Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 58 | Interaksi


__ADS_3

Sosok Kanaya di mata Lee adalah gadis yang mandiri dan tak mau mengandalkan orang lain selagi dia sanggup melakukannya sendiri. Contohnya seperti saat ini, Kanaya melahap buburnya sendiri tanpa di suapi oleh siapapun meskipun tenaganya masih lemas.


Sebelumnya Lee sempat mendapati Kanaya menolak tawaran sang ibu yang ingin menyuapinya. Pemandangan itu sedikit aneh menurut Lee sebab dia sendiri jika sedang sakit akan berubah sangat manja kepada ibunya, berkebalikan dengan Kanaya yang tetap bisa bersikap mandiri.


Lee jadi tak percaya diri jika di bandingkan dengan Kanaya dalam segi kemandirian dan kedewasaan.


"Hah, lihatlah, sekarang gadis itu membuatku merasa malu terhadap diriku sendiri," gumam Lee sambil mengamati Kanaya dari pintu.


Tak lama kemudian ibunya Kanaya menghampiri Lee dan sepertinya wanita paruh baya itu akan pulang.


"Nak Lee, Bibik tahu kamu orang yang sibuk, tapi bisakah Bibik minta tolong sama kamu untuk jagain Kanaya setidaknya sampai sore ini, Soalnya Bibik pasti dimarahi kalau terlalu lama meninggalkan toko majikan Bibik," ujar ibunya Kanaya yang meminta tolong kepada Lee untuk menjaga putri bungsunya itu.


Lee melirik ke arah jam tangannya lalu mengangguk sambil tersenyum. "Bibik jangan khawatir, saya tidak keberatan menjaga Kanaya, bagi saya adik Robbie adalah adik saya juga," tuturnya.


"Terimakasih nak Lee, kalau begitu Bibik pulang dulu yah."


"Sama-sama, silahkan bik," sahut Lee dengan sopan.


Kemudian pemuda tampan itu masuk ke dalam kamar rawat Kanaya dan duduk di sebelah blankar tempat Kanaya berbaring saat ini.


"Obatnya udah di minum?" tanya Lee yang di balas anggukan kecil oleh Kanaya.


"Syukurlah, semoga kamu cepat sembuh dan bisa segera kembali ke pondok pesantren," ucap Lee sambil menatap Kanaya yang terus memandangi langit-langit kamar.


"Apa menariknya langit-langit kamar yang berwarna putih polos itu?" batin Lee yang entah kenapa tiba-tiba merasa iri terhadap langit-langit kamar yang menjadi pusat perhatian Kanaya.


Daripada diam saja Lee memutuskan untuk mengupas buah jeruk yang ada di atas meja samping blankar Kanaya. Kemudian Lee menaruh buah jeruk yang telah dikupasnya di tangan Kanaya.


"Makanlah," ujar Lee ketika Kanaya menoleh ke arahnya.


"Tapi aku enggak suka jeruk," tolak Kanaya sambil mengembalikan buah jeruk tadi ke tangan Lee.


Kemudian gadis yang selalu tertutup hijab itu duduk dengan bersandar di bantal yang ada di atas kepalanya.


"Sudah berapa lama Akhi menjagaku di sini?" tanya Kanaya sambil menundukkan wajahnya.


"Tiga hari," jawab Lee seadanya.


"Apa tidak sebaiknya Akhi menyempatkan diri untuk pulang ke rumah?"


"Tidak perlu, anak buahku bahkan sudah membawakan semua keperluan ku ke rumah sakit ini, lihatlah salah satunya di pojok sana itu ada koper kecil yang isinya pakaian dan barang-barang pribadi ku," jawab Lee sambil menunjukkan koper kecil miliknya di sudut kamar kepada Kanaya.

__ADS_1


"Astaghfirullah," gumam Kanaya setengah terkejut.


"Apakah aku membuat kesalahan?" tanya Lee yang heran kenapa Kanaya beristighfar begitu melihat koper mungil kesayangannya.


"Akhi tidak perlu berlebihan, kenapa harus sampai pindahan ke rumah sakit segala?" ucap Kanaya prustasi melihat kelakuan Lee yang seperti akan tinggal sangat lama di rumah sakit.


"Jangan salah sangka, koper kecil itu hanya berisi sarung dan sajadah untuk sholat serta dua pasang pakaian," jelas Lee yang tidak mau di anggap berlebihan.


"Ooh... Berarti selama tiga hari ini Akhi belum pernah pulang ke rumah?" tanya Kanaya dengan muka syok.


Lee hanya mengangguk membenarkan.


"Apa Akhi tidak punya kesibukan lain selain menjaga ku?" tanya Kanaya lagi.


"Mmh, sebenarnya punya sih, tapi menjaga kamu adalah amanah dari Robbie yang tidak bisa aku wakilkan, jadi kesibukan lainnya yang berkaitan dengan pekerjaan aku tunda terlebih dahulu," jawab Lee dengan santai.


"Maaf sudah merepotkan," ucap Kanaya yang merasa tak enak terhadap Lee.


"Tidak masalah, Naya," sahut Lee sambil memakan jeruk yang tadi sempat dia berikan kepada Kanaya.


"Oh iya, Akhi udah makan siang belum?"


Lee mengelus perutnya dan meringis karena sebenarnya dia lapar namun dia gengsi jika mengatakan kepada Kanaya kalau dia bahkan sungkan untuk pergi makan siang sebab tidak ingin meninggalkan kamar rawat Kanaya.


Namun yang namanya perut kalau sudah lapar ya pasti berbunyi, sekuat apapun empunya menahan rasa lapar itu.


Kruk... Kruk.


"Lho, katanya masih kenyang? Kok bunyi?"


Wajah Lee seketika memerah sampai ke telinga karena malu.


"Kalau Akhi lapar, Akhi bisa makan makanan dari ibuku ini," tawar Kanaya sambil mengulurkan serantang makanan yang tadi di taruh oleh ibunya di atas meja kepada Lee.


Dan bukannya langsung menerima Lee malah menatap ragu rantang yang di sodorkan Kanaya itu. "Tapi, makanan itukan untuk kamu," selanya kemudian.


"Aku kan baru aja makan, masih kenyang, mendingan buat Akhi aja yang belum makan siang, jadi mohon di terima ya," tutur Kanaya.


Akhirnya Lee mau menerima serantang berisi makanan yang di masak oleh ibunya Kanaya itu.


"Makasih ya."

__ADS_1


"Sama-sama, pedahal seharusnya aku yang bilang makasih terlebih dahulu," timpal Kanaya.


Lee tersenyum canggung lalu membuka rantang yang ternyata isinya adalah nasi dengan lauk cumi-cumi berbumbu kecap yang baru di tatap saja sudah menggugah selera orang yang menatapnya.


"Wah, pasti enak nih, bismillahirrahmanirrahim."


Lee mulai makan dengan lahap sambil tersenyum setiap kali Kanaya melihat ke arahnya.


Ketika nasi dan cumi-cumi kecapnya sudah habis, Lee langsung mencuci rantangnya di kamar mandi yang masih berada di dalam kamar rawat Kanaya.


Setelah itu Lee kembali dan duduk di sebelah blankar Kanaya lagi.


"Kanaya," panggil Lee.


"Heum?" sahut Kanaya seraya menoleh ke arah Lee.


"Menurut kamu jika ada seorang wanita yang berhubungan baik dengan mantan suaminya, apakah mungkin dia masih mencintai mantan suaminya itu?" Lee menanyakan pendapat Kanaya.


"Menurutku belum tentu wanita itu masih mencintai mantan suaminya, mungkin dia hanya ingin berdamai dengan masa lalu demi anaknya misalnya, atau bisa jadi juga dia sedang belajar melupakan rasa sakit hati akibat perceraian dengan mantan suaminya tersebut."


Jawaban Kanaya membuat hati Lee kembali bersemangat untuk menggapai keinginannya untuk memiliki Aisyah yang sampai detik ini terus memenuhi pikirannya.


"Apa Akhi punya mantan istri dan kalian kembali dekat?" tanya Kanaya penasaran.


"Tidak, aku belum pernah menikah satu kali pun, aku bertanya soal itu hanya untuk pengalaman saja," jawab Lee.


"Ooh... Aku kira Akhi sudah pernah menikah sebab aura bapak-bapak nya sangat terlihat," cetus Kanaya yang membuat Lee syok dan langsung meraba wajah tampannya.


"Apa kamu yang bilang tadi? Aura ke bapak-bapakan? Hah, yang benar saja, masa aku yang masih imut ini punya aura bapak-bapak sih, aku tidak bisa percaya," sela Lee sambil menepuk-nepuk pipinya.


Kanaya menahan tawa dan langsung menundukkan wajahnya ketika Lee menatapnya dengan tatapan penuh protes.


Bersambung....


Hai, siapa di sini yang suka bosen pas nungguin Wanita Yang Tersakiti update?


Yuk biar gak bosen lagi kalian bisa mampir dulu ke Novel ku yang lainnya, yaitu :


-Love Under The Snow❤️


-Dear Husband❤️

__ADS_1


Makasih yang udah dukung aku selama ini, insyaallah hari ini aku double up.🥰🥰🥰


__ADS_2