Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 49 | Dia pergi membawa misi


__ADS_3

Dear, Aisyah.


Mungkin ketika kamu baca pesan ini aku sudah berada di tempat yang jauh di luar sana, apabila kamu mengira aku akan mengatakan selamat tinggal lewat pesan ini, kamu salah, aku menulis pesan ini semata-mata hanya untuk meyakinkan kamu bahwa kepergian ku kali ini akan membawa titik terang untuk kehidupanku dan juga kehidupan kamu di masa depan, jadi aku mohon, percayalah kepadaku, karena kali ini aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak akan mengecewakan kamu lagi.


Aisyah, jaga diri kamu baik-baik ya, agar saat aku kembali aku masih bisa melihat senyuman manis kamu.


From : Devano


"Kamu kenapa?" tanya Lee sambil menatap Aisyah yang sedang termenung di hadapannya.


"Gak papa, cuma lagi banyak pikiran aja," jawab Aisyah yang masih kepikiran soal pesan dari Devano.


"Ooh... Emh, tunggu sebentar," ujar Lee yang kemudian pergi ke meja barista dan menyeduh es coklat dengan krim vanila untuk Aisyah.


Tak ada lima menit Lee kembali dengan membawa dua gelas minuman di tangannya. "Ini buat kamu," ujarnya sembari mengulurkan segelas es coklat krim vanilla yang tadi di buatnya kepada Aisyah.


"Makasih ya," ucap Aisyah setelah meraih minuman berbahan dasar coklat itu dari tangan Lee.


"Sama-sama," balas Lee sambil tersenyum.


"Menurut artikel yang pernah aku baca, selain enak minuman coklat itu bisa membantu menghilangkan stres," terang Lee.


"Ya, aku juga pernah mendengarnya, sekali lagi makasih ya," ucap Aisyah yang kali ini di barengi dengan senyuman.


Lee mengangguk lalu membalas senyuman Aisyah dengan senyuman manisnya. "Jika ada masalah kamu bisa share ke aku, jangan di pendam sendiri, karena itu gak baik, oke?"


Aisyah menatap Lee lalu menunduk, wajahnya tiba-tiba muram lagi. "Entah kenapa aku sedih ketika mendengar Devano telah pergi bersama Rifa, pedahal aku tahu itu yang terbaik untuk Devano," ungkap Aisyah jujur dengan apa yang tengah mengganggu pikirannya.


Lee menghela nafas panjang lalu menatap Aisyah dengan intens. "Pada dasarnya kamu merasa takut kehilangan dia meskipun dia bukan siapa-siapa kamu lagi," pungkas Lee.


"Bukan seperti itu Lee, aku hanya...." Ucapan Aisyah terhenti ketika melihat Robbie dan Avila memasuki Kafe sambil bergandengan tangan.


Karena penasaran Lee pun mengikuti arah pandang Aisyah. "Sejak kapan mereka seakrab itu?" tanya Lee yang juga heran.


"Hey bos! Hai Aisyah!" Robbie melambaikan tangannya setelah ia menyadari keberadaan Lee dan Aisyah.


"Avi! Kamu harus jelasin ke aku sekarang juga!" perintah Aisyah yang sudah kepalang histeris melihat keromantisan diantara Avila dan Robbie.


"Syuut, jangan kenceng kenceng, malu gue," bisik Avila yang kemudian duduk di sebelah Aisyah.


"Sejak kapan?" tanya Aisyah dengan suara yang lebih kalem.


"Baru-baru ini, belum ada satu bulan juga," jawab Avila jujur.


"Kok bisa sih kalian pacaran?" tanya Aisyah yang masih penasaran.


"Jadi gini Syah, sebenarnya gue itu punya rasa sama Avi udah dari zaman sekolah dulu, tapi entah udah berapa ribu kali cinta gue di tolak sama dia, dan sekarang akhirnya cinta gue di terima setelah hampir aja gue memutuskan untuk menyerah, untungnya hari itu sifat pantang menyerah gue bangkit, kalau gak mana bisa gue jadian sama dia." Robbie menjelaskan secara detail tentang apa yang sebenarnya telah terjadi diantara dia dan Avila.


"Ooh jadi gitu ceritanya... Selamat yah Bie, Vi," ucap Aisyah seraya tersenyum senang.


"Thank you, Aisyah," balas Avila sambil memeluk Aisyah.


"Selamat ya bro, akhirnya lo bisa meyakinkan hati adek gue, gue mohon jangan pernah sekalipun sakiti dia ya, bahagiain dia dengan cinta yang lo punya, gue percayakan dia sama lo," ucap Lee sambil menepuk bahu tegap Robbie.


"Sama-sama brother, lo tenang aja, gue pastikan Avila bahagia sama gue, gue juga bakal selalu ada buat dia, iyakan beb?" ujar Robbie sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Avila yang masih memeluk Aisyah.

__ADS_1


Avila mendelik tajam ke arah Robbie lalu melepas pelukannya dengan Aisyah.


"Lo tuh gak punya malu ya?"


"Emang gak punya beb, yang aku punya kan cuma rasa cinta buat kamu," jawab Robbie dengan bucinnya.


"Dasar ABG bucin!" teriak Lee yang geli mendengar jawaban nyeleneh Robbie.


"Aisyah, kita pergi dari sini yuk!" ajak Lee yang sepertinya ingin membiarkan Robbie dan Avila makan siang berdua.


Aisyah tersenyum geli sebelum menyahuti ajakan Lee. "Oke, Lee!" sahut Aisyah yang kemudian pergi bersama Lee.


"Eh kalian mau kemana? Jangan tinggalin gue sama dia," protes Avila yang tidak di dengarkan oleh Aisyah dan Lee.


"Udahlah beb, malah seru kalau kita makan siang semeja berdua kayak gini, iya gak?"


"Gak! Aku bete sama kamu," jawab Avila badmood.


"Yah, jangan cemberut gitulah beb, nanti kalau aku tambah cinta gimana? Emang kamu mau tanggung jawab, heum?"


******


Hujan yang tiba-tiba turun membuat Aisyah dan Lee bertahan di teras Kafe, mereka berdiri sambil memandang rintik hujan yang kian deras mengguyur bumi.


"Gimana mau ke Studio kalau hujan deras kaya gini? Mana gak ada payung lagi," ujar Aisyah yang resah karena masih punya pekerjaan yang tertunda di Studio.


Dengan inisiatif Lee membuka jaket kulit yang dipakainya lalu mengulurkan jaket itu kepada Aisyah. "Pakailah ini untuk melindungi kepala kamu," cetus Lee yang di balas gelengan oleh Aisyah.


"Kenapa?" tanya Lee bingung.


"Nanti kamu kedinginan," jawab Aisyah.


"Kamu kan masih ada kerjaan di Studio, jadi pakai aja ini, oke?" pinta Lee yang akhirnya di setujui oleh Aisyah.


"Makasih ya, Lee."


"Hm, lain kali kayaknya bisa aku hitung nih berapa kali kamu bilang makasih ke aku dalam sehari," canda Lee yang membuat Aisyah tertawa pelan.


"Udah sana pergi, entar keburu hujannya tambah deras lho," usul Lee yang di balas anggukan kecil oleh Aisyah.


"Dah, Assalamualaikum," ucap Aisyah sambil memasang jaket kulit Lee di atas lapisan hijabnya.


"Wa'alaikumsalam," balas Lee sembari tersenyum manis dan melambaikan tangan.


Aisyah pun tersenyum lalu berlari di bawah derasnya hujan dengan jaket kulit milik Lee yang melindungi kepala serta tubuhnya.


******


Selesai pemotretan dengan Model DSL beauty's fashion Aisyah kembali beristirahat, ia mengecek ponselnya dan ternyata ada lima panggilan masuk yang tak terjawab dari nomor asing.


"Apa ini nomor Devano?" tanya Aisyah kepada dirinya sendiri.


"Sebaiknya aku telfon balik." Aisyah memutuskan untuk men-dial nomor tersebut dan akhirnya tersambung.


"Halo?"

__ADS_1


"Halo, Assalamualaikum Aisyah." Suara bass milik Devano langsung mengalun indah di telinga Aisyah.


"Wa'alaikumsalam, ini Devano kan?" tanya Aisyah yang hanya ingin memastikan.


"Iya, gimana kabar kamu?"


"Ck, harusnya aku yang tanya begitu," sela Aisyah.


"Kamu baik baik aja kan? Sekarang udah dimana dan...."


"Tanyanya satu persatu, bisa gak?" potong Devano.


"Eh iya, maaf," ucap Aisyah sambil meringis malu karena kesannya dia terlalu mengkhawatirkan Devano.


"No problem, sekarang mau tanya apa dulu?"


"Hm, kamu... Lagi dimana sekarang?" tanya Aisyah.


"Aku lagi di kamar apartemen nih," jawab Devano.


"Apartemen? Di daerah mana?" tanya Aisyah yang masih belum puas dengan jawaban Devano tadi.


"Di Busan, Korsel," ujar Devano menjawab rasa penasaran Aisyah.


"Ooh."


"Cuma itu? Gak mau tanya lagi?"


"Gak, sebab aku percaya kamu baik baik aja, kedengaran dari suara kamu," pungkas Aisyah.


"Udah dulu ya, Aisyah. Si Rifa alias benalu kehidupan itu kayaknya udah balik," ujar Devano yang kemudian memutuskan sambungan telfonnya tanpa menunggu jawaban Aisyah.


"Semoga kita berhasil ya Dev, aku harap kamu gak akan tergoda lagi sama perempuan licik itu," gumam Aisyah sambil menatap layar ponselnya.


Bersambung....


Kangen gak sama cerita ini?


Maaf ya lama update nya soalnya aku lagi sibuk ngerjain laporan, hiks.


Habis laporan selesai, aku update setiap hari deh, suer.


Makasih yang udah stay, jangan lupa support aku ya.


Dengan cara ;


Like👍


Komentar📝


Vote❤️


Tekan Bintang Lima ⭐⭐⭐⭐😁


Serta follow profil aku.😍😍😍

__ADS_1


Bye bye,


Assalamualaikum.❤️


__ADS_2