
"Gimana keadaan kamu?" tanya Aisyah setelah Rifa keluar dari kamar rawat Devano.
"Alhamdulillah walaupun sebelah kakiku masih sulit di gerakkan," jawab Devano seraya tersenyum senang mendapati Aisyah menghampirinya.
"Syukurlah," kata Aisyah datar seraya duduk di kursi yang terletak di samping blankar tempat Devano berbaring.
"Apa kamu masih phobia terhadap obat dokter?" tanya Aisyah yang di balas anggukan cepat oleh Devano.
"Sampai saat ini aku masih pusing dan mual ketika mencium baunya." Devano mengeluh sambil menundukkan wajahnya.
Aisyah bangkit lalu berjalan menuju nakas meja yang di atasnya terdapat beberapa kotak obat serta air hangat. Kemudian Aisyah mengambil obat dan air hangat itu lalu menyodorkannya ke depan mulut Devano.
"Terlepas dari phobia itu, kamu harus tetap meminum obat ini."
Namun Devano malah menutup mulutnya dengan kedua tangan, wajahnya sudah memerah sebab mual sekaligus pusing mencium bau obat yang di sodorkan Aisyah ke depan mulutnya tersebut.
"Belajarlah untuk melawan phobia itu, Devan. Buka mulut kamu dan minum obatnya," perintah Aisyah dengan wajah tanpa ekspresi yang membuat Devano meneguk ludahnya kasar karena takut Aisyah marah.
Sampai akhirnya Devano menyerah dan membuka mulutnya, membiarkan obat berbentuk pil di tangan Aisyah itu masuk ke dalam mulutnya.
Tetapi sedetik kemudian Devano yang benar-benar phobia terhadap obat dokter itu pun memuntahkan pil tersebut ke lantai, karena jujur saja dia tidak mampu menahan rasa mual dan pusingnya ketika bau obat itu menguap sampai ke hidungnya.
"Ukhuk... ukhuk...." Devano terbatuk-batuk seraya memegangi perutnya yang mual dan juga kepalanya yang terasa berputar.
Aisyah menggelengkan kepalanya seraya memberikan air minum kepada Devano.
"Ternyata masih sama seperti dulu. Huft, ya udah kalau gitu tunggu sebentar, aku mau beli pizza buat bantu kamu menelan obat-obat ini," ujar Aisyah yang membuat Devano menatapnya dengan penuh haru.
"Kenapa kamu baik banget sama aku, Syah?" tanya Devano dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Aisyah tersenyum samar lalu pergi tanpa menjawab pertanyaan Devano terlebih dahulu.
****
Sesampainya di McD Aisyah harus mengantri terlebih dahulu karena siang ini pengunjung yang datang ke tempat itu cukup ramai. Tak di sangka Lee juga ternyata sedang mengantri di sana, namun pria tampan itu ada di barisan depan sehingga dia belum sadar kalau Aisyah berdiri di barisan belakangnya.
Sampai ketika ada seseorang yang tak sengaja mendorong Aisyah sampai wanita itu terjatuh ke lantai dan membuat semua orang yang mengantri, termasuk Lee menoleh ke arahnya.
"Aisyah?" Lee dengan cekatan membantu Aisyah berdiri.
"Kamu... di sini juga?" tanya Lee seraya memperhatikan Aisyah yang tengah mengibas-ibaskan debu yang menempel di roknya.
"Iya Lee, aku mau beli pizza, kalau kamu?" Aisyah balik menanyai Lee.
"Aku di suruh eomma buat beli pasta di sini," jawab Lee.
Aisyah membulatkan matanya kaget.
"Eomma udah balik lagi ke Indonesia?" tanyanya memastikan.
__ADS_1
"Iya Syah, tiba-tiba banget ya? Beliau memang seperti itu, terbang ke Indo aja gak ngasih kabar dulu ke anaknya," ujar Lee seraya mempout bibirnya dengan sebal.
"Mungkin dia mau ngasih kejutan buat kamu," kata Aisyah menghibur Lee.
"Kejutan? Ck, dia aja masih marah soal keyakinan aku saat ini, Syah," keluh Lee seraya kembali ke barisan antreannya.
Sama halnya dengan Lee, Aisyah pun kini sudah kembali berdiri di barisan antreannya.
Saat tiba gilirannya, Lee memesan dua menu sekaligus yaitu pasta dan pizza, karena pria mengingat apa yang tadi dikatakan oleh Aisyah tadi bahwa wanita itu mau membeli pizza.
Beberapa menit kemudian tangan Lee yang tadinya kosong akhirnya menggenggam dua plastik berisi sekotak pasta dan pizza.
Setelah itu Lee bergegas keluar dari barisan antrean lalu berjalan menghampiri Aisyah yang masih berdiri menunggu gilirannya.
"Ayo pergi," ajak Lee yang membuat Aisyah mengerjapkan matanya bingung.
"Ayo pergi dari sini," ulang Lee yang kini menimbulkan kerutan di dahi Aisyah.
"Aku belum dapet pizza nya Lee. Kalau kamu mau pergi ya duluan aja, gak usah nungguin aku," sahut Aisyah yang membuat bibir Lee bergetar menahan tawa.
Kemudian pria asal Korea Selatan yang berparas tampan itu terus berdiri di samping Aisyah seraya memperhatikannya.
"Lee, apaan sih? Aneh banget deh, udah sana kamu pergi, di lihatin orang tuh," kata Aisyah yang heran sekaligus malu karena orang orang melihat ke arah dirinya dan juga Lee.
"Aku mau perginya bareng sama kamu," sahut Lee yang membuat perempuan-perempuan yang ada di sana menatap Aisyah dengan iri.
"Tapi aku belum dapet pizza nya Lee, masa aku pergi dengan tangan kosong gitu?" sela Aisyah menolak ajakan Lee.
"Ya Allah, jadi...kamu udah beliin pizza nya buat aku?" tanya Aisyah yang di angguki oleh Lee.
"Makanya ayo kita pergi, aku tahu kamu pasti udah capek kan ngantri nya?" ujar Lee yang membuat Aisyah tersenyum lebar lalu mengangguk setuju.
Sesampainya di teras McD Lee menyodorkan plastik berisi sekotak pizza di tangan kanannya itu kepada Aisyah.
"Makasih ya Lee, oh iya, ini uangnya." Aisyah menerima plastik berisi pizza itu seraya menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan kepada Lee, namun dengan tegas Lee menolaknya.
"Uangnya gak usah di ganti ya," kata Lee seraya tersenyum.
"Tapi Lee, aku ga...."
"Udah, terima aja oke?" sela Lee yang membuat Aisyah tak mampu menolaknya.
"Sekali lagi makasih ya, kamu udah selalu membantu aku dimana pun itu," ucap Aisyah berterimakasih kepada Lee.
"Sama-sama Aisyah, memang itulah keinginan aku, dimana pun aku menjumpai kamu, aku akan berusaha membuat semuanya mudah untuk kamu," tutur Lee seraya mengukir senyuman manis di bibirnya.
Untuk beberapa saat Aisyah terpaku dengan senyuman malaikat yang di miliki Lee, namun untungnya wanita itu segera menyadarkan dirinya dan kembali fokus.
"Oh iya Lee, aku titip salam buat eomma kamu ya," pesan Aisyah.
__ADS_1
"Oke, pasti nanti aku sampaikan, kalau begitu aku pulang dulu ya," kata Lee yang di balas acungan jempol dari Aisyah.
"Assalamualaikum, Aisyah."
"Wa'alaikumsalam Lee," jawab Aisyah sembari tersenyum dan tak lupa untuk melambaikan tangannya.
*****
Devano sedang memainkan game di ponselnya ketika Aisyah datang dan masuk ke dalam kamar rawatnya.
"Letakkan iPhone-nya di nakas sekarang juga," perintah Aisyah yang membuat wajah Devano yang semula sumringah kini berubah kecewa.
"Yaah, pedahal sedikit lagi aku menang," keluh Devano dengan suara lirih yang masih mampu terdengar sampai ke telinga Aisyah.
"Ooh, ya udah lanjutin main gamenya tapi aku akan pergi dan kamu harus belajar minum obat itu sendiri," ujar Aisyah.
"Jangan! iya iya, mulai sekarang aku gak akan main game itu lagi," sesal Devano yang hampir saja membuat Aisyah tersenyum.
"Sekarang makan pizza ini," perintah Aisyah seraya menyerahkan potongan pizza yang sudah dilipat yang mana di tengahnya diberi obat yang telah di haluskan.
"Pasti di dalamnya pahit, iyakan?" tanya Devano.
"Lumayan, namanya juga udah di kasih obat ya pasti pahit. Tapi tenang aja, masih pahitan kata kata kamu dulu kok," jawab Aisyah dengan ekspresi datar.
Bersambung....
Tim mana?π€π€
AisyahΓDevano atau AisyahΓLee?ππ
Hehehe....π€π€
Yang mau kasih saran untuk kedepannya yuk tulis di kolom komentar!πβΊοΈπππ
Oh iya, jangan lupa untuk selalu support aku ya, dengan cara seperti biasa :
-LIKE π
-KOMENTAR π
-VOTE CERITA INI β€οΈ
-KASIH BINTANG LIMA βββββ
-FOLLOW PROFILKU ππ
-DAN BAGIKAN KE TEMAN KALIAN β‘οΈ
Bye and Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh....ππππ₯°π₯°π₯°
__ADS_1
IG : zzahraakhoirr.