Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 53 | Queen of Devil


__ADS_3

Hari berikutnya Aisyah lewati dengan perasaan yang tidak tenang karena setiap saat dia merasa seperti selalu diawasi oleh seseorang. Tapi untungnya para sahabatnya tak pernah absen untuk menjaganya secara bergantian, jadi dia bisa lebih merasa aman daripada sebelumnya.


Pada awalnya Aisyah memang ingin merahasiakan soal misinya mengungkap tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada putrinya tersebut dari Lee, Avila, dan Robbie, namun para sahabatnya itu memaksa agar ia menceritakan semuanya, jadi sekarang Aisyah tak menutupi apapun dari mereka.


Siang ini Aisyah berencana ingin mengunjungi Siska di rumah sakit namun karena Avila masih ada kerjaan yang belum selesai, jadi dia harus menunggu sahabatnya itu. Sebenarnya Aisyah bisa saja pergi sendirian ke rumah sakit tapi dia tak ingin mengingkari janjinya yang tidak akan pergi kemanapun seorang diri.


"Masih lama enggak, Vi?" tanya Aisyah sembari duduk di sebelah Avila yang sedang mengedit poster iklan DSL beauty care.


"Enggak kok, ini udah selesai, tinggal aku kirim ke website," jawab Avila sambil mengoperasikan tombol mouse di tangannya.


"Done!" seru Avila bersamaan dengan terkirimnya iklan yang baru selesai dia edit ke website resmi DSL beauty care.


"Alhamdulillah, berarti sekarang udah saatnya kita pergi ke rumah sakit," ujar Aisyah dengan antusias.


"Gak makan siang dulu, nih?"


Aisyah tampak berpikir lalu mengangguk. "Boleh juga, mau makan siang di mana?" tanya nya.


"Di warteg langganan kita aja deh," jawab Avila.


"Oke, yuk kita let's go!" ujar Aisyah sambil menggandeng tangan Avila dan membuat sahabatnya itu tersenyum.


*****


"Jangan takut penjara, bunuh saja dia," ujar seorang perempuan bergincu merah maroon yang saat ini sedang berbicara lewat video call dengan anak buahnya.


"Usahakan serapih mungkin sehingga tidak ada yang tahu kalau dia di bunuh, oke?"


"Baik nona," sahut si anak buah dengan patuh.


"Aku akan memantau mu dari sini, paham?"


"Paham nona."


"Baguslah, aku harap kali ini kamu tidak mengecewakan," ujar perempuan bergincu merah maroon yang ternyata adalah Rifa, perempuan yang mendapat julukan Queen of Devil di kalangan anak buahnya sendiri.


"Haruskah aku memantau cctv-nya? Ah, malas! Lebih baik aku menemui Devano," ujar Rifa yang kemudian melangkah pergi ke kamar Devano.

__ADS_1


Tapi sesampainya di sana Rifa tak menemukan Devano di mana mana. "Kemana perginya pria itu?" tanya Rifa lebih kepada dirinya sendiri.


"Hei, apa kamu mencari ku?" Devano muncul tiba-tiba di belakang Rifa dan membuat wanita itu sedikit terkejut.


"Honey! Kamu tidak boleh sering-sering keluar tanpa aku dan kursi roda kamu," kata Rifa sambil menggiring Devano ke sofa dan menyuruhnya duduk di sana.


Devano meletakkan kruk yang tadi dipakainya di atas meja lalu menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


"Kamu abis kemana sih, hon? Kenapa gak ngajak aku?" tanya Rifa dengan nada manjanya yang membuat Devano mual.


"Bisa gak jangan temui aku sehari ini aja," sarkas Devano yang tak bisa menutupi rasa muak nya terhadap Rifa.


"Sayangnya gak bisa, lagipula kan kamu udah setuju kalau selama masa pemulihan ini aku akan selalu di samping kamu," ujar Rifa yang membuat Devano pusing dan akhirnya memilih untuk diam sambil memejamkan mata.


Tak peduli lagi Rifa bicara apapun yang penting baginya saat ini adalah memikirkan bagaimana caranya menjebak wanita itu hingga mau mengakui kejahatannya.


"Devan, jangan abaikan aku," pinta sambil mengguncang bahu kekar milik Devano.


Karena merasa terganggu Devano membuka kedua matanya lalu menatap Rifa dengan tatapan jengah.


"Temani aku makan malam ya?" pinta Rifa sambil memasang gummy smile-nya yang dulu sempat membuat Devano luluh setiap kali melihatnya.


"Aku masih kenyang, makan sendirian aja sana," tolak Devano.


Gummy smile di bibir Rifa seketika luntur namun wanita itu belum menyerah untuk terus membujuk Devano agar mau menemaninya makan malam.


"Masih kenyang? Oke, aku gak akan nyuruh kamu makan."


"Nah ba---"


"Eits, aku belum selesai bicara ya, Dev. Aku memang tidak akan memaksa kamu untuk makan tapi sebagai gantinya kamu harus menemani aku makan malam di luar, oke?"


"Huft, oke," sahut Devano yang tak bisa lagi menolak permintaan Rifa karena dia tahu semakin wanita itu di tolak maka akan semakin nekat, jadi lebih baik turuti saja dulu.


Rifa bersorak kegirangan kemudian ia segera membantu Devano berdiri dengan merangkul pinggang pria yang membuatnya tergila-gila itu.


******

__ADS_1


Sore itu suasana di rumah sakit atau lebih tepatnya di kamar rawat Siska sedang gawat sebab Siska mengalami kejang-kejang dan ketika Aisyah dan Avila tiba di sana Siska sudah dinyatakan meninggal dunia.


"Innalilahi wa Inna ilaihi raji'un," ucap Aisyah dan Avila bersamaan.


Mereka berdua tak menduga Siska akan meninggal secara tiba-tiba seperti ini karena kemarin sore dokternya bilang kalau kondisi Siska semakin membaik dan menurut perkiraan sehari lagi bisa di perbolehkan pulang.


"Sebagai hamba kita hanya bisa merencanakan, yang Maha menentukan hanyalah Allah semata," gumam Aisyah menasehati dirinya sendiri agar tidak putus asa dan sedih karena orang yang di harapkan bisa menjadi saksi kini sudah meninggal.


"Sabar ya, Aisyah. Aku yakin Allah akan memberikan petunjuk lain yang lebih baik untuk kamu," ujar Avila sambil mengelus bahu Aisyah supaya hati sahabatnya itu bisa lebih tenang.


"Insyaallah, makasih ya Avi," ucap Aisyah yang di balas anggukan serta senyuman oleh Avila.


******


"Halo? Gimana? Berhasil?" tanya Rifa excited.


"Berhasil nona, dia sudah saya singkirkan dan saya pastikan kali ini saya bekerja dengan rapih."


"Wah, bagus! Sebagai hadiahnya aku akan kirim bonus gaji kamu malam ini juga," ujar Rifa dengan wajah sumringah yang memancing kecurigaan Devano yang masih duduk di hadapannya.


"Apa sih Dev? Kenapa lihatin aku seperti itu?" tanya Rifa begitu selesai menelpon anak buahnya.


"Siapa yang baru saja menelpon kamu?" selidik Devano curiga.


"Maaf aku gak bisa kasih tahu kamu," jawab Rifa sambil menyeringai.


"Kecuali kalau kamu mau menikah sama aku," lanjutnya sambil tertawa senang.


Kemudian Rifa mengangkat gelasnya yang berisi wine dan mengajak Devano untuk cheers dengannya.


"Ayo kita cheers untuk malam yang menyenangkan ini," ajak Rifa yang di tanggapi dengan enggan oleh Devano.


'Kejahatan apalagi yang baru saja kamu lakukan, Rifa? Kenapa kamu tidak mau berhenti menyakiti orang lain jika yang menjadi obsesi kamu hanyalah aku,' batin Devano sambil mengangkat gelasnya untuk cheers dengan Rifa.


"Hahaha, itulah akibatnya jika membongkar aibku, sekarang nikmatilah neraka yang kamu ciptakan sendiri itu!" teriak Rifa sambil tertawa jahat.


Wanita itu memang pantas di juluki Queen of Devil.

__ADS_1


__ADS_2