee tersenyum.
Lalu kami bertiga masuk ke dalam mobil Lee, aku memilih duduk di kursi belakang sedangkan Robbie dan Lee duduk di kursi depan.
"Memangnya Hyung Lee mau apa ke pesantren?" tanya Robbie penasaran sekaligus heran sebab dia tahu kalau Lee adalah pria non muslim.
"Mau mencari ketenangan," jawab Lee dengan singkat.
Dan aku tersenyum mendengar jawaban Lee tersebut. Dalam hati aku berdoa semoga pintu hidayah semakin terbuka lebar di hati Lee sehingga pria itu yakin untuk memeluk islam dan menjadi seorang mualaf.
CONTINUED... β€οΈ
Gimana perasaan kalian setelah baca Part ini?
Seneng atau penasaran?ππ
Oh iya, tahun baru jangan kemana-mana ya. Tetap di rumah untuk stay health.π‘π‘
Spesial hari pertama di tahun 2021 aku akan update lagi setelah part ini. πππππ₯°π₯°
Jangan lupa untuk selalu jaga kesehatan ya readers ku tercinta.π₯°πβΊοΈ
Jangan lupa untuk selalu :
-LIKE π
-KOMENTAR π
-VOTE CERITA INI β€οΈ
-TEKAN BINTANG LIMA βββββ
__ADS_1
-DAN FOLLOW PROFILKU ππ
Makasih..β€οΈβ€οΈ