
Bismillahirrahmanirrahim....
Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
🌷
Dasha menghentak-hentakkan kakinya di atas batuan kerikil di pinggir jalan, kedua tangannya mengepal kuat, ekspresi marah di wajah cantiknya sudah tak tertolong. Telah lebih dari satu jam Dasha menunggu jemputan Alvan, tapi sampai sekarang adiknya itu belum juga kelihatan batang hidungnya.
Langit yang semula biru mulai menghitam, Dasha merogoh ponselnya lalu melihat ramalan cuaca siang ini. "Yah! Mau hujan," keluhnya sambil menepuk dahi, antara kesal dan khawatir akan kehujanan.
"Hujan itu rahmat yang harus disyukuri, bukan malah dikeluhkan." Seorang pria tampan bertubuh tinggi tegap yang entah dari mana datangnya berdiri tepat di sebelah Dasha.
Dasha pun menoleh dan terkejut ketika mengenali wajah pria yang tadi menasehatinya. "Eh, pak Hendra, lagi nungguin jemputan juga, pak?" Pria bernama Hendra itu menggelengkan kepalanya. "Saya berdiri di sini mau nawarin kamu tumpangan, kamu mau?" tanyanya yang membuat mulut Dasha ternganga untuk beberapa detik.
"Jadi kamu mau enggak saya anterin pulang?" tawar Hendra yang merupakan Dosen idola Dasha di kampus.
Dasha menelan ludah gugup lalu mengangguk tanpa pikir panjang lagi. "Saya mau pak," jawabnya dengan antusias.
Sedetik kemudian ekspresi senang di wajah Dasha menghilang, digantikan dengan ekspresi lesu saat melihat motor Alvan berhenti tepat di depannya.
"Hai kak, maaf ya, aku telat sedikit jemputnya." Muka Dasha langsung memerah mendengar kalimat yang keluar dari mulut adiknya itu.
"Telat sedikit katamu dek?! Aku ini udah nungguin kamu sejam lho, kemana aja sih?!" omel Dasha melontarkan kemarahan yang sejak tadi dipendamnya. Dasha sampai lupa kalau seharusnya dia jaga image di depan Hendra yang bisa dibilang merupakan Dosen idolanya di Kampus.
"Ya maaf kak, tadi motor aku mogok kehabisan bensin, jadi aku harus jalan kaki dulu ke pom bensin, makanya lama nyampe ke sini nya." Alvan menjelaskan dengan sejujurnya. Namun Dasha tak percaya karena adiknya itu sering membohonginya. Seperti waktu itu, Alvan tidak bisa menjemputnya dengan alasan ban motornya bocor, padahal nyatanya Alvan pergi mengantar Aleena ke toko buku. Dasar!
"Kamu bohong kan, dek?!" tuding Dasha yang dibalas gelengan keras oleh Alvan.
"Kalau dia bohong, kamu mau ngapain? Marahin dia di pinggir jalan seperti ini?" sela Hendra yang terpaksa ikut campur karena melihat Dasha emosi.
Mendapat teguran langsung dari Dosennya membuat Dasha tersadar kalau dirinya telah dikuasai amarah. Ia pun segera beristighfar, meminta ampunan kepada Allah. Kemudian ia menatap Hendra seolah mengatakan terimakasih.
__ADS_1
"Maafin Alvan ya, kak, maaf banget." Dengan mata berkaca-kaca Alvan memohon kepada Dasha agar mau memaafkannya.
"Iya, Alvan, kakak juga minta maaf ya, tadi udah marah-marah sama kamu," ucap Dasha yang mengakui kesalahannya juga.
"Nah, kalau begini kan kelihatannya adem," komentar Hendra.
Alvan menatap wajah Hendra dengan tatapan menyelidik. "Sebelumnya maaf, anda ini siapanya kakak saya, ya?" tanyanya dengan nada posesif.
Hendra tersenyum simpul lalu menjabat tangan Alvan. "Kenalin, saya Mahendra Nufail Zhafran, saya Dosen favorit kakak kamu di kampus, iyakan Dasha?"
"I ... i ... iya bener," sahut Dasha tergagap, pipinya pun memerah tapi kali ini bukan karena marah melainkan karena tersipu malu.
"Pipi kak Dasha blushing, jangan-jangan kak Dasha su...." Kalimat Alvan terputus karena Dasha membungkam mulutnya dengan telapak tangan.
"Pak Hendra, saya sama adik saya pamit pulang dulu ya. Makasih atas tawarannya tadi," ucap Dasha sambil tersenyum sopan.
"Sama-sama, kalian pulangnya hati-hati ya," balas Hendra.
"Bapak juga hati-hati," timpal Alvan setelah mulutnya terlepas dari bungkaman tangan lentik milik kakaknya.
Sepeninggal Hendra, Alvan pun mulai menginterogasi Dasha soal pria itu. "Ngaku deh, kakak suka kan sama om-om itu?" tanya Alvan yang membuat bibir Dasha berkedut menahan tawa. "Om-om siapa?" Dasha balik menanyai Alvan. "Ih, yang tadi itu lho!" jawab Alvan ngegas.
"Maksud kamu pak Mahendra Nufail Zhafran yang umurnya baru 29 tahun dan sholehnya melebihi kamu itu?" kata Dasha sengaja merinci untuk menyindir Alvan.
Lantas Alvan pun jadi merasa bersalah telah menyebut Dosen kakaknya yang masih muda dan super perfect seperti Hendra dengan sebutan om-om.
"Dek, kenapa? Kok diem? Kalau nanyanya enggak jadi, mendingan kita pulang sekarang juga," cetus Dasha seraya mengambil helm yang menggantung di motor Alvan lalu memakainya dengan hati-hati agar pashminanya tidak rusak.
"Ayok dek!" ajak Dasha. Alvan pun mengangguk lalu menunggangi motornya sekaligus menghidupkan mesinnya.
Sedangkan Dasha naik ke atas motor dan duduk di belakang Alvan. "Pegangan kak," pesan Alvan. Tak tanggung-tanggung, dari belakang Dasha memeluk tubuh adiknya itu dengan erat.
__ADS_1
"Aku bilang pegangan, bukan pelukan," protes Alvan.
"Bawel! Ayo cepet jalan, kakak mau cepet-cepet sampe rumah nih," pungkas Dasha yang dibalas anggukan pasrah oleh Alvan.
Sesampainya di rumah, Dasha mencium punggung tangan Umi dan Abi-nya yang sedang asyik bercengkrama di ruang keluarga.
"Assalamualaikum Umi, Assalamualaikum Abi," ucap Dasha.
"Wa'alaikumsalam sayang," jawab Aisyah dan Devano hampir berbarengan.
"Gimana kuliahnya hari ini? Lancar?" tanya Devano dengan tatapan lembut. Dasha menghela nafas panjang lalu duduk di sisi kosong sebelah kiri Abi-nya tersebut. Kemudian Dasha menyandarkan kepalanya di bahu Devano dengan manja.
"Lancar, Abi. Bahkan saking lancarnya, Dasha jadi capek banget, ditambah lagi capek nungguin jemputan Alvan," adu Dasha. Devano mengelus kepala putrinya yang sudah semakin dewasa namun masih tetap manja itu. "Wajar dong sayang, yang namanya kuliah itu ya capek, kalau enggak mau capek ya nikah, enggak usah kuliah lagi," canda Devano.
"Jadi mau tetap kuliah atau nikah?" goda Aisyah. "Ya tetap kuliah lah, Umi," sahut Dasha sambil mencebikkan bibir imutnya.
Aisyah tertawa lalu mengelus pipi Dasha dengan lembut. "Apapun pilihan kamu, Umi sama Abi akan dukung selama itu merupakan hal yang positif," ujar Aisyah.
"Makasih Umi, makasih Abi. Dasha bersyukur banget punya orang tua sepengertian kalian," ungkap Dasha sambil tersenyum manis.
Devano dan Aisyah juga tersenyum. Dalam hati mereka sangat bersyukur memiliki seorang putri yang cerdas dan sholehah seperti Dasha. Dari balita, Dasha tidak pernah membuat Aisyah dan Devano mengeluh karena anak itu sangat cerdas dan mampu melakukan banyak hal seorang diri tanpa bantuan Umi dan Abi-nya.
Saat beranjak dewasa, Dasha banyak mendapat penghargaan baik akademik maupun non akademik, banyak guru-guru yang kagum dengan kecerdasan otaknya.
Saking cerdasnya, Dasha mampu menyelesaikan pendidikan SMA di umurnya yang pada waktu itu baru 14 tahun. Setelah lulus SMA, Dasha belajar agama di pondok pesantren sambil menghafal Al-Qur'an. Dan sekarang ia sedang melanjutkan kuliah S3 nya di Universitas Bina Nusantara.
Tak heran banyak yang mengatakan kalau Dasha adalah anak ajaib yang hadir ditengah retaknya pernikahan kedua orang tuanya pada masa itu.
Bersambung....
Hai, akhirnya aku buat spin off nya. Mungkin bakalan panjang karena ini akan mengupas kisah cintanya Dasha.😊😍💕
__ADS_1
Kalian tertarik? Terus dukung novel ini ya.😊