
Malam ini Devano mendatangi atap gedung SMA nya yang dulu sampai sekarang selalu menjadi tempat ternyaman untuknya menenangkan diri.
Devano termenung seraya memandangi langit malam yang tampak cerah berbintang, berbanding terbalik dengan hatinya yang sedang gelap dan kesepian.
Meskipun di sampingnya masih ada Tubagus, Devano seolah merasa kalau dirinya hanya seorang diri. Pikirannya melayang ke kejadian tadi siang dimana dia di berhentikan dari Kemiliteran karena skandal masa lalunya bersama Rifa terungkap ke publik dan menghebohkan masyarakat.
Devano menoleh ke samping dan melihat wajah Tubagus yang tampak lesu persis seperti dirinya. Teman seprofesinya itu memang tahu betul akan keadaannya sampai sampai dia rela mengorbankan waktu untuk mengantarkannya ke atap gedung bersejarah ini.
"Terimakasih telah mengantar aku ke sini," ucap Devano datar.
Tubagus menoleh ke arah Devano lalu tersenyum hangat.
"Sama-sama, Kapten," balasnya.
Devano berdecih lalu menatap Tubagus dengan tatapan tajamnya yang masih menakutkan seperti biasa.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu karena sekarang aku bukan Kapten kamu lagi, mengerti?"
Tubagus menganggukkan kepalanya sambil menghembuskan nafas panjang. "Pedahal dia bukan seorang Kapten lagi, tapi tatapannya masih saja membuat bulu kudukku berdiri," gumam Tubagus merinding.
"Tubagus, apa kamu tak mendengarkan ucapan ku barusan?" tegur Devano.
"Dengar, Kapten," sahut Tubagus yang kemudian menepuk dahinya sendiri karena keceplosan memanggil Devano dengan sebutan Kapten lagi.
"Sepertinya kamu sudah tidak fokus dan itu pasti karena kamu kelelahan, jadi sekarang lebih baik kamu pulang," usir Devano secara halus.
Tubagus menggelengkan kepalanya tak setuju. "Kalau begitu anda juga harus pulang, pak Devano," ujarnya kemudian.
"Aku masih mau di sini," tolak Devano.
"Baiklah, berarti saya pun akan tetap di sini menemani pak Devano."
"Pulanglah, istri kamu pasti mencari kamu, biarkan saja aku di sini."
"Tapi siapa yang akan membantu pak Devano jika ingin pulang nanti?" sela Tubagus.
"Jangan khawatir, aku kenal dekat dengan security gedung sekolah ini, aku bisa meminta bantuannya kalau aku ingin pulang," terang Devano.
"Baiklah kalau begitu, saya pulang ya pak, tapi kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk menelpon saya," ujar Tubagus yang di balas anggukan oleh Devano.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
******
Aisyah menangis di dalam kamarnya, melihat halaman sosial media yang di penuhi wajah sendu Devano yang tadi siang baru saja di copot dari jabatannya sebagai Kapten Militer AU akibat skandal perselingkuhannya dengan Rifa, sang model yang sedang terkenal saat ini.
Aisyah tak menyangka kisah pernikahannya yang kelam empat tahun lalu itu bisa terekspos dan kini menjadi perbincangan publik. Sebenarnya siapa yang sengaja menyebarluaskannya sehingga membuat Devano harus kehilangan profesinya?
Apakah penyebarnya adalah Rifa? Tapi tak mungkin rasanya karena wanita itu juga terkena imbasnya. Karir dan image nya yang semula baik dan di puji puji kini sudah kotor di mata publik, bahkan sekarang dia di juluki sebagai pelakor.
Huft, Aisyah bingung sekaligus sedih, tapi sedih bukan karena berita soal kisah pernikahannya yang viral, melainkan karena dia teringat akan perjuangan Devano selama latihan Militer.
Mantan suaminya itu telah banyak melewati masa-masa sulit demi mewujudkan cita-cita ayahnya yang sangat ingin dia menjadi seorang TNI.
Flashback on :
__ADS_1
Devano berlari ke arah Aisyah dengan nafas tersengal-sengal, pria tampan itu baru saja selesai marathon mengelilingi lapangan dan dia menghampiri Aisyah untuk meminta minum kepada gadis yang sudah sebulan menjadi istrinya itu.
"Mana minumnya, gue haus," pinta Devano yang membuat Aisyah meringis pelan.
"Aku lupa, kak," jawab Aisyah polos.
Devano langsung menganga tak percaya. "Lalu gimana nasib tenggorokan gue yang udah kering kerontang ini?" tanya Devano sambil mengeluh.
Aisyah langsung merasa bersalah. "Kakak tunggu sebentar ya, aku beli dulu minumannya," jawab Aisyah lalu berlari secepat mungkin menuju warung terdekat dan membeli minuman dingin untuk meredakan dahaga Devano.
Sepuluh menit kemudian Devano tersenyum melihat Aisyah menghampirinya sambil membawa sekaleng Coca-Cola. Namun berikutnya dia harus kecewa karena Coca cola itu bukan untuk dirinya.
"Ini minuman isotonik buat kak Devan, dan ini Coca cola buat aku," ujar Aisyah sambil menampakkan cengiran khasnya.
Dengan wajah di tekuk Devano mengambil minuman isotonik nya lalu menenggak minuman itu sampai habis tak tersisa barang setetes pun.
"Wih, kak Devan hebat, aku gak bisa lho minum sekaleng minuman sekaligus habis kayak gitu," puji Aisyah sambil menatap Devano dengan kagum.
"Gue itu kalau lagi kesel bisa ngabisin apapun," balas Devano yang membuat Aisyah tertawa.
"Ooh, berarti sekarang kak Devan lagi kesel, ya?" tanya Aisyah yang terdengar seperti ledekan di telinga Devano.
"Iya, kesal karena lo selalu ngasih gue minuman isotonik sementara gue maunya minuman bersoda kayak yang lo minum itu," jawab Devano dengan wajah muram.
"Kak, bukannya aku udah bilang kalau minuman bersoda itu gak baik buat kesehatan?"
"Ya, tapi kenapa malah lo minum?"
"Karena aku gak pernah beraktivitas berat jadi gak masalah kalau aku minum minuman bersoda, beda halnya sama kak Devan yang harus latihan fisik setiap hari." Aisyah menjelaskan alasannya yang tak memperbolehkan Devano minum minuman bersoda.
Sedangkan Devano hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda ia masih mendengarkan ucapan istrinya tersebut.
"Udah apanya?" Aisyah balik bertanya.
"Ngomelnya," sahut Devano yang membuat Aisyah langsung cemberut dan memukul bahu suaminya itu dengan kesal.
"Siapa yang ngomel coba?" gumam Aisyah yang masih bisa di dengar oleh Devano.
"Lo," balas Devano.
"Aku ngomong kayak tadi karena aku sayang sama kak Devan, aku gak mau kak Devan sampai sakit apalagi di saat saat latihan militer yang padat ini," ujar Aisyah sambil menyadarkan kepalanya di bahu lebar Devano.
"Kenapa lo baik banget sama gue, Aisyah? Pedahal gue sering nyakitin hati lo," tanya Devano.
"Karena kak Devan suami aku, cinta pertama yang juga akan menjadi cinta terakhir aku," jawab Aisyah sembari menatap mata Devano dengan penuh ketulusan.
Sementara Devano hanya bisa diam sambil menyelami mata Aisyah yang penuh akan ketulusan dan kasih sayang untuknya.
"Makasih, Aisyah." Devano lalu memeluk tubuh mungil Aisyah dengan erat tak peduli jika ada banyak mata yang menyaksikan mereka.
"Bau keringat," cicit Aisyah yang membuat Devano langsung melepas pelukannya.
"Maaf," ucap Devano.
"Gak papa, baunya masih wangi kok," ujar Aisyah yang sekarang gantian memeluk tubuh tegap Devano.
"Kak Devan, aku berjanji akan menemani perjalanan kamu sampai kamu berhasil menjadi TNI yang hebat dan di hormati oleh semua orang," batin Aisyah.
__ADS_1
Flashback off.
******
Suara heels yang menapaki lantai mengejutkan Devano, pria itu menoleh dan mendapati Rifa yang sedang berjalan mendekatinya.
"Kenapa wanita itu bisa ada di sini?" batin Devano geram.
"Devan akhirnya kita bertemu lagi, aku merindukanmu, kamu juga pasti merindukanku kan?" ujar Rifa yang sepertinya sudah kehilangan kewarasannya.
"Bagaimana kamu bisa tahu keberadaan ku hah?" tanya Devano seraya memutar kursi rodanya ke arah Rifa dan menatap wanita yang terobsesi kepadanya itu dengan sorot tajam.
"Kamu tidak perlu tahu," jawab Rifa sambil tersenyum lebar.
"Pergilah, aku tidak ingin di ganggu lagi," usir Devano yang sudah sangat muak terhadap Rifa.
"Hiks, tega sekali kamu Dev, kamu mengusirku di saat aku juga tengah terpuruk karena skandal kita terkuak ke publik dan menyebabkan karirku hancur." Rifa mulai berakting dengan berpura-pura sedih.
"Jangan coba menipuku...."
"Aku tahu kamulah yang sudah mengungkit skandal ini sampai tersebar ke hadapan publik," ujar Devano.
Rifa menatap Devano dengan tatapan tak terima.
"Hah? Hahaha... Aku tidak percaya kamu menuduhku seperti ini, Dev."
"Coba pikirkan lagi, aku tak mungkin mengungkit skandal yang bisa membuat karir ku dan martabat ku hancur, percayalah bukan aku yang melakukannya," jelas Rifa yang hanya di balas senyuman smirk oleh Devano.
"Huh, sudahlah mau percaya atau tidak silahkan, terserah kamu, yang jelas aku ke sini hanya untuk memberimu penawaran menarik," kata Rifa dengan serius.
"Penawaran menarik apalagi maksud kamu hah?" tanya Devano yang masih berusaha sabar menghadapi Rifa.
"Aku akan membuatmu berjalan normal seperti semula asalkan kamu bersedia untuk ikut bersamaku, bagaimana?"
Bersambung....
Gimana? Kalian tambah penasaran gak?
Maaf ya aku update agak telat dari biasanya.
Jangan lupa untuk selalu support dengan cara seperti biasa yaitu :
-LIKE 👍
-KOMENTAR 📝
-VOTE CERITA INI ❤️
-BAGIKAN KE TEMAN KALIAN ➡️
-TEKAN BINTANG LIMANYA ⭐⭐⭐⭐⭐
-DAN FOLLOW PROFILKU 👌😉
Makasih banyak say, aku sayang kalian semua.
😍😍😍😍😍
__ADS_1
Bye bye, Assalamualaikum.